Lilac 29

2044 Kata
~~***~~ Valmera benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Makhluk besar, hitam kebiruan, melayang-layang di udara—tepat di balik punggung pemuda berambut coklat itu. Sosoknya mirip seperti ular air yang biasa ada di sungai-sungai sekitar. Berwarna biru terang, hanya saja yang satu ini—seakan telah dimodifikasi oleh seseorang—menjadi jauh berubah dari yang ia ketahui. Lebih menyeramkan, lebih…menjijikkan! Sisik yang biasanya tersamarkan oleh warnanya yang terang, kini terlihat sangat menonjol. Seperti  kristal es yang baru saja menghujaninya—benda tersebut menancap kokoh di sana. Menyelimuti seluruh tubuh binatang panjang tersebut. Sayap dari air itu menghasilkan cipratan yang mengenai wajah kala mengepak—membawa tubuh sepanjang 10 meter lebih itu semakin tinggi, hingga melebihi tebing. Terasa dingin begitu menyentuh kulit Valmera yang masih menatapnya gamang. Nhymp? Tidak. Valmera tidak merasakan aura dari Dunia Bawah di sini. Lagipula, Llaeca sudah ia kelilingi dengan kubah pelindung. Makhluk semacam mereka tidak akan mungkin bisa masuk ke dalam area kekuasaannya. Dan lagi, sosok ini tidak seperti nhymp yang biasanya berwarna hitam dengan keabnormalan yang menghiasinya. Ular raksasa ini murni bersih dari segala sesuatu yang berhubungan dengan energi gelap itam itu. Ya, mungkin ada sedikit corak keabu-abuan, tapi ia rasa itu tidak cukup membuktikan kalau makhluk ini golongan mereka. Satu lagi, air tidak termasuk zat yang bisa energi hitam kuasai. Ular air raksasa yang melayang di atas kepalanya itu tiba-tiba bersuara keras. Valmera refleks mengaktifkan aliran Nishati di tubuhnya, juga pada tongkatnya. Cahaya warna-warni bergerak-gerak dalam bola kaca yang menempel di puncak senjata sekaligus pusakanya itu. Tempat di mana dia menyimpan semua energi semesta yang didapat dari rakyat, juga saat ritual harian bersama Malaikat Putih di Ruang Pengabdian. Sang gadis salto ke depan melambungi tubuh panjang makhluk tersebut. “Ah!” Sial! Dia lupa tubuhnya masih terbalut gaun sore panjang miliknya. Ujung pakaian berwarna ungu muda itu terinjak olehnya ketika mendarat, mengakibatkan Valmera kehilangan keseimbangan hingga jatuh terduduk. Valmera mengaduh pelan. Tidak sempat dia menghilangkan rasa sakit di p****t, saat semburan air mengarah padanya. Refleks, sang gadis langsung berguling, meraih tongkatnya, kemudian melompat ke belakang. Setelah berhasil berdiri tegap, dia mengetuk sekali tongkatnya ke atas tanah. Penampilan sekejap berubah dengan gaun selutut berwarna pink yang biasa ia gunakan untuk pertempuran darurat. Sinar yang terpancar dari tubuhnya membuat terang sekitar. Ia memasang kuda-kuda, bersiap untuk serangan selanjutnya. Valmera mengarahkan tongkat ke depan sembari berteriak, “Cain!” Sulur-sulur panjang meluncur dari tongkatnya. Beberapa juga mencuat dari dalam tanah. Semuanya bergerak ke target yang melayang rendah tak jauh di depan. Beberapa lilitan berhasil mengitari sepasang kaki depan, leher, dan sedikit tubuh panjangnya. Sayang, belum sempat ikatan itu mengencang kuat, si ular menggeliatkan diri sambil mengeluarkan uap dingin dari kulitnya. Menghancurkan sihir Valmera menjadi berkeping-keping yang kemudian lenyap di udara. Sang gadis berdecih. Sepertinya ia baru saja menaikkan tingkat amarah dari makhluk tersebut. Sekarang tatapannya mengunci dirinya, dengan gigi tajam yang semakin lebar dipamerkan. Tubuhnya meliak-liuk dengan gesit menghajar Valmera dari berbagai sisi. Gadis itu sampai tidak kebagian waktu untuk menyerang balik, dan terperangkap dalam posisi bertahan. Bahkan, meski berhasil meloloskan diri dan menjauh, dia malah diserang oleh semburan air yang mampu menghancurkan pijakannya. Menjauh salah, mendekat lebih merugikan. Harus bagaimana sekarang? Ular itu sungguh bernafsu menghancurkannya. Keadaan tersebut berlangsung lumayan lama. Valmera ngos-ngosan dengan peluh membasahi keningnya. Berpikirlah, Valmera! Berpikir! Pasti ada cara untuk melenyapkan makhluk ini! Setelah pertarungan yang seakan tiada henti itu, akhirnya tercipta jeda dan jarak di antara mereka. Sang Ratu memanfaatkan waktu itu untuk berpikir keras. Mencari solusi mengalahkan si ular, dan membawa pergi Kalen di belakangnya yang belum juga tersadar. Ular berkaki dua yang melayang beberapa meter di atas tanah turun sampai kakinya menapak. Dengusan panjang menghasilkan uap yang keluar dari lubang hidung dan sela-sela giginya. Sepertinya ia sedang bersiaga untuk melanjutkan pergelutan dengan si gadis. Tubuh sepanjang 50 meter lebih itu akhirnya bergerak setelah selesai beradu tatap dengan si perempuan berambut putih. Valmera langsung mengangkat tongkatnya untuk mengalirkan Nishati dan membuat pelidung kala mengira ular itu akan menerjang kepadanya. Akan tetapi, gerakannya terhenti. Dia membulatkan mata saat ular itu melaluinya—bukannya mengarah padanya. Perempuan itu langsung panik dan refleks memutar badan. Ia berteriak, “Kalen!” Pemuda itu tetap tidak bergerak sejengkal pun. Kedua matanya kososng, seperti tidak melihat semua—termasuk makhluk yang sedang melesat—di depannya. Valmera semakin panik. Adrenalin di tubuhnya meningkat, membuat jantungnya berdegup ria bak di tengah balapan. Dengan kecepatan seperti itu, dan jarak yang hanya beberapa meter, sepertinya tinggal beberapa detik lagi untuk Kalen mendapat ciuman dari gigi-gigi tajam ular tersebut. ******* Gelap, dan kosong. Hanya itu yang bisa dirasakan. Walau begitu, dia bisa merasakan belaian lembut yang membawa suara sayup-sayup di telinga. Pemuda itu terfokus pada entah-apa yang familier di benaknya. Menikmatinya, sampai terhanyut pada sentuhan magis tersebut. Cukup lama Kalen berada dalam kondiri tersebut. Titik cahaya kemudian muncul perlahan tak jauh di depannya. Semakin membesar, dan seiring terangnya sinar itu, visual kabur nampak pada mata. Melebar hingga ruang kosong itu berubah menjadi penuh warna. Gendang telinganya menerima gelombang suara falimier di tempatnya bertapak. Suara-suara lain juga terdengar. Bercampur aduk tak nyaman di indera pendengar pemuda itu. Sesaat kemudian, retina bereaksi dengan cahaya yang memantul di permukaan bidang-bidang di sana. Penglihatan buram semakin jelas sampai akhirnya Kalen bisa melihat makhluk panjang raksasa bergerak ke arahnya. Kalen tersentak, tepat saat seseorang berdiri mendadak di depannya. Helaian rambut berwarna putih berkibar dengan indah. Pakaian berwarna merah muda-putih menjadi warna yang menghiasi badannya. Sebuah benda panjang juga nampak tergenggam erat di satu tangannya. “Ra … tu … Valmera?” Tidak sempat Valmera menyahut, tubuh mereka berdua telah terpental jauh karena tebasan dari ekor si ular. Keluar dari tebing dan meluncur ke sungai di bawah mereka. Valmera mengeraskan rahang. Di antara jantungnya yang semakin tidak karuan, dia mencengkram tongkat kuat-kuat. Sembari menggerakkan secara horizontal, dia berucap, “Xies!” Rumput-rumput liar yang menempel di dinding lantas bergerak memanjangkan diri. Daunnya melebar dan menjadi tempat mendarat untuk sang Ratu dan lelaki yang masih setengah sadar. Valmera terbatuk-batuk, sedangkan Kalen merasakan denyut menyakitkan di kepalanya. Sang pemuda sekali lagi terkejut karena perempuan itu tiba-tiba menepuk pundak dan mengguncangnya pelan. “Kalen, kau tidak apa-apa? Apa ada yang terluka? Hey, jawab aku!” “Ti…dak…,” jawabnya pelan. Valmera menghembus napas lega. Ia bersyukur mendengarnya. Respon tersebut menandakan Kalen sudah tersadar sepenuhnya. Iris coklatnya—walau belum terlalu kentara—sudah tidak sekosong sebelumnya. Walau hal tersebut masih sangat aneh dan memunculkan banyak pertanyaan di beaknya, Valmera abai. Setidaknya, tidak ada yang terluka untuk saat ini. Itu sudah cukup. Kalen terdiam. Ia memperhatikan lekat-lekat wanita yang tersenyum tipis tersebut. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia ada di atas daun besar dengan sungai deras mengalir di bawah sana? Terakhir kali ia ingat, dirinya sedang berdiam diri di kamar, menatap bulan yang bersinar di luar jendela. Dan, satu hal lagi…kenapa Ratu Valmera menyelamatkannya. “Kita jatuh …? Kenapa … Ratu menyelamatkanku?” Mulutnya tanpa sadar menanyakan hal tersebut. Valmera menengok dan menjawab, “Sudah menjadi tugasku untuk melindungi semua orang, Kalen. Sebagai Rielga, dan juga sebagai Ratu dari Kerajaan Llaeca. Lagipula, aku tidak akan membiarkan siapapun terluka di hadapanku. Tidak seorangpun! Termasuk kau.” Kalen melebarkan mata. Sekali lagi bertanya mengapa Valmera melakukannya. Dengan sabar Valmera menjelaskan, “Hidup rakyat adalah hidupku juga. Kebahagiaan mereka adalah jiwa yang membuatku bisa bertahan sampai sekarang ini. Cinta mereka yang memberiku dan tanah Llaeca kekuatan.” Dia menunjuk si pemuda. “Kau, Kalen, meski baru menetap di Llaeca, tapi jiwamu sudah menjadi bagian dari kami. Mungkin tidak sekarang,tapi suatu saat nanti, kau pasti akan menyadari bahwa hatimu sudah terhubung dengan Semesta di sini.” “Karena itulah, walau banyak orang yang menentang, aku akan tetap melindungimu—sebagai rakyat Llaeca, dan juga keluargaku.” Semua kalimat yang keluar dari mulut Valmera berhasil menyadarkan Kalen sepenuhnya, sekaligus membuatnya terpana. Tidak ada jawaban maupun pertanyaan lagi yang terlempar darinya. Ia bungkam seraya Valmera tersenyum tipis dan menggerakkan daun dengan Nishatinya. Bergerak ke atas perlahan, sembari mewaspadai keadaan sekitar. Kalen tidak mengerti. Ada apa ini? Kenapa perkataan Ratu tadi seakan membawa perasaan aneh ke dalam dirinya. Hangat, dan nyaman. Dia tidak ingat kata keluarga dapat membawa sensai sekuat ini ke dalam dirinya. Apa ini kekuatan yang dimilikinya? Tidak. Tidak ada wujud sihir yang tercipta akibat dari suaranya. “Ingatlah, Kalen. Siapapun dirimu, asalmu, ataupun masa lalumu, tempat untuk berpulang akan selalu ada. Tempat di mana ada seseorang yang merindukanmu saat pergi, menyambutmu saat kembali, dan merangkulmu di kala senang ataupun sedih.” Entah karena alasan apa Valmera berucap seperti itu. Dia memberi simpul di bibirnya sekilas kepada pemuda di belakangnya, sebelum turun dan berhadapan lagi dengan si ular raksasa. Tongkatnya sekarang bersinar lebih terang dari sebelumnya. “Untuk kau yang tersesat, di sinilah tempatmu untuk kembali pulang. Untukmu sang pencari kehangatan, di sinilah keluargamu berada.” Valmera tiba-tiba sudah melayang tinggi. Sebuah kembang putih dan keunguan berguguran di sekitarnya, dengan bola cahaya besar muncul di balik punggungnya. Valmera menyilangkan tangan kanan yang menggenggam tongkat dan tangan kirinya di d**a. Rambutnya berkibar pelan dihembus angin di ketinggian sana. Manik magentanya tertutup oleh kelopak mata, sedang bibirnya bergerak perlahan. “Bloom!” teriaknya sambil merentangkan tangan, lalu bola cahaya di belakang meledak dan memekarkan lima mahkota bunga besar yang indah berwarna keunguan. Saking terangnya, siapapun yang melihat akan refleks memejamkan mata. Si ular raksasa itu pun mengaum karena cahaya tersebut menusuk retinanya dengan tiba-tiba. Kelopak mata terbuka. Selendang transparan panjang yang menghias pakaian bergoyang lembut ketika tubuh Valmera berputar anggun, udara tipis pun turut bergerak mengikutinya. “Chain.” Ular raksasa tidak bisa bergerak. Valmera mengayunkan tangan kiri ke depan. “Siei.” Bunga di belakangnya bergerak melaluinya. Penampakan yang begitu indah di langit malam, makhluk besar itu juga tidak lagi meronta maupun menggeram kala benda tersebut mendekat. Semakin dekat, dan semakin dekat. Tepat ketika pucuk paling bawah akan menyentuh sisik keras si ular, Valmera mengangkat tangan satunya lagi, dan berucap dengan penuh penekanan, “Blast.” Seketika cahaya berwujud kembang itu meledak. Berpecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, bergerak-gerak di sekelilingnya seperti peri kecil dengan serbuk-serbuk ajaib mengekor di kaki. Siapapun yang melihat akan berpikir hal itu begitu cantik, tetapi tidak untuk si makhluk. Teknik ini menggunakan energi Nishati murni yang dikumpulkan Valmera langsung dari elemen-elemen di sekitarnya. Makhluk dari alam bawah, tidak akan mampu menahannya. Dan, melihat reaksi si ular air raksasa itu, akhirnya Valmera percaya kalau dia adalah Nhymph. Raungan yang memenuhi telinga dua orang di sisi tebing itu tidak bertahan lama. Nhymp besar sudah berubah menjadi abu sisa bakaran yang menumpuk di atas tanah. Angin seakan mengerti dan segera menyapu bersih pengotor tanah Llaeca tersebut. Ratu yang melayang di angkasa perlahan turun kembali ke bumi. Kalen masih belum bergerak dari tempatnya. Ucapan Valmera sesaat sebelum p*********n penuh keestetikan bak rapalan mantra sihir mematungkan Kalen. Ya, dia tidak bisa ingat darimana dirinya berasal, perjalanan hidupnya, maupun hal-hal yang sudah ia habiskan sampai waktu bertemu Valmera. Dia tidak ingat siapa orang yang dipanggil dengan kata Ibu, Ayah, dan bagaimana perasaan berada dalam keluarga. Selama ini dia seperi terjebak di ruang kosong tanpa memori. Sendirian, sampai kemudian aura magis ini memberinya jalan untuk keluar. Efek dari sihir sang Ratu tadi menyebar menjadi kehangatan yang tidak hanya dirasakan Kalen, tetapi juga rakyat yang ada di tanah kekuasaan sang gadis. Untuk si pemuda, kehangatan ini menguatkan perasaan asing yang sepertinya mulai menggetarkan hati. Begitu menentramkan, terasa seperti pelukan dari seseorang yang begitu menyayanginya. Rasa dari sebuah keluarga. Dia melangkah perlahan mendekati sang wanita. Begitu hanya tersisa satu langkah lagi dengannya, Kalen berlutut. “Kebaikan hati Anda, suci dan mulianya jiwa Anda, saya tidak akan lagi menyangkalnya. Terima kasih, telah memberiku tempat untuk kusebut sebagai rumah,” katanya. “Yang Mulia Valmera, aku, Kalen, bersumpah akan menjadi pengabdi yang akan melindungi Anda dan Kerajaan Llaeca dengan jiwa dan ragaku. Ijinkan aku, untuk mempersembahkan diri ini untukmu.” Valmera sudah menapak tanah dengan gaun sorenya. Dia tersimpul kecil melihat apa yang dilakukan Kalen. Bahagia karena akhirnya anak itu mengakui sepenuhnya bahwa negeri ini adalah tempatnya. Gadis itu hendak meminta Kalen untuk berdiri, sebelum suara keras memanggil dari arah kanan, dan rasa sakit luar biasa mendadak menyerang tubuhnya. Perempuan yang tidak lagi kuat menopang tubuhnya untuk berdiri, dan mempertahankan kesadaran akhirnya ambruk ke tanah. “RATU VALMERA!” ******  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN