~~***~~
Hela napas terdengar di salah satu ruangan kastil Springgleam yang penuh dengan rak dan buku-buku. “Ya. Dengan begini selesai!” Gadis yang duduk di belakang meja kerjanya meletakkan stempel yang baru saja ia pakai. Lambang lilac kembar yang saling menyilang kini terpampang mengunci spucuk surat untuk diantarkan oleh pembawa pesan kerajaan.
“Nona Valmera … kau masih punya banyak pekerjaan di sini. Tolong jangan berleha-leha dulu.”
“… haa …?” Valmera menyahut malas. “Sebentar saja, Luke. Aku ingin istirahat sebentar.”
“Saya di sini bukan untuk melihat Anda tidur di atas meja kerja, Nona. Sebagai penasehat sekaligus pengawal pribadi Anda, aku harus memastikan semua urusan kerajaan—terutama yang berhubungan dengan kerajaan lain—selesai, dan Nona tetap dalam kondisi prima,” tutur pemuda itu panjang lebar dengan nada kesal.
“Kau ini cerewet sekali. Terkadang aku bertanya-tanya…apa mungkin jiwa ibuku masuk ke tubuhmu, sampai kau bawel begini.”
“Apa!?”
Valmera terkekeh. “Lagipula, kalau kau tidak ingin di sini, kau boleh pergi. Kau bisa jalan-jalan keluar, berkeliling Ibukota, mengecek desa-desa di Llaeca, atau kemanapun yang kau mau. Bahkan, kalau kau ingin kembali ke istana lamamu dan tidak lagi menginjak kaki lagi ke sini juga boleh.”
Luke mengerutkan kening dalam. “Tunggu, apa ini semacam kode kalau saya dipecat dan masuk daftar hitam kerajaan?” Senyum yang lantas disunggingkan dengan tatapan tajam membuat ia berseru, “Nona, Anda serius!?”
Sang gadis terbahak-bahak. “Oh, Luke. Aku hanya bercanda! Tidak mungkin aku mengusirmu begitu saja. Aku membutuhkanmu. Ratu Valmera tidak bisa mengurus kerajaan sendirian, Ratu membutuhkan orang bijak sepertimu.”
Perempuan berambut putih itu semakin melebarkan seringai saat Luke—orang paling kaku yang ia kenal—salah tingkah dengan muka memerah. Menggoda teman kecilnya satu ini sudah menjadi hiburan tersendiri di antara pekerjaan-pekerjaan yang harus ia selesaikan. Valmera sudah kembali pada tumpukan buku dan kertas yang harus ia baca, cap, tandatangani, dan selesaikan—saat orang di sampingnya berkata, “Kalau begitu carilah seseorang.”
Perempuan itu menoleh tak paham, “maksudmu?”
“Sudah jelas, bukan? Tentu saja seorang raja. Lelaki yang akan menjadi pendamping hidup Anda dan menemani Nona melindungi kerajaan Llaeca. Lagipula, Anda sudah terlalu lama seorang diri, Nona Valmera. Anda butuh seseorang untuk melengkapi bagian diri Nona yang hi—“
Luke langsung bungkam, kala menyadari ia sudah terlalu banyak bicara. Perubahan raut wajah Valmera jelas-jelas menunjukkan kalau dirinya baru saja mengatakan sesuatu yang tidak sepatutnya dia ucapkan. “Yang Mulia, maaf aku….”
Ia menggeleng pelan. “Tidak. Tidak apa-apa, Luke.”
Tidak. Kau tidak “tidak apa-apa”. Aku tahu itu.
Walau sudah lima tahun sejak saat itu, aku tahu kau masih terperangkap di sana. Di tempat gelap dan hampa, dengan semua pemandangan yang tidak mungkin kau lupakan.
“Hari ini langitnya cerah, ya,” kata sang Ratu membuyarkan lamunannya. Ternyata sedari tadi gadis itu tengah memandang ke langit biru di luar jendela. Menatap lurus pada sesuatu entah apa, tetapi ia benar-benar tidak sedikitpun mengalihkan pandangan.
Namun, kemudian Valmera kembali bersuara. Menanggapi obrolan yang beberapa menit lalu mereka lakukan. “Soal ucapanmu tadi…aku sudah nyaman seperti ini.” Senyumnya merekah lembut bak bunga musim semi di tamannya.
Pembohong.
Sosok tersebut berdiri tiba-tiba. Tanpa berkata apa-apa, dia melangkah menjauhi tempat duduk tadi. Luke mengikuti pergerakan perempuan itu juga tanpa bersuara. Barulah saat Valmera dekat dengan pintu ia bertanya, dan dijawab, “Berkeliling Ibukota. Kau mau ikut?”
****
“Yang Mulia.”
“Selamat pagi, Yang Mulia Valmera.”
“Ratu Valmera! Selamat pagi!”
Orang-orang saling melempar senyum sapa kepada wanita yang melangkah anggun di tengah kesibukkan tempat itu. Gaun maroon berlengan sesiku nampak begitu bersinar di antara yang lain. Bagian bawah berlapis dengan ujung berwarna putih bergerak lembut seiring kaki jenjangnya menapak. Hiasan bunga kecil di pinggang dan lengan terompet semakin memperindah penampilan Valmera.
Tak. Tak.
Tongkat yang ada di tangannya mengetuk tanah dan menyebarkan energi di dalamnya. Ia melakukan itu sembari terus membalas sambutan warga. Sesekali Valmera juga berhenti untuk membatu orang, atau melihat anak-anak tengah bermain. Dari mereka juga ia mendapat sekuntum bunga liar yang sekarang terselip di telinga.
“Sudah selesai?”
Valmera balas dengan senyum lebar. “Ini menyenangkan.”
“Bagian mana, lebih tepatnya?”
“Bagian berbagi senyum dan menebarkan energi Semesta yang kupunya,” jawabnya. “Melihat wajah mereka yang cerah ceria, dan tawa penuh kesenangan, jadi relaksasi tersendiri untukku. Menghempas rasa takut dari .... kenangan lama.”
Lirikan sang gadis yang penuh makna langsung tertangkap oleh lelaki di sampingnya. Mereka berdua berdiri di sisi jembatan yang ada di luar area ibu kota. Sungai besar mengalirkan air bening yang memantulkan langit biru di atasnya, dan jauh di ujung sana, sebuah gunung menjulang dengan bukit-bukit di dekatnya.
Sungguh Valmera ingin menjaganya, pemandangan indah ini, rakyatnya, dan tanah Llaeca. Ia berjanji agar tidak membiarkan air mata dan darah siapapun kembali tumpah.
Luke sendiri masih belum mengalihkan pandangan. Dibanding semua panorama yang mengelilingi, ia terpaku pada wanita yang tengah memandang lurus jauh ke depan. Sinar matanya memancarkan cinta dan kasih sayang yang begitu kentara. Angin yang berhembus mengibarkan surai seputih salju sekaligus sihir memikat yang semakin mengunci Luke agar tidak berpaling.
Ditengah kebisuan itu, tiba-tiba Valmera terdiam. Memandang lurus jauh ke dapan, lalu tiba-tiba berbalik dan mulai melangkah.
Luke yang terkejut dengan kepergian tiba-tiba sang ratu berseru, “Hei, tunggu! Nona mau kemana?”
Sang gadis menoleh. “Aku ingin pergi ke satu tempat….” Diamnya Valmera yang lama seakan memberi isyarat agar Luke memikirkan sendiri apa tempat yang dimaksudkannya, dan seketika terlintas sebuah nama di kepalanya.
“Tunggu…jangan bilang Nona….”
Sang ratu tersenyum, dan langsung pergi untuk menghindari Luke yang kemungkinan besar akan mulai menceramahinya .
****
“Tu—Tunggu, Val—maksudku, Nona Valmera! Anda yakin mau ke sana?”
Valmera mengangguk mantap tanpa menghentikan langkahnya. Berjalan mendahului Luke menuju tempat istana Springgleam menymipan kuda milik kerajaan. Gadis itu langsung meminta pengurus tempat tersebut untuk membawakan satu miliknya. Seekor kuda putih bersih berjalan tegap dipandu oleh lelaki tadi. Ia juga membawa seekor lagi yang berkulit coklat milik Luke, karena pemuda itu juga memintanya.
Kedua orang itu langung memacu kudanya untuk eprgi ke tempat tujuan. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di desa Ramsey yang saat ini hanya ramai oleh kicauan burung di atas pohon yang jauh dari sini.
Jauh.
Karena tidak ada pohon terdekat yang layak untuk ditinggali binatang bersuara merdu itu. Atau binatang pohon yang lainnya.
Sang gadis memperlambat langkah. Matanya mengabsen satu persatu apa yang tersisa di daratan yang tanahnya telah gosong menghitam itu.
Valmera menggigit bibir bawahnya.
Tidak ada.
Tidak ada yang bersisa.
Ratu itu telah mencoba berkali-kali untuk mengembalikan keadaan di tempat ini, berbagai usaha ia lakukan pula, namun akhirnya selalu sia-sia. Tidak ada energi yang bisa berpengaruh lagi untuk desa Ramsey—bahkan kekuatan dari Semesta pun tak mampu untuk memulihkannya.
Sekarang pun ia mencoba untuk menyebarkan energi spiritual di tongkatnya ke daerah ini. Dengan posisi yang masih duduk di atas kuda andalannya, ia mengangkat tinggi-tinggi benda di tangannya itu. Seketika, sinar violet berpendar, dan sulur-sulur cahaya menguar dari dalam sana. Menyebar, menyentuh semua yang ada di sana.
Biasanya, cukup waktu lima sampai sepuuh menit untuk menyelesaikan semuanya. Namun, kali ini sudah lebih dari waktu sewajarnya, dan tidak ada setitikpun bagian yang menunjukkan perubahan. Valmera menghembus napas berat.
“Nona Valmera, jangan bilang kau sering ke sini diam-diam?”
Sang gadis tidak menjawab. Namun jelas dari sunggigan senyumnya, ia sudah berkali-kali ke tempat ini tanpa berpamitan, dan tanpa pengawasan. Mungkin perempuan itu mengendap-endap dari istana, meninggalkan meja kerja dan segala kewajiban yang ada di sana saat dirinya tengah tak ada, atau sibuk dengan lain hal.
“Sampai kapan Anda akan mencoba? Desa ini benar-benah sudah menjadi desa mati karena energi dunia bawah meracuni tanah di sini. Taka da lagi yang bisa kita lkukan.”
“Aku tahu,” balas Valmera. “Tapi, aku tidak tahan melihat tempat yang termasuk desa penting di Llaeca bernasib seperti ini. Setidaknya aku bisa terus berusaha, walau…ya…hasilnya tetap sama.”
Valmera melanjutkan perjalanan. Mengelilingi desa yang sepi dan mulai terlihat menyeramkan, tetapi juga terlihat menyesakkan di matanya. Ia bersyukur warga yang menempati tempat ini banyak yang selamat dan kini telah memiliki tempat baru di desa-desa lain, walau tetap saja rasa ingin mengembalikan apa yang telah direnggut dari mereka selalu tumbuh di diri Valmera.
Di tengah keheningan yang menyelimuti mereka, Luke tiba-tiba angkat bicara. Mengajak si ratu untuk kembali ke istana sebelum orang-orang mulai mencarinya. Wanita itu setuju dan memutuskan untuk memutar balik tunggangan, sebelum ekor matanya menangkap sesuatu dari kejauhan.
Luke ikut berhenti. “Ada apa?”
Ia tidak menyahut dan tetap memincingkan mata ke balik bangunan dan pohon yang masih setengah utuh di sana. Valmera yakin sekali barusan melihat seKalenbt bayangan melintas. Apa ada orang di sini? Tapi siapa? Penduduk sekitar tidak ada lagi yang kerap berkunjung ke sini. Mereka menolak, dan energi negative juga terlalu kuat di desa ini.
“Nona, awas!!”