~~***~~
“Sudah kubilang, bukan! Lelaki itu tidak beres! Seharusnya kita tidak membawanya ke Kastil, Nona!” Luke berseru lantang kepada perempuan di hadapannya. Saat ini ia sama sekali tidak peduli kalau ia adalah seorang penguasa yang harus disegani atau dihormati. Di matanya Valmera sekarang hanyalah gadis yang dengan teledornya membiarkan orang asing masuk, dengan alasan tertarik dengannya. Dan terbukti hal itu telah membuat kerusuhan di tempat pelatihan prajurit.
Sejujurnya Luke senang melihat keantusiasan Valmera pada hal seperti itu, tapi kenapa harus pada pemuda yang tiba-tiba menyerangnya!?
Ia semakin kesal karena sang ratu tidak menanggapi protesnya. Gadis itu tetap diam menatap jendela kamar yang mengarah langsung ke taman istana. Memunggunginya, entah sambil merenungkan apa.
Luke akhirnya memilih untuk mendudukkan diri ke sofa yang ada di sana. Napas berat terdengar dari mulunya. Apa yang harus dilakukan sekarang? Kalen sudah dikunci di dalam kamar—yang tempatnya cukup jauh, di bagian timur kastil—dijaga oleh beberapa penjaga di dalam dan di luarnya. Seharusnya pemuda itu tidak berada di ruangan super nyaman dan mewah milik istana Springgleam. Namun, sekali lagi keputusan Valmera yang meminta untuk tidak memasukkan Kalen ke penjara bawah tanah, membuat Luke tak bisa berbuat apa-apa.
Apa yang sebenarnya kau pikirkan, Valmera?
****
Bintang.
Bulan.
Langit yang gelap terlihat lebih cerah hari ini. Tanaman-tanaman di taman juga terlihat nyaman di bawah lampu yang meneranginya. Damai….
Sayang, hanya Valmera yang menikmatinya.
Kejadian siang tadi cukup membuat seisi istana menegang. Kekhawatiran mulai menyelimuti orang-orang terhadap pemuda yang saat ini tengah dikurung di tempat yang super nyaman dan mewah. Takut kalau orang itu mendadak melancarkan serangan dan menghancurkan kastil Springgleam, juga seluruh Llaeca.
Mungkin itu berlebihan untuk seorang seperti Kalen, tapi trauma mendalam dengan kejadian lima tahun yang lalu akibat raja Xologon, membuat pelayan-pelayan dan prajurit tidak bisa tidur dengan nyenyak, serta terus membagikan kegelisahan mereka kepada yang lain pada jam istirahat.
Valmera, tak dapat dipungkuri berbagai macam pikiran—yang tentu saja lebih banyak pikiran bruk—menelusup ke dalam dirinya. Firasat tak enak, dan kecurigaan bercampur aduk dengan perasaan tak tega.
Tidak bisa. Hatinya benar-benar menolak keras berapa kalipun Valmera berpikir untuk melakukan apa yang Luke dan otaknya pinta. Ia yakin, ada sesuatu dari pemuda itu yang bisa membuatnya setertarik ini. Walau tak nampak dalam bentuk aura, hawa unik yang menguar dari tubuh Kalen selalu dan terus membangkitkan rasa penasarannya.
Rasa percaya kepada seseorang yang telah lama hilang….
Valmera sadar Luke masih berada di ruangannya. “Kembalilah ke kamarmu, Luke. Aku tahu kau pasti lelah.”
“Tidak, Nona. Aku tidak bisa. Tidak sampai kau memikirkan kembali matang-matang apa yang sudah kau putuskan,” sahutnya di balik punggung si gadis.
“Aku yakin dengan keputusanku, dan aku percaya.” Valmera berbalik. “Aku tidak akan berubah pikiran untuk membiarkan Kalen tetap tinggal di kastil Springgleam. Apa kau mulai meragukanku, Penasehat Luke?”
Luke menatap wajah tersenyum itu lekat-lekat, lantas menghela napas panjang seraya bangkit. “Baiklah. Maafkan saya, Yang Mulia. Saya sama sekali tidak meragukan Anda, hanya saja saya telah bersumpah pada Raja Arther untuk menjaga Nona, karena itu saya tidak ingin ada hal buruk terjadi.”
“Kau terpaksa melakukannya?”
“Tentu saja tidak!” seru si pemuda. “Memang ini atas dasar permintaan ayah Nona, tapi saya sungguh tidak ingin melihat Anda dan Llaeca tersiksa seperti dulu lagi.”
Senyum sang ratu terkembang lebih lebar. Ia bersyukur mengetahui hal tersebut, terlebih lagi langsung dari mulut pria berambut merah panjang itu. “Terimakasih, Luke. Sekarang pergilah.”
Pemuda itu menuruti perintah ratunya. Ia memberi hormat, lalu melenggang meninggalkan Valmera yang kembali menatap keluar jendela. Menikmati ketenangan yang diberikan malam, dengan temaram lampu yang menerangi beberapa sudut pemandangan di matanya itu.
Sejenak, ia memikirkan kembali tentang apa yang harus ia lakuan dengan Kalen. Ia tidak bisa membiarkan seisi kastil menjadi penuh ketegangan dan rasa cemas di kesehariannya. Dia juga harus segera mencari tahu apa yang membuat pemuda itu begitu menarik dirinya.
Saat tengah asyik merenung, sudut matanya tiba-tiba menangkap sesuatu, tepat di jalan yang masih bisa tertangkap dari tempatnya berada. Sosok yang terlihat familier tengah berjalan sendirian di kejauhan sana. Apakah iu ….
Valmera serta-merta meluncur keluar kamar. Berjalan mengendap-endap agar tidak ada pelayan maupun penjaga—terutama Luke, tentu saja—yang memrgoki dirinya keluar sendirian malam-malam. Dia tidak mau lagi mendengar ceramah, atau melihat wajah suram lelaki itu lagi untuk kesekian kalinya hari ini. Walau begitu, langkahnya berderap cepat, berusaha mengejar seseoragn yang ada di luar sana. Sekaligus mencari tahu, kemana dan hendak apa ia pergi meninggalkan istana.
***
Nyuut.
Luke meringis seraya memijat pelipisnya pelan. Hari ini ternyata lebih melelahkan dari yang ia duga. Seluruh energi yang tersedia menguap begitu saja, seiring langkah yang membawa tubuh entah kemana. Pemuda itu enggan berpikir, jadi ia membiarkan raga bergerak semaunya. Hingga akhirnya ia bisa melihat tempat yang kaya akan warna terhampar luas di depan mata.
Ia berdiri gamang. Menatap besi hitam berhiaskan lilitan sulur yang menghalau satu-satunya akses masuk menuju taman belakang istana yang paling indah. Luke menerawang, mencoba menembus segala penghalang dan membawa jiwanya ke dalam tempat yang terlihat remang-remang. Makhluk-makhluk yang menempati seakan tengah terlelap, berayun pelan karena udara yang sesekali bergerak. Begitu menenangkan.
Alam bawah sadar mengantar Luke semakin jauh. Semakin tenggelam pada keelokan pembawa kebahagiaan sekaligus kesedihan di waktu bersamaan.
Meski belum lama taman ini menjadi bagian dari Kastil Springgleam, dia sudah terlalu banyak menyimpan kenangan untuk Yang Mulia. Tidak mampu rasanya ia melihat Valmera terus mendatangi Taman Abadi dengan senyum yang tak pernah luput oleh air mata. Mencoba untuk tegar dengan menerima dan mengikhlaskan, tetapi hati dan jiwanya masih terjebak di masa lalu yang begitu menyakitkan.
Andai dengan menghancurkan taman ini bisa menghilangkan sedikit penderitaan Valmera, maka akan Luke lakukan.
Andai dengan menggantikan posisi Neal dari hati gadis itu bisa memulihkan jiwa Valmera … maka dengan senang hati akan Luke wujudkan. Ia siap menanggungnya. Karena memang itu yang selama ini dia inginkan.
Tapi … tentu saja semua itu hanya bisa terjadi di dalam angannya.
Mana mungkin, seorang putri mahkota—berlian yang begitu berharga bagi kerajaan, menikahi sebuah batu kerikil yang Nishati pun tidak mengalir di dalam dirinya. Sudah statusnya rendah, tidak memiliki sihir meski berdarah bangsawan, dari sudut manapun kata “pantas” tidak akan pernah bisa bersanding pada diri seorang Luke—si anak selir Raja.
Mungkin ini terdengar tidak sopan, bahkan lancang, tetapi sesaat Luke berharap ia dilahirkan dari rahim yang sama dengan Valmera—agar ia bisa bersanding dengannya tanpa harus dihantui rasa cemas, atau dari keluarga lain yang satu kasta, supaya Luke bisa bersaing dengan Neal secara terhormat.
Namun, satu hal yang pasti. Ia ingin Semesta bersikap adil padanya. Bermurah hati mengalirkan Nishati ke dalam dirinya.
Luke ingin bisa menggunakan sihir. Setidaknya jika dia memang tidak bisa hadir sebagai belahan jiwa Valmera, maka ia sedia menjadi pelindungnya yang lebih layak dan mampu berjuang mempertahankan apa yang menjadi milik Llaeca.
Tatkala pergulatan batin masih belum sepenuhnya reda, ia bisa merasakan ketenangan di taman ini mulai terusik oleh sesuatu. Luke menyadari keanehan pada bunga-bunga yang memenuhi pemandangan. Warna mahkota-mahkota pada kembang perlahan menjadi gelap, hingga akhirnya berubah menjadi hitam dan keabuan. Semula dia mengira penglihatannya bermasalah, atau cahaya rembulan yang menghilang. Namun, kepekatan itu membuat Luke tak yakin dan menduga hal lalin.
Kegelapan menyebar. Menyelimuti seluruh taman, hingga keluar mendekati empatnya berada. Luke melompat mundur ketika benda hitam itu sudah sangat dekat—terus merambat di tanah mengikuti pergerakan sang pemuda. Wujudnya kemudian terlihat seperti lumpur pekat yang bergejolak selagi meliak-liuk ke atas, sampai menyamai tinggi Luke.
“Malam yang indah, ya, Penasehat Luke Springgleam.”
Rambut gelap, mata merah menyala, serta aura kegelapan yang mengelilinginya, dalam sekali lihat Luke tahu siapa sosok yang melebarkan senum kepadanya itu.
“Daren….”
*****
“Kalen!” Pemuda itu masih tidak berhenti juga. Keluar ibu kota, melintasi jembatan, terus berjalan, sampai akhirnya tiba di sebuah tebing yang tidak jauh dari asal. Valmera mendekat pelan-pelan ke pemuda yang berdiri memunggunginya. Bertanya-tanay dalam benak apa yang sebenarnya ia lakukan di sini, di tengah malam begini.
Valmera berniat memanggil anak itu sekali lagi. Namun, mendadak tenggorokannya tercekat. Matanya melotot dengan tangan yang mencengkram d**a kuat-kuat.
A—Apa ini…!? Panas dan perih turut menjalar di tempat yang sama. Sang ratu bisa merasakan jantungnya berdetak lambat. Pandangannya juga mulai memburam. Ia bahkan harus menopang tubuh dengan tongkatnya untuk tetap mempertahankan keseimbangan yang agak goyah.
Rasa ini … Valmera seperti tidak asing dengannya. Lara yang pernah ia derita bertahun-tahun lalu...apa mungkin sisa dari segel kegelapan itu kelihatannya tidak lenyap total? Kembali aktif karena terpancing oleh sesuatu.
Tapi … apa?
Valmera mencoba mengalirkan Nishati dari tongkat untuk meredakan sedikit rasa nyerinya. Ia mencoba memanggil kembali lelaki di ujung tebing dengan suara sedikit tertahan sambil terus mendekat. Mencari tahu apa yang sebenarnya ingin dilakukan Kalen di tempat dengan pemandangan air terjun dan sungai deras seperti ini, serta apa yang salah hingga mengabaikan panggilannya.
Sang ratu hampir menyunggingkan senyum saat Kalen akhirnya merespon suaranya. Kalau saja tidak ada tatapan kosong dari mata coklat, dan makhluk besar yang terbang di balik punggungnya.
*****