Lilac 22

1112 Kata
~~***~~ Histeria yang lagi-lagi terjadi tiap kali teringat denan kenangan buruk itu. Padahal … ia sudah berhasil melupakannya  untuk beberapa hari, tapi Luke malah membuat semuanya mencuat kembali dari kepala. Jeritan sang putri seakan berhasil menyadarkan pemuda yang tenggelam dalam emosi. Genggamannya mengendur, dan di saat itu Valmera langsung jatuh berlutut di atas lantai—masih histeris. Hal itu membuat Luke kaget dan panik seketika. “Nona? Nona Valmera, hey! Tenanglah Nona!” Sial! Ia seharusnya tidak sekeras itu pada perempuan yang kondisinya masih tak karuan. Dia memeluk erat tubuh Valmera yang bergetar hebat. Menenggelamkan wajah itu di d**a bidangnya, sambil membisikkan kalimat-kalimat penenang di telinga. Butuh waktu cukup lama sebelum Luke bisa merasakan getaran di dekapannya mereda. Valmera perlahan mulai bernapas dengan normal. “Nona, maaf, aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini,” katanya dengan bahasa lebih kasual. Tidak ada balasan dari Valmera. Gadis itu terlalu lelah bahkan untuk mengucapkan sepatah kata. Ia pun memutuskan untuk melanjutkan, “Tapi, ini demi kebaikan Llaeca, demi kebaikanmu dan semua orang di negeri ini. Saya tidak bisa melakukannya semuanya sendiri, karena secara takdir pun bukan saya yang seharusnya duduk di bangku kekuasaan.” Pemuda itu mengusap pucuk kepala Valmera pelan. Sebisa mungkin berkata dan berlaku lembut kepadanya. “Nona Valmera …kau menyayangi rakyatmu, bukan? Sejak kecil, kau selalu berseru tentang membuat orang-orang di sini tetap tersenyum dan ceria tiap harinya. Tidak akan membiarkan mereka menderita bakal sedikit pun. Waktu itu juga kita berdebat tentang keinginanmu berlatih tarung untuk melindungi Llaeca. Semangat yang sama seperti yang dimiliki ayahmu. Apa kau lupa? Untuk apa adu mulut itu terjadi kalau ujungnya Nona begini? Apa kau mau membuang semua itu dan terjebak di tempat ini? Selamanya?” Valmera masih bungkam. Namun, di dalam dirinya, dia memikirkan semua yang dikatakan Luke. Memang benar adanya kalau dulu ia pernah berkata seperti itu. Menjadi sosok ayahnya yang kuat, baik hati, bijaksana, dan dikagumi banyak orang. Hanya saja, sekarang ia sedikit ragu dengan impian itu. Luke mengangkat wajah gadis itu. Memita Valmera untuk menatap matanya. Valmera menuruti, dan seketika iris magentanya beradu dengan iris jingga pemuda yang menatapnya lembut. Senyum manis juga turut menghiasi wajah tegasnya. Berbeda dengan sebelumnya, kini Luke seperti menjadi sosok kakak yang melindungi adik kecil. “Tuan Putri Valmera, ikutlah denganku sebentar saja, ya?” **** Uuh…. Seluruh bulu kuduk Valmera meremang kala angin di luar istana berhembus mengusap kulitnya. Tubuh itu sudah terlalu lama terkurung di tempat yang sama selama hampir dua tahun lamanya. Keluar dari sana setelah sekian lama, membawa rasa asing tak mengenakkan mengalir di dalam dirinya. Valmera merasa sudah terlalu lama berada di luar—walau nyatanya ia baru saja melewati pintu utama kastil Springgleam. “Lu—Luke, ma—mau kemana kita?” tanyanya cemas. Pemuda yang menggandeng tangannya di depan menoleh. Sambil tersenyum ia menjawab, “Mencari udara segar. Memangnya Nona tidak bosan di ruang pribadimu terus?” Belum semat Valmera menyanggah, pemuda itu melanjutkan, “Sudahlah. Nona akan baik-baik saja. Percaya pada saya.” Mereka berdua kembali mengangkat kaki melalui jalan utama menuju gerbang besar di depan sana. Semakin jauh gadis itu dari bangunan megah di belakangnya, rasanya ia semakin menggigil. Beberapa kali ia meminta Luke untuk membawanya kembali masuk kastil, tapi pemuda itu menolak dan tetap bersikukuh menggiringnya ke luar. Gerbang coklat semakin dekat. Seketika perut Valmera serasa bergejolak—geli plus mulas. Dia menghentikan langkah lagi. Menggelengkan kepala kuat-kuat kepada Luke—tanda ia tidak mau melewati pembatas antar zona nyaman dengan dunia laur yang berbahaya. Sekali lagi, Luke meyakinkan gadis itu. Dengan sedikit memaksa, ia menarik lengan sang putri dan meminta para penjaga untuk membukakan gerbang. Valmera yang terlanjur gentar menutup mata rapat-rapat. Tangannya terkepal kuat, dan keringat dingin membasahi pelipisnya. Sosok perempuan yang dulu pernah dengan nekatnya berlari sendirian menuju desa yang diserang kawanan makhluk Narak, kini gemetar ketakutan. Valmera benar-benar tidak bisa mengenyahkan bayang-bayang negatif di benaknya. Entah itu mengenai pemandangan yang akan dilihatnya, orang-orang yang ditemui, atau sesuatu yang lain—yang lebih buruk dari semua itu. Dan, dengan menggelapkan pandangan seperti ini, ia berharap semua visual itu akan menghilang. “Tuan Putri…?” Gadis itu terperanjat. Suara yang menggentarkan gendang telinganya tiba-tiba, berhasil membuatnya membukakan mata. Perlahan, indera penglihatannya itu bisa menangkap warna-warna yang ada di sekitarnya dalam keadaan buram. Semakin lama semakin jelas, mulai terbentuk, hingga akhirnya Valmera menyadari ada seseorang yang berdiri di hadapannya. Anak kecil? Perempuan setinggi pinggang yang terbalut dress merah yang agak berdebu mendongak menatap Valmera. Kedua mata bulat berwarna coklat terang menatap penuh binar. Tangan mungilnya menggenggam beberapa tangkai bunga berwarna biru, yang kemudian ia serahkan kepada putri raja tersebut. Ragu, Valmera menerimanya, memandangnya sesaat lalu melirik kembali gadis kecil tadi dan tersenyum. “Terimaka—“ Senyum. Atau sihir? Valmera tidak mengerti. Yang jelas, tarikan pada sudut-sudut bibir itu seakan menyihirnya dengan kekuatan malaikat. Menghilangkan kabut gelap yang menyelimuti, mengembalikan cahaya yang telah cukup lama pudar darinya. Malaikat kecil ini menyadarkan Valmera akan sesuatu. Pandangannya menyapu sekeliling, dan pada saat itu ia sungguh terkejut dengan apa yang ada. Orang-orang tengah banjir keringat. Rumah-rumah masih banyak yang belum layak utuk dihuni, memaksa pemiliknya untuk mencari tempat sementara untuk mereka berteduh dan bermalam. Valmera tidak ingat. Sejak kapan rakyatnya seterpuruk ini. Sudah berapa lama ia meninggalkan mereka dan tenggelam dalam kepedihannya sendiri. Saat itu, Valmera sungguh merasa sangat egois. Dan, gadis ini menyadarkannya. Dengan sekuntum lilac biru—sekuntum kebahagiaan. Anak kecil itu menyatukan suara hati banyak orang dengan memberikan benda ini kepadanya. Itulah alasan mengapa ia begitu bahagia kala Valmera menerimanya. “Bagaimana, Nona Valmera? Apa udara segar di sini sudah cukup menyegarkan pikiranmu?” kata Luke. Tidak! Bukan seperti ini! Llaeca bukan negara yang seperti ini! “Saya akan mengantarmu kembali ke istana, kalau Nona tidak nyaman—“ “Tidak!” Kini Valmera bersuara. “Tidak, Luke. Aku tahu. Aku sudah terlalu lama meninggalkan negara dan rakyatku berjuang dan menderita sendirian. Aku tidak bisa membiarkan keadaan seperti ini lebih lama lagi.” Dia menoleh pada lelaki di dekanya. Luke bisa menangkap air mata hampir menetes disudut matanya, tapi ia juga bisa melihat sorot mata yang begitu dikenalinya. Sorot penuh ambisi, sekaligus kasih sayang. Valmera berjongkok, membalas senyum gadis kecil itu dan berucap, “terimakasih, Manis, dan…maafkan aku.” Gadis itu menggeleng. “Tidak apa-apa, Tuan Putri. Aku—ah tidak!—tapi kami semua mengerti dengan keadaanmu,” jawabnya sambil tetap tersenyum. Sang putri semakin merasa bersalah. Bahkan si kecil ini bisa berempati dengan dirinya, tapi selama ini ia malah mengabaikannya. Sang Putri berdiri. Ia terdiam sesaat, sebelum akhirnya memanggil pemuda berambut merah panjang itu, dan mengucapkan sesuatu yang membuat Luke terkejut tak percaya. “Luke,” katanya. “Aku bersedia…menjadi penerus Ayahku.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN