DUA : PUTRA JAEGAR

1368 Kata
"Habis ini masuk, Lan. Bu Sonya." Ucap Kaiser dengan mulut yang sibuk mengunyah. "Kenapa emang bu Sonya?" Jovian tertawa kecil. Ia menepuk bahu Kaiser, "Ngomong kok sama Elan. Dia itu mau dihukum model apa juga gak akan kapok. Setan aja minder sama kelakuan dia." “Tau nih, udah tau bu Indira galak, dilawan aja. Bahkan Rakala aja sampai harus pusing ngurusin elo. Gak bosan apa lo kapok Rakala?” ucap Kaiser. "Rakala aja yang gak kapok ngurusin gue." Berbicara mengenai Rakala, Rakala Shafira Dewangga namanya. Ketua OSIS Cakrawala yang baru saja menjabat selama 3 bulan. Seorang siswi pindahan SMA 2, sekolah yang menjadi rival Cakrawala dalam bidang apapun. Gadis yang memiliki 12 kasus, nyaris tidak ada sekolah yang berani menerima Rakala begitu gadis itu di drop out dari SMA 2. Menurut orang-orang, Rakala adalah Keelan versi perempuan. Memiliki hobi yang hampir sama yaitu berkelahi. Tidak ada satupun orang yang tidak mengenal Rakala Shafira Dewangga, mendengar namanya saja orang sudah mengerti, sama seperti Keelan Jaegar. "Alah, lo suka, 'kan? Ngaku aja deh." Tuduh Jovian. Alis Keelan mengernyit heran. "Secara, Rakala cantik bro, udah cantik, jago public speaking lagi." Jawab Jovian lagi. “Mana akhir-akhir ini lo sama dia, 'kan lagi dekat katanya.” Keelan meletakan kembali gelasnya. “Dia mau aja disuruh-suruh buat ngurusin gue.” “Itu udah tugas dia anjing jadi Ketua OSIS, ngurusin orang yang bermasalah ngebantu BK. Makanya lo itu ikut organisasi biar tau.” Balas Jovian. Keelan terkekeh. Ia menatap sejenak Jovian. “Tapi lo benar.” “Soal apa?” “Soal dia cantik.” "Jadi, Rakala cantik ya, Lan?" ulang Kaiser. Keelan jelas tau nada bicara Kaiser. “Lo gak terlalu budeg buat dengar apa yang gue omongin, Sadega.” Kaiser tertawa puas. Laki-laki itu mengangguk-angguk tanda meledek. “Jadi, lo gak mau coba sama dia?" kali ini Levi ikut menimpali. Laki-laki yang sejak tadi diam itu kini angkat bicara. “Emang dia makanan?” "Jangan pesimis begitu dong, Lan. Gue tau Rakala punya kriteria, tapi gak ada salahnya coba. Jadi laki-laki kudu gentle." Ucap Kaiser yang tiba-tiba menjadi bijak. "Ucap laki-laki yang ditolak Rakala." Balas Levi. Ucapan Levi tentu saja mengundang tawa dari teman-temannya. Mereka semua tau, Kaiser langsung mengincar Rakala begitu perempuan cantik itu 3 hari menginjakan kaki pada sekolahan megah ini. Tentu saja, Rakala dengan tegas menolak Kaiser. Rakala jelas tau siapa Kaiser Sadega itu, terlebih apa itu Kaustra. "Seenggaknya gue masih unggul diatas Keelan." Ucap Kaiser membela diri. "Jangan samain gue sama elo." Kaiser tertawa. "Lan, diantara kita, cuma elo yang catatan percintaannya nol. Kalau diibaratkan ujian ya, lo itu remidial bahkan lo udah gak naik kelas." Memang benar, diantara 4 sekawan itu, hanya Keelan yang sejauh ini tidak terlibat dalam urusan asmara. Meskipun namanya sering menjadi pemberitaan hangat dengan berbagai macam perempuan cantik di Cakrawala. Keelan nampaknya tidak terusik akan hal itu, Keelan membiarkan berita itu hilang dengan sendirinya tanpa harus repot-repot klarifikasi. Berbeda dengan Kaiser dan Jovian, aligator Cakrawala itu jelas lebih dengan senang hati menanggapi semua perempuan yang ingin dekat dengan mereka. Meskipun keduanya selalu menjalin hubungan dalam periode singkat. Levi dan Kaiser sebagai orang yang sudah tumbuh sejak kecil bersama Keelan tau bagaimana Keelan Jaegar. Laki-laki itu bisa saja bertingkah seperti Kaiser ataupun Jovian, hanya saja Keelan terlalu malas untuk melakukan itu. Keelan terlalu berbahaya jika sudah turun tangan dengan catatan percintaan yang minim, Keelan bisa menjadi diatas Kaiser ataupun Jovian jika sudah terjun. Hal itu sudah Levi dan Kaiser lihat. Satu-satunya perempuan yang mendapatkan perlakuan istimewa seorang Keelan Jaegar adalah Ishara Saveena. Perempuan cantik yang Keelan temui pada bangku sekolah menengah. Satu-satunya perempuan yang berani secara gamblang menunjukan bendera peperangan pada Putra Jaegar yang terkenal bengis seperti Hades itu. Ishara adalah lawan yang seimbang untuk Keelan. Keduanya selalu bersaing baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Ishara mampu membuat Keelan untuk ingin terus mengunggulinya dalam bidang apapun. Ishara satu-satunya perempuan yang berani menarik Keelan keluar dari dunianya. Ishara Saveena, rival sekaligus cinta pertama seorang Keelan Jaegar. Karena Ishara juga, Keelan menggila. Laki-laki itu tidak lagi terlibat dengan perempuan kecuali itu bermasalah dengannya. Keelan bukan orang yang bermurah hati seperti Kaiser, ia sama seperti Jaegar dan Kaleesha yang tidak pandang bulu terhadap siapapun. Jika ada orang yang berani mengusiknya, maka dengan senang hati, Keelan akan membalasnya. Hal itu juga yang membuat Levi dan Kaiser beranggapan bahwa Keelan berhenti dan menutup hatinya karena Ishara, hanya saja gengsi Jaegar Tunggal itu terlalu tinggi untuk mengakui. Keelan selalu bisa membuat orang salah sangka, Keelan itu manipulatif. “Jadi, gue harus cobain sama Rakala?” “Kalau suka ya suka, enggak ya enggak. Jangan jadi bajingan.” Jawab Kaiser. Kaiser tau, jika Keelan masih terbayang akan Ishara, oleh sebab itu ada baiknya untuk tidak menantang Keelan Jaegar. “Loh, b******n apanya? Tadi disuruh nyobain.” “Cobain kalau emang lo tertarik, Elan.” “Keelan.” Suara Rakala menghentikan tawa Keelan. 4 sekawan itu menoleh. Rakala berdiri tidak jauh dari meja mereka. “Bisa ngomong sebentar? Berdua aja, sekarang.” Rakala berbalik, meninggalkan meja Kaustra tanpa menunggu jawaban Keelan. Begitu juga Keelan yang bergegas berdiri menyusul Rakala. Hanya saja Keelan menoleh, Kaiser menahan tangannya. “Apa?” tanya Keelan. “Lo jangan coba-coba Keelan.” “Kenapa? Masih ada rasa? Saingan aja sama gue.” Jawab Keelan. Sudut bibir laki-laki itu terangkat, tipis sangat tipis. Keelan benar-benar tidak bisa ditebak. Laki-laki itu melepaskan tangan Kaiser dan bergegas menyusul Rakala. Gadis itu berdiri di koridor tidak jauh dari area kantin. Manik Keelan melihat Rakala yang membawa map biru serupa dengan milik Levi. "Baca dulu." Ucap Rakala dengan tangan yang terulur memberikan map kepada Keelan begitu laki-laki itu tiba. Keelan sudah menduga. Rumor mengenai dirinya yang akan maju sebagai peserta turnamen sudah sering kali ia dengar, bahkan dari dirinya masih berada di kelas 10 hingga kini sudah berada di kelas 12. Hanya saja hal itu tidak akan pernah terjadi karena ketakutan para petinggi. Mereka tau siapa Keelan dan bagaimana kehebatan Eksekutor Penyerang Kaustra itu. Terlebih mereka semua juga tau bagaimana latar belakang kehidupan kelam kedua orang tua Keelan. Dan tidak menutup kemungkinan Keelan juga mewarisi kebengisan kedua orang tuanya. Oleh sebab itu, menggunakan Keelan adalah hal yang sangat beresiko. “Gue gak minat, Kal. Lo minta aja Kaiser dia juga perwakilan tahun lalu dan berhasil bawa medali pulang, kelas 12 udah gak diperkenankan untuk ikut apapun.” Rakala menghela napas. Ia sudah menduga Keelan akan berkata demikian. “Seperti yang lo bisa baca, permintaan para petinggi itu mutlak dan gue rasa lo juga udah tau itu. Acara ini cuma sebentar, lo bisa tetap ikut bimbel atau apalah itu untuk ujian kelulusan, lo cuma perlu maju untuk menang dan gue akan bantu elo.” “Bantu? Dalam hal apa?” “Untuk sementara waktu ini, gue akan jadi mentor lo. Kita akan menjadi rekan untuk sementara sampai turnamen ini selesai. Gue harap lo sama gue bisa bekerja sama dengan baik.” Sudut bibir Keelan terangkat. Laki-laki itu menarik napas sejenak. Ia mengulurkan tangannya yang membuat Rakala mengernyit heran. “Let's work together, please help.” Rakala terkesima. Keelan benar-benar orang yang sulit untuk ditebak. Ia menerima jabatan tangan Keelan, melakukan kesepakatan dengan cepat. Meskipun Rakala menduga ada maksud lain dari Keelan Jaegar untuk menyetujui permintaan ini. Terlebih, Keelan sempat menolaknya kemudian secara tiba-tiba setuju, orang yang selalu membuatnya bekerja ekstra selama dirinya menjabat sebagai Ketua OSIS itu benar-benar membuatnya menebak-nebak. Hanya saja Rakala berusaha untuk tidak terlalu memusingkan hal ini. Dengan Keelan bersedia maju untuk menjadi peserta turnamen, itu sudah lebih dari cukup untuk Rakala. "Jadwal latihan mau lo buat atau gue, Kee?” “Lo buatlah, katanya mentor gue.” Rakala kembali harus menarik napas guna menetralkan emosinya. “Biar gue cocokin sama jadwal lo, Levi juga bilang kalau lo mau latihan bareng sama anak karate, gue bisa minta jadwal ke Kaiser nanti.” “Ngapain harus sama anak karate? Gue cuma perlu lo bukan yang lain. Lo bilang aja kapan, gue bisa kapan aja.” Rakala mengangguk kemudian tersenyum tipis guna mengakhiri percakapan yang menguras tenaga ini. “Gue message lo nanti soal jadwal latihannya. Thank you, Keelan. Semoga dengan lo bisa membawa kemenangan lagi untuk Cakrawala." Keelan mengangguk, kemudian berjalan meninggalkan Rakala yang juga ikut beranjak dari tempatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN