SATU : KEELAN JAEGAR

1350 Kata
Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, mungkin itu, pepatah yang cocok untuk menggambarkan sosok Keelan Jaegar. Putra Tunggal Jaegar Sankara dan juga Kaleesha Arkhava Biantara itu benar-benar membuat siapapun yang berurusan dengannya harus memiliki stok kesabaran yang diluar batas. "Keelan, ini udah jam 6 lewat! Kamu mau berangkat jam berapa!?" teriakan Kaleesha menggema memenuhi kediaman megah Jaegar. Hal yang selalu terjadi berulang kali disetiap paginya. "Jangan sampai Mama siram air dulu baru kamu bisa turun ya." Sambung Kaleesha. Sudah menjadi rutinitas bagi Keelan untuk membuat sang mama berteriak. Bagi Keelan teriakan Kaleesha sama seperti ayam berkokok, hal yang menandakan untuknya memulai hari. Ia sendiri sebenarnya tidak mempunyai alasan tertentu kenapa ia selalu melakukan itu. Keelan sendiri bukan pribadi yang terlambat bangun, ia mempunyai nilai plus dalam mengatur waktu, meskipun ia mudah tertidur, Keelan juga anak yang mudah untuk bangun. Menurutnya, membuat Kaleesha berteriak di pagi hari adalah caranya untuk menunjukan kasih sayangnya terhadap sang mama. "Apa cengar-cengir?" tanya Kaleesha galak begitu ia melihat putra semata wayangnya turun dengan senyuman tampan miliknya. "Galak banget sih, Ma." Balas Keelan santai. Laki-laki itu mengambil tempat tepat dihadapan sang mama yang sudah rapi dengan pakaian kantor yang membalut tubuh indahnya. "Jangan galak-galak gitu dong, Cantik. By the way, Good Morning, Prettiest." "Aduh, mulut buaya manis banget." Suara bariton rendah milik Jaegar Sankara terdengar dari arah belakang. Lelaki duplikat Keelan datang dengan pakaian yang tak kalah formal seperti Kaleesha. Keelan sudah memaklumi itu, kedua orang tuanya adalah seorang pekerja keras, terlebih kedua orang tuanya juga seorang pemimpin perusahaan. Tentu saja hal itu memiliki tanggung jawab yang sangat besar, tidak jarang keduanya meninggalkan Keelan sendirian untuk urusan bisnis. Tetapi sekali lagi, Keelan sudah memaklumi itu semua, karena ia juga tau, kedua orang tuanya bekerja untuknya. Meskipun demikian, Jaegar dan Kaleesha memastikan Keelan tidak kekurangan kasih sayang. "Sama aja kayak kamu." Jawab Kaleesha dengan tangan yang sibuk menuangkan segelas s**u pada gelas putranya. "Dia itu kamu, buaya. Jago flirt orang gak anak gak bapak sama aja." "Lho? Ya bagus dong kalo gitu." Ucap Jaegar. Tangan lelaki itu mengancing kancing lengan kirinya. "Artinya gak perlu diraguin lagi kalau dia anak aku." "Enak aja. Aku ini anak Mama." Sanggah Keelan tidak terima. Jaegar Tunggal itu selalu enggan apabila disamakan dengan sang papa. Meskipun banyak yang mengatakan bahwa ia dan papanya bagaikan pinang dibelah dua. Namun Keelan selalu menepis itu, banyak alasan yang membuat Keelan enggan disamakan, salah satunya ketika Jaegar mengejar cinta Kaleesha. "Kamu gak ada Papa gak lahir, Lan." "Jangan lebay, Pa. Papa cuma nyumbang sekali, sisanya mama yang urus. Jadi, jangan bersikap seolah-olah Papa punya kontribusi besar." "Kamu ini anak siapa sih?" Keelan meminum segelas s**u yang disodorkan oleh Kaleesha untuknya, "Makasih Sayang." Ucap Keelan disertai senyuman manis. "Stop teasing her, she's mine not yours." "Apa sih? Sok asik banget. Jangan sok asik, aku bukan temanmu." "Iya, 'kan kamu anak Papa." "Jae, Elan, enough." Lerai Kaleesha. Jelas wanita cantik itu harus segera menghentikan perdebatan kedua lelakinya sebelum semakin menjadi. Jaegar sebagai api dan Keelan penyulutnya, tentu perdebatan kecil selalu terjadi dan Jaegar akan menjadi pihak yang tertindas dan berakhir merajuk. "Ini udah hampir jam 7. Jangan kamu kira karena sekolah itu punya Mama, kamu jadi seenaknya ya.” “Iya, Ma. Habis susunya langsung berangkat. Kata Mama gak boleh ngelewatin waktu sarapan, dan Elan lagi ngelakuin itu, aku sedang menerapkan sarapan itu penting, Ma.” Kaleesha menarik napas sejenak. Ia duduk disamping suaminya. “Kamu itu kenapa sih suka banget datang telat? Mama tau kamu udah bangun dari tadi, kenapa gak langsung turun? Harus banget Mama teriak dulu baru kamu bisa turun? Jangan nakal-nakal, Mama pusing dengar aduan guru tentang kamu ya, Jaegar.” "Waduh, udah dipanggil Jaegar, siaga 1 ini namanya." Dengan cepat Keelan menghabiskan s**u hangatnya dan mengamit tangan Jaegar dan juga Kaleesha tak lupa memberikan ciuman pada pelipis kirinya kemudian berkata, "Mama jangan capek-capek ya? Jangan terus-terusan meeting. Bakar aja kertas-kertasnya kalau buat Mama pusing. Tapi, kalau itu Papa sih, ya terserah, mau Papa pingsan juga gapapa, gak ada urusan soalnya." Setelah mengucapkan itu Keelan sedikit mempercepat langkahnya sebelum papanya mengamuk. Bagi Keelan menjahili papanya adalah kegiatan wajib nomer dua setelah membuat mamanya berteriak yang tidak boleh untuk dilewatkan. Dengan tenang, Keelan membawa Winter dengan kecepatan normal menikmati Kota Pahlawan yang sudah sangat padat oleh kendaraan. Meskipun sudah terlambat hampir 25 menit lamanya, Keelan tetap santai, terlebih saat ia melihat gerbang utama Cakrawala masih terbuka lebar. "Permisi, Bu." Ucap Keelan sopan. Laki-laki itu mendorong masuk motornya menuju parkiran yang membuat dua guru yang sedang bercerita itu berhenti. "Keelan Jaegar!" "Siap, saya." Jawab Keelan tegas. Indira, selaku guru kesiswaan Cakrawala yang selalu menangani murid-murid yang bermasalah seperti Keelan itu lagi-lagi harus mengelus d**a. "Jam berapa ini? Telat lagi?" "Niatnya sih gak telat, Bu. Jam masuknya diubah ya?" "Jam masuknya tetap sama, 6.30. Hal itu sudah tertera jelas dan sudah tertulis pada papan aturan yang terpampang nyata." "Lho!?" Wajah Jaegar Tunggal itu benar-benar terkejut. "Bukannya jam 7.30 ya?" "Itu aturan sekolah siapa?" "Sekolah Mama saya." Jawaban lugas itu kembali membuat Indira naik darah. Namun bagaimanapun Keelan laki-laki itu tidak bisa dianggap sebelah mata. Selain karena dia anak pemilik sekolah, kecerdasan warisan Kaleesha itu mampu membuat Keelan menjadi perwakilan dan membawa nama Cakrawala juara dalam bidang akademik. Tak hanya itu, Keelan juga memiliki segudang prestasi meskipun dengan kasus yang tak kalah fantastis. "Sekarang lari keliling lapangan sebanyak 25 kali sesuai dengan waktu keterlambatan kamu." "Siap." Jawab Keelan. Ia melepaskan jaket dan tas ranselnya yang hanya berisi satu buku dan satu pulpen pada gazebo kemudian mulai berlari. Suara teriakan kecil menyoraki namanya mulai terdengar. Hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Keelan. Meskipun banyak digandrungi perempuan, nyatanya Keelan sama sekali tidak tertarik dengan satupun gadis yang berada di Cakrawala, kecuali Rakala, Ketua OSIS Cakrawala yang akhir-akhir ini sedang berurusan dengannya. "Kak Keelan!" Manik kelam pemuda itu melihat dua gadis yang Keelan yakin adalah adik kelasnya meskipun ia sama sekali tidak mengenal mereka. Dengan napas yang masih memburu namun tidak begitu parah setelah menyelesaikan masa hukumannya, Keelan masih setia merespon adik kelasnya. Manik kelam Keelan kembali menatap sebotol air mineral yang disodorkan untuknya. "Buat Kakak." "Put the context?" "Eemm .... Gak ada maksud apa-apa sih, Kak. Mau kasih Kakak aja, pasti capek habis lari." Keelan mengangguk kecil, "Bawa aja, gue gak haus. Thanks a lot." Bagi mereka itu bukan sebuah penolakan. Itu adalah hal kecil yang Keelan lakukan namun memberikan afeksi luar biasa. Berinteraksi dengan Jaegar Tunggal itu benar-benar hal yang sangat di idam-idamkan oleh kaum hawa Cakrawala. Pesona Jaegar Tunggal itu tidak bisa ditepis. Hampir 40% perempuan yang masuk Cakrawala hanya karena ingin melihat Keelan Jaegar dengan harapan bisa dekat dengan Eksekutor Penyerang Kaustra itu. "Bukannya masuk, malah disini." Suara Kaiser mengintrupsi Keelan yang asik memakan mie ayamnya. Keelan menoleh, ia melihat 2 sahabatnya sudah datang menyusulnya ke kantin. Keelan memang memilih kantin sebagai tempat istirahat setelah berlari, meskipun tidak dihukum, Keelan akan tetap melakukan ini di setiap harinya. "Gue mau masuk, tapi gue haus, kalau gue dehidrasi terus pingsan gimana?” "Banyak alasan lo, t*i kucing." Balas Jovian. Keelan tertawa kecil, "Marah-marah mulu, daripada pingsan gara-gara kehausan marahin gue, mending minum dulu." Ucapnya lagi sambil menyodorkan minuman yang sudah ia pesan sebelumnya. Teman-teman Keelan sebenarnya cukup diuntungkan dengan adanya Keelan terlebih dahulu di kantin karena secara tidak langsung mereka tidak perlu bersusah payah untuk mengantri agar bisa mendapat makanan dan minuman yang mereka mau. Meskipun sebenarnya dengan menjual nama Keelan saja mereka sudah bisa mendapat antrian VIP. "Mana Levi?" tanya Keelan lagi. "Ada apa?" laki-laki dengan pakaian yang cukup rapi dibanding yang lain itu muncul dari arah belakang. Dengan nama Levi Kasaga Biantara yang tertulis jelas pada nama dadanya terlihat sangat berwibawa. "Tanya aja, biasanya lengket banget sama Isel." "Jangan kayak anjing, Lan." Sanggah Kaiser. Jovian tertawa geli, "Tapi kadang gue setuju sama Keelan, Sel. Lo sama Levi tuh kembar tak seiras, dimana ada lo disitu ada Levi. Kadang gue heran, lo berdua selalu sama-sama emang kompak atau ada maksud lain sih?" "Jangan sampai gue tonjok ya lo." Balas Kaiser. Keelan dan Jovian kembali tertawa. Membuat Kaiser naik darah adalah hal yang menyenangkan dan selalu Jovian lakukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN