Lilac 23

2149 Kata
**** Seperti mentari yang dengan murah hati menyambut pagi, semua orang ramai-ramai berdatangan ke kastil Springgleam dengan wajah super ceria. Beberapa hari yang lalu pelangi mendadak muncul di antara badai tiada henti. Hampir tidak percaya dengan apa yang angin bawa sebagai kabar gembira untuk mereka. Sang ratu telah lahir kembali! Pewaris tahta yang asli, telah hadir untuk mengayomi negeri ini. Setelah pernyataan Valmera bahwa ia akhirnya setuju untuk menggatikan sang ayah, gadis itu kembali sibuk mengurung diri di kamar. Hanya saja kali ini berbeda. Ia berdiri di depan jendela besar. Menatap hamparan bunganya yang sedikit pudar karena tidak menerima aliran Nishati. Berkali-kali ia mempertanyakan keputusan yang diambilnya. Apakah ia memang siap? Apakah ini memang yang terbaik untuk dirinya, dan Llaeca? Dia hanyalah gadis delapan belas tahun yang hanya tahu cara memimpin kerajaan dari ayahandanya, apakah semua ini akan baik-baik saja jika diteruskan? Valmera takut kalau semuanya akan berakhir dengan kehancuran negerinya. Di tengah kebimbangan dan kegelisahannya, dia mendengar pintu di belakangnya dibuka oleh seseorang. Luke datang dengan setelan formalnya, lengkap dengan pedang yang menggantung di pinggang kirinya. “Nona Valmera, sudah waktunya.” Dehaman pelan menjadi jawaban. Namun, sang putri tak kunjung membalikkan badan dan melangkah keluar ruangan. Ia tetap bergeming di tempat, masih dengan sepasang mata yang tertuju pada taman lilac di bawah sana. Barulah setelah jeda yang cukup lama, Valmera berucap kembali, “Luke … apa benar ini tidak apa-apa?” tanyanya, “Aku memang ingin menyelamatkan apa yang ada di kerajaan Llaeca. Melindungi semua, dan mengembalikannya seperti sedia kala dengan kemampuanku, tapi ….” Valmera merunduk. Menatap dua tangannya yang tak lama lagi akan memegang tongkat kekuasaan, dan melanjutkan, “Aku takut aku tidak bisa mewujudkan semua mimpi itu. Aku takut malah akan berakhir menghancurkan harapan semua orang. Aku … aku tidaklah sehebat Ayah.” Luke menggeleng. “Itu tidak benar, Nona. Anda sama hebatnya dengan Raja Arher, dan saya yakin Nona pasti bisa menjadi Wakil Alam untuk Llaeca—dengan caramu sendiri.” Sang putri memutar badan. Menghadap pemuda yang telah menjemput dan siap mengantarnya menuju aula kerajaan—tempat di mana ia akan dinobatkan sebagai penguasa yang sah. Ia melihat sepupunya dengan tatapan bertanya-tanya, “Caraku … sendiri? Bagaimana?” “Nona akan menemukannya nanti.” Luke mengulurkan tangannya dengan sopan. Sedikit merundukkan badan tanda hormat kepada sang calon Ratu. “Yang Mulia?” Satu tarikan   napas panjang diambil sekali oleh sang gadis, sebelum akhirnya ia menerima juluran itu. Mulai melangkah menjemput takdir yang telah disiapkan Semesta untuknya. Siap tidak siap, Valmera. Demi impian semua orang. **** Hiruk-pikuk orang yang mengisi ruangan seketika lenyap kala seseorang melangkah di pelataran. Sosok wanita yang tengah berjalan anggun menuju tempat di mana ada seseorang yang telah menunggunya tersebut terlihat begitu menawan. Gaun dua warna—ungu dan merah muda—membalut tubuh rampingnya dengan indah. Modelnya yang tanpa lengan membuat kedua bahunya terekspos, dengan hiasan bunga-bunga di bagian atas d**a, sedangkan tangan mulusnya terbalut sarung tangan hingga lengan atas dengan warna pink yang lebih pucat, menyatu dengan aksesoris semacam kerah tinggi transparan yang mengitari dan menutupi punggungnya. Penampilannya terlihat semakin mewah dengan hiasan mirip sulur-sulur halus dari bagian pinggang hingga ke ujung paling bawah. Sebuah chocker perak bertabur berlian turut mempercantik putri dalam perjalanannya menuju takdir yang baru. Gadis itu berusaha untuk terlihat tenang, menegapkan tubuh, memadangan lurus ke depan dengan sorot mata penuh keyakinan, walau sebenarnya ia gugup tak karuan. Ia tidak ingin orang-orang di sini melihatnya gemetar, dan ragu, lantas tidak mempercayainya. Tidak. Tanpa sadar ia telah berdiri di hadapan pria berpakaian panjang berwarna biru. Di pundakyna terselampir selendang dengan gambar bunga-bunga kecil dalam tangkai dan sepasang daun, sebagai lambang dari kerajaan ini. Sepatah dua patah kata diucapkannya untuk memulai ritual penobatan ini. Dengan suara music dan paduan suara pelan, pria itu menyelesaikan kalimatnya dan mengambil sesuatu yang terletak di atas altar di belakangnya. Sebuah mahkota. Saat pria itu berbalik lagi ke arahnya, Valmera setengah berlutut. Mempersilakan orang itu untuk meletakkan benda setengah lingkaran dengan ornament bunga, kupu-kupu, dan mutiara yang menghiasi itu di kepalanya. Tiara cantik dari emas lantas berkilau cantik di tempatnya, membuat semua orang yang melihatnya terpana. Ia kemudian berdiri, memutar tubuh 180 serajat untuk menghadap orang-orang di atas kursi panjang. “Sambutlah pemimpin baru kalian! Ratu Valmera Springgleam dari Llaeca!” ***** Di sebuah lorong istana yang menghubungkan satu ruangan dengan ruangan lain, terlihat beberapa orang melangkah beriringan—perempuan bertudung dan bergaun putih-emas panjang membawa sebuah lentera emas di tangan—dengan  dipimpin oleh gadis beserta dua orang lelaki di sampingnya. Suasana begitu hening dan khidmat. Setelah dinobatkan sebagai penerus secara sah beberapa saat yang lalu, Valmera masih harus melakukan ritual wajib bagi seorang pemimpin, yakni menghadap kepada Semesta. Langkah mereka terhenti tepat di depan pintu besar bewarna coklat, yang ada di ujung koridor istana ini. Dua orang wanita putih di belakang Valmera mendahuluinya—membukakan pintu dan memberi jalan sang ratu untuk masuk ke dalam ruangan. Gadis bermahkota itu kemudian mengangkat kakinya, tetapi berhenti saat baru selangkah berjalan. Entah mengapa, rasa takut dan ragu kembali menyeruak ke dalam dirinya. Memasuki tempat sakral ini, berarti tidak ada jalan untuk kembali. Menyelesaikan ritual ini, berarti hidup Valmera akan berubah sepenuhnya. Ia tidak siap. Ingin balik kanan saja rasanya. Ia merasa belum mampu untuk berada di titik ini. Namun, sosok gadis yang ditemuinya beberapa hari lalu, serta keadaan rakyatnya yang tidak bisa benar-benar tersenyum kembali menyadarkannya. Valmera menoleh kepada pemuda di kirinya. Lelaki berambut panjang itu tersenyum padanya lantas mengangguk. Meyakinkan sang gadis bahwa yang ia pilih itu benar, dan semuanya akan baik-baik saja. Melihat itu, akhirnya dalam satu kali hembusan napas panjang, Valmera melanjutkan langkah. Pintu coklat besar kemudian meuntup kala sang gadis telah benar-benar berada di dalam. Memisahkannya dengan rombongan—sendirian. Ia memandang ke depan. Tempat ini begitu rindah walau berada di dalam ruangan. Pohon-pohon, semak, dan tanaman-tanaman tinggi tumbuh di sepanjang jalan kecil yang ditapakinya. Sinar mentari yang masuk dari atap kaca tidak sepenuhnya menerangi. Sulur-sulur panjang dan tanaman rambat menggantung di atas kepalanya, menghalangi cahaya yang hendak masuk dari luar. Valmera meniti jalan dengan tetap mempertahankan keanggunan dan adab, serta wibawanya di sini, hingga akhirnya, dia mencapai pusat—di mana sebuah pohon setinggi satu meter yang daun dan bunganya menutupi hampir seluruh batangnya. Malaikat putih. Itulah nama dari pohon lilac ini. Walau fisiknya sama seperti lilac yang ada di taman kerajaan, yang satu ini sangatlah berbeda. Warnanya lebih putih dan bersih, serta memancarkan kilau bening di sekitarnya. Aura tanaman itu pun terasa sangat berbeda, karena memang tanaman inilah yang menjadi perantara semesta untuk mengalirkan kekuatannya kepada negeri ini. Dan, pemimpinlah yang membukakan jalannya. Yakni, dirinya, Valmera. Calon Rielga selanjutnya. Sebelum melakukan tugas itu, ia harus memperkenalkan diri dulu kepada Sang Semesta. Ia mendekat ke pohon keramat itu. Bak ada angin yang berhembus, tanaman-tanaman di sekitarnya bergoyang pelan. Kembang kecil milik Malaikat Putih itu juga berpendar makin terang, turut melambai anggun menyambut si ratu. Valmera bersimpuh setelah lebih dekat setapak lagi. Gaun indahnya langsung melebar di atas tanah, mengembang indah seperti kelopak bunga yang baru mekar di pembuka musim semi. “O Semesta, di sini hadir pengabdimu, pemimpin dari negeri di bawah berkahmu. Valmera Springgleam, putri tunggal Raja yang telah berpulang, Arther Springgleam.” Valmera menautkan jari jemari di depan dadanya, lalu melanjutkan, “eynr vie ray. Sambutlah diri ini, agih Nishati pada raga baru sang Rielga. O Semesta...” Poni Valmera berkibar ke atas saat angin dan cahaya transparan menguar dari pohon di depannya. Kerlip bak kunang-kunang mengitari tubuhnya, dan Valmera menutup mata. Tubuh perempuan itu perlahan terangkat ke atas, sampai akhirnya melayang setengah meter di atas tanah. Gadis itu tetap terpejam. Merasakan belaian lembut di kulit yang terasa menembus ke tubuhnya dan menyatu dengan jiwa. Mengalir ke seluruh raganya hingga Valmera bisa merasakan sesuatu yang kuat terkumpul di relungnya—menghantarkan rasa hangat dan melegakan yang begitu menenangkan. Saat itu, Valmera merasa benar-nar menyatu dengan Semesta. Dorongan mistis membuatnya membuka kelopak yang membungkus pandangan. Sebuah bola cahaya melayang tepat di depannya. Benda itu perlahan mengurai, membentuk sesuatu baru yang semakin lama semakin jelas wujudnya. Sebuah benda panjang perak dengan ujung meliak-liuk indah terpampang di sana. Perlahan, tongkat itu bergerak turun, bersamaan dengan tubuh Valmera yang juga mulai mendekati pijakannya kembali. Seakan mengerti, Valmera mengadahkan kedua tangannya. Tongkat yang lebih tinggi sedikit dari tubuhnya, mendarat dengan sempurna di genggaman, dan ia pun telah mendarat dalam posisi berdiri di tempat tadi. Inikah yang Semesta titipkan padanya? Kalau Rielga sebelumnya membawa pedang, kini sang penerus terpilih oleh Semesta untuk meminpin denan tongkat kekuasaan. Valmera bisa merasakan energi mistik mengalir dari jari jemari menuju seluruh tubuh. Resmi sudah. Dia telah terikat dengan kedudukan ini. Dengan tiara di kepala dan tombak yang akan mengusung seluruh kehidupan di Kerajaan Llaeca, kehidupan baru di bawah kekuasaannya akan dimulai dari sekarang. ***** Pesta besar penobatan Valmera sebagai ratu dari Llaeca masih berlangsung ramai di dalam istana. Namun, sosok yang seharusnya tersenyum dan menyambut semua orang yang ada malah tidak berada di tempatnya. Valmera meminta ijin kepada Luke untuk keluar sebentar mencari angin segar. “Bilang saja aku sedang ada urusan kalau seseorang mencariku,” katanya yang langsung dibalas anggukan paham dari si pelayan berambut merah. Kini, ia berdiri di antara semak dan kembang warna-warni yang tertata rapi. Memandang lurus ke depan, tempat di mana sebuah gazebo putih berhiaskan tanaman gantung berada, dengan bulan penuh menghias di puncaknya. “Juga sebagai bukti aku mencintaimu.” Valmera memalingkan wajah dengan mata terpejam. Berusaha mengenyahkan semua bayangan yang muncul karena tempat penuh memori ini. “Tidak. Tidak sekarang. Tidak di hari ini, di mana semuanya tengah berbahagia,” gumamnya sendiri. Saat ia masih fokus untuk mengenyahkan hal-hal tak dininginkan dari kepala, Valmera merasakan sesuatu tergenggam di tangan kanannya. Ia melirik apa yang sedari tadi tanpa sadar dipegangnya. Dan, ternyata benda itu adalah dua buah kembang kecil bewarna biru, yang sempat diberikan oleh Luke setelah ritual penobatan selesai. Valmera tahu ini adalah bunga pemberian dari gadis waktu itu. Entah Luke sengaja memberinya, atau ini sebuah kebetulan, yang jelas sang ratu bisa membaca pesan yangdi bawa kepadanya, kembang berwarna biru itu seakan berucap bahagialah! sambil memancarkan aura magisnya. Menghilangkan segala keburukan dan rasa sedih yang sempat mendatanginya. Rasa keraguan ini tetap saja enggan hilang dari benaknya. Takut…apa yang dia janjikan—yang juga menjadi impiannya—tidak bisa digapai. Yang bisa berujung mengecawakan banyak orang. Valmera pun takut ia tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai pemimpin sekaligus Rielga—jantung kehidupan Llaeca. Masih setengah melamun, udara kembali bertiup dan serta merta menerbangkan daun-daun yang gugur di sekitaran taman itu. Satu lagi bunga lilac mendarat di tangannya yang masih terbuka, bersanding dengan lilac biru di sana. Untuk kedua kalinya, pesan sampai kepadanya. Kembang magenta kecil itu melayang dan berputar pelan. Dia bercahaya tipis, dan seakan membangkitkan energi lain, lilac yang satu lagi ikut melayang dan bercahaya pula. Spiritual. Valmera mengerti. Dia melirik tongkat di tangan kiri. Mendekatkan bunga itu pada bola kristal yang mnghiasi pucuk benda tersebut. Kedua lilac itu berubah sepenuhnya menjadi bola cahaya, dan masuk ke kristal bundar dan bergerak-gerak di dalam sana. Semesta bersamanya. Selama ia meyakini hal itu, semua akan baik-baik saja. Begitulah pesan yang menyusup ke dalam hatinya melalui lilac magenta tadi. Yang perlu dilakukannya sekarang adalah melakukan apa yang bisa untuk rakyat dan kerajaannya. Bola cahaya yang kecil itu semakin membesar hingga memenuhi bola kristal. Tongkat kekuasaan itu jadi terlihat indah, menghiasi malam dengan efek aurora yang berputar di sekeliling Valmera. Sang ratu menggenggam tongkatnya dengan kedua tangan di depan. Ia pejamkan mata. Kini pikirannya penuh dengan pengharapan, cita-cita, senyum kebahagiaan yang menghiasi semuanya. Warna-warni semua itu semakin terang, kala kunci utama mengayominya. Kebahagiaan. “Semesta…bantu aku. Bantu Rielgamu ini melindungi apa yang menjadi hidupnya, penyokongnya. Jauhi sang kegelapan, naungi kami dengan keajaibanmu.” Aurora semakin membesar. Menyebar sampai ke kastil dan pemukiman di luar sana. Semua mata kini tertuju pada keindahan yang melambung tinggi ke angkasa, menemani rembulan yang bersinar di antara bintang-bintang. Valmera menarik napas dalam-dalam. Meresapi salam semesta yang ada di sekelilingnya. Angin, tumbuhan, juga suara binatang-binatang malam yang menemani, semuanya mengeluarkan aura yang terus mendorongnya. Kelopak mata membuka. Selagi itu, tangannya bergerak turun dan mempertemukan ujung tongkat dengan tanah. Energi Semesta yang terkumpul di bola kristal itu langsung mengalir ke bawah. Merambat ke seluruh daratan yang ada di bawah kekuasaan Valmera Springgleam. Mulai dari sini—Istana Springgleam—Ibukota, desa Ramsey, hingga ke wilayah paling utara dan barat Llaeca—Desa Aramore dan  Desa Falholt. Nishati kemudian bergerak naik, merubah wujud yang mulanya hanya kumpulan cahaya menjadi lapis transparan. Terus ke atas hingga setiap sisinya menyatu di tengah-tengah. Membentuk kubah pelindung buatan si Rielga yang menyelimuti seluruh daratan Llaeca. Suara-suara gembira langsung ramai di antara orang-orang yang melihatnya. Sambil tersenyum, mereka terus mengucap syukur. Sang Ratu benar-benar telah kembali! Ketakutan dan trauma masa lalu tersapu dengan harapan yang tersebar di atas kepala mereka. Dalam hati mereka semua berdoa. Berharap kebahagiaan dan ketentraman ini akan abadi selamanya. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN