Perjodohan

1684 Kata
Reina melongo melihat kedatangan guru yang sedang dipuja-puja oleh kedua temannya, lebih tepatnya hampir satu sekolah. "Nak Alvin silahkan duduk" mama reina mempersilakan Alvin untuk duduk. Kini Alvin sudah duduk dengan berhadapan dengan Reina. " Wah anak kamu udah gede ya? Tampan lagi" papa Reina membuka pembicaraan setelah kedatangan Alvin. Reina hanya diam, sedangkan Alvin tersenyum kikuk mendengar pujian dari lelaki paruh baya tersebut. "Kamu sekarang umur berapa?" Papa Reina bertanya kepada Alvin. " 21 om" Alvin menjawab hal itu dengan senyum simpul nya. Reina merasa terperangah, karena mungkin ini baru pertamakali nya ia melihat guru tersebut tersenyum. Dan sangat manis. " Wah masih kuliah apa udah kerja?" Papa Reina menanyakan lagi kepada Alvin. "Kerja sama kuliah" jawaban Alvin. "Dia masih kuliah, tapi aku suruh dia buat kerja di yayasan sekolahku." Dady Alvin menimpali pembicaraan papa Reina. " Oh ya? Guru dong, guru apa?" Papa Reina bertanya lagi. " Matematika" Jawab Alvin. Reina hanya diam sembari menyimak pembicaraan para lekekai minus Abang nya. " Wah kebetulan Reina paling rendah di matematika" mama Reina berujar. "Ma" Reina mengeluhkan perkataan mama nya. " Sebaiknya kita pesen makanan dulu deh" Dady Alvin mengusulkan sesuatu. Karena sedari tadi meja mereka kosong tidak ada hidangan satu pun. Dady Alvin memanggil pelayan dan Meraka memesan makanan. Pembicara an ringan mengisi waktu sembari menunggu makanan datang. Setelah makanan datang mereka pun makan dalam diam. " Oke biar nggak lama-lama biar saya jelaskan kenapa semua nya dikumpulkan sekarang" dady Alvin membuka pembuatan dengan nada yang serius. Reina maupun Alvin merasa sangat deg-degan entah kenapa felling Meraka kurang baik. " Kami dari keluarga Alvin ingin menjodohkan anak kami dengan Reina, karena ini sudah perjanjian yang sudah saya buat dengan bagus." Reina melotot tidak percaya. "Maksud om?" Reina memotong pembicaraan Dirga. "Rei tenang papa akan jelaskan" bagus menenangkan Reina. "Papa dan mama menjodohkan kamu dengan Alvin karena papa yakin Alvin yang terbaik, papa sudah mengenal Dirga lama. Papa percaya Alvin bisa menemani kamu disaat papa sudah tidak ada" bagus menjelaskan kepada Reina dengan perlahan karena ia tau ini bukan masalah yang sepele. Ini adalah masalah yang akan membawa anak nya untuk selamanya. Ia tak mungkin memilih calon untuk anak nya sembarangan. " tapi pa kenapa harus dijodohin?" Reina menatap sang papa dengan air mata yang akan tumpah. "Rei sini liat mama" Laura memegang pipi Reina. "Mama tau ini berat buat kamu, tapi mama dan papa yakin Alvin orang yang tepat untuk kamu" Laura mengelus pelan pipi Reina. "Apa mama dan papa bahagia?" Laura dan bagus tersenyum lembut. Reina menatap Alvin, Alvin hanya diam melihat drama yang ditampilkan di depan nya secara live. "Aku ingin denger dari pihak pak Alvin. Kalau pak Alvin setuju aku nggak masalah" Alvin yang merasa di jadikan hakim untuk masalah yang menimpa ia dan Reina merasa bingung. Alvin tidak mau menerima ini. Tapi ia tau orang tua nya sangat menginginkan hal ini. Terutama sang bunda. Alvin bisa melihat raut bahagia bunda nya saat melihat ke arah Reina. Alvin mengembuskan nafas nya pelan. "Saya masih ingin mengenal anak anda lebih lanjut terlebih dahulu. Maaf bahkan sampai sekarang saya masih belum tau nama anak anda" Alvin mengucapakan hal itu dengan nada sopan nya takut jika keluarga dari si perempuan tersinggung. "Oke, ini Reina sienta Putri, kamu bisa panggil Reina" Alvin mengangguk kan kepalanya tanda faham. "2 Minggu sebelum pernikahan waktu yang pas kan untuk berkenalan?" Ucapan bunda Alvin membuat Alvin maupun Reina tersedak air liurnya sendiri. " Aku nikah waktu masih sekolah?" Reina bertanya dengan wajah shock nya. " Iya biar lebih cepat lebih baik" saras mengucap kan hal itu dengan nada santai nya. "Tapi bun Reina masih sekolah" Alvin mengajukan protes kepada bunda nya. "Kenapa? Takut di keluarin? Kan Reina sekolah di yayasan kita sendiri?" Perkataan Saras ada benarnya. Tapi ini tetap salah menurut reina dan Alvin. "Tapi aku masih sekolah, aku masih umur 16 tahun" Reina mengucap kan hal itu dengan nada pelan nya. "Nggak papa nak biar papa bisa tenang jika kamu sama Alvin. Kata nya Alvin guru di sekolah kamu sekarang itu lebih baik" papa Reina membenarkan ucapan Saras. "Terserah deh Reina udah kesel, semua keputusan biar pak Alvin aja yang ambil" Reina sudah merasa kesal, ia bersendekap d**a. Ia tau ini tidak sopan, tapi ia sangat kesal. " Bagaimana Alvin ? Apa kamu setuju" Alvin yang merasa bingung hanya diam. Diam nya Alvin beberapa menit membuat Meraka semua menanti dengan hati yang daf dig dug. "Baiklah setuju" jawaban Alvin sontak membuat semua orang merasa lega, kecuali Reina. Ia meloto ke arah alvin. "Baiklah semua persiapan akan kami atur, kalian tinggal membantu saja ya?" Saras berujar dengan nada ceria nya. Pertemuan mereka pun selesai. "Nak Alvin kamu bisa bawa Reina keliling sekitar sini. Biar kalian bisa mengenal lebih dekat" bagus berujar kepada Alvin. " Pa kok gitu, nggak ah aku mau pulang terus bobok" reina merengek-rengek manja kepada papa nya. " Iya om" Alvin mengiyakan permintaan bagus. Setelah itu bagus, Laura, Saras , Dirga dan ryan kembali ke rumah meninggalkan sepasang manusia berbeda genre tersebut. " Pulang yuk pak?" Kata Reina ke Alvin. "Kita jalan-jalan dulu" setelah itu Alvin pergi ke mobil nya dan menuju kursi pengemudi. Alvin masuk ke mobil dan Reina masih senantiasa di tempat semula. Alvin yang tidak melihat tanda-tanda Reina akan ke mobil. Alvin pun mengendarai mobil nya menuju ke Reina. "Ayo" reina melihat ke arah alvin. Dan seperti menimbang-nimbang sesuatu. Akhirnya setelah pergulatan pemikiran Reina. Reina pun masuk ke mobil dan duduk di samping kemudi. Alvin melajukan mobil nya menuju kesuatu tempat. Setelah sampai di tujuan reina melihat ke arah sekeliling. " Kok ke sekolah?" Reina merasa bingung kenapa ia dan Alvin harus ke sekolah. Ia pikir guru nya itu akan mengajak nya ke mall. "Barang saya ketinggalan di dalam" setelah mengucapkan hal itu Alvin turun. Dan ia menunggu di samping mobil untuk menunggu keluarnya Reina. Reina pun yang merasa di tunggu keluar akhirnya keluar dari mobil. " Ngapain sama saya pak?" Alvin hanya diam dan menarik tangan Reina. Alvin berjalan menuju ruangannya. Reina iku masuk kedalam ruang tersebut. Reina melihat ke sekeliling ruang ini. "Bapak cari apa? " Reina bertanya ke Alvin karena melihat orang tersebut seperti mencari sesuatu. " Berkas" hanya jawaban itu yang Alvin berikan. Alvin terus saja mencari dan tak berapa lama. Berkas tersebut ketemu. Reina yang duduk-duduk di sofa tak melihat ke arah alvin yang sudah selesai mencari barang nya. Alvin duduk di sofa samping Reina. Alvin merebahkan kepalanya yang terasa sangat lelah. "Udah selesai pak?" Alvin hanya menjawab dengan gumaman. Reina yang bingung harus berbuat apa hanya diam. Alvin membuka matanya. "Ayo pulang" Reina mengangguk kan kepalanya. Ia pun berdiri mengikut i langkah Alvin. Dalam perjalanan reina berjalan di belakang Alvin. Ia membatin, mengenal lebih dekat gimana? Orang jauhan gini. Setelah sampai di mobil, Alvin melajukan mobilnya menuju ke arah pulang. "Rumah kamu dimana?" Reina menunjukan jalan menuju rumah nya. Setelah sampai Reina mengucap kan terimakasih kepada Alvin. Dan setelah itu Alvin meninggal kan perkarangan rumah Reina. "Assalamualaikum" Reina masuk ke rumah tak lupa dengan salam. Reina yang melihat Abang nya menonton di televisi ruang tamu menghampiri nya. "Bang lu kok tadi diam aja sih?" Ryan melihat ke arah Reina. "Terus gue harus ngapain? Bela lu? Yang ada pulang gue di golok sama papa" perkataan ryan ada benarnya juga. Kalau Abang nya ngomong, emang ngomong apa???? "Ohh yaudah deh gue mau keatas" Reina ke atas dan mengganti pakaian nya. Reina rebahan di kasur kesayangan nya itu. Ia hanya diam menatap langit-langit kamar nya. "Gue kalau nikah muda gimana?" "Temen-temen kalau tau gue nikah sama guru favorit Meraka gimana?" "Kalau gue hamil?" Reina langsung menggeleng kan kepalanya. "Nononono gue nggak mau hamil, gila nanti badan gue nggak bohay lagi dong" Reina merenung ia merasa sedih, kecewa. Reina mengeluh kenapa harus menikah? Kenapa harus menikah diusia dini? *** Sesampainya di rumah Alvin masuk ke rumah tersebut. Setelah masuk sambutan heboh dari sang bunda menginterupsi kan Alvin. "Gimana tadi? Reina anak nya asik kan? Baik loh kalau bunda liat, Reina itu gadis yang ceria, pinter pokok nya plus plus deh buat kamu yang modelnya kek gini" Alvin hanya bisa membatin mendengar ucapan bunda nya yang terlampau jujur itu. "Biasa aja Bun, alvin ke atas ya? Capek" saras mengerucut kan bibir nya. Dan ia mengangguk. Alvin yang melihat hal itu tersenyum dan mencium pipi bunda nya. Alvin pun naik ke lantai atas untuk mandi dan berganti pakaian. Setelah selesai memakai pakaian kaos dan celana pendek selutut Alvin mengistirahatkan badanya di kasur. Ia membuka sosial medianya. Alvin menepuk pelan jidat nya. "Gw kok bisa lupa buat minta no nya" Alvin pun pasrah toh besok pagi ia akan bertemu dengan Reina. *** Ryan mengembuskan nafas nya pelan. Sedari tadi ia merasa gundah. Banyak pikiran yang selalu menghantuinya. Jujur saja ia juga sama tidak setuju dengan pemikiran kedua orangtuanya untuk menjodohkan adik satu-satunya itu. Ia merasa Reina masih terlalu muda, Reina masih labil. Ryan tidak yakin apa Reina bisa mengurus keluarga nya besok. Dan lagi ia tidak ingin jauh-jauh dari adik nya. Bagaimana pun juga sedari kecil mereka terus bersama. Ryan bangkit dan berjalan menuju kamar papa mama nya. Tok tok tok Suara dari dalam mempersilakan untuk masuk. Ryan pun membuka pintu kedua orangtuanya. "Pa ma" Ryan berjalan ke arah mama nya yang sedang meletakkan baju ke lemari. "Ma Ryan ingin bicara sama mama dan papa" laura dan bagus menatap Ryan. "Bicara apa? Sini ke papa" bagus menepuk kasur di sebelahnya. Ryan berjalan ke arah papa nya dan diikuti mama nya. "Pa ma Ryan ingin pernikahan Reina di tunda" ucapan Ryan sontak membuat bagus dan Laura menatap tidak percaya ke Ryan. "Kenapa?" Bagus bertanya kepada anak sulung nya itu. "Reina masih sekolah pa, Ryan meragukan jika Reina bisa mengurus rumah tangga nya" ujar Ryan. "Bang, ini sudah menjadi keputusan mama dan papa. Mama dan papa udah nggak bisa ngerubah ini semua" Laura mengucap kan hal itu dengan mengelus kepala Ryan. "Tapi ma" belum sempat Ryan melanjutkan omongan nya bagus memotong ucapan Ryan. "Ini sudah menjadi keputusan papa, papa tau ini keputusan yang terbaik untuk adikmu. Oke papa disini terlihat egois, tapi papa tau Reina akan bahagia Ryan" bagus mengucapkan hal itu dengan nada yang cukup tinggi. Ryan mengembuskan nafas nya. Ryan pun berjalan ke luar kamar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN