Tidak perlu waktu lama bagi Kris untuk menunggu kapan dia harus menakamkan Erika. Setelah dinyatakan jam kematiannya, Kris langsung mengurus segalanya. Bahkan tempat pemakaman elit. Tentu saja, di bantu oleh Alex, yang saat itu masih menjadi mahasiswa tingkat akhir. Pada masa inilah Kris kehilangan dirinya. Dia enggan untuk kembali ke Jepang. Dia juga tidak mau tinggal bersama keluarganya. Alhasil, dia pindah dari rumah yang baru di tinggalinya selama beberapa bulan dengan Erika ke rumah barunya. Tapi saat itu, dia masih kacau. Pernah satu kali, Kris di dapati pingsan tergeletak di dekat kompor gas yang sedang menyala. Atau, pernah juga di lihat bahwa Kris sedang berkali-kali memukul kepalanya kepada tembok. Depresi. Autisme. Itulah vonis dokter. Kris sendiri jadi antipati untuk data

