Lilac 14

1031 Kata
~~***~~ Swiing. Craass! Dada Valmera naik turun mengatur oksigen yang masuk ke paru-paru. Satu persatu musuh di hadapan memang gugur, tapi di saat yang sama juga makhluk lain muncul dari dalam tanah, atau tiba-tiba datang entah dari mana. Intinya, pasukan-pasukan menyebalkan ini benar-benar tidak ada habisnya. Gadis itu, beserta Neal kekasihnya, sudah hampir kehabisan tenaga. Genggaman pada tombak perak sudah bergetar lemas. Entah berapa lama lagi mereka akan bertahan. Pasukan yang datang bersama mereka pun hampir separuhnya terhabisi. Makhluk ini ternyata punya kekuatan yang tidak main-main. “Bagaimana … ini …?” Valmera bertanya terbata-bata. “Sepertinya … memang tidak ada cara lain. Kita hanya punya dua pilihan di sini. Berdiam lalu mati…” Dia menoleh pada Valmera, lantas melanjutkan, “atau bertarung mati-matian.” Valmera tersenyum sinis. Ia tidak keberatan dengan pilihan terakhir, hanya saja ... dia tidak yakin tubuhnya bisa diajak bekerja sama untuk mengeluarkan beberapa teknik lagi. Sihir begitu menguras tenaga. Selama ini ia belum pernah mengerahkan kekuatan sebanyak sekarang. Gadis itu bisa mendengar sebuah suara menyerukan namanya keras-keras. Tahu apa yang membuat sang pemuda berteriak, ia menoleh ke atas kiri kepalanya. Seekor macan hitam—ah, bukan—tapi menyerupai macan hitam, karena telinganya runcing dan memiliki enam kaki yang bentuknya aneh, serta tiga buah semacam sengat di punggung, melompat ke arahnya. Sontak, Valmera berteriak, “Lindung!” sambil mengangkat tongkat tinggi-tinggi. Tepat saat tiga sengat itu terjulur, sebuah cahaya padat transparan memblokirnya. Percikan keunguan berbentuk kelopak bunga kecil bermunculan di sekitarnya, dan menghilang sedetik kemudian. Masih dalam posisi bertahan, ia mengarahkan telapak tangan kiri kepada monster itu. “Flo—Flowa  .…” Tongkat dan pelindung di depan mata bersinar. Sebuah bunga lilac berwarna violet melayang pelan di antara dua orang tersebut. Makhluk yang keheranan mengikuti pergerakan benda mungil tersebut sambil bertanya-tanya. Valmera tiba-tiba berseru, “Xias!” Bunga kecil mendadak meledak, berpendar terang—sangat terang—hingga membuat semua retina dari indra penglihat kesakitan, terkecuali untuk si pembuat ledakan, dan pemuda yang memejamkan matanya rapat-rapat. Valmera mengambil kesempatan untuk mundur, menjauh dari makhluk itu. Berdiri di tempat aman, yang berarti berada di samping sang kekasih. Di saat yang sama, sang gadis merasakan sesuatu tiba-tiba merasuk ke dalam dirinya. Seperti … sebuah panggilan. Gadis itu mendongak. Menatap langit malam yang hitam kebiruan, atau lebih tepatnya pada sesuatu yang bergerak di atas sana. Dia menyipitkan mata agar bisa lebih jelas melihat benda tersebut. Semakin dekat objek, semakin kelihatan bentuk dan warna yang mencolok di tempat seperti itu. Dan, tepat saat sesuatu itu lewat di depan mata, Valmera terbeliak. Bunga .... Benda yang jatuh dari langit itu adalah bunga lilac berwarna putih. Namun, ada yang aneh di kelopak kecilnya itu. Hampir setengah dari mahkotanya ternodai oleh warna merah …. Merah darah. Jantung Valmera langsung berdetak tak karuan. Kekhawatiran yang tiba-tiba memenuhi hatinya, membuat kepala sang gadis dipenuhi pikiran-pikiran tak mengenakkan. Keringat dingin ikut membasahi pelipis dan telapak tangannya. “Neal, kita harus cepat ke istana. Perasaanku bilang ada sesuatu yang terjadi di sana!” Beruntung, Neal mengerti dan ikut melakukan apa yang dia perbuat. Membantu sang kekasih menyelesaikan ini semua dalam satu kali serangan. “Mau melakukan teknik itu?” Sang putri mengangguk mantap, lantas keduanya memasang posisi masing-masing. Neal berjongkok di dekat sang gadis, menempelkan kedua telapak tangan di atas tanah. Valmera sendiri tengah mengayunkan tombak di tangan dengan gerakan perlahan. Ujung runcing yang berada di bawah menggesek alas pijakan hingga meninggalkan bekas menggaris di sana. Gerakannya begitu lembut dan tenang. Atmosfer yang ada di sekitar mendadak terasa seperti sebuah air yang tak ada sesuatupun mengusiknya. Gadis itu mulai menggerakkan seluruh tubuh. Seperti balerina, mengitari pemuda yang masih fokus memejamkan mata untuk melancarkan serangan ini. Sekeliling tempat itu seketika diramaikan oleh sesuatu mirip udara bergerak dengan warna merah muda lembut. Makhluk-makhluk yang ada di sana seperti tersihir oleh keindahannya. Mematung dengan bola mata dipenuhi warna lembut dari sihir Valmera yang juga terhiasi kelopak-kelopak bunga kecil yang melayang-layang. "Valmera!" Satu panggilan itu langsung memicunya. Energi yang awalnya begitu menentramkan, berubah 180 derajat dalam satu detik. Valmera mengkokohkan kuda-kuda di gerakan terakhirnya. "Wiend vie." "Via Nish." Dalam satu gerakan bersama, mereka berseru, "La xia enceins!" Neal mengangkat tangannya ke atas, Valmera memutar tubuh dua kali lalu turut mengangkat tombak tinggi-tinggi. Air sontak menyembur dari bawah kaki makhluk-makhluk kegelapan itu, lalu bergerak spiral dengan bantuan sihir Putri hingga membuat masing-masing dari mereka terperangkap. Pusaran itu semakin lama semakin menghimpit. Walau nampak seperti cairan bening biasa, tapi zat itu cukup membuat raung kesakitan menggema. Sekuat apapun mereka, kehidupan dari Narak tidak akan mampu menahan besarnya energi semesta yang begitu suci--apalagi jika langsung dari sumbernya. Ya, Neal mengambil air ini dari sungai yang tak jauh dari desa. Sesuai perkiraannya, para Nhymp ini langsung tak berdaya. Beberapa menit kemudian yang tersisa tinggalah tumpukan debu yang terbang terhembus angin malam. “Be—Berhasil!” Teknik rahasia yang belum lama diajarkan Neal, berhasil mereka lakukan! Valmera dan Neal bertukar senyum. Tidak sia-sia mereka sering berlatih bersama selama ini. Neal mengangguk. Mereka berdua segera menggerakkan kaki, dan beranjak dari tempat yang sudah tak karuan bentuknya itu. Dua ekor kuda yang mereka tinggalkan begitu saja, ternyata masih setia menunggu tak jauh dari tempat mereka datang tadi. Tanpa menghentikan langkah sedikitpun, Valmera dan Neal langsung menungganginya. Menghentak sekali, dan langsung melesat menuju kastil Springellam. **** “Salam, Yang Mulia.” Lelaki muda berambut abu tua itu membungkukkan badan. Terlihat ramah, dan begitu sopan. Andai saja tidak ada naga yang berdiri di belakangnya dan berterbangan di atas mereka. “Daren Caecillius? Pangeran dari Xologon? Mau apa kau datang kemari!?” Arther bertanya dengan nada sedikit meninggi. Pemuda itu tidak langsung menjawab. Ia memilih mendekat agar lelaki tua itu bisa mendengar jelas perkataannya. “Saya datang untuk melamar Putri Anda menjadi ratu Xologon, Yang Mulia.” Kalimat itu seperti sebuah sambaran petir yang menyambar telak ke gendang telinga. Arther gamang sesaat dengan wajah memerah. Alisnya semakin menukik tajam. Mata dengan ujung kelopak yang telah banyak keriput itu menyorot setajam bilah pedang yang tergenggam di tangan. “Omong kosong apa ini!? Setelah membuat kekacauan, kau mau melamar putriku!? Lancang sekali! Kau sama sekali tidak pantas bersanding dengan kembang kebanggan Llaeca! Tidak barang sejengkal pun!” ...oOo...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN