~~***~~
Di bawah rembulan, dinaungi kelabunya awan, dua insan di atas tanah bumi saling berhadapan. Satu berdiri dengan dagunya yang terangkat, sedang yang satu siaga dengan tangan kosong.
Luke menatap sosok yang sedikit lebih tinggi darinya lekat-lekat. Sebisa mungkin tetap tenang walau nyatanya atmosfer mulai membawa tekanan tak mengenakkan. Malam ini sepertinya ia benar-benar tidak sedang beruntung. Bertemu dengan raja dari Kerajaan Xologon tanpa senjata di tangan … pemuda itu tersenyum kecut sedikit.
“Apa aku mengganggu waktumu, Penasehat Luke?” Ia bertanya.
“Tidak. Tidak sama sekali, Raja dari Xologon,” katanya dengan mata yang menatap tajam. “Malah seharusnya saya yang bertanya, ada perlu apa sampai Anda berani menginjakkan kaki kembali di tanah suci kami?”
Manik merah terang berkilat di bawah cahaya bulan. Sepatu hitam yang menapak tanah menimbulkan suara yang begitu khas, dan menjadi satu-satunya suara yang terdengar oleh indera pendengar. Seakan sengaja membuat penasaran Luke, Daren tidak langsung menjawab pertanyaannya. Ia malah asyik memamerkan jajaran gigi putih dengan kedua taring mencuat miliknya.
Luke sendiri memutar otaknya mencari alasan atas kedatangan mendadak laki-laki itu. Sudah lima tahun lamanya Llaeca hidup dalam ketentraman di bawah kekuasaan Valmera Springgleam. Tidak pernah ada satu jejak akan masa lalu yang tertinggal. Sang ratu berhasil menutupinya rapat-rapat hingga rakyatnya tak perlu lagi merasakan sakit akibat memori tersebut.
Selama ini juga kerajaan tidak mendapatkan kabar-kabar ancaman dari kerajaan lain, maupun keanehan yang bisa saja menjadi tanda akan kehadiran makhluk Narak. Dan lagi, Valmera sudah memasang pelindung untuk tanah kekuasaan Llaeca. Bagaimana orang ini bisa masuk!?
“Apa yang kau lakukan dengan pelindungnya?!” tanya Luke mengintograsi.
“Apa ya….” Daren berlagak berpikir. “Mungkin…seperti ini?” Ia menjetikkan jari. Memunculkan percikan api kecil yang lantas meluncur ke angkasa hingga menghantam lapisan tak terlihat di sana. Seketika pelidung ciptaan Valmera mengeluarkan pattern garis-garis gelombang. Namun, selama pola itu terlihat, bentuknya perlahan berubah menjadi semacam retakan.
Ah, tidak. Itu bukan sekedar retakan. Luke sadar goresan itu membentuk sesuatu. Dia memincingkan mata untuk melihat lebih rinci apa yang sebenarnya terukir di cakrawala yang gelap tersebut.
Daren terlihat membuat sesuatu di telapak tangan kanan. Mulutnya membisikkan sesuatu, dan seketika cahaya berpendar di tempat yang tengah Luke lihat. Sinar keabuan itu bertahan untuk lima detik, sebelum meletuo dan menghancurkan pelindung yang ada.
Pemuda berambut merah terkejut bukan main. Daren dapat dengan mudahnya merusak kubah yang telah melindungi Llaeca selama ini. Hanya dengan jentikan jari dan rapalan mantra, lubang besar jelas tercipta olehnya.
Hancur!?
Tapi…bagaimana bisa!? Seharusnya Rielga punya sihir yang cukup kuat hingga tiada siapapun yang bisa merusaknya. Nishati yang dimiliki Valmera tidak mungkin semudah itu dirusak oleh kekuatan hitam milik raja dari Xologon tersebut.
Apa mungkin….
Perasaan tidak enak mengenai Valmera tiba-tiba menyusup ke dalam dirinya. Namun, saat mendengar raungan besar dan kepakan sayap yang semakin lama semakin keras membuyarkan semuanya. Pemuda itu menyadari ada sesuatu yang datang dari lubang yang dibentuk oleh Daren.
Seekor kuda bersayap biru kusam dengan kulit keabuan mendarat tak jauh di sisi Daren. Kepalanya hanya berbentuk tengkorak, surai-surai hanya tertinggal sekian helai di sana dan di ekornya. Luke menahan kuat-kuat untuk tidak memuntahkan sisa makanan di perutnya karena tulang rusuk dan leher makhluk yang tidak tertutupi apapun—dengan gumpalan daging dan darah segar yang menghiasinya.
Tiga lagi makhluk besar menyerupai kelelawar dengan tangan dan kaki kekar turun dari gerbang buatan tersebut. Bergerak cepat ke arahnya dan berhenti tepat di hadapan lelaki yang bersedekap dengan dagu terangkat. Luke bergerak mundur beberapa langkah. Menghindari napas panas, dan angin besar yang tercipta dari sayap lebar mereka. Tubuhnya refleks mengambil posisi waspada, walau nyatanya dia—yang dalam kondidi tak bersenjata—bisa dengan mudah dihabisi.
“Tenanglah, Penasehat Luke. Mereka tidak akan menyerang tanpa perintah dariku,” kata Daren sambil melangkah melewati bawahan-bawahannya. “Hanya jika kau bersedia menerima tawaranku.”
“Tawaran? Tawaran apa?” tanya Luke tak mengerti.
“Luke Springgleam. Aku mengajakmu untuk bergabung bersamaku untuk merebut Llaeca dari pemiliknya.”
Angin mendadak bertiup kencang—menggoyangkan rambut kedua pria yang kini diam saling menatap tajam. Tidak ada di antara mereka yang berucap untuk beberapa saat, sampai Luke menyahut kemudian, “Bergabung denganmu? Jangan bercanda.” Luke bersedekap. “Sebanyak apapun harta atau tahta yang kau tawarkan padaku, aku tidak akan menghianati Yang Mulia Valmera dan kerajaan Llaeca!”
“Meski aku memiliki apa yang selama ini kau inginkan?”
Luke tidak mengerti. “Apa maksudmu?”
Daren menjawab dengan lantang. Suaranya begitu menggema di tempat terbuka ini. Namun, ajaibnya tidak satu pun penjaga yang lari mendatangi tempatnya. Istana seketika seperti hanya dipijaki oleh dua orang—ia, dan raja yang lebih tua beberapa tahun darinya.
“Jangan pura-pura tidak tahu. Tentu saja jawabannya adalah sihir, kekuatan magis, energi semesta! Apapun itu kalian menyebutnya,” ucapnya. “Luke Springgleam, sebagai satu-satunya darah bangsawan yang tidak memiliki aliran Nishati dalam tubuhmu…bukankah ini yang selalu kau idam-idamkan?”
Angin sekonyong-konyong berhembus kencang. Mengibarkan rambut merah yang terikat satu di belakang, juga helai orang-orang di sana. Alam seperti memiliki perasaan yang sama dengan Luke. Terkejut, setengah tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
Sihir!?
Omong kosong! Mana mungkin seorang manusia bisa melakukan hal itu—bahkan seorang penguasa atau Rielga sekalipun! Apa yang ada di badannya sudah takdir Semesta. Dan, Luke yakin, Semesta punya alasan tersendiri melahirkannya ke dunia seperti ini.
Ia yakin!
Seharusnya … ia yakin.
Selama ini ia selalu berpikir seperti itu. Mensugesti diri sendiri agar tidak berlarut-larut mengatai diri sendiri yang begitu menyedihkan. Dulu—semasa ia kecil—telah banyak cara dilakukan orang tuanya untuk memulihkan aliran Nishati yang katanya tidak sempurna. Namun, semua hasilnya sama. Hingga akhirnya Luke sendiri yang memustuskan untuk menyudahi perjalanannya dalam menyembuhkan diri, dan fokus pada apa yang bisa ia lakukan dengan kondisi seperti ini.
Namun, mengapa?
Rasanya kali ini ada yang berbeda. Setelah sekian lama membuang harapan itu, tiba-tiba kini kegelapan tiba sembari membawa setitik cahaya yang agaknya tidak pernah terbayang akan kehadirannya. Tanpa bantuan mentari, maupun rembulan, hanya sebatas bayangan, tetapi mampu memunculkan percik ketertarikan dalam hati Luke.
Tidak! Apa yang kau pikirkan Luke!? Orang ini hanya mengelabuimu, itu sudah jelas! Kau tidak boleh termakan rayuannya.
Daren mengangkat sebelah alisnya kala menerima penolakan dari pengawal pribadi Valmera itu. Sungguh? Padahal jelas dia bisa melihat binar ketertarikan dari manik jingga miliknya. Sepertinya masih belum cukup untuk menggoyahkan kesetiaan anjing ratu ini.
“Mau bagaimana lagi kalau begitu ….”
Bak mengerti apa yang dininginkan sang Tuan, tiga Nhymp raksasa meraung sebelum mengepak sayap lebarnya dan menerjang Luke. Pemuda itu melompat ke samping untuk menghindari kuku-kuku panjang yang berniat mengoyak menjadi beberapa bagian. Belum sempurna ia menapak, muntahan cairan kehijauan yang langsung melubangi tanah berbatu di sana. Beruntung, Luke sempat menghindarinya dan tidak bernasib sama seperti jalan tersebut.
Luke bergerak mundur cepat agar tercipta jarak antar dia dengan para Nhymp. Satu lawan tiga makhluk yang kekuatannya berkali-kali lipat darinya, juga kecepatan yang tentu saja tak bisa ditandinginya—membuat Luke benar-benar di ujung pengharapan. Saat ini pun, Luke sudah cukup gelagapan mengelik dari tiga makhluk itu. Padahal baru beberapa detik berlangsung, tapi tubuhnya sudah mulai dihiasi dengan lecet dan lebam di beberapa tempat.
Bagaimana ini!? Dia sama sekali tidak bisa melawan. Mengambil senjata pun tidak akan mungkin karena tempat di mana pedangnya berada masih jauh dari taman kerajaan. Tidak ada orang pula yang bisa membantunya di sini.
Sungguh … di saat seperti inilah ia berharap memiliki sedikitnya Nishati yang bisa digunakan. Membuat sebuah senjata tiruan untuk membantunya dalam pertarungan.
Sial….
Apakah ini akhirnya? Akhir dari hidup seorang Luke Springgleam, yang tidak terlahir sempurna layaknya bangsawan lain?
Pemuda yang tengah mengambang di udara dikejutkan oleh kedatangan kuda menjijikkan yang tbia-tiba menyeruduknya. Mementalkannya hingga membentur tembok istana dengan keras. Luke tidak bergerak untuk beberapa saat karena serangan yang berhasil meninggalkan jejak di bidang padat itu.
“Masih tidak mau menerima tawaranku? Padahal kau tidak perlu sampai seperti ini kalau setuju sejak awal,” kata Daren dengan nada kecewa.
Luke tidak membalas. Lelaki itu sudah cukup babak belur, dan tidak terlihat memiliki tenaga lagi bahkan untuk berdiri. Beberapa kali dia terhuyung serta merintih saat mencoba untuk kembali menghadap bawahan-bawahan Daren itu. Lelaki itu menggunakan sebelah tangannya sebagai tumpuan di tembok, selagi yang satunya mencengkram perut yang beberapa saat lalu dihantam oleh kepala keras si kuda.
“Sebenarnya apa yang membuatmu begitu keras kepala? Sesulit itukah kau mengikuti nalurimu? Atau kau meragui ucapanku soal memberimu kekuatan?”
Tubuh yang masih setengah membungkuk sekarang jatuh bersujud. Dalam satu detik, sisa tenaga yang ada di badannya tersedot habis hingga tak mampu lagi untuk bergerak. Di tangan Daren, bola cahaya kecil muncul. Namun, warna hitam langsung menyelimuti dan benda itu berputar dengan cepat kemudian. Terus berputar hingga bentuknya beralih menyerupai burung hitam kecil yang terbang ke arah Luke.
Luke hampir saja tertipu dengan kicauan merdu itu, kalau saja ia tidak memaksakan diri untuk mendongak dan melihat barang yang mendekatinya. Di saat yang bersamaan, tubuh hitam tersebut terburai menjadi untaian pita panjang. Menjerat sang pemuda dan membuatnya melayang dengan tangan terentang dan kaki terbuka selebar bahu.
Burung kecil kini muncul kembali entah dari mana. Sepertinya binatang jadi-jadian berwarna hitam itu kembali utuh setelah memecah diri untuk mengikat tubuh yang bahkan tak punya tenaga untuk memberontak.
Terdengar langkah kaki berjalan mendekat. Ugh. Cicit burung ini sungguh membuatnya tak nyaman. Pasalnya antara atmosfer di sekitar dan siulan merdu itu begitu bertentangan. Menghadirkan kontradiksi di otaknya, yang jika dibiarkan akan membuat Luke depresi perlahan.
“Seorang pengawal pribadi Ratu, sekarang terjebak, dan siap menjadi santapan para Nhymp-ku. Lihatlah dirimu, Luke…” Daren memandangnya prihatin. “Sungguh menyedihkan. Biarkan aku membantumu sedikit dengan hal itu.” Si pemuda menggerakkan binatang kecil yang sedari tadi mengapung di depannya untuk masuk ke dalam tubuh Luke.
Kedua bola mata lelaki dari Springgleam itu melebar dengan sempurna. Makhluk itu terus menyogok—memaksa masuk dengan mulut sebagai jalurnya. Luke sampai kewalahan dan kesulitan bernapas. Gumpalan itu memenuhi rongga mulutnya, menggeliat turun sampai terasa begitu mengganjal di tenggorokan, lalu seakan lenyap begitu saja di dalam sana.
Sayangnya, itu bukan pertanda baik. Lelaki itu bisa merasakan sesuatu ganjil mulai terjadi pada tubuhnya. Sakit, panas, perih, entah kata apa lagi yang bisa ia ungkapkan untuk menggambarkannya. Yang ia lakukan sekarang pun hanya berteriak, sambil meronta di posisi yang tidak berubah sedikitpun.
“Bagimana? Kau mulai merasakannya, bukan?”
Sesuatu asing terasa menyebar mulai dari d**a, ke ujung kepala hingga ujung jari tangan dan kakinya. Menghantar energi perlahan mulai memenuhi badan yang sekaligus menyiksanya. Darah di seluruh tubuhnya bercampur dengan kristal hitam asing yang beberapa mengkonsumsi keping kemerahan di aliran darah. Barang asing itu juga mencuri asupan paru-paru, dan menyumbat salurannya. Dia benar-benar diporak-porandakan, hingga akhirnya degup yang terasa cepat di d**a berhenti begitu saja.
Tubuh Luke tersungkur ke atas tanah. Kulit berubah menjadi putih pucat dan dingin, kedua mata kehilangan sinar kehidupannya, dan tidak ada sedikitpun tanda yang menunjukkan raga itu masih memiliki jiwa.
Namun, sedetik kemudian Luke terbeliak. Mulutnya membuka mengambil banyak udara sekaligus dari luar. Bukankah tadi jantungnya terhenti mendadak!? Bukannya Daren berniat membunuhnya, lalu kenapa kesadarannya kembali lagi?
“A—Apa yang sebenarnya kau lakukan padaku!?” tanyanya selagi berupaya bangkit. Sial…. Sakitnya bukan main-main. Dia sampai mati rasa walau tubuhnya tetap berfungsi sempurna.
Daren tertawa. Seringai lebar masih menghiasi wajahnya. “Kau akan tahu nanti, Penasehat. Dan, aku yakin saat itu kau akan sangat berterimakasih padaku,” katanya lalu berbalik memunggungi keluarga kerajaan Springgleam tersebut. Sebuah bekas luka berbentuk bulan sabit retak dengan pola api di tengah tidak sengaja ditangkap Luke pada tengkuk si Raja dari Xologon. “Selamat tinggal, Luke. Kita akan bertemu tak lama lagi.” Sosok itupun menghilang ditelan kegelapan.
Berengsek! Luke baru mau mengejar Daren, tetapi rasa sakit kembali menyerang dirinya. Membuat pemuda itu jatuh berlutut lagi sambil menahan lara. Suhu tubuhnya meningkat, keringat mengucur membasahi tubuh. Ia juga merasakan sedikit perih dan menyengat di leher kirinya—seperti terbakar. Namun, semua rasa sakit itu ia enyahkan, ketika ia teringat sesuatu.
Valmera!
*****