After merried

1624 Kata
Alvin memasuki kamar Reina. Ia melihat dimana Reina sedang tidur miring membelakangi arah Alvin sekarang. Alvin berjalan ke arah Reina. Ia duduk di samping Reina. "Rei" panggil Alvin. Reina hanya diam. Alvin tau Reina masih terjaga. "Maaf jika keputusan saya merugikan kamu. Tapi saya ingin kita hidup mandiri, saya juga sudah mempunyai pekerjaan jadi lebih baik kita bisa hidup di rumah kita sendiri, tolong mengerti ini demi kebaikan kita semua" jelas Alvin. Reina masih tetap tidur membelakangi Alvin. Perlahan tangan Alvin menyentuh kepala reina dan mengelus nya pelan. "Maafkan saya" ujar Alvin tulus. Reina Yang sedari tadi sadar merasa terenyuh dengan perlakuan Alvin. Reina membalikkan badannya dan menatap Alvin yang sedang duduk disampingnya. "Tapi aku nggak mau pisah sama mama" Reina berujar dengan nada serak nya, dan mata nya yang sembab. Alvin tersenyum menatap Reina. "Kita bisa mengunjungi nya sesuka kamu" ujar Alvin. Reina pun duduk dan memeluk Alvin. Entah kenapa terasa aneh bagi Reina langsung memeluk Alvin. Ia tau jika Alvin adalah suaminya, tapi tetap saja masih terasa aneh. Sedangkan Alvin entah kenapa ia merasa nyaman di saat Reina memeluk nya. " Janji ya pak buat main ke rumah mama papa sesering mungkin" Alvin pun mengangguk kan kepala nya tanda ia setuju. Reina melepaskan pelukannya. Dan seketika suasana canggung mulai terasa. "Pak tapi kita pindah nya lusa aja ya?" Ujar Reina. Alvin diam sebentar, karena rencana nya ia akan pindah besok pagi. Tapi ia tau kalau Reina mungkin masih ingin bersama dengan keluarganya. Alvin mengangguk kan kepalanya. Dan di sambung senyuman merekah dari Reina. "Bapak nanti malam nggak tidur disini kan?" Pertanyaan Reina membuat Alvin mengangkat satu alisnya. " Kenapa?" Tanya Alvin. "Terus kita sekamar? Ih nggak mauuu" Reina mengucap kan itu dengan nada yang menolak keras. "Terus saya tidur dimana?" Tanya Alvin. "Kan ada kamar kosong di bawah, kamar pembantu sih tapi" jawaban Reina membuat Alvin seketika merasa sedikit kesal. "Ya" hanya itu yang Alvin jawab, karena ia yakin mertua nya pasti melarang jika sampai hal itu terjadi. "Kita sholat dhuhur dulu" ajak Alvin yang Langsung dibalas iya oleh Reina. Dan sholat ini lah pertama kalinya Alvin dan Reina sholat berjamaah. *** Reina terbangun dari tidur siang nya. Ia merasa ada sebuah tangan sedang merengkuh badanya. Reina perlahan melihat ke arah pemilik tangan kokoh ini. "Pak Alvin?" Gumam Reina. Reina perlahan menyingkirkan tangan Alvin dan berdiri menuju meja rias untuk merapikan rambutnya. Reina berjalan ke arah alvin dan membangun kan nya. "Pak" Reina menepuk pelan pundak Alvin. Alvin yang merasa terganggu mulai bergumam. "Pak udah hampir jam 5 ini" Reina menepuk pundak Alvin sedikit lebih keras. Alvin mulai membuka matanya. "Pak bangun" Reina masih berusaha membangun kan Alvin. "Ya" gumam Alvin. Alvin pun mulai bangkit dan menuju ke arah kamar mandi. *** Reina turun bersama Alvin menuju ruang keluarga. Sekarang beberapa kerabat nya sudah banyak yang pulang.hanya tinggal orang tua Alvin dan Virgo sahabat Alvin. Di ruang keluarga hanya ada Virgo duduk-duduk santai di depan tv. "Wah udah turun aja, eh udah baikan ya neng?" Ucap Virgo dengan nada menyindir nya. "Siapa yang berantem cobak om" ujar Reina dan duduk di sebelah Virgo. Sedangkan Alvin duduk sendiri di sofa depan Reina. "Bentar lu panggil gue apa tadi?" Ujar virgo dengan melihat Reina intens. "Om" jawaban Reina dengan memeletakan lidah nya. "Ih Reina virgo nggak nyangka deh kalau dedek Reina nikah sama om-om" jawaban Virgo membuat Reina seketika merasa sangat kesal. "Ih Reina bukanya nikah sama om-om tapi om-om nya yang mau nikahin Reina" Reina mengucap itu dengan wajah yang di sok imut kan. Alvin yang merasa di perbincangkan berdehem, menyadarkan 2 orang itu jika orang yang dibicarakan ada di tempa ini. "Eh dedek Reina, om-om nya kerasa kita ghibah in" kata Virgo dengan melirik ke arah alvin. "Udah deh kak, Reina takut nanti nilai matematika Reina malah di minus lagi karena ghibah in orang nya di depan pas gini" ujar Reina. Alvin hanya diam menyaksikan mereka berdua dengan muka datar nya. Ryan yang dari dapur dan melihat Alvin, Reina dan virgo menghampiri mereka ber-tiga. Ryan membawa semangkuk es cream yang dibuat mama nya 3 hari yang lalu. "Wah Abang kok perhatian banget sih bawain aku es cream" Reina bangkit dan akan mengambil es cream yang berada di tangan Ryan. Ryan langsung mengamankan es Cream nya dari adik luknut nya itu. "Gila" ujar Ryan. Ia pun duduk di samping Alvin dan memakan es cream nya seorang diri. Reina duduk di bawah dan mengambil es cream tersebut secara paksa. Reina menyuap kan es cream tersebut ke mulut nya. "Enyak" ujar Reina. Ryan yang melihat itu mengambil balik es cream tersebut dan mendorong reina pelan dengan sebelah tangan nya. "Om aku dianiaya sama Abang om" Reina merengek ke Virgo dengan ekspresi yang dilebih-lebihkan kan. "Aduh kasianya dedek gemes ini, sini-sini om bantu" Virgo berdiri dan mengambil es cream di tangan Ryan. Virgo pun berjalan ke arah dapur dan memakan nya sendiri. Reina dan Ryan saling tatap dan langsung berdiri mengejar Virgo. Alvin yang melihat tingkah absurd 3 orang tersebut hanya bisa menatap tanpa berkedip. "Gila semua" *** Meja makan malam sudah terisi dengan beberapa hidangan yang membuat perut seketika demo. Orang tua dari Reina dan Alvin, Ryan, Virgo juga Alvin dan reina sudah duduk di meja makan tersebut. Laura seperti biasanya mengambil kan makanan untuk bagus begitupun juga Saras yang mengambil kan makanan untuk Dirga. Reina yang melihat itu jadi teringat kejadian tadi siang. Reina pun mengambil piring dan mengisi nasi di piring tersebut. "Segini pak?" Tanya Reina ke Alvin. Alvin yang merasa Reina sedang berbicara padanya mulai menatap Reina dengan muka yang bingung. "Kurang apa kelebihan?" Tanya Reina sekali lagi. Alvin pun mengangguk kan kepalanya. "Lauk apa?" Lagi lagi Reina bertanya ke Alvin. " Udang sama sayur itu aja" jawab Alvin. Reina pun mengambil yang dikemaui Alvin dan meletakkan nya di depan Alvin. Reina kembali mengambil makanan untuk dirinya sendiri. 2 pasangan paru baya itu tersenyum melihat tingkah Reina. Reina terlihat masih malu-malu untuk melakukan itu semua, tapi para orang tua tersebut merasa lega akan perubahan yang di alami Reina. Kini mereka makan dalam diam. Setelah makan asisten rumah tangga di rumah Reina mulai membersihkan nya. "Reina mau bicara" ucapan Reina membuat 7 orang di meja makan mentap Reina semua. "Lusa Reina akan ikut pak Alvin buat pindah rumah" ujar Reina. Semua orang disana terlihat bahagia karena Reina mengambil keputusan yang sangat tepat. "Jadi... Bang Iyan jangan kangen gue ya" Reina menatap Abang nya dengan mimik serius. "Yaudah sih tinggal minta mama papa buat bikin adek lagi, kan gampang" jawaban santai Ryan mendapatkan jitakan dari bagus. "Dipikir mama papa kamu ini pabrik" bagus mengomeli anak sulung nya itu. "Pa" Laura mengingatkan bagus untuk berkata yang sopan, karena sekarang ada besan dan temen dari menantunya. "Abisnya anak kamu ini" bela bagus. Semua orang disana yang melihat perdebatan sepasang suami istri tersebut menyunggingkan senyumnya. "Gapapa kali Ra, kan anak kamu udah pada dewasa" jawab Saras. Akhirnya perdebatan antara Para orang tua terjadi dan memakan waktu sekitar 30 menit. "Sudah-sudah, daripada kalian debat mending istirahat dan kamu Alvin Reina jangan melakukan hal aneh dulu, Reina masih di bawah umur oke" ucapan bagus seketika membuat Reina dan Alvin merasa malu. Akhirnya mereka pun balik ke kamar masing-masing, dan virgo pamit untuk pulang karena di rasa sudah main terlalu lama. *** Reina mengambil baju tidur nya dan mengganti baju nya di kamar mandi. Setelah selesai Reina berbaring di kasur miliknya. Alvin yang semula memainkan handphone nya, kini meletakkan handphone tersebut dan ikut berbaring di sebelah Reina. "Loh kok bapak disini? Kan Reina udah bilang kalau bapak nggak boleh tidur disini" Reina duduk dan mendorong Alvin untuk tidak tidur sekasur dengan Reina. "Saya tidur disini tidak akan bikin kamu hamil" jawaban santai Alvin membuat rekan semakin kuat untuk mendorong Alvin. "Ih kok bapak gitu. Tapi kan bisa aja bapak khilaf, suara hati laki-laki siapa yang tau?" Ujar Reina. Alvin seketika diam, ia ingin bicara jujur sama Reina. "Rei saya ingin bicara" Alvin mengucapakan itu dengan nada dan wajah serius nya. "Kan bapak udah bicara" jawab Reina dengan wajah yang sok polos. Alvin tidak meladeni candaan Reina. "Rei mungkin untuk malam ini saya tidak akan melakukan apa yang ada dalam pikiran kamu" Alvin lagi-lagi mengembuskan nafas nya. "Kenapa? Karena aku masih kecil di semua?" Tanya Reina yang sudah mulai memasang wajah serius, karena ia merasa sedikit tersindir. " Bukan, hanya saja karena..." Alvin menjeda ucap an nya, karena ia butuh keberanian yang kuat buat membuka aib nya. Reina menunggu Alvin melanjutkan perkataannya. "Saya pernah berpacaran dengan teman lelaki saya sendiri" Alvin mengucap itu dengan sekali tarik nafas. 5 detik.... 10 detik.... 13 detik.... 15 detik.... Hingga detik ke 18 Reina mulai mengedip kan matanya. Dan tak berapa lama suara tawa menggelegar kan terdengar hingga di setiap sudut ruangan ini. "Ih bapak jokes nya horor, bwahahhaha" Reina memegang perut nya yang mulai terasa keram karena kebanyakan tertawa. "Saya serius" Alvin memasang wajah serius nya. " Ih bapak kapan nggak masang wajah serius bapak" Reina memegang kedua pipi Alvin. Alvin memegang kedua tangan Reina dan menatap nya dengan wajah yang benar-benar serius. "Rei" Alvin menatap Reina dalam. Reina diam dan ia memasang muka serius nya. "Bapak bohong kan?" Reina mulai bertanya dengan perasaan yang deg-degan. Alvin menggelengkan kepalanya. Reina melepaskan genggaman tangan Alvin. "Nggak mungkin kan pak?" Reina menatap Alvin tidak percaya. Alvin hanya diam, ini yang ia takutkan. Reina tidak terima dengan kelainan seksual nya. Tiba-tiba reina mendekat kan wajahnya ke Alvin seakan ia akan mencium Alvin. Jarak Meraka kini hanya tinggal 2cm. Tidak ada pergerakan dari Alvin. Reina mendekat kan bibir nya ke arah alvin, jarak tinggal 1 Senti. Alvin seketika mengalihkan muka nya. Dan otomatis Reina duduk kembali seperti semula. "Bapak jahat" ucap Reina dengan tatapan kosongnya. "BAPAK UDAH BOHONGIN REINAAA"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN