Nggak terasa hari ini adalah hari yang paling mendebarkan. Karena pagi ini jam 8 proses pergantian status yang semula singel menjadi pasangan suami-istri.
Setelah Alvin dan Reina juga keluarga mereka mengurus segala macam persiapan pernikahan hari ini saat nya.
Kemarin Reina dan Alvin mencari cincin dan itu semua nggak luput dari sebuah drama dimana Alvin menginginkan cincin biasa sedangkan Reina ingin yang elegan dan ya sedikit mahal.
Reina sudah terbangun dari tidurnya, semalam ia baru bisa tidur jam 3 pagi dan terbangun jam 4 pagi.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar dari pintu kamar Reina.
Reina pun bangkit dan membuka pintu tersebut.
" Nak udah bangun?" Tanya Laura.
"Iya baru 1 jam Reina tidur ma" Reina mengusap mata nya dengan wajah lelahnya.
"Mama tau kamu pasti deg degan" ujar Laura.
"Udah kamu mandi dulu nanti kamu di rias sama orang yang udah mama siapin" setelah perkataan Laura reina pun masuk lagi ke kamar nya dan mengambil handuk.
Setelah selesai mandi reina keluar.
Reina terkejut mendapati seorang wanita duduk di kasur nya.
"Wah calon manten udah keluar, sini-sini ke Tante" Reina yang merasa kikuk menghampiri wanita tersebut hanya dengan balutan handuk di tubuhnya.
"Kamu pakai ini ya buat Daleman kebaya kamu" wanita tersebut menyerahkan baju untuk dalam an kebaya nya nanti.
Setelah itu Reina masuk ke kamar mandi dan memakai dalaman kebaya tadi.
Setelah selesai Reina menghampiri wanita tersebut dan duduk di meja rias.
Pulasan demi pulas an terpoles di muka Reina. Beberapa jam Reina selesai dengan make up tersebut.
Reina mematut dirinya di cermin. Reina merasa pangling dengan dirinya. Make up yang dipoles sebagai natural mungkin. Bukan kesan tua di muka Reina tapi kesan cantik anggun lah yang Reina dapatkan.
Cklek
Suara pintu terbuka membuat Reina melihat ke belakang.
Laura menghampiri Reina dan tersenyum menatap Reina.
"Kamu cantik sekali" Laura mengelus pundak Reina.
"Mama juga cantik" ujar Reina. Laura sekarang memakai kebaya coklat s**u yang sangat anggun di tubuh nya juga polesan makeup sedikit membuat wajah Laura terlihat lebih muda.
"Kamu kalau udah nikah jangan lupa sama mama ya?" Ucapan Laura membuat reina sedikit terharu Reina pun mengangguk kan kepalanya dan memeluk sang mama.
"Udah dong jangan nangis nanti cantik nya nggak jadi" ucapan Laura membuat Reina melepas kan pelukanan nya dan tersenyum.
"Mama" rengekan Reina di balas Laura dan tawa yang menahan tangisnya.
"Maaf mbk Reina ini kebaya nya di pakai dulu ya" wanita perias tadi menyerahkan kebaya yang telah dipilih Reina waktu itu.
Setalah itu Reina memakai kebaya nya dan perias tadi merapikan baju dan juga rambut sanggul an nya.
"Sekarang udah jam 7 sejam lagi keluarga Alvin mau kemari, kamu dikamar aja ya... Biar mama kebawa buat siapin lagi" Reina mengangguk an kepalanya dan Laura pun pergi bersama perawat tadi.
Reina sekarang sendirian, ia membuka handphone nya dan melihat notifikasi yang ia terima.
Reina kemana lu kok nggak masuk nggak bilang-bilang sih, cuma ada surat doang lagi
Amel
Holidae beb
Reina
Reina hanya membalas pesan dari Amel setelah itu ia membuka i********: nya.
Ia hanya mengescroll beranda i********: nya. Ia sangat bosan. Ia cemas sekarang.
***
Jam 8 pas keluarga dari pihak laki-laki telah datang.
Alvin sudah siap dengan baju pengantin nya bewarna putih tulang Yang senada dengan milik Reina.
Alvin pun turun dan di dampingi oleh kedua orangtuanya.
Meraka semua masuk kerumah reina.
Sambutan demi sambutan dan serangakaian acara telah terlewati. Sekarang saat nya Alvin akan mengucap kan ikrar janji suci nya.
" بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ saya nikahkan dan kawinkan anda dengan anak saya Reina sienta putri dengan mas kawin 3 gram cincin emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai
"
"Saya terima nikah dan kawin ya reina sienta putri binti Eko bagustiawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai"
Ucapan sah terdengar mengisi ruang ini. Air mata haru menetes dari mata kedua ibu dari mempelai pengantin.
Setelah mengucapkan doa-doa Alvin pun di persilahkan untuk menjemput reina di kamar nya.
Alvin menaiki tangga dengan perlahan, ia merasa nervous.
Setelah sampai di depan kamar Reina. Alvin mengetuk pintu dan mengucapakan bismillah sebelum memutar kenop pintu kamar Reina.
Disana terlihat reina menunduk di atas tepi kasur.
Alvin melangkah menghampiri Reina.
Reina hanya menunduk ia sangat gerogi dan ingin menangis haru.
Alvin menyentuh pundak reina.
Reina pun mendongak dan berdiri.
Reina mulai mencium tangan Alvin dan Alvin mencium dahi Reina. Disertai doa-doa untuk kebahagiaan pernikahan mereka. Karena Alvin mempunyai prinsip menikah hanya sekali. Dan mungkin ini takdir Allah untuk menjadikan manusia yang lebih baik daripada sebelumnya.
Setelah Alvin mencium dahi Reina dan reina melepas kan ciuman di tangan Alvin. Meraka pun dipersilahkan untuk keluarkan dan menuju tempat pengucapan ijab qobul tadi.
Disana Alvin dan Reina melakukan serangkaian acara.
Jam 11 acara selesai. Alvin maupun reina disuruh untuk ke kamar Reina, untuk mengganti baju nya.
Reina masuk terlebih dahulu dikamar nya dan di susul Alvin.
Alvin menutup pintu kamar, seketika suasana kamar menjadi sangat awkard.
Reina pun memutuskan untuk mengambil pakaian santai nya dan menuju ke kamar mandi.
Setelah ia membersihkan badannya dan telah mengganti pakaiannya Reina pun keluar dari kamar mandi.
Alvin yang semula selonjoran di kasur seketika menekuk kaki nya menjadi duduk bersila.
"Emm pak, bapak bisa mandi dulu di delem" ujar Reina. Alvin pun bangkit dan mengambil pakaian nya, ia berjalan menuju kamar mandinya.
Reina membuka handphone nya.
Sekarang adalah jam istirahat sekolah nya.
Amel calling~
Reina yang semula melihat isi meme di i********: seketika terkejut mendapati amel menelpon nya lebih parahnya ia video call.
Reina menarik napas nya dalam dan dihembuskan nya.
Ia mengangkat telpon dari Amel.
"Oyyy kenapa nggak masuk sihh?" Reina melihat Amel sedang bersama Feroza dan Sienta.
"Iya gue lagi ada urusan"
Jawab Reina.
"Urusan apaan dah lu kan dikamar lu sendiri" Amel memang sering main kamar Reina bahkan ia beberapa kali nginap disini jadi ia sudah hafal betul kamar Reina.
"Ya acaranya udah selesai" Reina tidak salah kan???
Waktu enak-enak nya reina berbincang dengan para sahabatnya, ia dikejutkan oleh Alvin yang telah keluar dari kamar mandi.
Reina yang merasa terkejut langsung mematikan telephon nya sepihak.
Alvin menatap reina datar. Ia berjalan ke arah kasur yang di tempat i Reina dan membaringkan nya di samping Reina.
Reina hanya bisa diam, ia merasa cukup terkejut. Kini Alvin sedang memejamkan matanya di samping Reina dengan posisi badan terlentang.
Reina yang semula duduk bersandar di kepala ranjang. Mulai sedikit tidak nyaman. Karena ini pertama kali nya ia sekasur dengan laki-laki lain selain papa dan Abang nya.
Alvin yang merasa Reina gelisah mulai membuka matanya.
"Kenapa?" Tanya Alvin.
Reina hanya menggeleng kan kepalanya.
Tiba-tiba Alvin bangkit dan duduk di samping Reina.
"Rei saya ingin menikah hanya sekali, usahakan kamu jangan meminta cerai karena alasan kita tidak saling mencintai atau apa. Jadi saya mohon buat pernikahan ini seperti pernikahan pada umumnya ya..." Perkataan Alvin membuat Reina semakin bungkam. Ia tau ini pernikahan sakral tanpa ada nya perjodohan ini mungkin saja Alvin adalah jodoh yang Allah berikan untuk Reina. Tapi tetap saja ini masih terlalu cepat.
"Tapi aku masih muda, bahkan belum 17 tahun" ujar Reina.
"Saya tau, saya yakin kamu bisa menjalani ini semua. Karena umur bukan patokan kedewasaan seseorang. Tolong buatlah pernikahan ini menjadi pernikahan sebenarnya, saya akan belajar untuk mencintai kamu, dan kamu juga harus seperti itu" penjelasan panjang Alvin membuat Reina terenyuh.
"Tolong bimbing aku ya pak" ujar Reina yang mendapat kan senyuman tulus dari Alvin.
Alvin menjulurkan tangan nya di atas kepala Reina.
"Saya akan berusaha untuk menjadi suami sejati, dan saya tidak akan meminta hak saya ke kamu sebelum kita berdua sama-sama siap" perkataan Alvin membuat Reina sedikit terkejut. Ia bukan gadis yang polos atau sok polos. Ia tau apa maksud dari suaminya itu.
"Iya" hanya itu yang bisa Reina ucapkan.
"Sebenarnya saya ingin jujur sama kamu, tapi saya takut kamu nggak bisa menerima nya" Alvin mulai menghela nafas nya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Reina bangkit dari kasur nya. Alvin masih menyederkan badanya ke kepala ranjang.
"Abang tumben nggak langsung masuk?" Ryan hanya menggaruk lehernya gerogi.
" Emm gue takut ganggu Lo aja" perkataan Abang nya membuat Reina tertawa.
"Ganggu apaan dah?" Ryan hanya memasang muka kesal.
"Lu di panggil keluarga tuh di bawah buat makan siang ajakin suami lu sekalian" Reina mengangguk kan kepalanya. Dan Ryan pun pergi meninggalkan kamar adik nya itu.
"Pak kita di panggil ke bawah buat makan siang" ujar Reina. Alvin pun berdiri dan berjalan beriringan dengan Reina.
Disana terlihat semua orang sudah berkumpul.
"Wah pengantin nya udah Dateng, pasti capek banget dong " ujar Tante dari Alvin. Alvin dan Reina membalas nya dengan senyum malu saja.
"Ini mah masih nggak terlalu capek tan nanti malem pasti lebih banyak buat ngeluarin tenaganya" ucapan virgo membuat gelak tawa mengisi ruang makan ini.
Reina hanya bisa menunduk malu.
"Udah-udah nak kamu duduk gih" bagus menyuruh Alvin dan Reina untuk duduk di kursi kosong.
"Yaudah sekarang waktunya makaaan" ujar salah satu sepupu Reina.
Semua orang mulai mengambil makanannya, terutama para istri mengambil makanan untuk suami nya.
Reina mengambil piring dan mengisi nasi dan lauk untuk dirinya sendiri.
"Loh Rei kok kamu nggak ngambilin makan buat suami kamu?" Pertanyaan dari budhe Alvin seketika membuat semua orang menatap Reina.
Reina yang merasa di perhatikan mulai merasa malu.
"Nggak papa kok budhe Alvin bisa ambil makanan Alvin sendiri" Alvin mencoba membuat Reina tidak tersudutkan.
"Tapi Vin setidaknya istri mu itu mengambil kan makanan untuk suami nya, karena itu tanda bakti istri terhadap suami" petuah budhe Alvin membuat Reina semakin merasa tidak enak.
Reina berdiri dan mulai mengambil piring yang sudah ada di depan Alvin. Ia mengambil kan nasi dan mengambil kan beberapa lauk untuk Alvin.
Alvin yang melihat itu seketika merasa iba terhadap Reina.
Setelah itu Meraka makan dalam diam.
Setelah makan selesai, asisten rumah tangga mulai membersihkan alat-alat makan yang sudah kotor.
"Vin langkah selanjutnya kamu mau tinggal dimana?" Pertanyaan dari dady Alvin.
" Rencana nya Alvin mau tinggal di rumah kita sendiri, Alvin udah beli rumah nya seminggu yang lalu" perkataan Alvin seketika membuat Reina menatap Alvin.
"Kok pak Alvin nggak bilang-bilang? Aku nggak mau pisah sama mama papa" Reina menatap Alvin dengan mata yang sedikit berair.
"Saya ingin kita bisa belajar mandiri Rei" jelas Alvin.
Reina yang merasa ini keputusan yang tidak adil bagi Reina, Reina pun bangkit dan berjalan menuju kamar tempat nya berada.
Alvin yang melihat itu menyusul Reina.
Semua orang yang berkumpul disini seketika diam. Hanya ada keheningan.