Selamat Tinggal Sayang

1641 Kata
Fanie melihat punggung kekar papanya yang sedang sibuk dengan peralatan dapur. Terlihat sangat cekatan. Fanie menyukai moment ini. Moment di mana ia sering memasak bersama dengan papanya.   Shasha melihat suaminya sambil tersenyum dari pintu dapur. Shasha senang, karena anak dan suaminya akhirnya kembali berbaikan.   Aroma khas daging steak yang sudah matang itu membuat perut Fanie semakin terasa sangat lapar.   Steve akan menyiapkan apa saja yang putrinya inginkan. Asalkan putrinya bisa kembali ceria.   Shasha mendekati anak dan suaminya. Ia membuka lemari pendingin untuk mengambil minuman.   “Mama, mau steak madu juga nggak?” tanya Fanie.   Shasha melihat suaminya yang masih fokus dengan masakannya.   “Tidak, kalian saja,” ucap Shasha yang langsung memilih keluar dari dapur. Ia tidak ingin mengganggu anak dan suaminya. Biarkan saja mereka berdua menikmati moment kebersamaan ini.   Fanie melihat kepergian mamanya sambil mengangkat kedua bahunya acuh.   Steve memberikan steak madunya. Fanie yang melihatnya sangat tidak sabar ingin memakannya.   Fanie tersenyum. “Terima kasih Papa.”   Steve mengangguk. “Makanlah,” ucap Steve lalu ia mengambil air minum untuk putrinya.   Di sisi lain.   Tristan sedang muntah-muntah akibat minuman beralkohol yang ia konsumsi secara berlebihan.   Tristan mencuci wajahnya berkali-kali. Bayang-bayang Fanie kembali terukir dibenaknya.   Tristan mengingat bagaimana kemarin Fanie terpukul.   Tristan langsung meraih ponselnya dan ia mencoba mengirimkan pesan ke kekasihnya itu.   Tristan mencengkram erat ponsel yang ada di genggamannya. Ia merasa sangat kesal karena papanya, cinta yang sudah dijalin selama bertahun-tahun bisa hancur karena ulah papanya.   Kedua bola mata Tristan mulai memerah. Ia membuang semua botol dan kaleng minuman yang ada di atas meja.   “Aaarrrggghhhhh,” teriak Tristan lalu ia menjambak rambutnya sendiri. Tristan sangat frustasi. Ia sudah stress berat. Bagaimana bisa ia menjalani tanpa Fanie. Apa lagi saat ini Fanie sedang mengandung anaknya.   “Ini semua gara-gara Papa. Ini semua karena Papa. Aku benci Papa, aku sangat membencimu,” teriak Tristan yang sudah seperti orang gila saja.   Tristan langsung mengambil jaket dan kunci mobilnya. Ia langsung menuju mobil.   Tristan mengemudikan mobilnya dengan cepat. Ia menuju rumah Fanie.   Sesampainya di sana. Tristan hanya memandangi di mana kemarin ia melihat kekasihnya.   Tristan terus menunggu. Ia berharap bisa melihat kekasihnya itu. Walau tidak bisa bicara, setidaknya ia bisa melihat senyumnya.   Fanie keluar dari dalam kamarnya. Ia membawa perlengkapan tulisnya.   Fanie ingin mencoba mendesain gaun dan pakaian. Fanie akan mencoba mengalihkan profesinya.   Tristan langsung keluar dari dalam mobil saat melihat Fanie ada di balkon kamarnya.   Fanie melihat sekeliling area rumahnya yang luas dan sepi.   Fanie mengenali mobil hitam itu. Mobil yang kemrin dipakai Tristan dan benar saja. Sosok yang ada di samping mobil itu benar Tristan dengan wajah yang masih terluka dan tatapan mata yang sangat menyorot tajam.   Walau jauh, Fanie bisa melihat tersirat rasa rindu yang begitu mandalam. Dan kesedihan yang tiada duanya itu membuat Fanie ingin sekali berlari menghampiri lelakinya yang sedang menunggunya.   Tristan memberikan kode. Ia berharap jika mereka bisa bertemu lagi hari ini di cafe kemarin.   Tristan juga memberikan kode agar Fanie membaca pesan darinya.   Fanie masih diam. Ia tidak tahu harus apa. Apa mungkin ia akan memakai mamanya sebagai alasan lagi. Baru saja hubungannya dengan Steve membaik.   Fanie langsung mengalihkan pandangannya saat ia melihat ada mamanya datang.   Tristan langsung masuk ke dalam mobil sebelum ia ketahuan. Tristan juga tidak ingin memperkeruh keadaan.   Tristan langsung melajukan mobilnya. Ia akan mencoba menunggu Fanie di cafe.   “Sayang kamu sedang apa? Ini Mama bawakan kue strawberi kesukaan kamu.”   Fanie tersenyum. “Terima kasih Mah. Mmmm, Mah … Nanti mau nggak temani Fanie ke cafe lagi.” “Mau beli minuman lagi?” tanya Shasha dan Fanie menganggukkan kepalanya.   “Boleh, tunggu Papa pergi dulu ya. Papa mau bicara dengan Oma kamu. Sekarang kan Oma sudah sangat tua. Jadi Papa akan meminta kamu untuk mengurus butiknya.”   Fanie tersenyum. Ia menganggukkan kepalanya dan tidak membantahnya sama sekali. Mungkin dengan adanya kegiatan di sana. Fanie bisa melupakan masalah ini. Ia jelas menyetujuinya selama ia bisa dikasih kebebasan untuk keluar dari rumah ini.   “Habiskan ya. Nanti Mama akan menemani kamu.”   Fanie menganggukkan kepalanya. Ia tidak membantah dan menuruti keinginan mamanya.   Fanie mengambil pensilnya dan buku yang ia bawa. Fanie mulai mendesain gaun pengantin yang cantik. Gaun yang ia impikan dan gaun yang ingin sekali ia memakainya.   Fanie terlihat sangat serius sekali. Ia sampai tidak sadar jika sudah mengabaikan kuenya.   Fanie menyandarkan punggungnya sambil meregangkan otot-ototnya yang terasa sangat sakit.   Fanie memakan kuenya sambil melihat hasil karyanya.   “Nggak buruk juga,” ucapnya sambil melahap kuenya lagi.   Fanie memang memiliki hobi menggambar. Hasil gambarnya selalu saja memuaskan.   Fanie membawa masuk hasil karyanya dan ia mengganti pakaiannya lalu Fanie mencoba menyalakan ponsel yang diberikan oleh Tristan. Fanie membaca dan membalas pesan masuk dari kekasihnya itu.   Fanie langsung mematikan ponselnya dan ia bergegas keluar dari dalam kamar.   Fanie melihat papanya dan mamanya yang sedang bermesraan.   Kadang Fanie merasa sangat iri dengan kedua orang tuanya. Yang bisa menjalin kasih tanpa ada yang melarangnya. Cinta mereka sangat tulus dan tidak serumit cinta yang dialaminya.   Shasha melihat putrinya dan Steve langsung menoleh ke arah belakang.   Steve tersenyum lalu membentangkan sebelah tangannya dan Fanie langsung memeluk papanya.   “Kata Mama, kamu mau pergi ke cafe lagi?” tanya Steve dan Fanie menganggukkan kepalanya.   “Boleh?” tanya Fanie ragu.   “Boleh. Papa mau ketemu Oma dulu. Mau bicarakan soal butik, biar kamu ada kerjaan di sini,” ucap Steve dan Fanie mengangguk.   Steve mengecup dahi putrinya dan Steve juga mengecup bibir istrinya. Lalu ia pergi meninggalkan rumah.   “Mama ganti baju dulu ya,” ucap Shasha dan Fanie menganggukkan kepalanya.   Fanie sedikit cemas kali ini. Ia takut jika papanya curiga kalau ia keluar hampir setiap hari.   Fanie memegang dadanya yang berdebar. Ia benar-benar merasa takut. Fanie mencoba berpikir positive.   “Ayo sayang,” ajak Shasha yang sudah rapih dengan pakaian santainya.   Fanie mengangguk lalu mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil.   Seperti kemarin, mereka berdua dikawal oleh beberapa orang suruhan Steve.   Fanie memasukkan kedua tangannya ke dalam saku sweater yang ia gunakan. Fanie melihat mobil Tristan terpakir rapih di ujung agar tidak terlihat oleh anak buah papanya.   Fanie dan Shasha turun bersama. Fanie sedang bingung, ia harus mencari alasan apa kali ini.   “Kamu mau pesan apa?” tanya Shasha.   Fanie yang sedang melihat sekelilingnya langsung membuyarkan lamunannya.   “Sama seperti kemarin,” ucap Fanie.   “Mah, aku ke atas ya. Mau lihat ada yang kosong nggak. Kita di sini sebentar saja tidak apa-apa kan?” tanya Fanie dan Shasha menganggukkan kepalanya.   Fanie langsung naik ke atas dan Tristan yang sejak tadi menunggunya langsung menyusul tanpa diketahui Shasha.   Tristan langsung menggenggam tangan kekasihnya dan membawanya masuk ke dalam sebuah toilet yang ada di lantai dua cafe ini.   Fanie sempat kaget. Tapi ia langsung mengikuti kekasihnya.   Tristan langsung mengunci dan memeluk kekasihnya dengan erat.   Fanie memandang wajah Tristan yang terlihat sangat lusuh, tidak ada gairaah hidup lagi.   “Aku akan pergi, kamu tunggu aku ya. Aku janji akan kembali. Aku ingin menemui Papa. Aku harus bicara padanya,” ucap Tristan dan Fanie menganggukkan kepalanya.   “Aku akan bekerja di butik Oma. Aku akan mengirimkan alamatnya nanti.”   Tristan mengangguk. “Sering-sering hubungi aku. Balas chat aku. Kalau tidak bisa menggunakan ponsel, gunakan email atau apa pun. Janji yah. Aku sangat mencintai kamu sayang.”   “Aku juga sangat mencintai kamu,” ucap Fanie yang langsung memeluk kekasihnya.   “Kamu baik-baik ya, secepat mungkin aku akan jemput kamu dan coba bicara lagi sama Papa kamu. Nanti sore aku coba ke rumah kamu. Aku akan coba bicara sama Papa.”   “Tidak, jangan Tris, nanti Papa bisa memukuli kamu lagi. Aku enggak mau kamu kenapa-kenapa. Lihat saja wajah kamu sudah penuh dengan luka seperti ini.”   “Tidak apa-apa. Aku harus bisa menerima resikonya. Jika aku harus lumpuh sekali pun. Asalkan Papa kamu merestui hubungan kita. Maka aku rela sayang. Tapi …, aku tidak akan pernah rela jika harus kehilangan kamu dan calon anak kita.”   Tristan berlutut, ia mengecup perut Fanie. “Sayangnya Daddy. Kamu baik-baik ya di dalam sana. Daddy akan segera kembali. Daddy janji, kamu jangan nyusahin mommy ya,” ucap Tristan lembut.   Shasha membawa minumannya dan ia mencari keberadaan putrinya.   “Di mana ya Fanie. Apa di dalam kamar mandi?” gumam Shasha lalu ia meletakkan minumannya di atas meja dan mencoba menuju kamar mandi.   “Fanie sayang, apa kamu di dalam?” tanya Shasha.   Tristan dan Fanie saling membulatkan kedua matanya.   “I-iya Ma, Fanie mual Ma. Sebentar ya,” ucap Fanie yang langsung berpura-pura muntah.   “Apa kamu baik-baik saja?” tanya Shasha.   “A-aku baik-baik saja. Mama tunggu saja di depan. Sebentar lagi aku ke sana,” ucap Fanie.   “Ok. Jangan lama-lama ya. Takut Papa kamu pulang lebih awal,” ucap Shasha.   “Iya Mah,” jawab Fanie.   “Tristan, bagaimana ini? apa ada jalan keluar lainnya?”   “Tidak ada. Kamu keluar saja lebih dulu. Aku akan coba masuk ke gudang sebelah biar Mama kamu tidak curiga.”   Fanie mengangguk dan mereka berdua saling berpelukkan dan saling mencium sebelum benar-benar berpisah.   “Aku akan sangat merindukan kamu.”   “Aku juga.”   “Kamu jangan nakal ya.”   “Justru kamu yang jangan nakal!”   Tristan dan Fanie sama-sama tersenyum. Fanie langsung keluar daru toilet dan Tristan langsung menuju gudang. Ia akan mencari cara untuk melewati Fanie dan mamanya.   Fanie duduk di hadapan mamanya. Ia tersenyum sambil mengambil minumannya lalu meminumnya.   “Sudah lebih baik?”   “Hmmm, sudah. Maaf ya sudah menunggu lama.”   “Tidak masalah. Kita bawa pulang saja. Mama tidak ingin macan yang ada di rumah mulai mengaung enggak jelas lagi.”   Fanie tertawa. Ia menganggukkan kepalanya dan menuruti keinginan mamanya.   Fanie dan Shasha keluar dari cafe dan Tristan melihat kepergian kekasih hatinya.   Kini Tristan akan menyelesaikan semuanya. Ia akan mengurus semuanya dan memikirkan cara untuk mendapatkan hati Steve.   “Selamat tinggal sayang. Tunggu aku, aku akan segera kembali,” ucap Tristan di dalam hatinya.   Bersambung 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN