Datangnya Tristan

1665 Kata
“Terima kasih Mama. Minumannya sangat enak sekali. Dan sudah lama aku tidak membelinya,” ucap Fanie yang langsung meminumnya.   Shasha tersenyum. “Minumnya pelan-pelan,” ucap Shasha.   Mereka berdua tiba di rumah dan Steve sudah menunggu kedatangan mereka berdua.   Shasha melihat jam, mereka pergi tidak lebih dari tiga puluh menit.   Shasha melihat suaminya. Ia mendekatinya lalu memberikan kopi yang ia beli di cafe tadi.   “Untuk kamu. Terima kasih, Fanie terlihat sangat senang. Biar bagaimana juga dia sedang hamil. Pasti dia ingin makan dan minum yang diinginkannya. Aku mohon jangan kekang dia,” ucap Shasha sambil memberikan kopinya.   Steve mengambilnya. “Kamu tidak sedang merayu aku kan?”   “Steve, aku sudah tua. Aku ingin hidup kita damai selalu. Menghabiskan hari tua seperti yang sudah dijanjikan. Aku hanya ingin melihat kebahagiaan putri aku. Sayang, pergilah untuk meminta maaf. Dia pasti sangat kecewa melihat papanya berubah.”   Steve meghembuskan nafasnya panjang. Ia tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya.   “Apa bayarannya jika aku menuruti keinginan kamu?” tanya Steve yang langsung membuat wajah istrinya merona merah sudah.   Fanie langsung masuk ke dalam kamar tanpa melihat papanya. Ia langsung menyembunyikan ponselnya. Sangat tidak aman jika ia mengeluarkannya di siang hari seperti ini.   Fanie menikmati minumannya sambil menyalakan laptopnya. Ia melihat film apa yang menarik yang bisa ia tonton untuk menghilangkan rasa bosannya. Fanie juga memakai headphone besar agar suara dari film yang akan ia tonton bisa terdengar dengan jelas.   Fanie dengan serius duduk di atas ranjang tidurnya. Ia menaruh laptopnya di atas meja lipat. Fanie mulai menikmati film yang diputarnya sambil meminum minuman yang tadi dibelinya.   Beberapa kali pintu kamar Fanie diketuk. Ia yang sedang memakai headphone jelas tidak bisa mendengarnya.   Pintu kamar Fanie terbuka. Fanie melihat siapa yang masuk ke dalam. Ia langsung melepaskan headphone-nya lalu memindahkan meja laptopnya ke samping ranjangnya yang kosong.   “Papa …,” ucap Fanie pelan.   Steve masuk ke dalam kamar putrinya. Ia mendekati putrinya lalu duduk di tepi ranjang.   “Apa Papa mengganggu kamu?”   “Tidak, tadi sedang nonton saja kok. Ada apa?” tanya Fanie yang jadi merasa canggung.   Steve langsung memeluk putrinya. Fanie jelas kaget dan ia membiarkan papanya terus memeluknya. Fanie juga sangat merindukan kehangatan dari papanya.   “Maafkan Papa. Papa tidak bermaksud menyakiti hati kamu. Hanya saja, Papa tidak ingin kamu dalam bahaya nantinya. Mungkin Tristan memang baik. Tapi bagaimana dengan orang tuanya? Itu yang Papa cemaskan sayang. Papa sangat mencintai kamu dan Papa tidak ingin kamu terluka.”   Fanie masih diam. Ia mencoba menahan tangisnya. Ia juga tidak bisa memberikan jawaban apa-apa. Fanie tahu jika hati papanya kalau sudah beku maka akan selamanya beku. Lebih baik Fanie memilih diam dan membiarkan semua ini berjalan dengan apa adanya.   Di halaman depan rumah Fanie.   “Fanie, aku datang sayang. Keluarlah sayang,” teriak Tristan.   “Maaf, anda tidak diperbolehkan masuk,” ucap kedua anak buah Steve.   “Fanieeee. Aku datang sayang,” teriak Tristan lagi yang mengundang kericuhan di sana.   Steve yang mendengar suara jeritan langsung melihat dari arah jendela. Fanie juga ikut melihatnya.   Fanie menutup mulutnya. Ia kaget jika Tristan akan senekat ini.   Steve langsung emosi. Ia langsung keluar dari kamar putrinya dan Fanie mengikuti papanya yang keluar dari dalam kamar dengan tergesa-gesa.   Shasha yang melihatnya mencoba menahan suaminya.   “Steve, tenangkan diri kamu. Jangan emosi,” ucap Shasha.   Steve tidak peduli. Yang ia lihat bukan Tristan, melainkan wajah Jacob yang sudah berusaha membunuhnya saat itu.   Steve menyingkirkan tubuh istrinya dan ia langsung keluar dari dalam rumah.   Tristan kaget melihat Steve ada di sana. Ia hanya bisa menelan salivanya saja.   “Mau apa kau ke sini lagi?” ucap Steve yang langsung mendaratkan sebuah pukulan di pipi Tristan.   Tristan tidak melawan. Ia memilih diam dan membiarkan Steve terus memukul wajah dan perutnya.   “Steve sudah, jangan kamu sakiti dia,” ucap Shasha.   Fanie yang melihatnya jelas sangat kaget. Fanie langsung memeluk Tristan dengan erat dan tanpa sengaja Steve memukul punggung putrinya. Sangat keras dan terasa sangat sakit.   “Aaaahhhh,” teriak Fanie dan Steve sangat kaget.   Steve melihat putrinya lalu melihat tangannya sendiri. Tangan yang sudah memukul putrinya sendiri.   “Fanie, sayang kamu tidak apa-apa? Kenapa kamu melakukan ini? Pasti sangat sakit,” ucap Tristan dengan wajah yang sudah penuh luka.   “Kenapa kamu ke sini. Pergilah. Jangan datang ke sini,” ucap Fanie.   “Aku harus bicara dengan Papa kamu. Aku harus memperjuangkan kamu dan anak yang ada di dalam kandungan kamu. Itu anak aku. Dan sebagai seorang ayah, aku akan bertanggung jawab. Walau harus mati sekalipun. Aku akan tetap datang ke sini,” ucap Tristan.   “Masuk Fanie,” perintah Steve.   Fanie melihat papanya dengan wajah yang sangat sedih. Terlihat dari wajah cantiknya betapa ia memohon agar membiarkan dirinya bicara dengan Tristan.   “FANIE!!!” panggil Steve dengan rahang yang sudah mengeras.   Shasha mendekati putrinya. “Ayo sayang, kita masuk. Tristan, maafin suami Tante ya,” ucap Shasha dan Tristan tersenyum.   “FANIE … Apa kau tuli?!” teriak Steve.   Shasha dan Fanie masuk ke dalam rumah. Beberapa kali Fanie melihat ke arah Tristan.   Terlihat dengan jelas wajah Tristan dan Fanie yang sama-sama sangat sedih.   “Tristan aku mohon pergilah. Jangan seperti ini,” ucap Fanie di dalam hatinya sambil menatap Tristan.   “Biarkan aku di sini. Aku harus memperjuangkan cinta kita,” ucap Tristan di dalam hatinya.   Steve berdiri di hadapan Tristan. “Cepat pergi sebelum saya menyeret kamu dari sini,” ucap Steve dan anak buah Steve membawa Tristan keluar.   “Om, saya mohon. Izinkan saya bersama dengan Fanie. Om, saya tahu kalau orang tua saya salah. Tapi saya sama sekali tidak tahu soal ini Om. Om saya mohon, saya sangat mencintai Fanie,” ucap Tristan sambil berteriak.   “Om, tolong Om, tolong restuin kami berdua Om,” teriak Tristan lagi sebelum pintu pagar tinggi itu tertutup.   Tristan teriak frustasi. Ia menjambak rambutnya sendiri. Tristan benar-benar tidak tahu harus apa. Ia tidak boleh menyerah begitu saja.   Tristan sudah seperti kehilangan arah saja. Ia seperti orang gila saja. Tristan masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan tatapan kosong.   Tristan mampir ke sebuah mini market. Ia membeli beberapa kaleng minuman beralkohol. Tristan juga membeli obat untuk wajahnya.   Tristan tidak peduli dengan pandangan orang-orang yang melihatnya. Ia sangat sedih, kecewa, kesal dan marah.   Di kediaman Danner.   Shasha sedang mengobati punggung putrinya yang biru.   “Aaahh, Mama sakit,” ucap Fanie lirih dan ia langsung menitikan air matanya. Membayangkan bagaimana rasa sakitnya Tristan saat papanya memukulinya.   “Istirahatlah sayang. Kasihan anak kamu nanti. Mama tidak ingin cucu Mama kenapa-kenapa,” ucap Shasha dan Fanie menganggukkan kepalanya.   Fanie langsung memeluknya dan ia menangis, meluapkan rasa sedihnya.   Steve yang baru saja membuka pintu kamar putrinya sedikit. Bisa mendengar suara tangisan putrinya.   Steve menutup pintunya lagi, ia memilih pergi meninggalkan kamar putrinya sambil mengepalkan kedua tangannya.   Steve menunggu istrinya. Ia melihat istrinya yang baru saja keluar dari dalam kamar anak perempuannya.   “Apa kau puas? Kau bukan hanya melukai hatinya. Tapi juga melukai fisiknya. Kamu egois Steve, kamu jahat! Kamu bukan Steve yang aku kenal!” ucap Shasha dengan mata yang memerah.   Steve memukul dinding yang ada di belakang punggungnya. Ia sendiri merasa kesal. Kenapa harus dihadapkan dengan masalah seperti ini.   Di kamar Fanie.   Fanie masih meringis kesakitan. Ia mencoba memejamkan kedua matanya. Mungkin dengan tidur perasaannya akan jauh lebih baik.   ***   Tristan sudah berada di hotel. Ia meminum minuman kaleng beralkohol ini terus menerus. Dan Tristan juga memesan wine dari hotel.   Tristan melampiaskan kesedihannya dengan menghabiskan banyak minuman beralkohol ini.   Tristan meremas kaleng yang sudah kosong, lalu ia melemparkannya dengan sembarangan.   Ketika dua hati tak dapat bersama. Betapa rapuhnya hati ini. Segala cara akan terus Tristan perjuangkan. Dan ini bukan akhir dari hidupnya.   Tristan yang sudah mabuk pun akhirnya memejamkan kedua matanya.   Di sisi lain.   Steve masuk ke dalam kamar putrinya. Ia melihat putrinya yang sedang tidur. Steve duduk di tepi ranjang dan ia melihat punggung putrinya yang biru.   Steve jadi merasa bersalah. Ia juga tidak sengaja melakukan ini semua.   “Maafkan Papa sayang,” ucap Steve di dalam hatinya.   Steve mengulurkan tangannya. Ia ingin mengusap puncak kepala putrinya tapi ia mengurungkan niatnya.   Steve melihat putrinya yang bergerak dan ia memilih mengalihkan pandangannya.   Fanie merintih kesakitan, ia menggerakkan tubuhnya dan terasa sangat sakit sekali.   Fanie seperti melihat bayang-bayang seseorang. Fanie langsung membuka kedua matanya.   “Papa …”   Steve masih diam. Ia melihat putrinya yang berusaha untuk duduk.   “Ada apa Pah?” tanya Fanie.   “Maaf …”   Fanie yang tadi sedang merintih kesakitan langsung terdiam. Ia melihat papanya.   Fanie sebenarnya sedih. Tapi ia juga tidak ingin terpuruk terus menerus. Jika ia sedih, maka Mama dan papanya juga akan ikut bersedih.   Fanie langsung memeluk papanya. “Aku maafkan, tapi ada syaratnya,” ucap Fanie manja.   Steve membalas pelukkan putrinya. “Apa?”   “Aku ingin makan steak madu buatan Papa.”   Steve langsung tersenyum. “Papa akan membuatkannya. Apa ini sakit?” tanya Steve sambil menyentuh luka putrinya dengan jari telunjuknya.   “Aaaahhh, sakit tahu. Menyebalkan sekali.”   Steve tersenyum, ia memeluk putrinya lagi. “Maafkan Papa.”   Fanie merasa senang, ia akhirnya bisa melihat senyum di wajah papanya. Senyum yang sudah lama ia ingin lihat.   Mungkin dengan cara seperti ini bisa membuat keharmonisan keluarganya lagi. Bukan berarti Fanie menyerah. Tapi ia harus menggunakan cara cantik untuk membuat hati papanya luluh.   “Ayo kita ke dapur. Papa akan menyiapkannya.”   Fanie mengangguk. “Tapi gendong ya,” ucap Fanie manja.   Ya Fanie memang anak yang super manja. Ia tidak bisa tidak bermanja dengan papanya. Selalu ada saja hal yang membuat Steve luluh terhadap sikap putri kesayangannya ini.   Steve menggendong putrinya. Mereka berdua ke dapur bersama-sama. Shasha yang melihatnya langsung bingung sendiri. Ia melamun melihat kemesraan anak dan suaminya.   “Apa ini tidak salah? Apa secepat ini mereka berbaikan?” ucap Shasha pelan lalu ia mengikuti ke mana Steve dan Fanie pergi.   Steve mendudukkan putrinya di atas meja dapur. “Tunggu di sini Tuan Putri,” ucap Steve sambil menarik hidung mancung putrinya.   Fanie tersenyum senang. Ia merasa bahagia karena bisa mendapatkan kehangatan dari papanya lagi.   Bersambung 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN