Setengah jam yang lalu, Reina baru saja berhenti dari menangis nya.
Kini Reina tengah tertidur membelakangi Alvin.
Alvin menatap Reina sendu. Ia tau perasaan Reina sekarang pasti sangat hancur, hari pertama pernikahan malah mengetahui jika suaminya itu gay.
Alvin mengusap kepala reina. Ia merasa sangat bersalah. Kejadian 5 tahun yang lalu, dimana ia menjalin hubungan terlarang. Ia berpacaran dengan teman cowok SMA nya dulu.
Singkat cerita, Alvin dulu mempunyai teman dekat, Andi.
Ia dan Andi berteman cukup dekat. Sifat Alvin yang pendiam dan Andi yang banyak tingkah membuat pertemanan mereka terjalin sempurna. Hingga suatu ketika Alvin tau jika Andi menyukai seorang gadis di sekolah nya.
Perasaan Alvin saat itu campur aduk, antara kesal, marah dan sedikit cemburu.
Alvin pikir dulu hanya merasa cemburu karena ia takut jika teman nya akan beralih ke cewek tersebut. Tapi perasaan cemburu tersebut semakin membesar dan membuat Alvin sangat marah besar waktu Andi berpacaran dengan cewek tersebut.
Alvin marah-marah tidak jelas, ia menjadi sangat emosional. Andi yang melihat perubahan Alvin mulai menanyakan, kenapa?
Alvin hanya diam dan berusaha menjauh dari Andi. Karena ia sadar akan sesuatu, sebuah perasaan yang salah telah muncul di hatinya. Perasaan suka dengan temen lelakinya sendiri.
Andi yang merasa Alvin selalu menjauhi nya berusaha untuk mencari informasi.
Hingga suatu ketika, Andi melihat Alvin sedang berada di atas sekolah.
Andi menghampiri Alvin. Dan Andi sangat terkejut mendapati Alvin melihat foto nya dengan Alvin diedit sedimikan rupa hingga memberi kesan. Mereka pasangan yang serasi.
Andi menarik Alvin untuk berdiri. Andi bertanya dengan suara yang lantang untuk bertanya tentang kejelasan dari foto tadi.
Alvin hanya diam dan terus menatap Andi kosong.
Hingga pernyataan Alvin membuat Andi membogem Alvin tepat di pipi kanan nya.
Alvin berdiri dan meninggalkan Andi.
Andi mengejar Alvin dan memeluknya. Andi berkata, ia berpacaran dengan perempuan tersebut hanya sebuah peralihan dari hati nya yang salah.
Perlakuan Alvin yang lembut, selalu ada dan mengerti keadaan Andi membuat perasaan salah itu muncul. Andi sadar jika itu salah, ia mengalihkan nya dengan berpacaran bersama gadis disekolah nya.
Pernyataan Andi membuat Alvin merasa bahagia. Andi yang tau jika Alvin juga menyukai nya menyatakan jadian Meraka disana juga.
Hubungan itu hanya berlangsung 2 Minggu. Bunda Alvin mengetahui hubungan mereka.
Saras tanpa sengaja mendengan obrolan mereka berdua di kamar Alvin. Ia mendengan kata-kata romantis yang di lontarkan Andi. Dan itu membuat kemarahan saras memuncak.
Dan saat itu hubungan mereka berakhir, bahkan Andi pindah ke sekolah lain. Orang tua dari Andi yang memindahkan nya. Tidak ada yang tau hubungan Alvin dan Andi selian orang-orang tertentu saja.
***
Sinar matahari menerobos melewati kamar sepasang suami-istri baru ini.
Alvin membuka matanya dan melihat ke arah samping dan tidak menemukan keberadaan Reina.
Alvin yang mulai panik pun langsung bangkit. Ia hanya takut jika Reina melakukan sesuatu yang berbahaya karena pernyataan Alvin tadi malam.
Alvin berjalan ke arah balkon kamar dan tidak menemukan Reina.
Ia berjalan ke kamar mandi.
Saat akan membuka pintu, pintu tersebut terbuka dulu.
Reina berdiri terkejut menatap Alvin. Begitupun juga Alvin.
Reina yang mempunyai kebiasaan buruk yaitu mandi hanya membawa handuk, kini merutuki kebodohan nya.
Meskipun tadi malam Alvin mengatakan ia gay, tapi itu sudah 5 tahun yang lalu, bisa saja sekarang udah normal. Dan itu sangat berbahaya bagi Reina untuk saat ini.
"Bapak ngapain?" Tanya Reina ketar-ketir.
Alvin hanya diam, ia melihat Reina Dengan tatapan yang sulit di artikan.
Entah kenapa Alvin merasa ada sesuatu yang aneh dalam tubuhnya.
Reina meneguk ludah nya pelan.
"Pak?" Ujar Reina lagi. Dan kali ini Alvin mulai tersadar, ia segera pergi meninggalkan kamar ini. Dan sebelum benar-benar menutup pintu Alvin berujar.
"Besok, jangan diulangi lagi" setelah itu Alvin menutup pintu kamar.
Reina berjalan ke arah kaca besar di lemari nya.
Ia menatap tubuh nya yang hanya berbalut sehelai handuk yang menutupi tubuh nya itu.
"Apa pak Alvin tadi mulai minat sama tubuh perempuan?" Tanya Reina kepada dirinya sendiri.
Ia merasa aneh saja, baru tadi malam ia terkejut mendengar pertanyaan jika suaminya itu gay dan pagi ini terlihat seperti pak Alvin minat dengan tubuh seorang perempuan?
"Apa secepat itu sembuh nya? Hanya dengan nikah?" Lagi-lagi reina bertanya kepada dirinya sendiri.
Lama-lama reina menatap dirinya yang di cermin merasa terpukau sendiri.
" Gila gue kok seksi banget ya sekarang? Aw pasti pak Alvin minat karena badan gue yang semok nih pasti" Reina berpose di depan cermin dengan gaya yang di seksi-seksi kan, padahal kenyataannya ia mempunyai badan ya emang sih cukup tinggi tapi polos depan belakang.
Tiba-tiba pintu terbuka menampakkan Alvin yang langsung masuk saja. Sedangkan Reina hanya masih pakai handuk dan dengan pose yang menjijikkan tadi.
"AAAAAAAAA" Reina menjerit melihat kedatangan Alvin.
Ia langsung menutup i bagian-bagian sensitif nya.
Alvin menatap Reina Dengan alis satu yang terangkat.
"Kok bapak udah masuk aja sih? Kan aku belum selesai pakai baju" ujar Reina sembari mengerucut kan bibir nya.
"Kan tinggal pakai baju" jawaban Alvin dengan menyenderkan badanya di kepala ranjang.
"Bapak mandi dimana? Kok kelihatan nya udah fresh" tanya Reina, bukannya ganti pakaian malah tanya ke Alvin.
"Di bawah" jawab singkat Alvin.
"Pak kalau semisal aku kesana bapak bakal nerkam aku nggak?" Tanya Reina.
"Nerkam?" Alvin melontarkan pertanyaan balik untuk Reina.
"Keliatan nya bapak tadi nafsu gitu liat saya, kan dedek takut" jawaban Reina dengan wajah sok imut nya.
"Kalau takut kenapa nggak ganti baju?" Pertanyaan Alvin membuat Reina menepuk jidatnya.
Ia segera membuka lemari dan mengambil baju nya.
Reina pun sedikit berlari ke arah kamar mandi.
Setelah selesai memakai pakaian reina keluar dan mendapat i kamar nya kosong.
"Cih tau gini ganti di sini nggak usah kekamar mandi" gerutu Reina.
Reina pun turun dan melihat rumah nya kosong.
"Kemana semua orang?"
Reina masih mencari-cari keberadaan mama papa nya.
Di kamar nggak ada...
Di dapur nggak ada...
Di ruang keluarga nggak ada...
Di selokan nggak ada... Eh kan orang tua Reina manusia yak, bukan kecebong.
Reina yang sudah capek keliling pun duduk lemas di lantai ruang keluarga.
"Kemana mama, papa, bang Iyan, pak Alvin sih??? Kok pada ninggalin??"
Di lain tempat bagus, laras, Ryan dan Alvin sedang berada di taman. Mereka duduk-duduk santai dengan gelaran karpet.
"Pa ini Reina nggak cariin kita semua emang?" Laura bertanya pada bagus dengan ekspresi cemas nya.
"Nggak papa kali ma, kita kan ngerayain kedatangan keluarga baru. Reina mah ada nggak ada nggak penting" ujar Ryan santai.
" Iya biarin Reina ada di rumah, mungkin aja nanti Reina kerasukan jin pembantu jadi bisa bersih-bersih rumah" bagus mengucap kan itu dengan mengoleskan selai nya ke roti.
"Kok papa gitu" Laura masih saja tidak setuju dengan ide 2 lelaki sengklek itu. Gimana tidak, mereka merayakan kedatangan Alvin tanpa didampingi Reina yang selalu istri nya.
Bagus dan Ryan santai memakan rotinya, sedangkan Alvin mengecek handphone nya.
Tidak ada satu pun pesan dari Reina.
Alvin pun menaruh kembali handphone nya.
Ia memakan roti tanpa selainnya.
1 jam berlalu.
Alvin sudah merasa resah dengan keadaan Reina di rumah.
"Pa ma, apa nggak sebaiknya kita pulang?" Ujar Alvin.
Perkataan Alvin disahuti antusias oleh Laura.
"Lo kangen adik gue ya??" Ryan menanyakan itu dengan tawa receh nya.
"Udah, kalau papa sama Ryan nggak mau pulang. Biar mama sama Alvin pulang dulu" Laura bangkit dan memakai sandalnya.
Alvin bingung sekarang ia harus berpihak kepada siapa.
"Tuh ma Alvin aja masih duduk, ya nggak pa?" Ryan mencari dukungan dari papa nya.
"Sebaiknya kita memang harus pulang, kasian Reina nanti dia nggak makan gimana?" Bagus pun iku bangkit dan berdiri di sebelah Laura.
Alvin berdiri dan menepuk pundak Ryan.
"Kamu yang beresin ya" setelah mengucapkan itu Alvin pergi bersama Laura dan bagus.
Di rumah Reina tiduran di lantai ruang keluarga, biar keluarga nya tau kalau Reina sangat-sangat menderita sekarang.
Suara langkah an kaki terdengar dari arah ruang tamu. Reina memasang posisi badan tidur seperti orang jalanan.
"Astaghfirullah Rei" Laura menghampiri Reina.
"Kamu ngapain?" Laura bertanya kepada Reina. Reina hanya diam sambil menutup matanya.
Bagus yang melihat itu menyahuti.
"Alay deh, di tinggal piknik doang marah"
Reina yang mendengar kata piknik langsung bangkit.
"kalian piknik?? Kok Reina nggak diajak?" Reina memasang muka cemberut nya.
"Kamu sih lama" setelah itu bagus pergi ke kamar.
"Kamu makan apa?" Tanya Laura.
"Aku mogok makan" Reina melangkah ke kamar nya dengan kesal.
Laura yang melihat itu hanya bisa menghembuskan nafas nya.
"Kamu susul gih Reina nya" ucap Laura. Alvin mengangguk an kepalanya dan menyusul Reina.
Alvin memutar kenop pintu tapi tidak bisa.
" Rei" Alvin memanggil Reina.
Hening...
"Rei" panggil Alvin lagi.
Hening....
"Kamu ikut jalan-jalan nggak?" Ujar Alvin.
Nggak beberapa lama pintu pun terbuka.
"Kemana?" Tanya reina.
Alvin memasuki kamarnya dan istirahat di kasur.
"Nggak jadi saya capek" Alvin memejamkan matanya.
Reina yang merasa di bohong i menghampiri Alvin dan memukul nya dengan bantal.
"Pak Alvin jahat"
"Pak Alvin suka bohongin Reina"
" Pak Alvin..." Reina menangis di sebelah Alvin.
Alvin yang melihat Reina menangis pun duduk.
"Kenapa?" Alvin bertanya dengan nada malas nya.
"Katanya jalan-jalan" Reina menatap Alvin dengan wajah sembab nya.
" Tapi saya capek Rei, semalam saya baru tidur 2 jam" jelas Alvin.
"Yaudah pak Alvin tidur aja, aku juga mau tidur nggak makan aku" Reina tidur di tempat Alvin berbaring tadi.
Alvin yang melihat itu menghela nafasnya.
Alvin turun dan mengambil beberapa roti dan s**u untuk Reina.
"Makan" Alvin meletakkan makanan tersebut di kasur sebelah Reina.
"Nggak mau" tolak Reina.
Alvin memberikan roti tersebut dan Reina hanya diam.
"Kamu mau apa? Saya bener-bener capek sekarang" Alvin menahan kantuknya demi meladeni Reina.
"Aku mau punya suami normal" Alvin menatap reina dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Eh pak Alvin jangan marah dulu, maksud Reina, Reina akan bantu pak Alvin agar suka sama perempuan entah itu Reina ataupun cewek lain" jelas reina dengan senyuman nya.
Alvin mengangguk kan kepalanya.
"Jadi sekarang pak Alvin peluk Reina" Reina merentangkan tangan nya ke arah alvin.
Alvin pun berbaring di samping Reina dan memeluk reina.
"Selamat tidur pagi" ucap Reina.
"Nggak makan?" Tanya Alvin.
"Ishhhh" desis Reina kesal.