Part 8

2455 Kata
Minggu kedua berada di Desa Gondosuli, Minggu yang akhirnya sangat padat. Minggu lalu sengaja tak kuceritakan sebab terlalu datar, hanya itu-itu saja. Memberi perhatian tanpa dapat balasan, kegiatan juga hanya mengajar ngaji dan kegiatan kemasyarakatan. Maksudku kegiatanku, yang lainnya ya sebenarnya ada kegiatan lain hanya saja sudah dibagi perbidang agar merata. Dan Minggu ini, Alhamdulillah sudah mulai mengajar SD, TK dan PAUD. Sungguh menyenangkan bersama dengan mereka, memberi satu dua ilmu yang sederhana. Banyak pengalaman seru yang mungkin saja tidak akan aku lupakan. Canda tawa saat aku memberi ilmu pun seolah membuatku lupa akan semua masalah hidup yang menerpa. Inilah alasanku menjadi guru, terutama bagi anak kecil yang belum terlalu banyak bebannya. Hari ini hari Sabtu, di mana sekolah hanya sampai di jam 10. Sekolah sudah sepi saat aku melangkahkan kaki untuk kembali bersama dengan teman yang lain. Termasuk Bima yang melangkah di belakangku juga Indah yang berjalan di sampingku. "Seru ya jadi pengajar di SD. Aku loh PPKn paling ujung-ujungnya kalau tidak di SMA ya SMP, murid udah mulai bandel-bandelnya," keluh Indah. "Istighfar dulu, Nak. Sudah jalannya Allah begitu kamu mau apa? Mengeluh dan menggerutu begini malah tidak baik. Sama-sama kasih ilmu ini sih, nikmatin aja kali!" sahut Bima yang memang sejak awal seringkali bersitegang dengan Indah. "Ya sudah sih, B aja!" balas Indah tak kalah ketus. Saat kami berjalan ke posko yang tinggal 100 meter lagi, Yashinta menghampiri dengan napas terengah-engah. Dia berlari dari arah depan seolah baru saja dikejar-kejar setan. Mending kalau setannya bukan atlet lari, kalau atlet lari mungkin lebih parah dari ini. "Kenapa lu?" tanya Indah memang ketus pada siapapun. "Hah.” Membuang napasnya kencang. "Suamimu.” Berhenti karena mengatur napasnya. "Kenapa?" tanyaku langsung, jelas di sini hanya aku yang sudah bersuami. Yang lainnya jelas belum, bahkan banyak yang jomblo. Tangan Yashinta memberi kode untuk menunggu sebentar, memang dia perlu mengatur napasnya. Jadi aku menunggu saja sambil terus mengangkat naik kedua alisku. "Dia ada di posko sama Adikmu, huh, huh, huh," kata Yahsinta sambil menunjuk ke arah posko kami berada. "Hah?" Tanpa mendengarkan benar atau tidaknya ucapannya Yashinta, aku langsung berjalan cepat menuju posko. Sementara yang lain mengikutiku di belakang bersama Yashinta yang seolah-olah hampir kehilangan napasnya. Kakiku sempat berhenti tak percaya, mana mungkin Mas Rama datang kemari? Jelas jadwalnya cukup padat dan dia tak akan peduli tentang aku di sini. Namun langkahku kembali berayun saat kuingat Mas Rama pernah bilang akan mampir ke Solo minggu ini. Seingatku memang kemarin laga melawan PS TIRA di Bantul. Dan memang benar, Mas Rama juga Zahira tengah berbincang dengan Bapak Kades. Orang tua asuhku di sini alias yang punya posko. Mas Rama mengenakan kemeja maroon lengan pendek dan celana Joger pant warna krem. "Assalamualaikum," sapa salam ku masuk ke dalam rumah. Semua orang menjawab termasuk Mas Rama yang langsung menoleh ke belakang. "Nah, ini anaknya. Aduh Bapak pikir kok terhormat sekali Bapak kedatangan tamu Kapten Timnas. Ternyata ke sini mau cari istrinya," ucap Pak Kades sedikit menggodaku. Aku tersenyum lantas menjabat tangan Mas Rama. Baiklah, ini ketiga kalinya aku mencium punggung tangan Mas Rama. Yang pertama ketika akad nikah, yang kedua ketika di Bandara dan yang ketiga sekarang ini. "Tapi terhormat lagi, ternyata istrinya Kapten Timnas mau tinggal di rumah sederhana Bapak buat KKN," lanjut Bapak setelah aku duduk di sebelah Mas Rama. Mas Rama tersenyum. "Terima kasih sudah menjadi orang tua selama KKN di sini buat istri saya, Pak. Bandel nggak dia di sini, Pak?" Pak Kades tertawa kecil. "Bandel, dia yang paling jarang di rumah." Yang di sebelah kiriku langsung menatapku, seolah meminta penjelasan tentang ucapan Pak Kades. "Hehehe.” Aku hanya tertawa kecil. "Pokoknya pagi hari, Mas. Habis masak, nyuci, nyapu, berangkat ngajar. Kadang ya ke SD, kadang ke TK, kadang ke PAUD. Nanti siangnya ngajar les, itupun nggak di sini, Mas. Pilih ngajar ke lapangan,   ke pelataran sekolah, di bawah pohon sukanya. Sorenya setiap 3 hari dalam seminggu ngajar ngaji, kalau nggak ngajar ngaji ya main sama anak-anak kecil itu," cerita Pak Kades yang ternyata hafal tentang kegiatanku. Padahal beliau terkesan tidak peduli dengan kegiatanku. Tapi memang aku tak pernah lupa pamit dengan beliau. Bagaimanapun selama KKN, beliaulah orang tuaku. Senyum Mas Rama kembali merekah. "Saya kira berduaan terus sama laki-laki lain di sini, Pak." Giliranku memasang wajah kesal pada Mas Rama. Memangnya aku ini perempuan apa selalu mendapat curiga beberapa kali. Aku memang sedikit kaget dengan perjodohan ini tapi aku bukan perempuan yang sudah bersuami tapi mau berduaan dengan laki-laki lain hanya karena belum mencintai suamiku sendiri. "Tidak. Nissa ini selalu jaga jarak dengan laki-laki. Kecuali ya anak-anak yang belum baligh. Memang kalau jarak memisahkan yang ada curiga dan curiga." "Iya, Pak. Takut istri saya hilang. Lagi sayang-sayangnya tiba-tiba diambil orang kan tidak lucu, Pak," canda Mas Rama pada Pak Kades. Entah apa yang mereka bicarakan sebelumnya sampai mereka terdengar begitu akrab. Mas Rama juga, lagi sayang-sayangnya? Lucu sekali. Perbincangan semakin seru ketika Pak Kades yang memang berjiwa muda meski tidak lagi muda selalu menanggapi candaan dari Mas Rama. Sampai teman-temanku datang dan ikut bergabung ke dalam percakapan. "Oh iya, Pak. Kedatangan saya kemari mau minta izin sama Bapak dan teman-teman yang lain. Berhubung saya dua sampai tiga hari berada di sini sebelum berangkat ke Bali. Saya berniat mengajak istri pergi. Tidak akan jauh jadi ketika istri dibutuhkan sewaktu-waktu, dia bisa memenuhi panggilan." "Kalau pergi dengan suaminya saya izinkan, tapi tergantung ketuanya bagaimana? Kegiatan off kan hari Minggu. Seharusnya tidak masalah," sahut Pak Kades. Bima mengangguk. "Nggak masalah, Mas. Minggu memang tidak ada kegiatan. Hanya saja terkadang kita mendadak ada kagiatan kemasyarakatan. Jadi misalkan dekat sini nggak masalah. Maksudnya selama Nissa bisa dihubungi jika dibutuhkan." "Saya sewa villa di depan kok, jadi dekat. Kalau jalan-jalan mungkin juga cuma di sekitar sini. Mana, Dik?" bertanya pada Zahira. "Tawangmangu," jawab Zahira lembut. "Iya, cuma di sekitar Tawangmangu. Saya sadar ini kan kegiatannya termasuk dalam perkuliahan jadi bagaimanapun Nissa juga harus tetap terlibat. Jadi tidak akan jauh dan saya pastikan Nissa tetap bisa dihubungi kapanpun." Kali ini aku benar-benar terpana dengan gaya bicara Mas Rama. Dia memikirkan sampai sejauh itu. Bahkan dia juga rela menyambangiku kemari, apakah sebuah kemajuan? "Alhamdulillah kalau diizinkan," ucap Mas Rama begitu ikhlas dalam tersenyum. "Kita juga paham kok walaupun belum nikah, Mas. Pengantin baru langsung dipisahkan jarak, pasti tetap butuh waktu yang lebih lama untuk berdua," timbrung Yashinta sembari menatap langit-langit kamar. Seolah malu-malu dalam mengatakan. "Asal kalau diminta fotbar sama tanda tangan nggak pelit aja, pasti nggak akan kita ganggu waktu berduanya. Soal laporan sama Dosen Pembimbing Lapangan, gampang lah itu." "Nah kalau itu setuju." Bima ikut menyahut dan diiyakan teman yang lain. "Asal mau fotbar sama tanda tangan di jersey, Mas. Eh, syukur-syukur satu posko dapat jersey gratis." Aku langsung melempar tatapan mematikan pada Bima. Seenaknya saja dia minta jersey gratis dari Mas Rama, aku saja yang istrinya tak pernah dapat. Ya memang ada di almariku beberapa jersey latihannya Mas Rama, tapi kan tak bisa kupakai. "Ada dua jersey Barito Putera itu di mobil, rencana buat Febri sama David tapi bisalah nanti pesan lagi. Mereka mah gampang," sahut Mas Rama yang terkesan begitu hangat dengan teman-temanku. Memang hanya dengan aku dia macam kulkas dua pintu. "Aaaa boleh, Mas," teriak Yashinta yang paling dulu. "Ditanda tangan loh ya? Seriusan nggak akan aku ganggu bulan madunya." Kulempar lipatan kertas kecil pada Yashinta. Dengan siapapun dia berbicara, memang ceplas-ceplosnya tidak bisa dikondisikan. Semua orang tertawa karena tingkahku yang kesal pada Yashinta, dia tak pernah berhenti menggodaku tentang bulan madu. Mas Rama juga hanya tertawa saja tak menanggapi apa-apa. **** Sore ini aku dan Mas Rama menuju villa yang kabarnya sudah dia pesan pagi tadi. Zahira? Dia ditahan temanku di posko dengan alasan mengganggu bulan maduku. Padahal akan lebih hangat suasana antara aku dan Mas Rama ketika ada Zahira. Memang terjadi perdebatan tentang Zahira tadi, dia tidak mungkin pulang sebab dia yang menunjukkan jalan pada Mas Rama. Tapi ujung-ujungnya dia lebih memilih tidur bersama Yashinta, itu anak sok polos pada akhirnya, baru kenal sudah langsung dekat dengan Yashinta. Mas Rama menatapku sejenak saat kami membuka gerbang villa kecil, tak jauh dari posko, mungkin 200 meter. Dia belum mengatakan apapun sejak dari posko padaku. "Kamu masuk dulu, aku mau cari bahan masakan," katanya membukakan gerbang untukku. "Biar Nissa aja, Mas. Itu tugas istri, nanti Nissa masakin. Eh, Mas nggak suka masakan Nissa?" Sahutku tanpa berpikir sebelumnya. Memang sudah spontan sejak menjadi seorang istri, nyatanya siap tidak siap menjadi istri nanti juga siap sendiri. "Suka, Niss. Cuma hari ini biar aku yang masak," alibinya langsung masuk ke dalam mobil. Aku menghela napas panjang. "Bilang saja kalau tidak suka masakanku. Pakai alibi biar dia yang masak, huh," gerutuku kesal sekali sambil masuk ke dalam villa. Di dalam villa, suasana begitu tenang dengan kucuran air kecil di dekat kolam renang, taman minimalis yang begitu hijau. Beberapa pintu kaca yang langsung menuju halaman belakang, tidak terlalu besar tapi terkesan bersih dan rapi. Seperti rumah yang selalu aku idam-idamkan. Aku duduk di teras belakang, menikmati gemericik air, menatap bunga hydrangea yang mekar di pojokan taman, rumput Jepang yang rapi, dan kabut yang mulai turun. Semua hal itu membuat mataku terasa berat, ingin rasanya terlelap. Lambat laun bersama dinginnya kabut yang turun, mataku terlelap bak bayi tanpa beban. Benar-benar tenang tanpa gangguan, ini benar-benar waktu istirahat yang nyaman setelah terlalu sibuk dengan program. Entah seberapa lama aku terlelap tapi kurasakan sebuah tangan menyentuh lembut pipiku. Sesekali beralih menyentuh bahuku, berganti juga mengusap kepalaku. "Nissa?" Panggilnya begitu lirih. Kubuka mataku sedikit, nampak seorang laki-laki tengah memanggilku, tepat di 20 cm di depan wajahku. "Astaghfirullah," sebutku kaget dan langsung menjauh. Mas Rama, iya Mas Rama yang ikut kaget juga menjauh beberapa centimeter ke belakang. "Ah, em," dia sedikit kikuk sama sepertiku. "Kamu mandi dulu, bentar lagi magrib." Jantungku melompat-lompat bak tengah melaksanakan senam yang terlalu bersemangat. Kutarik napas lalu kuhembuskan lagi, bersamaan dengan Mas Rama yang meninggalkan aku sendiri. Sementara aku berjalan menuju kamar utama, melewati dapur kulihat Mas Rama tengah sibuk dengan beberapa sayur dan satu panci di hadapannya. Langkahku terhenti dan bagiku ini tak wajar, aku istrinya kenapa jadi dia yang melakukan tugasku. "Mas, biar Nissa aja," tawarku mendekatinya. "Nanti aku jelasin kenapa kaya gini, sekarang kamu mandi dulu, Niss." "Tapi, Mas?" Mas Rama hanya menatapku datar, kemungkinan jika sudah begini keputusannya tidak bisa diubah. Memang menurut Ibu mertuaku, Mas Rama jika sudah punya keputusan A akan melaksanakannya. Sulit diubah jika keyakinannya sudah A tapi bukan berarti dia selalu ingin menang sendiri. Itu sih baru menurut Ibu mertua, jika padaku bagaimana kan aku belum banyak tahu. "Ya sudah, Nissa mandi dulu, Mas." Dia hanya menjawab dengan anggukan dan senyum tipis. Tubuhku mulai terbiasa dengan guyuran air dingin di lereng Lawu. Jika pada hari pertama sempat mati rasa karena kedinginan, sekarang sudah ada kemajuan. Beginilah bisanya di Solo panas, di tempat dingin kaget. Selesai mandi dan sedikit memoles wajahku, kuhampiri Mas Rama yang tengah menyiapkan masakannya di atas meja makan. Baru satu dua sementara yang lain masih di atas kompor yang menyala. "Duduk, Niss," katanya menunjuk kursi ketika aku datang. "Biar Nissa yang nyiap..." Terhenti ketika memoriku mengingat kembali perkataan Ibu mertua kala itu. "Bentar lagi selesai kok," ucapnya mengangkat satu mangkok besar ke hadapanku. Berisi mie kuah dengan beberapa sayap ayam. "Nanti aku ke masjid dulu, makannya habis magrib." Aku mengangguk. Singkat cerita setelah Mas Rama kembali dari masjid, aku pun sudah bersimpuh pada Tuhanku. Kami sudah sama-sama duduk berhadapan di meja makan. Tanpa ba-bi-bu, tanpa perintah juga dari Kak Fatim seperti sebelumya, aku langsung mengambilkan nasi untuk Mas Rama. "Seadanya ya, Niss," katanya saat aku mengambilkan mie kuah untuknya. "Malah Nissa yang malu, masa makan malam suami yang nyiapin." Mas Rama hanya tersenyum. "Maaf kalau masakan Nissa nggak enak," ujarku yang sejujurnya sejak tadi merasa tersinggung. "Enak kok, Niss. Nggak bohong, kalau nggak enak udah bilang dari pas pertama makan masakan kamu." Aku terdiam saja sampai makan malam usai. Toh Mas Rama juga diam saja tak mengajakku bicara. Baru setelah selesai mencuci piring, berdua. Iya berdua, jujur aku sedikit tersentuh karena kami mencuci piring berdua, menurutku itu hal yang romantis. Rasanya seperti menemukan bahagianya dalam pernikahan. Baiklah, back to the topic. Mas Rama mengajakku duduk di depan televisi, menonton laga antara Bali United vs PSMS Medan. "Oke, Nissa. Sambil menikmati klub favoritmu, aku mau bicara," kata Mas Rama memecah keheningan. Aku langsung menoleh ke arah Mas Rama. "Kok Mas tahu soal klub favorit Nissa?" "Semua hal tentang kamu aku tahu, Niss." Sekarang justru aku yang merasa bersalah jika ucapan Mas Rama benar. Aku justru tak banyak tahu tentang Mas Rama tapi dia banyak tahu tentangku. "Sedikit mengagetkan memang tentang perjodohan ini. Terutama buat kamu yang masih kuliah, masih suka main, tapi tidak ada yang mengagetkan buat aku. Aku tahu ini pasti akan terjadi, Kakek sudah berulang kali memberi kode sebelum beliau meninggal. Hanya tak menyangka aku dijodohkan dengan perempuan sesempurna kamu." Kuangkat kedua alisku. "Manusia tidak ada yang sempurna." "Aku tahu, maksudnya sempurna diantara manusia-manusia yang lain. Jangan bandingkan dengan Tuhan, jelas Dia tidak bisa disamakan dengan kita." Aku terdiam, Mas Rama juga terdiam beberapa saat. "Intinya aku bersyukur atas itu. Kamu pasti kesal dengan sikap dinginku kan?" Kupandang wajahnya sebagai jawaban iya. "Aku tahu, Niss. Awalnya agak canggung kalau langsung menunjukkan perhatian sama kamu. Nanti jadinya malah kamu nggak nyaman, tapi jujur tadi pagi kena ceramah Ayah. Banyak dan sekarang waktunya jujur." "Maksudnya?" "Kalau untuk mencintai, aku tidak tahu, Niss, tapi aku akan mencintaimu, sedikit-sedikit rasanya sudah mulai timbul. Jadi apapun nanti, bagaimanapun perasaan ini, aku cuma ingin menjalani selayaknya pasangan yang menikah karena cinta. Aku hanya menikah dengan kamu dan itu cukup, jika menunggu kita saling jatuh cinta untuk saling memberi perhatian pasti buang-buang waktu. Dan itu kesalahan pertamaku, jadi bisa kita mulai sekarang?" Aku menelan ludahku. "Intinya gitu. Ah, satu lagi, kalau minta uang saku sama uang bayar kuliah, pokoknya semua keperluan kamu mintanya sama aku ya? Jangan ke Ayah, kamu sudah jadi tanggung jawabku. Walaupun Ayah bilang mau menyelesaikan tugasnya membiayai kamu, untuk melegakan hatinya kamu simpan saja uangnya. Jangan sungkan minta uang sama aku ya?" Mengangguk saja. Yakin kali ini aku tidak bisa berkata-kata, bukan masalah tersentuh, ucapan Mas Rama tak banyak yang manis. Cuma merasa lega saja, seperti ada dinding pembatas yang runtuh. Suasana kembali hening, hanya suara komentator dengan jargon jebretnya kala Bali United mampu membobol gawang PSMS Medan. Aku yang biasanya berteriak juga jaga image di depan suami. Sudah tampil sekalem ini rasanya tak mungkin berteriak lepas. "Kenapa suka Bali United, Niss?" "Karena klubnya terlihat modern, no drama-drama, dan ada Miftahul Ham..." Terhenti karena kutahu itu kesalahan fatal. "Hamdi," lanjut Mas Rama dengan wajah datarnya. "Ganteng sih, manis, kalem." "Nggak maksudnya..." Mas Rama beranjak naik dan langsung keluar rumah. Dia mungkin mau ke Masjid sebab Azan Isya telah berkumandang. Sepertinya aku salah berbicara tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN