Cukup gelisah menunggu Mas Rama kembali dari masjid, sebab jam sudah menunjukkan pukul 20.12 WIB tapi Mas Rama belum juga kembali. Bukan apa-apa, takutnya dia tersesat. Mau dihubungi ponselnya tertinggal di rumah. Ah, membuatku mondar-mandir di depan pintu saja.
Lelah menunggu di depan pintu, aku masuk ke dalam villa dan kembali duduk di sofa. Di samping ponsel Mas Rama yang kebetulan baru saja bergetar panjang. Kulihat dalam bar notifikasi 2 panggilan tak terjawab dari mantan pacarnya. Semua orang pasti tahu mantan pacar yang mana yang kumaksud.
Kudiamkan saja sampai layarnya kembali redup tapi sedetik kemudian kembali menyala menampilkan pesan yang isinya "Apa Kabar, Rama?".
Jujur sedikit ada rasa sebal melihat pesan itu, sampai akhirnya entah setan mana membisikkan padaku agar membuka pesan itu. Kuturuti bisikannya, untung saja ponselnya tak dikunci.
Bibirku tersenyum kecil saat aku lihat wallpaper di ponsel Mas Rama adalah fotoku ketika di De Tjolomadoe. Foto candid yang tak bisa kutebak saat moment apa Mas Rama mengambilnya. Semakin merasa bersalah saja aku ini, istri sahnya tapi tak satupun foto Mas Rama di ponselku.
Kuurungkan niat membalas pesan dari mantan pacarnya. Jemariku justru beralih pada galeri yang sekalinya aku buka langsung nampak satu folder yang mampu merekahkan senyumku. Folder bertuliskan "Beloved" menyimpan semua fotoku dan foto pernikahan kami.
Saking bahagianya, aku sampai terlelap lagi untuk kesekian kalinya. Ini rahasia, jangan bilang pada yang lain ya? Aku cukup pelor, nempel langsung molor. Jadi memang akan lebih baik jika aku banyak kegiatan.
****
Side Story...
Rama baru saja datang pukul 20.56 WIB dengan langkah cepat dan wajah merasa bersalah. Tadi ada pengajian di masjid dan dia tidak bisa meninggalkan. Saat selesai, dia justru diminta berfoto oleh beberapa warga yang tak enak hati dia tolak.
Ketika sampai di villa, dia lihat istrinya tengah tertidur dengan satu tangan memegang ponselnya. Dia tersenyum heran, istrinya ini benar-benar suka tidur di sembarang tempat, seperti cerita dari Ayah mertuanya.
Dia tak berniat membangunkan Nissa, jadi langsung dia pindahkan saja istrinya ke dalam kamar dengan sangat hati-hati. Takut membangunkan Nissa yang terus saja tidur layaknya bayi.
Tangan Rama dengan ragu-ragu, iya tidak, iya tidak hendak melepas kerudung Nissa. Jika dia lepas kemungkinan Nissa merasa tak nyaman, sebab dia belum sekalipun melihat Nissa tanpa mahkotanya. 2 hari tidur bersama Nissa setelah pernikahan, istrinya itu tidak pernah melapas kerudung. Sementara jika tidak dilepas, Nissa tidak akan tidur bebas, lagipula kepalanya juga butuh angin segar.
"Engghh," lenguh Nissa menggerakkan tubuhnya tanpa membuka mata membuat Rama terhibur dengan pemandangan itu.
Pada akhirnya sebab dia dikuasai bahagia, Rama melepas kerudung Nissa. Dipandangnya lekat, rambut hitam lurus yang masih terkuncir, wajah yang nampak lebih bulat ketika berkerudung, t**i lalat kecil di bagian pelipis kanan Nissa yang baru dia lihat. Semuanya membuat Rama terpana sejenak.
Nissa meringkuk satu menit kemudian, mungkin karena hawa dingin yang semakin dingin. Itupun membuat Rama tergerak menarik selimut untuk istrinya. Sekali lagi dipandanginya Nissa begitu lekat, dia terlihat begitu damai dalam tidurnya.
Kening yang kosong itu seolah menggoda imannya. Untuk itu wajahnya mendekat, semakin dekat, lambat laun matanya menutup.
"Ahhh, ngapain aku!" batinnya langsung pergi begitu saja ketika bibirnya belum sempat menyentuh kening Nissa.
Dia beralih menuju depan televisi, tempat di mana ponselnya dan ponsel Nissa masih tergeletak berdampingan. Dalam bayangnya masih ada wajah Nissa yang mendamaikan itu, sesekali dia tersenyum lantas menghilangkan senyum itu.
"Astaghfirullah," keluhnya lagi langsung mengambil ponsel Nissa. Dia memang penasaran dengan isinya dan baginya tidak akan masalah melihat isi ponsel istri sendiri daripada melihat isi ponsel istri tetangga.
Pikirnya ponsel itu akan penuh dengan kata sandi, tapi kenyataannya tak ada satupun aplikasi yang bahkan menggunakan kata sandi untuk membukanya. Yang pertama dia tuju adalah w******p, di mana semua masalah sebenarnya bisa timbul dari w******p, mulai dari kecurigaan hingga fitnah yang berlebihan.
Tunggu, tangan Rama berhenti dan langsung menekan tombol utama. Dia baru ingat dan tersadar bahwa wallpaper dalam ponsel Nissa adalah foto beberapa laki-laki. Dan bahkan diantara semua laki-laki itu tidak ada dirinya.
"Hamdi, Febri, David, Valdo, hahaha," gumamnya dengan tawa kaku seolah dia marah. "Ini ponsel istrinya Rama Anan apa ponsel mafia pemain sepak bola?" Keluhnya menatap pintu kamar itu dengan cukup marah.
Tanpa ba-bi-bu, Rama langsung mengganti wallpaper yang ada. Dikirimnya semua foto dirinya yang ada di ponsel sebelah kiri, ponselnya sendiri. Banyak sekali sampai foto pernikahan juga. Dia langsung memilih satu foto terbaiknya dan menjadikannya wallpaper di ponsel Nissa. Tak hanya pada menu utama, wallpaper itu juga berlaku di layar kunci, berlaku juga di wallpaper w******p. Bahkan foto profil w******p Nissa berganti dengan foto pernikahan mereka. Status w******p Nissa pun berganti menjadi Rama Anan Pranata.
Selesai mengubah semua hal dalam ponsel Nissa, dilemparkannya ponsel itu dengan marah, tapi tenang masih di atas sofa panjang. Lantas dia membuka WhatsAppnya sendiri. Amarahnya sedikit luluh sebab mantan yang hendak dia nikahi sebelumnya memberi pesan "Apa Kabar, Rama?".
Rama kembali melihat ke arah kamar, kali ini bukan kemarahan. Dia berpikir kemungkinan besar Nissa sudah membaca pesannya dan kemungkinan besar Nissa tahu pesan itu dari mantannya. Pertama karena Nissa tadi bermain ponsel Rama meski galeri yang terbuka. Kedua karena hubungannya yang dulu menjadi konsumsi publik.
Dia menghela napas panjangnya. Entah Nissa akan cemburu atau tidak, tapi jika dia balas akan menjadi kesalahan bagi seorang suami. Jadi dia biarkan saja meski ada sedikit sesal dia tak dapat membalas pesan sang mantan.
****
Pagi hari mungkin ketika muadzin tengah berjalan menuju masjid, mataku sedikit terbuka. Langsung kutengok samping tak ada Mas Rama. Lagi-lagi aku terlambat bangun sebagai seorang istri. Pasti Mas Rama tengah berpikir aku tak becus mengurusnya, belum lagi aku tak membukakan pintu untuknya tadi malam.
Kuangkat tubuhku dalam posisi duduk, mengumpulkan nyawa sejenak dan baru tersadar ketika kaca rias di depanku menampakkan kepalanya tanpa mahkotanya.
"Astaghfirullah," teriakku sudah terlalu berlebihan bila didengar orang.
Mulutku sempat menganga beberapa detik lantas kucari hijabku yang ternyata berada di gantungan di balik pintu.
"Kenapa, Niss?" tanya Mas Rama membuka pintu tepat saat aku hendak beranjak naik dari tempat tidur.
"Ehhh, Mas." Aku kaget dan refleks menutup kepalaku dengan selimut.
Mas Rama masih mengenakan selimutnya menutupi badan, Tawangmangu memang sedang dingin luar biasa. Dia tertawa kecil lantas menggeleng kecil juga.
"Ya kenapa sih, Niss? Nggak akan dapat dosa kalau aku yang lihat. Aku yang melepas kerudungmu semalam," katanya dengan santai.
Jantungku berdebar kencang, jadi dia juga yang memindahkan aku. Kupikir juga begitu, masalahnya tak mungkin aku berjalan sambil tidur menuju kamar.
"Mau sampai kapan tidur sama suami pakai kerudung, Niss. Sudahlah, aku mau tidur lagi 5 menit aja, nanti azan subuh bangunin ya?"
Sedikit merasa bersalah pada Mas Rama. Memang salah tidur dengan suami seperti tidur dengan laki-laki lain. Kerudung dan pakaian panjang tetap saja melekat.
"Mas tidur di mana kok keluar?" tanyaku saat Mas Rama hendak melangkah pergi.
"Di sofa," jawabnya menghentikan langkah.
"Jadi dari semalam Mas tidur di luar?"
Mengangguk.
"Kenapa?"
"Kalau di dalam kamu merasa nggak nyaman. Tidurmu nggak leluasa."
Sekali lagi aku merasa bersalah atas semua sikapku yang terlalu membatasi. Padahal tidak akan dosa juga aku berlaku seperti istri pada umumnya.
"Maaf, Mas. Lanjut tidur di sini saja, di luar lebih dingin, Mas."
"Kamu mau nemenin?"
"Ha?" Kaget bukan main sampai jantungku ingin lompat jauh rasanya.
Mas Rama melangkah lebih dulu mendekatiku yang masih di tepi ranjang. "Sudah, ayo," tariknya membuatku jatuh ke dalam pelukannya.
Kini kepalaku tepat di lengan kirinya, kakiku masih di tepi ranjang dan Mas Rama mulai menarik selimut hingga menutupi tubuh kami.
"Benarkan posisimu, Niss. Aku tidak akan memperkosa kamu," ucapnya membuatku sendikit menjauh tapi tangan kirinya menahanku.
Dia tertawa singkat.
"Dasar anak kecil, ngomongin soal memperkosa aja kaget. Toh kata itu ada juga di kamus bahasa Indonesia yang tidak harus dibaca oleh usia 18 plus," serunya tertawa lagi. Benar, tapi sedikit membuatku kaget saja maksudnya aku tak pernah mendengar kalimat Mas Rama yang tadi. Intinya ya kaget saja lah.
5 menit kemudian Mas Rama tanpa suara, dia terlihat menutup matanya dengan tenang. Tangannya juga erat mendekapku sementara tanganku sendiri menyilang di atas d**a.
"Jantungmu terlalu berisik, Niss," ucapnya yang mungkin merasakan detak itu dari tangan kanannya.
Aku sedikit menggeser tangan kanan Mas Rama ke bawah.
"Hari ini cukup begini saja, jangan beranjak," bisiknya di telinga kiriku.
Apa Mas Rama sudah gila?
"Kita harus salat subuh dulu, Nissa juga harus nyiapin sarapan, Mas," kataku ingin segera terbebas dari kondisi ini.
Kemarin Mas Rama masih sangat dingin kenapa pagi ini dia berubah banyak?
"Habis ini salat subuh, tidur lagi aja. Soal sarapan masih ada roti tawar yang aku beli kemarin."
"Tapi, Mas..."
"Kalau nolak permintaan suami yang tidak melanggar aturan agama dosa nggak sih, Niss?"
Baiklah kali ini tidak akan ada bantahan dariku. Selama nanti tak meninggalkan salat subuh. Jadi aku harus tetap terjaga agar yang wajib tidak terlewat.
Azan subuh berkumandang 5 menit kemudian. Kubangunkan Mas Rama dan terpaksa dia berjamaah di villa denganku. Hujan deras dan kami tak punya payung, jadi Mas Rama memilih menjadi imam salatku. Usai salat, kujabat tangannya dan kucium punggung telapak tangannya. Saat itu juga dia bilang, "Tahu nggak, Niss. Rasanya sudah punya istri ternyata mendamaikan meski ponselmu itu terlalu jahat."
"Ponsel?" tanyaku.
Mas Rama tak menjawabnya.
"Sejujurnya rencana awal aku ikut tim kembali ke Banjarmasin sebelum lusa berangkat ke Bali. Tapi tidak menemuimu seperti ada yang kurang. Aku belum merasa jatuh cinta tapi selalu ada yang kurang tanpa kamu."
Jujur, cukup menohok ketika dia bilang belum jatuh cinta padahal aku merasa juga belum jatuh cinta pada Mas Rama.
"Dan aku tak ingin membatasi lagi. Kemarin aku selalu bertanya tentangmu melalui Ayah, apa sekarang boleh aku tahu semua tentangmu langsung dari kamu sendiri?"
Aku menelan ludahku lantas mengangguk.
Dia tersenyum singkat.
Selesai semuanya saat aku hendak menuju dapur, menyiapkan sarapan untuk Mas Rama. Dia justru menarikku lagi ke dalam kamar.
"Sudah kubilang tidur lagi saja, Niss."
Dia kembali mendekapku dan terlelap sambil memelukku. Aku pun yang berusaha menahannya tapi tidak bisa, sebab akhirnya aku ikut terlelap di dalam peluknya.
****
Jam dinding di kamar villa ini sudah menunjukkan pukul 09.47 WIB saat mataku terbuka dalam pelukan Mas Rama. Sementara Mas Rama masih dalam lelapnya yang begitu damai. Mau sampai jam berapa tidur di villa padahal rencananya mau jalan-jalan? Maksudku rencana yang disampaikan di rumah Pak Kades. Kenyataannya kami masih berbaring di atas ranjang.
"Mas, mau jam sepuluh. Sudah ya tidurnya? Mas belum sarapan."
"Hemmm?" Hanya itu yang keluar dari mulut Mas Rama.
Aku langsung bangkit dan menepuk bahu Mas Rama dua kali. Sambil mendekatkan wajahku dengannya. Maksudku aku sedikit menunduk.
Mata Mas Rama tiba-tiba terbuka, bibirnya tersenyum manis padaku. "Di Bali nggak akan ada bidadari yang menyambut pagiku, hanya Febri dengan t**i lalatnya itu."
Sungguh pipiku langsung terasa panas, dengan tatapan Mas Rama yang cukup intens berikut dengan ucapannya yang cukup manis di pagi hari. Dia juga tersenyum serta mengusap bahuku.
"Pipi kamu merah," ucapnya sambil terbangun dari tempatnya.
"Ah," aku langsung berdiri dan pergi begitu saja. Entah apa yang dilakukan Mas Rama setelahnya terserah, yang pasti aku harus menyiapkan sarapan meski sudah sangat-sangat terlambat. Itupun hanya ada roti tawar dan selai kacang.
Tidak akan lama menyiapkan semuanya, yang bikin lama ya bersih-bersih dapurnya. Aku tak suka dapur yang terlalu kotor meskipun hanya ada beberapa bekas noda yang tidak bersih sempurna. Mas Rama? Kudengar dia tengah mandi dengan suara air gemericik dari kamar mandi itu.
Setelah selesai aku baru ingat tentang ponselku, di mana dia berada, terakhir kali di meja ruang tamu. Aku yakin betul di sana, setidaknya aku menaruh di atas meja sebelum tidur. Tapi sepertinya berpindah tempat, saat kulihat ponsel itu tergeletak di atas sofa sebelah kanan meja tamu. Aku yang salah mengingat atau memang dia bisa berjalan sendiri? Baiklah tidak penting.
Kubuka kunci layarnya dan langsung terkejut saat melihat wallpaper ponselku berganti dengan foto Mas Rama menggunakan jas hitam. Bukan saat kami menikah, tapi saat semua pemain timnas memang diminta memakai jas hitam. Kalian tentu ingat ketika menjelang sea games tahun kemarin.
Aku tidak merasa mengganti wallpaper bahkan aku jujur tidak ada satupun foto suamiku di sini, sama sekali tapi ponselku tiba-tiba penuh dengan foto Mas Rama.
"Aku yang ganti, itu ponsel istrinya Rama Anan apa ponsel mafia pemain sepak bola?" Ujar Mas Rama baru saja keluar dengan setelan kemeja lengan pendek dan celana jeans panjangnya.
"Maaf, Mas."
Merasa bersalah sekali aku kali ini. Sebagai seorang istri, bukankah tidak diperbolehkan menyimpan foto laki-laki lain di ponsel mereka? Setidaknya tidak pantas lah seorang istri melakukan itu. Tapi aku justru memasang foto rekan satu timnasnya sebagai wallpaper. Tunggu, tak hanya satu malah, seingatku beberapa foto pemain sengaja aku edit sebagai wallpaper di ponselku.
"Jangan lagi ya, Niss. Sekarang pandangin aja itu fotoku sepuasnya." Mas Rama langsung menuju ke meja makan.
Apa yang dikatakan Mas Rama barusan? Sebenarnya apa yang dia bicarakan juga dengan Ayah sebelum menyusulku kemari sampai dia bisa berubah semacam itu? Apakah Ayah mengancamnya jika tidak bisa jadi laki-laki yang baik? Tapi Ayah tidak mungkin begitu, bukan tipikalnya ancam mengancam.
"Sesekali upload foto kita berdua di media sosial, Niss. Banyak yang tanya kenapa kamu nggak pernah mau upload foto kita. Apa karena kita dijodohkan jadi rumah tangganya tidak karuan, orang-orang biasa berpikir begitu."
"Pencitraan?" Mulutku ini langsung nyeplos begitu saja. Jujur niatnya aku tahan di dalam hati, tapi justru berbunyi.
Mas Rama terdiam tapi diamnya semakin membuatku ingin mengatakan banyak hal.
"Rumah tangga kita memang tidak karuan kok, Mas. Mau dikata apa nantinya orang juga tahu."
"Biar masalah kita, kita aja yang tahu, Niss. Orang lain nggak perlu."
Menghela napas panjangku. Memang harusnya begitu tapi salah juga menipu publik.
"Ya sudah kalau tidak mau ndak masalah kok, Niss. Nanti kalau memang kamu mau upload saja. Aku nggak maksa." Dia melangkah dua langkah lalu berhenti. Kalimatnya yang terakhir semakin membuat rumah tanggaku terkesan penuh kecanggungan. "Mandi dulu, habis itu kita makan. Aku tunggu."
Masih dengan sikap canggung aku mengangguk dan langsung bergegas ke kamar mandi. Kalian tahu, kamar mandi adalah tempat terbaik untuk merenung jadi mandiku kali ini akan lebih lama. Sebenarnya hanya berpikir tentang kelanjutan rumah tanggaku ini.
Sejak menjadi istri Mas Rama, meski dengan sedikit paksaan dalam tanda kutip. Aku tidak pernah mau kehilangan ridho dari suamiku, secuil pun tidak ingin aku lewatkan, meski aku selalu berpikir untuk tidak peduli. Hanya saja ini menyangkut akhiratku nanti, bagaimanapun harus aku perjuangkan. Allah SWT pasti punya rencana indahnya di balik semua ini. Bagaimanapun aku harus bertahan.
"Niss?" panggil Mas Rama tepat dengan dia membuka kenop pintu kamar mandi. Ini jujur meskipun villanya terlihat bagus dari segala sisi, memang kekurangannya hanya satu, pintu kamar mandi tidak bisa dikunci.
"Astaghfirullah, Mas!" Teriakku masih di dalam kamar mandi dan baru saja memakai handuk. Langsung saja aku tutup tubuhku dengan handuk. Menampakkan bahuku ke atas dan pahaku ke bawah. Sementara pintu kamar mandi langsung aku dorong sehingga menutup lagi.
"Aduh maaf, Niss. Kebiasaan satu kamar sama cowok, jadi asal buka pintu kamar mandi," ucapnya entah dalam posisi apa sekarang. Hal itu terjadi begitu cepat.
Jantungku berdegup kencang antara takut dan canggung. Baru kali ini memang laki-laki melihatku semacam ini. Ingin sekali aku marah pada Mas Rama.
"Tapi, Niss. Tak akan dosa kalau aku lihat."
Kuangkat kepalaku yang tadi langsung menunduk sambil memegangi dadaku yang berdetak kencang. Iya aku tahu tidak akan dosa tapi aku tidak terbiasa. Kalian pasti akan marah jika ada laki-laki seenaknya saja membuka pintu kamar mandi sementara kuncinya tidak berfungsi. Aku juga begitu, ingin marah tapi dia saumiku, kenapa marah padahal sah? Aku rasa aku berada di posisi yang serba salah.
Aku masih terdiam di dalam kamar mandi. Masih berdegup kencang dan tidak tahu harus bersikap bagaimana.
"Niss, kamu marah sama aku?"
Masih diam saja.
"Niss?"
"Mas mau ngapain?" Tanyaku tidak ingin menanggapi soal aku marah atau tidak. Aku ingin tapi aku tidak bisa.
"Nggak, cuma mau ngasih baju biar satu warna lagi."
Mataku terpejam sebentar. Cuma mau ngasih baju sampai harus buka pintu kamar mandi kah? Astaghfirullah, sungguh aku ingin sekali marah padanya.
"Maaf, Niss. Nggak bermaksud bikin kamu kaget. Kebiasaan asal buka pintu kamar mandi di mess, apalagi pas TC Timnas."
Dia dengan nada memelas merasa bersalah, jadi semakin serba salah.
"Mas taruh aja di situ."
"Iya, Niss. Maaf," ucapnya lagi tanpa jawaban dariku.
Setelah kupastikan Mas Rama jauh dari kamar apalagi kamar mandi. Aku baru keluar dengan handuk seadanya. Kukunci pintu kamar rapat-rapat agar dia tak masuk seenaknya lagi, benar-benar tak siap aku.
Usai berganti pakaian, dengan gamis maroon sesuai dengan tubuhku. Aku sempat tersenyum di depan cermin. Dia tahu bagaimana pakaian yang cocok untukku. Bukan yang kecil tapi selalu gamis yang menutup aurat dengan rapat. Sayangnya mengingat kejadian tadi masih membuatku kesal.
Keluar dari kamar pun dengan wajah yang masih merasa kesal. Masih terbayang bagaimana Mas Rama membuka pintu kamar mandi tanpa izin terlebih dahulu. Tapi bagaimanapun aku tidak bisa menunjukkan wajah kesalku terlalu kentara.
Mas Rama juga diam saja saat kami duduk berdua saling berhadapan, bahkan saat kami sama-sama menghabiskan roti tawar selai kacang ini. Semakin kesal aku jadinya, belum ada raut merasa bersalah yang jelas dari Mas Rama. Dia masih datar saja meskipun sesekali melihat ke arahku. Baginya mungkin biasa saja tapi kan bagiku tak biasa? Bahkan Ayah tidak pernah selancang itu membuka pintu kamar mandi siapapun di rumah.
Setelah sarapan dia juga memilih keluar begitu saja, memanasi mobil di garasi villa. Entahlah Mas Rama akan mengajakku ke mana atau bahkan Mas Rama akan pergi sendiri. Dia tidak mengatakan apapun jadi aku hanya duduk di depan televisi sambil memainkan ponselku.