Wali kelas

1657 Kata
Hari ini adalah hari pertama untuk pembelajaran seperti biasa di sekolah. Setelah perjuangan selama 5 hari untuk MOS. Reina bersenandung ria berjalan menuju kelas nya berada. Reina mencari kelas yang akan ia tempati. Ia terus-menerus mencari dan akhirnya ketemu. Ia berada di kelas 10 IPA 2. Reina masuk ke kelas tersebut dan mengambil bangku yang ada di pojok belakang. Ia menaruh tas nya dan menelungkup kan kepalanya. Beberapa murid masuk ke kelas ini. Tiba-tiba ada yang duduk di sebelah Reina tanpa permisi. Reina mendongakkan wajah nya dan melihat ke arah siapa yang duduk disampingnya itu. "Sien?" Reina terkejut melihat Sienta duduk disebelahnya. "Lu kelas sini?" Sienta mengangguk kan kepalanya. Tak berapa lama suara bising dari depan membuat hampir seluruh murid di kelas ini menatap ke depan. "SIENTA REINA KITA SEMUA SEKELAS!!" Amel menjerit sembari berjalan menuju ke arah Reina dan Sienta. "Kok lu kelas sini sih?" Reina menggerutu pelan seakan-akan ia sangat kesal. "Kok lu gitu? Ah bodo amat yang penting masih ada sohib gue yang satunya" Amel mengucapakan perkataan itu dengan nada sombongnya. "Siapa?" Tanya Reina dengan mengangkat satu alis nya. "Feroza lah, dia kan sohib sejateh" Amel menepuk pelan d**a nya dengan membusung kan nya sedikit. "YANG NANYA OGEB" reina menjerit di depan muka Amel. "HAY EPRIBADE" Feroza berjalan ke arah sahabat-sahabat baru nya dengan melambaikan tangan nya. "Sayang!!" Amel berdiri dan langsung memeluk Feroza. "Lu ngapain sih" Feroza melepas kan pelukan Amel. Reina tertawa melihat aksi konyol ke dua sohib nya itu. Dari arah depan, masuk lah guru muda laki-laki. Tak berapa lama jeritan tertahan dari para cewek-cewek terdengar di seisi kelas ini. "Selamat pagi" Alvin berdiri di tengah-tengah kelas. "Selamat pagiiii" hampir semua murid menjawab sapaan tadi dengan rasa antusiame. "Baiklah perkenalkan nama saya alviano Reno alktrik, kalian bisa panggil saya Alvin" Alvin memperkenalkan dirinya dihadapan murid-murid di depan nya. "Pak" seorang siswi cantik dengan polesan sedikit make up di muka nya mengacungkan tangan nya. "Ya?" Alvin melihat ke arah cewek tersebut. "Kalau saya panggil bapak dengan sayang gimana?" Pertanyaan siswi tersebut langsung mendapat kan suara ricuh dari seisi kelas. Alvin hanya tersenyum kecil. "Saya disini akan mengajar matematika, dan juga akan menjadi wali kelas kalian" setelah Alvin mengucapakan itu sahutan bahagia dari para cewek kembali bergema. "Oke sekarang kita mulai dari perkenalan dulu, nanti kalian kedepan dan perkenalan nama, alamat, sekolah asal" Alvin membuka daftar siswa yang berada di kelas 10 IPA 2. "Abdul Razaq" Rozaq pun maju dan memperkenalkan dirinya. "Afro' Syahrini" seorang perempuan mengangkat tangan nya dengan wajah cemberut nya. "Syahriani pak bukan Syahrini" jawaban cewek tersebut sontak membuat murid di kelas ini tertawa. Afro' pun maju seperti yang dilakukan Rozaq tadi. Alvin pun melanjutkan mengabsensi. "Reina sienta Putri" Reina pun mengangkat tangan nya. Alvin terdiam sejenak melihat Reina. Ia tak menyangka akan menjadi wali kelas dari calon istrinya. Karena tempat duduk Reina yang berada di belakang pojok tidak terlihat sekilas oleh Alvin. "Rei kok lu dilihatin pak Alvin gitu amat?" Amel yang berada di depan Reina menepuk tangan Reina. "Hah? Nggak tau" hanya itu yang bisa Reina jawab mungkin karena Reina merasa bingung juga? "Reina silahkan maju" ujar Alvin. Reina pun maju ke depan untuk memperkenalkan diri. "Perkenalkan nama aku Reina Sienta putri. Kalian bisa panggil aku Reina. Alamat di xxx , terus sekolah asal SMP x. Setelah Reina selesai memperkenalkan diri ia pun balik ketempat nya. "..." " Sienta noushin" Sienta mengangkat tangan nya dan maju ke depan. Alvin melihat ke arah sienta. "Perkenalkan nama saya Sienta, alamat xxx, dari SMP x" sienta memperkenalkan dirinya Dengan singkat dan langsung kembali ke bangku nya. Alvin melanjutkan mengabsensi nya sampai absen 30. "Oke karena ini hari pertama jadi kalian saya buat free" sontak semua siswa menjerit senang. Alvin merapikan peralatan nya kedalam tas. "Reina ikut saya keruangan" Reina yang merasa terpanggil merasa terkejut. Seketika Reina mendapatkan tatapan ingin tau dari semua cewek yang ada disini. Reina berdiri. "Kenapa pak Alvin manggil lu?" Tanya Feroza. Reina hanya mengendikan bahu. Reina pun berjalan ke arah alvin dan mengikuti nya. Banyak tatapan memuja yang tertuju kepada Alvin. Dan Alvin sangat risih. Dan sampai lah Alvin dan Reina di ruangan pribadi Alvin. Alvin duduk di kursi kebesaran nya. Sedangkan Reina duduk di sofa. "Kenapa bapak manggil saya?" Tanya Reina. Dan Alvin melihat Reina dengan nada flat nya. "Nanti sepulang sekolah kita fitting baju" perkataan Alvin membuat Reina terkejut. "Nanti? Kok dadak?" Alvin hanya mengangkat bahunya. Reina menghembuskan nafasnya pelan. "Terus apalagi?" Reina bertanya dengan wajah malas nya. " Sudah kamu bisa kembali" perkataan Alvin lagi dan lagi membuat Reina terkejut. "Cuma ngomong gini kok harus ke ruangan bapak sih, kan capek aku bolak-balik nya" Reina menggerutu dan berdiri hendak keluar dari ruangan tersebut. "Bentar" Reina mengentikan gerakannya yang akan memutar kenop pintu. Reina membalikkan badannya. "Apa?" Alvin memanggil Reina dengan gerakan tangan. Reina pun jalan menuju Alvin. "Saya minta no kamu" Reina mengangguk kan kepalanya tanda faham. Reina segera mencatat no nya di kertas yang ada di meja tersebut. "Yaudah saya kembali" Reina berjalan keluar ruangan tersebut. Setelah ia balik dari ruangan bapak Alvin. Reina mendapatkan todongan pertanyaan dari beberapa siswi di kelasnya. "Kok lu bisa dipanggil pak Alvin si? Kok nggak gue?" "Ngapain lu diruangan nya?" "Rei lu apanya pak Alvin?" Reina yang merasa jengah mendengar rentetan pertanyaan dari para teman-teman nya pun meninggalkan mereka dan menuju ke bangku nya. "Reina kok ku bisa di ajak bebeb apin si?" Feroza mengucap kan hal itu dengan nada tinggi nya. "Apin?" Reina mau ngakak sendiri dengar julukan untuk guru tersebut. "Itu kucing nya Upin Ipin nggak sih?" Reina melanjutkan ucapannya. "Ishhhh sialan ngapain aja lu?" Amel bertanya dengan nada yang sudah kepo tinggi. "KEPO" Reina menjawab singkat padat jelas dan nge gas. "Sialan" hanya itu yang bisa dijawab Amel untuk meredakan amarahnya nya yang sudah sampai ubun. " Kita pulang nya jam berapa?" Tanya Sienta yang seketika mengetikan perdebatan 3 cewek tersebut. "Kenapa? Lu mau pulang? Sini gue anterin" reina mengucap kan hal itu seakan ia membawa alat transportasi saja. "Nggak" Sienta kembali menonton film nya yang tertunda. *** Bel pulang berbunyi. Reina sudah menghubungi papa nya untuk tidak menjemput. Dan jawaban sang papa bikin kesel. Karena papa nya sudah tau ia akan fitting baju. Reina sudah kesal. Semua orang sudah tau mentang-mentang ia paling muda. Reina menunggu di parkiran. Ia tak melihat keberadaan Alvin. Reina tidak mempunyai no telpon nya Jadi sedikit susah untuk berkomunikasi dengan Alvin. Setelah menunggu kurang lebih 30 menit akhirnya tampaklah batang hidung Alvin. "Pak" reina menghampiri Alvin. "Kok lama?" Alvin melihat Reina. "Maaf tadi ada urusan" Reina mengangguk kan kepalanya. Karena ia tau ia tak berhak untuk bertanya lebih kepada guru nya itu. Meraka pun naik ke mobil dan Alvin melaju kan mobil nya dengan kecepatan sedang. Setelah sampai Alvin dan Reina turun ke butik tersebut. "Nak" disana terlihat Saras dan Laura berdiri di depan toko. "Bun tan" Alvin salim kepada kedua perempuan paru baya tersebut. Dan diikuti Reina. "Mama sama Tante udah lama?" Tanya Reina kepada kedua Laura dan Saras. " Nggak kok kita baru sampai mangkanya kita masih di depan" Reina mengangguk kan kepalanya tanda faham. Meraka ber-empat pun masuk ke butik tersebut. Mereka ber-empat mendapatkan sambutan dari si pemilik butik. "Yaampun jeng udah lama ya nggak ketemu" pemilik butik tersebut bercepika-cepiki ke Laura dan Saras. "Wah iya 6 tahun lohh" saras menyahuti ucapan pemilik butik. "Jeng Saras mau nikah lagi ya? Kok ke butik saya? " Perkataan orang tersebut membuat Alvin Reina dan Laura tertawa. "Bukan lah ini anak ku Alvin dia mau nikah" wanita tersebut mengalihkan pandangannya ke arah alvin. " Eh ini anak mu?, Anak mu yang perempuan ya Ra?" Tanya wanita tersebut. "Iya mereka cocok nggak?" Saras menanyakan hal itu membuat Reina dan Alvin merasa malu. "Eh mereka nikah? Kok anak mu masih pakai seragam Ra?" Wanita tersebut bertanya ke Laura. " Iya dia kelas 1 SMA" jawaban Laura membuat wanita tersebut menatap reina dengan tatapan yang sulit diartikan. Alvin yang peka dengan situasi. Menggenggam tangan Reina. "Iya kita jodohin Meraka, bahkan mereka aja baru kenal" saras mencairkan suasana yang semula sedikit tegang. "Ohh ngebet banget sih kalian buat punya mantu hahahaha" wanita tersebut tertawa untuk mencairkan suasana yang ia buat tadi. " Oke-oke kalian bisa iku aku" Alvin dan Reina mengikuti wanita tersebut untuk mencari baju yang pas untuk mereka berdua. Setelah ketemu pakaian yang akan ia kenakan, Alvin dan Reina mencoba baju tersebut. Reina masuk bersama dengan pegawai yang ada disini. Reina mencoba memakai gaun yang sangat susah untuk dipakai itu. Gaun putih tulang yang mengembang indah di bagian rok dan di lapisi kristal Swarovski indah menghiasai gaun ini. "Kamu bisa tunjukkan ini ke mama dan calon mertua mu, kalau calon suami jangan ya" ucapan pegawai tersebut dengan nada bercanda nya. Reina membalas nya dengan senyuman. Reina pun keluar dan tatapan takjub dari 2 wanita paruh baya menuju ke arah Reina. " Wah calon mantu bunda cantik banget, ih badanya kayak bunda dulu, seksi" Saras menghampiri Reina dan memuji nya "Tante bisa aja" Reina tersenyum malu. "Anak mama cantik ya" Laura mengelus pelan rambut Reina. "Kan aku anak nya mama" Reina memegang tangan Laura dan mencium nya. "Mama seneng liat kamu sekarang" Laura tersenyum bahagia. "Reina juga seneng, bisa liat mama tersenyum kayak gini" Reina menyahuti perkataan sang mama dengan suara serak. Reina ini cengeng sangat cengeng malah. "Udah kamu balik nanti Alvin liat kamu lagi" ujar laira. Reina tersenyum. Setelah itu Reina kembali ke ruang ganti untuk mengganti pakaian nya. Setelah Reina selesai ia pun keluar dan sudah ditunggu oleh Alvin dan Laura juga Saras. "Oke bunda sama Laura balik dulu, Vin bawa Reina makan kemana kek jangan diem-diem an gitu sama calon" Saras mengedipkan sebelah matanya dan ia pun pergi meninggalkan Alvin dan Reina. "Ke?" Reina bertanya ke Alvin. "Ikut i saya aja" Alvin berjalan dan Reina masih diam di tempat. "Kenapa?" Alvin berbalik dan bertanya ke Reina. " Aku nggak mau ke sekolah lagi"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN