Lilac 15

1099 Kata
~~***~~ “Omong kosong apa ini!? Setelah membuat kekacauan, kau mau melamar putriku!? Lancang sekali! Kau sama sekali tidak pantas bersanding dengan kembang kebanggan Llaeca! Tidak barang sejengkal pun!” Wyvern—naga besar berkaki dua dengan empat sayap—di belakang Daren mendadak meraung kuat selepas Arther selesai dengan ucapannya. Pasukan yang tidak sampai seratus orang seketika gemetar. Taring yang dipamerkan makhluk tersebut seakan menandakan bahwa ia siap menyantap hidangan-hidangan di depannya. “Yang Mulia, saya mencoba bicara baik-baik dengan Anda sekarang,” kata lelaki itu dengan mata merah berkilat. “Anda tidak ingin ada korban jiwa dan keributan yang lebih dari ini, bukan? Saya tahu. Tapi itu semua kembali kepada apa jawaban Yang Mulia Raja. Saya juga tidak bisa menjamin kalau Axe tidak akan berulah.” Makhluk yang tersinggung namanya sekali lagi mengeluarkan suara. Menggeram penuh ancaman. “Lagipula, Yang Mulia, tidak ada alasan kau menolakku sebagai calon penerus tahtamu—pendamping Putri Valmera. Hubungan kerajaan kita lebih dari baik, Kerajaan Xologon memiliki prajurit-prajurit hebat, dan sekarang menjadi lebih hebat dengan apa yang telah kudapatkan! Bayangkan akan sekuat apa ketika Llaeca dengan Xologon bergabung? “Putri Valmera pun akan lebih bahagia denganku dibanding dengan Pangeran dari Vorenia itu—“ “TIDAK!” Teriakan sang raja sukses menghentikan ucapan laki-laki yang tengah mengutarakan semua pikirannya. Sontak saja kilatan penuh amarah terpancar dari manik merah Daren. Dia mengepal tangan erat, seraya mengrahkan tatapan tajam kepada pria yang harusnya ia panggil sebagai “mertua”. “Apa maksud Anda, Yang Mulia?” desisnya. “Sampai kapanpun, aku tidak akan memilihmu sebagai pasangan hidup Valmera! Bahkan, jika Neal bukan seorang pangeran, dia masih jauh lebih baik darimu!” Belum ada satu detik berselang, Arther refleks mengangkat pedang ke depan wajah. Oksigen bahkan belum sepenuhnya mengisi ulang kembali paru-paru, keika Daren sekonyong-konyong melesat ke arahnya. Ce—cepat! Arther tidak sempat memposisikan kuda-kuda dengan baik, membuatnya terdorong mundur. Para prajurit—yang lebih banyak anak-anak muda hendak membalas perbuatan lelaki tersebut. Namun, Daren telah lebih dulu memelantikan mereka jauh setelah menghentak Arther hingga sedikit memberi jarak padanya. Api hitam menguar dari tubuh bersetelan kerajaan berwarna maroon itu. Rembulan yang tadi bersinar, perlahan tertutup oleh gumpalan hitam tebal yang entah dari mana datangnya. Atmosfer di tempat tersebut pun terasa semakin berat. “Sepertinya Anda memang ingin kita bicara dengan cara seperti ini,” ucapnya, “Baiklah, Yang Mulia Raja Arther, mari kita mulai perbincangan hangatnya.” *** Laju keempat kaki tunggangan Valmera dan Neal berhenti tepat di gerbang masuk ibu kota. Pemandangan yang tertangkap, ternyata tak jauh berbeda dari desa Ramsey. Kedua orang itu mengedarkan pandangan ke sekitar. Mencari jejak-jejak kehidupan penghuni rumah yang luluh lantak di atas tanah. “Nona Valmera!” Lelaki yang sama-sama masih berpakaian pesta itu menyadari kedatangan putri kerajaan Springgleam, lantas tergesa menghampiri dan memberi hormat padayna. “Luke, apa yang terjadi!?” Valmera bertanya dengan nada meninggi—panik. “Kastil Springgelam telah diserang, Nona! Sekarang … Yang Mulia Raja sedang bertarung dengan pangeran dari Xologon, Daren Caecillius.” Valmera berseru kaget. Segera ia meminta Luke untuk mengamankan para warga. Tanpa bertanya lebih banyak lagi, ia langsung melesat menuju kastil yang tak jauh dari tempat mereka sekarang. Suara ricuh, dan besi-besi yang saling beradu juga terdengar selagi gadis itu berlari menuju istana. Gerbang coklat besar terbuka lebar-lebar. Menampakkan pemandangan yang begitu menyakitkan mata dan jiwa Valmera. Para prajurit yang tidak ikut bersama Valmera—yang jumlahnya tidak begitu banyak—kini terbujur di atas tanah. Entah masih hidup atau tidak, Valmera tidak bisa memastikan. Yang jelas tempat ini begitu porak-poranda. Taman rusak, kolam air mancur hancur, dan ia baru menyadari ada banyak makhluk berukuran besar terbang di langit Llaeca. Pikiran Valmera kalut. Ia makin mempercepat langkah, hingga akhirnya pintu kastil terbuka dan menampakkan dua orang di atas tanah retak dan tangga yang sedikit rusak. “Ayah--!” Seruan sang gadis tertahan di tenggorokan, saat melihat pria yang masih mengenakan jubah kerajaan itu susah payah menahan setiap serangan dari musuh. Pedang perak Arther tertahan beberapa senti di depan wajah, ketika suara yang begitu ia kenal mengambil alih perhatiannya. “Valmera!?” Gadis yang terpanggil kembali berteriak. Fokus sang raja yang berkurang, membuka peluang untuk Pangeran dari Xologon melancarkan serangan. Lelaki yang rambutnya menggelap dari semula itu mengumpulkan kekuatan di pedangnya, menimbulkan efek dorongan pada Arther hingga ia terpental jauh ke belakang. Terdengar helaan napas setelah punggung Arther menghantam tembok putih di belakangnya. “Yang Mulia, kenapa kau berpaling dari musuh ketika bertarung? Apa kau sudah terlalu tua untuk mengingat dasar-dasar bertarung? Kau sungguh harus segera membuang mahkota dari kepala dan nikmati sisa hidup dengan berbaring seharian di ranjang besarmu.” “Kurang ajar!!” Daren menoleh, dan dengan cepat mengangkat senjatanya lagi untuk menangkis tusukan tombak. Ia memandang lekat-lekat pada wanita yang jaraknya kini telah begitu dekat. Sosok berambut putih terikat satu, dengan gaun ungu serta tombak perak di tangan, pesonanya berhasil merebut penuh perhatiannya. Begitu cantik, menawan, dan membuat siapapun jatuh hati padanya. Wanita yang tengah dicarinya—Valmera. Cantik. Dia pun tidak menyangkal hal itu. Satu hal lain yang baru diketahuinya dan membuat pangeran itu takjub. Sang Putri pewaris tahta memegang sebuah senjata, dan berani menyerang dirinya. "Putri Valmera Springgleam. Si Lilac Ungu dari Kerajaan Llaeca.” Daren melakukan penolakan. Kekuatan yang bagai langit dan bumi itu menghasilkan jarak seketika di antara mereka. Tidak berniat membuat duel dengannya, Daren tidak mengeluarkan banyak tenaga. Cukup agar ia bisa leluasa bicara dan Valmera bisa mendengar perkataannya. “Salam. Senang bertemu kembali denganmu, Putri.” “Apa maksudmu datang ke kerajaan kami, Putra Xologon!?” seru Valmera. “Aku datang untuk menemui Raja Arther, Putri. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan calon mertuaku.” “Calon … mertua …?” Tidak butuh waktu sepuluh detik sampai Valmera dan Neal menyadari maksud perkataan orang itu. Daren menyeringai. Memamerkan deretan gigi dengan dua taring kecil yang mencuat di antaranya. “Ya, Valmera sayang. Aku datang ke sini untuk melamar dirimu.” Reaksi yang sama seperti yang diberikan Arther kepada pemuda itu. Bergeming. Mata membulat sempurna dan mulut menganga. “Lamaran? Lamaran katamu? Kau pikir aku mau menerimanya setelah apa yang kau lakukan pada Llaeca? Jangan harap!” teriak Valmera. Setelah mengucapkan itu, sang gadis mendadak teringat ayahnya yang kini tengah ditemani Neal di belakang. Secepat kilat ia berbalik dan menghampiri satu-satunya orang tua yang Valmera punya. Daren sendiri tidak beranjak dari tempat. Ia memerhatikan pemandangan penuh belas kasih dan sayang itu dengan muak. Amarah, kebencian, rasa iri, sedih, entah perasaan apa lagi yang berkecamuk di dalam raganya. Ia menggeram. Mengepal tangan kuat-kuat. “Kesabaranku sudah habis.” ...oOo...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN