****
Hari-hari berikutnya, keadaan masih tidak berubah. Malah bisa dibilang semakin memburuk tiap detiknya. Tidak adanya Wakil Alam yang menciptakan Nishati, membuat Llaeca seperti taman yang tidak mendapat asupan air dan cahaya untuk mengiringi fotosintesisnya.
Tanah kesulitan menyuburkan tanaman-tanaman di atasnya. Sumber mata air menjadi pelit—enggan mengalirkan kebutuhan para manusia di kerajaan tersebut. Langit pun urut tak memberi peran dengan menahan hujannya—membiarkan angkasa bersih dari awan dengan terik yang begitu menyengat.
Entah Semesta merajuk atau memiliki alasan lain, tapi yang jelas Dia sama sekali tidak menurunkan berkat-Nya. Membiarkan rakyat Llaeca layu perlahan, sama seperti Lilac putih yang ada di ruang pengabdian.
Sampai akhirnya satu tahun hampir berlalu tanpa mereka semua sadari. Orang-orang mulai cemas, dan bertanya-tanya apa yang akan anggota kerajaan lakukan. Mereka tidak bisa dipaksa bertahan dalam situasi seperti ini. Namun, di sisi lain rakyat Llaeca juga mengerti dengan keadaan istana yang sama buruknya.
Arther Springgleam sudah semakin kritis. Napasnya kerap menghilang dalam sekian detik, dan muncul kembali setelah pelayan yang menjaganya panik—hampir menduga Arther telah benar-benar tiada.
Hidupnya seperti dipermainkan.
Begitulah kondisi Raja itu sekarang. Antara hidup dan mati. Nyawanya serasa ditarik ulur dengan sengaja oleh seseorang, membuatnya eksakitan di atas ranjang tanoa bisa berbuat apa-apa.
Keadaan sang pemimpin yang sekarat membuat rakyat semakin menderita. Di tengah kelaparan, cuaca esktrem, dan amarah Semesta, mereka terus mengharap keajaiban. Walau agaknya itu akan jadi sesuatu yang sulit terkabulkan.
Valmera sendiri masih mengurung diri di kamar. Seakan menjadikan tempat itu territorial paling aman untuknya. Tanpa siapapun yang mengganggu, ia semakin terbiasa dengan kesepian dan kesendirian. Menjadikannya sahabat sejati, dengan kenangan yang terus menghantui siang dan malamnya.
Ia berusaha lari dari kenyataan, bahwa Neal telah tiada, juga bahwa keluarga kandung satu-satunya tengah sekarat dan kesakitan.
Gadis itu berusaha pergi dari fakta kalau tak lama lagi ia akan benar-benar sendirian. Ditinggal lagi oleh orang paling berharga dalam hidupnya, setelah kematian sang ratu—ibunya—bertahun-tahun lalu, ketika Valmera bahkan belum bisa melihat sjelas parasnya.
Namun, sekeras apapun Valmera mencoba, semua itu hanya berujung pada kesia-siaan. Pada akhirnya, raja yang telah berjuang keras melawan penyakit misterius di dalam dirinya, memilih untuk menyerah. Dia memerintahkan seseorang untuk mengakhiri paksa hidupnya. Menggunakan pedang kerajaan yang selama ini dipakainya untuk melindungi rakyat dan kerajaan, juga putri semata wayangnya, Arther akhirnya menghembuskan napas terakhir dengan kepala terpenggal.
Ayah akan melakukan dan memberikan apapun yang kau mau kalau Pangeran Daren benar menyakitimu, Val.
Untuk pertama kalinya, Valmera benci dirinya yang berhasil membuktikan pada Ayahnya bahwa perkataannya benar. Untuk pertama kalinya, gadis itu benci ketika ayahnya benar-benar menepati janjinya.
Daren benar-benar menyakitinya. Menyakiti orang-orang yang ingin ia lindungi. Dan mengambil semua yang Valmera miliki.
Karena itu, Ayahnya menepati janjinya. Valmera ingin bertarung. Itu dikabulkan.
Dengan nyawa Raja Arther sebagai bayarannya.
Tangis kembali pecah, tapi tetap dalam situasi yang sama.
Sendirian.
Pelayan yang hendak menemani Valmera usir dengan paksa. Pintu besar dibanting kasar. Perempuan itu meraung-raung bak kesetanan dalam ruang yang terasa semakin menghimpitnya. Mmebuatnya tak dapat bergerak dan bernapa dengan bebas.
Sesak.
Valmera ingin segera terlepas dari perasaan membelenggu ini. Tidak peduli tubuhnya yang mulai terlihat lebih kurus sejak terakhir kali bersama Neal.
Tidak peduli dengan seseorang yang terus berteriak tak jelas. Mengatakan bahwa ia harus segera bangkit dan menghadapi kenyataan. Menegarkan diri demi kebaikan semua orang.
Mempersiapkan diri menjadi pengganti sang ayahanda. Menjadi pemimpin tanah Kalenhiran yang selama delapan belas tahun menemani hidupnya sebagai tempat paling damai dan menyenangkan yang pernah ada.
Kebaikan semua orang, katanya?
Semua?
Lalu bagaimana denganku?
Bagaimana dengan kebaikanku sendiri!? Kebahagiaan yang telah direnggut dari diri ini!?
Apa dengan memangku tanggung jawab, ia tidak berhak menyandang rasa bahagia di d**a?
Apa ia harus menyerahkan semua itu kepada orang-orang, dan memasrahkan dirinya terjebak dalam kehampaan yang menyiksa?
Bahkan ayahnya sendiri sama sekali tidak peduli dengan hal itu. Raja Arther yang bijak, mendadak bersikap egois seperti itu. Dengan bodohnya beliau memilih untuk pergi dari dunia ini, tanpa mengucapkan sepatahpun kalimat kepadanya. Bahkan ucapan selamat tinggal pun tidak.
Dia melepas paksa tanggung jawab di pundak, dan mengopernya begitu saja pada siapapun yang ada di sebelahnya.
Kepada dirinya.
Kepada gadis yang baru menginjak umur delapan belas tahun, dan masih belum siap lahir-batin untuk menjadi Wakil Alam.
MENYEBALKAN!
Rasanya … saat itu juga Valmera ingin menyusul dua orang yang telah mendahuluinya. Meninggalkan dunia yang hanya bisa menjebaknya di memroi tanpa ehntu, dan pengorbanan yang tiada berarti.
****
Seminggu setelah berpulangnya Arther Springgleam….
“Nona … bagaimana ini? Keadaan Llaeca sudah semakin buruk. Bahkan, banyak petani dan pekerja kebun memilih pergi dari Llaeca untuk mencari tempat tinggal baru.”
“Apa!?” Nera, si dayang berambut merah menoleh sambil melotot. “Bisa-bisanya mereka pergi saat Nona dan tanah kelahirannya seperti ini!” Ia menggeram. Menahan diri agar tidak meledak-ledak sampai mukanya memerah.
“Kita … harus menghentikan ini ….” Dera melirik pemuda di samping kanannya. Seakan memberi kode agar ia melakukan sesuatu terhadap sang majikan.
“Nona Valmera …,” panggil pemuda berambut merah.
Tidak ada jawaban.
Orang itu mencoba untuk mengambil perhatian si gadis yang tengah duduk di tempat bersantainya—tepat di dekat jendela yang menampakkan pemandangan taman bunga miliknya. Perempuan tersebut tidak sedikitpun menoleh padanya semenjak 30 menit kedatangannya di sini. Yang ia lakukan hanyalah menerawang langit berawan Kalenbu tergantung menghiasinya.
“Nona, aku mohon dengarkan saya sebentar. Kami benar-benar membutuhkanmu, rakyat Llaeca membutuhkan seorang pemimpin, Nona Valmera,” katanya. “Mereka tidak akan bertahan lebih ama lagi dengan keadaan seperti ini. Tanah kerajaan membutuhkan Nishati. Sebagai keturunan asli keluarga Springgleam, dan penerus tunggal sang Wakil Alam—Raja Arther, hanya Nona yang bisa melakukannya.”
“Jadi, Yang Mulia Ra—“
“Berhenti bicara, Luke.” Valmera menyela tiba-tiba, masih tanpa menoleh ke si pembicara. Walau begitu, Luke bisa menyadari kejengKalenn dan rasa tak suka dari nada bicara gadis tersebut. “Aku tidak mau mendengar ucapanmu lagi,” lanjutnya dingin.
Luke menghela napas panjang. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi membujuk putri satu ini. Setelah beberapa kali mengajak bicara gadis itu, ini pertama kalinya Valmera merespon—walau balasan yang didapat tidak sesuai harapan.
Pemuda itu memijat keningnya. Semua ini membuat kepalanya jadi lebih sering pusing dari biasanya. Membujuk dan menjaga gadis serta kerajaan yang kondisinya sama-sama buruk bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan sekaligus.
Ya, Luke yang mendapat tanggung jawab untuk mengurus Kerajaan Llaeca sementara, bukannya para bangsawan lain. Apakah raja yang menentukan? Tidak. Dia yang mengajukan diri. Dengan alibi bahwa Valmeralah yang telah menunjuknya.
“Untuk tugas-tugas kerajaan, administrasi, dan pengawasan lainnya, atas perintah Putri Valmera, saya yang akan melakukannya,” ucapnya ketika rapat besar bangsawan.
Seruan tak terima dan teriakan penuh protes langsung menghujani dirinya. Bahkan, beberapa menudingnya lancang serta tidak senonoh karena kasta yang melekat pada dirinya. Posisi yang hanya sebagai anak selir serta pengawal pribadi Putri dari Llaeca.
Namun, justru itu yang membuat Luke semakin yakin untuk menggenggam erat hal ini. Jujur saja, ia tidak begitu yakin jika para bangsawan ini yang mendapat tanggung jawab mengurus Kerajaan. Mungkin hanya perasaan, tetapi Luke percaya penuh pada instingnya. Lagipula siapa yang punya ikatan lebih kuat dengan sang putri selain anak selir yang dipercaya sebagai pengawal pribadi, dan Pangeran dari Vorenia yang menjadi tunangan sang gadis?
Karena itu, ia akan menjaganya sekuat dan sebisa mungkin agar tidak jatuh ke orang yang salah.
Meski begitu, ia tetap tidak dapat berbuat apa-apa dengan Nishati. Statusnya yang hanya sebagai anak dari selir Raja Arther, membuatnya tak memiliki kuasa untuk menjadi wakil alam, dan membangkitkan berkat Semesta dari Lilac Putih. Secuil darah pemimpin negeri yang mengalir di tubuhnya tidak berarti untuk mengemban tanggung jawab itu.
Pernah ia mencoba. Mendatangi Ruang Pengabdian dan mengalirkan semua energi sihir yang ia punya ke pohon berbunga putih menyedihkan di tengah ruangan. Lilac putih bisa pulih untuk beberapa detik, sebelum kembali merunduk lemah. Kekuatan Luke tidak bisa menyamai keturunan asli Wakil Alam, jadi yang dilakukannya pun pastilah akan berakhir sia-sia.
Kalau mahkota-mahkota lilac itu semakin layu dan rontok satu-persatu tanpa penanganan segera, maka kerajaan Llaeca peralahan akan runtuh juga dimakan waktu dan alam.
“Maafkan saya, Nona. Suka atau tidak suka Anda mendengarnya, saya tetap harus mengatakannya kepada Anda.” Kini Luke berujar dengan lebih tegas kepada Valmera. “Walau belum resmi, Anda adalah ratu dari kerajaan Llaeca sekarang. Terimalah kenyataan itu. Takdirmu. Demi rakyat, demi semua orang—“
“Cukup, Luke!” teriak sang putri penuh emosi. Ia mengigit keras bibir bawahnya. Kalimat itu lagi….
Kebahagiaan semua orang!?
“Berhentilah mengucapkan omong kosong itu, Luke,” katanya sambil menunduk. “Kebaha…giaan….? Aku tidak peduli dengan itu! Aku sudah muak mendengarnya, Sepupu. Aku muak!” serunya dengan suara bergetar. “Kenapa…kenapa bisa-bisanya kalian menyuruhku untuk membagikan sesuatu yang tak kupunya--!?”
Valmera tersentak. Kalimat sekaligus napasnya tercekat di tenggorokan saat ia merasakan pergelangan tangannya dicengkeram tiba-tiba oleh seseorang. Gadis itu mengangkat kepala dan melihat sosok di sebelahnya dengan mata membuka lebar. Memancarkan keterkejutan serta tanda tanya yang begitu kentara.
“Lu—Luke!?”
“Luke!? Apa yang kau lakukan!?” Dera dan Nera teriak bersamaan. Sama terkejutnya dengan sang majikan.
Namun, telinga si pemuda telah tersumbat oleh kedongkolan. Rasa panik kedua dayang tidak sampai kepadanya. Ia mendekatkan tubuh. Begitu dekat hingga jarak antar hidung mereka tinggal sejengkal. Valmera tak dapat bergerak. Jantungnya semakin cepat berdetak, dengan paru-paru yang masih kesulitan untuk mendapat oksigen dari luar. Sang putri terjebak dalam tatapan si pemuda selama lima detik, tanpa berkedip, sampai lelaki itu berucap, “Kau harus keluar dari kamar ini.”
“A—Apa!? Tidak!”
“Ya! Kau harus, Putri! Kau harus melihat apa yang sudah kau tinggalkan begitu saja selama satu tahun dengan mengurung diri di sini!”
Tidak peduli dengan penolakan Valmera, Luke menyeret gadis itu turun dari tempat dan memaksanya untuk melangkah. Mengikuti dirinya menuju pintu besar yang ada di depan mata.
Berkali-kali perempuan berambut putih berusaha melepas genggaman yang begitu kuat di tangannya, sambil berseru meminta orang di depannya berhenti dan melepaskannya. Namun, indera pendengar Luke telah teredam oleh ketidaksabaran, sehingga tidak ada satu suarapun yang bisa menggetarkan gendang telinganya—termasuk suara gadis di belakang.
Valmera mulai histeris. Sosok itu kembali muncul, bersama dengan rekaman akan apa yang telah ia lakukan di Xologon kepadanya. Tangan, bibir…kepada raganya….
Dia berteriak.
... ....