~~***~~
“Nona, awas!!”
Sosok yang terpanggil namanya menoleh ke arah berlawanan, dan di saat itu juga tubuhnya terhantam keras oleh sosok yang melesat tiba-tiba. Valmera langsung terjatuh dari kuda, sedang orang tadi mendarat tak jauh di belakang.
Luke segera turun dan membantu gadis itu berdiri, sambil memasang posisi siaga. Beruntung, tanah mereka berpijak sedikit basah dan berlumpur, sehingga Valmera tdiak mendapat rasa sakit yang begitu berarti—selain gaunnya yang basah dan menjadi coklat di beberapa sisi.
Si penyerang yang mulai bergerak membuat Luke refleks meloncat ke depan dan mengacungkan pedang. “Siapa kau!? Beraninya menyerang Ratu Valmera!” teriaknya.
Seruan itu dihiraukan begitu saja olehnya. Sosok yang lebih pendek dari Luke, tetapi lebih tinggi dari ratunya itu memakai rompi coklat tanpa lengan dengan dalaman putih. Tudungnya terpakai menghalangi mereka untuk melihat wajahnya. Celana panjang dan sepatu setinggi betis senada dengan rompi miliknya.
Penampilan orang itu tidak pernah terlihat, baik oleh Luke maupun Valmera. Apa ia pendatang? Pengelana? Atau jangan-jangan…orang kiriman dari kerajaan lain!?
Siapapun itu, yang jelas dia sangatlah mencurigakan. Dan lagi, dia telah menyerang Valmera! Mereka berdua tidak boleh menurunkan kewaspadaannya, bahkan saat ia bergeming bak patung tak jauh di sana.
Luke makin mengeratkan cengkeraman di gagang pedangnya, sedang Valmera yang telah bangkit turut bersiaga dengan mengumpulkan Nishati di tombaknya. Perasaan keduanya mulai tidak enak. Kebisuan ini membawa hawa tak nyaman di sekitar.
Dan, benar saja apa yang dirasakan mereka. Sosok bertudung itu mengangkat kaki kirinya, dan mendadak melesat dengan cepat ke arahnya. Luke semakin terkejut saat tangan yang terayun beradu itu telah menggenggam sebuah belati. Besi dengan ukurannya masing-masing seketika beradu, dan tertahan untuk sepersekian detik, sebelum akhirnya terlepas dan menghajar lagi.
Luke menerima serangan beruntun darinya. Orang itu berusaha melaluinya dan mengarah ke gadis yang ada di balik punggungnya. Sebelum itu terjadi, Luke berkata, “Nona, mundur! Menjauh dari sini.”
Valmera langsung menyahut. “Tidak!”
“Nona!”
“Tidak!” Valmera mengumpulkan Nishatinya hingga ujung tombak itu bersinar, kemudian diayunnya ke depan dan menghasilkan sulur transparan dan bunga-bunga kecil di udara. Meluncur menuju musuh yang terlalu fokus pada Luke, dan mengikat tangan dan kakinya hingga ia tak dapat bergerak. “Kalau kau bertarung, maka aku juga bertarung!”
“Tapi, Val—“
Sang gadis menghentak tongkatnya ke atas tanah dengan keras, sambil mendengus sebal. Alis yang menukik kesal, dengan tatapan tajam ke pengawal pribadinya jelas menunjukkan kalau ia tidak suka dengan perintah yang diberikan Luke.
“Nona, menjauh!”
“Tidak!”
“Nona Valmera!”
“Kau pikir aku akan dengan bodohnya meninggalkanmu sendiri di sini melawan orang itu sendirian?”
“Ya!” Luke membalas cepat.
Valmera menggerung. “Sudah kubilang tidak! Aku tidak aka—“ Valmera menahan kalimatnya ketika mendapati jeratan di musuhnya terputus. Mereka terkejut. Bagaimana bisa dia menghancurkan sihir sekelas Nishati Rielga?! Kalau rakyat biasa, kekuatan sang gadis tidak akan mungkin bisa dilawannya.
Sosok itu menggumamkan sesuatu di mulutnya, kemudian tangannya diselimuti oleh pusaran angin dan memunculkan belati kembar dengan ukuran lebih besar.
Pengguna sihir tingkat tinggi!?
Belati kembar teracung, seketika menghantam Luke hingga terlempar jauh. “Luke!” Valmera berlari ke arahnya. “Kau...kau tidak apa-apa?!”
Pemuda itu mengangguk.
“Masih mau menyuruhku untuk pergi, Tuan?”
Luke melirik sebal pada perempuan yang menyeringai penuh kemenangan. Ia mendengus. “Baiklah, baik. Saya akan membiarkanmu bertarung.” Dengan berat hati ia menyetujui kekerasan kepala Valmera. Bagaimana pun juga, lawannya ini ternyata bukan orang biasa. Kekuatan fisik maupun sihirnya tidak dapat ia tahan sendirian. Ditambah lagi, Ratu yang memiliki Nishati pasti sangat membantu, secara di pihaknya hanya dia yang bisa menggunakan sihir di sini.
Pemuda itu menarik napas dalam, dan menghembuskannya. Menyedihkan, memang. Sebagai anggota kerajaan, ia tidak bisa menggunakan kekuatan yang diturunkan. Namun, dia juga tidak bisa membiarkan dirinya bersedih sekarang.
Luke berdiri. “Lalu, bagaimana cara Nona bertarung…” Dia menunjuk gaun lebar Valmera, “dengan setelan seperti itu?”
Valmera yang mengikuti arah jari itu menunjuk, sepertinya baru sadar dengan ketidakmungkinan ia bergerak dengan pakaian ini. Namun tidak butuh waktu lama sebelum sang gadis menarik sudut bibirnya, dan mengetuk tongkat. Lingkaran cahaya muncul di bawah kaki, beserta kelopak-kelpoaj bunga violet yang berterbangan.
Lingkaran itu dengan cepat merubah Valmera dari ujung kaki hingga ujung kepala. Rok lebar yang awalnya menutupi kaki, kini hanya menutupi sampai ke pahanya, dengan bagian belakang yang tetap menjuntai sampai ke mata kaki. Bagian lengannya juga menjadi lebih lebar, tapi terpisah dengan bagian atasan. Bunga-bunga masih setia menemani pakaiannya yang sekarang beralih dari warna merah gelap, menjadi warna merah muda lembut.
“Masih mau meragukanku?”
Gelengan pelan menjadi jawaban.
“Bagus,” kata gadis itu. “Sekarang, ayo kita selesaikan ini segera.”
***
Desa mati itu kini ramai oleh tiga orang yang saling unjuk kehebatan. Dua lawan satu, saling berusaha untuk mengalahkan musuh. Luke sibuk sebagai petarung jarak dekat, sedangkan Valmera membantu di belakang dengan kekuatan sihirnya—sesekali mengayunkan tongkat yang ujung bawahnya runcing itu untuk menolong sepupunya di jarak dekat.
Tudung yang sedari tadi digunakan musuhnya itu akhirnya terhempas. Menampakkan wajah lelaki muda dengan mata hitam yang hampir seperti mata orang mati. Luke dan Valmera tidak menyangka dai bisa mengeluarkan sihir seperti ini, dilihat dari fisiknya yang sepertinya masih sekitaran 17 tahun.
Luke juga kaget saat sadar bahwa musuhnya ini yang seorang laki-laki, tidak terpikat sama sekali oleh aura magis sang ratu. Selama ini—terutama sejak Valmera menerima Nishati lebih banyak dari Semesta—energi dewi Syringa dalam dirinya seakan semakin membesar. Tidak ada orang yang bisa mengalihkan pandangan darinya, tidak ada yang bisa menolak keanggunan paras itu. Saking tersihirnya, sampai sekarang belum pernah ada yang berani macam-macam dengan Valmera—atau sekedar berlaku tak sopan, baik itu orang yang baru ditemui, maupun yang sudah saling mengenal.
“Nona Valmera…orang ini tidak normal.”
“Walau terdengar kejam, tapi sepertinya kau benar, Luke.” Valmera takjub. Pertama, anak itu punya kekuatan yang setara dengan bangsawan; kedua, meski sudah berkali-kali menerima serangan, dia sama sekali tidak terlihat kesakitan! Bahkan, kekuatan besar untuk tubuh kecil itu tetap tidak merobohkan kuda-kudanya. Ia belum pernah bertemu orang seperti ini sebelumnya. Dan, sepertinya hal itu menumbuhkan ketertarikan di diri Valmera.
Sang ratu tersentak dari lamunan karena seruan yang memanggil namanya. Luke terpojok. Pemuda itu terbaring dengan bocah berompi di atasnya. Terlihat luka di beberapa sisi tubuh Luke mulai mengotori pakaianya yang sobek dengan darah. Valmera yang masih setengah kalut dengan pikirannya langsung melancarkan serangan tanpa berpikir panjang. Alhasil, kekuatannya terlalu besar. Tubuh orang itu terhempas menghajar pohon di belakang sampai merobohkannya.
Valmera bergegas menghampiri Luke dan mengalirkan Nishati ke tubuhnya. Menutup luka-luka menganga yang tak disangka ternyata banyak juga. Dia terus mengomel dengan luka-luka yang entah mengapa tidak tersentuh kekuatannya saat bertarung tadi. Tidak terdengarnya respon dari Luke, Valmera mendongak dan bertanya, “Luke? Kau baik-baik saja?”
Pemuda yang masih termangu dengan apa yang dilihatnya terkesiap. Dengan gagap ia menjawab “A—ah! Tidak, Nona. Hanya saja….” Dia menggulirkan bola mata ke tempat yang menjadi fokusnya tadi. Karena penasaran, Valmera pun mengikutinya. Dan, betapa terkejutnya ia melihat pemuda berambut coklat itu terkapar tak sadarkan diri di atas tanah berlumpur beberapa meter darinya.
Seruan panik seketika menusuk pendengaran Luke. Valmera langsung berlari dan meninggalkan Luke begitu saja. “Oh tidak…. Bagaimana ini? Dia tidak sadarkan diri.”
“Kalau begitu, kita tinggalkan saja dia di sini. Sudah mulai sore, dan kita harus segera kembali ke istana,” kata Luke yang mendekat.
Valmera menolak. “Aku tidak akan membiarkannya di sini sendirian!” katanya sambil berdiri dan menghadap pada sepupunya. Perasaan tidak aneh sontak terasa menggelitik seluruh indera Luke. Jika Valmera sudah seperti ini, pasti ada hal gila yang dipikirkannya.
“Luke, tolong bantu aku. Kita bawa anak ini ke istana.”
Sudah kuduga…!
*****