Part 11

2983 Kata
"Enggghh..." Merenggangkan tubuhku begitu nyaman. Malam ini benar-benar tidur yang paling nyaman bagiku, sangat nyaman sekali. Mataku terbuka perlahan, yang kulihat hanyalah kaki ditekuk. Semakin kubuka lebar dan ternyata Mas Rama tengah terduduk dengan mata layu dan kedua tangan menopang kepalanya. "Mas, sudah bangun?" Aku langsung terkesiap. Sudah berulang kali Ibu bilang agar aku bangun lebih dulu sebelum suami terbangun.  Aku juga sudah bertekad menjadi istri yang baik meski belum jatuh cinta dengan Mas Rama. Tapi kenapa sulit sekali melakukan itu pada Mas Rama. Dia selalu bangun lebih dulu daripada aku. Mas Rama memandangku begitu kesal tapi dia menyembunyikannya dengan senyum tipis yang kaku. Mata bagian bawahnya terlihat lelah sekali, semacam orang tidak tidur semalaman. "Kamu tidur seperti Febri Aldi yang lagi lari bawa bola," katanya dengan wajah yang benar-benar kesal. "Hah?" "Sudah berapa kali aku tidur denganmu, Niss? Kamu tidur lelap sekali sampai tidak sadar mana kepala suamimu mana samsak tinju, mana p****t suamimu mana bola sepak." Sungguh aku seperti apa yang dikatakan Mas Rama? Tapi belum pernah ada track record tidurku bagaikan kuda, apalagi seperti Febri Aldi yang menggocek bola. Febri Aldi, kalian tahu pemain bola yang tengah menjadi perbincangan karena larinya yang cepat, skill individu yang ciamik, meski terkadang umpannya tidak sebaik Rizaldi? Intinya dia itu pemain Timnas yang sering kali merepotkan pertahanan lawan, kalau kata orang-orang sih pemain yang lincah. Sekarang jika Mas Rama membandingkan tidurku dengan kelincahan Febri? Apakah wajar? Bukankah kalian berpikir berarti aku tidur dengan gerakan brutal? Serius, bahkan Yashinta mengatakan bahwa aku tidur begitu tenang. Zahira yang sering tidur denganku sebelum aku menikah juga tidak pernah mengatakan itu. Kenapa Mas Rama bilang gitu? Dan kenapa baru dibahas hari ini padahal dia sudah beberapa hari tidur denganku. Waktu malam pertama itu, maksudnya bukan malam pertama dalam konotasi yang itu, maksudnya malam pertama aku menjadi istri Mas Rama. Astaghfirullah, pikiranku jadi ke mana-mana. "Serius?" "Apa ada raut wajah berbohong dariku, Niss?" Menunjuk wajahnya sendiri. "Terus Mas nggak tidur karena Nissa banyak gerak? Tapi Nissa..." Sejujurnya aku ingin memberikan pembelaan bahwa aku tidak punya catatan memalukan semacam itu. Bukan untuk menutupi atau membuat alibi tapi memang begitu. Sayangnya setelah aku pikirkan lagi, lebih baik tidak mendebat suami di pagi hari semacam ini. Toh, aku juga tidak akan tahu apa yang aku lakukan ketika tidur, mungkin saja gaya tidurku sudah berubah. "Maaf, Mas. Kalau gitu habis salat Mas tidur lagi aja, nanti kalau sarapannya sudah matang bisa Nissa bangunin. Pokoknya untuk Mas hari ini silahkan tidur secukupnya. Sekali lagi Nissa minta maaf," sambil menunduk dengan rasa bersalah padahal masih tidak percaya juga aku melakukan itu. Mas Rama memandangku sekilas dengan wajah datarnya. Aku yakin sekali dia menyimpan sejuta kekesalannya padaku. Matanya menghitam, dia pasti butuh tidur yang lama. "Maaf, Mas," ucapku lagi sambil menunduk. Suami dinginku yang mulai luluh itu justru meninggalkan tempatnya tanpa membalas perkataanku. Dia berlalu keluar kamar dengan wajah yang tak bisa tersenyum sama sekali. Kurasa, gelar kulkas dua pintu itu kembali tersemat pada Mas Rama. Kemarin seolah sudah mencair tapi agaknya beku kembali karena kesalahanku. Sejujurnya tidak ada masalah dia mau dingin atau tidak, hanya masalahnya aku harus bersikap sebagai istri yang baik guna mencari ridho suami dan ridho Allah SWT. Meski begitu, tetap saja namanya perlakuan baik harus mendapat balasan atau setidaknya respon yang baik. Itu yang membuatku bingung sendiri, kesal, gemas ketika Mas Rama bersikap dingin. Aku menghela napas untuk masalah yang satu ini dan itu cukup panjang. Kopi yang tadinya mulai manis kembali pahit. Rama POV Mataku rasanya pedas sekali, kelopaknya juga terasa berat. Semalam aku tidak bisa memejamkan mataku meski hanya satu menit saja. Benar-benar terjaga dengan semua kondisi yang membuatku gila. Bagaimana Nissa bisa senyaman itu semalam, bahkan dia tidak begitu terjaga, tidurnya benar-benar pulas. Ini jujur bukan karena Nissa tidur dengan gerakan menendang apalagi memukul. Nissa tidur dengan sangat anggun dan tenang. Hanya ada beberapa hal yang membuatku tak tenang dan terjaga sepanjang malam. Yang pertama, aku tidak pernah mau melewatkan damainya wajah Nissa dan itu tidak kuketahui kenapa bisa begitu. Yang kedua, Nissa merapatkan tubuhnya benar-benar menempel pada tubuhku. Yang ketiga, dia bahkan dalam beberapa kesempatan memelukku. Aku tahu, aku tahu itu bukan sebuah perbuatan yang memiliki balasan berupa dosa. Kami sudah halal melakukan sentuhan apapun, bahkan aku sudah melihat sekilas Nissa hanya mengenakan handuknya. Hanya satu masalahnya, mengapa ketika dia berada di dekatku terlebih memelukku ada sesuatu yang bergejolak? Benar, aku terjaga sepanjang malam hanya karena jantungku bekerja terlalu keras, terlebih ketika Nissa di bawah alam sadarnya memelukku. Aku tahu juga itu hanya respon dari dinginnya Tawangmangu. Aneh saja bagiku, aneh rasanya. Kemarin aku biasa saja memeluk Nissa dan terlelap, memang merasa lebih damai saja. Eh ternyata berbeda ketika Nissa yang memelukku, rasanya darahku membeku, jantungku berpacu, mataku terjaga. Baru semalam memang Nissa memelukku lebih dulu, meski tanpa kesadaran tapi benar-benar membuatku mengerti apa itu senam jantung yang sesungguhnya. Bukan saat melawan Thailand dalam laga final, tapi dipeluk Nissa terlebih dahulu. Jatuh cinta? Apakah aku sudah mulai jatuh cinta? Aku tidak yakin dengan itu, aku hanya terbiasa dengan adanya status Nissa dalam hidupku. Yang awalnya hanya aku menjadi sudah ada istri, itu saja. Parahnya, jujur, sesekali aku masih memikirkan mantanku yang pramugari itu. Tapi tenang, aku selalu menolak pikiran itu semampuku, aku selalu menghilangkan rasa itu sedikit demi sedikit. Kenapa? Jelas karena aku sudah beristri dan harus mulai mencintai Nissa bagaimanapun kondisinya, termasuk soal dia semacam perempuan polos yang masih kuliah. "Mas, marah sama Nissa?" tanyanya dengan wajah bersih dan merasa bersalah. Terkadang aku malu, Nissa selalu merasa bersalah untuk hal kecil yang dia sendiri tidak sengaja. Dia bangun terlambat saja meminta maaf. Aku sendiri, sempat bersikap dingin tapi tak banyak kata maaf yang aku ucap, atau bahkan aku belum pernah mengucapkan kata maaf? Padahal bukan aku bermaksud bersikap dingin padanya, hanya masih canggung. Tentu semua orang tahu bahwa perjodohan akan membuat salah satu atau dua-duanya canggung dalam beberapa kesempatan. Aku sedang melawannya jadi mohon tunggu sejenak. "Nggak," hanya itu yang mampu kuucap. Benar, pasti masih ingat kenapa aku berbohong pada Nissa soal tidurnya yang seperti Febri Hariyadi lagi bawa bola? Karena aku tidak tahu harus membuat alasan apalagi untuk menutupi bahwa aku tidak bisa tidur karena pelukannya. Terlebih, jika aku katakan yang sejujurnya, Nissa pasti berubah canggung dan akan menjaga jarak lagi denganku. "Habis ini Mas tidur aja, Nissa nggak akan ganggu kecuali makan, mandi dan salat," katanya. Luluhku tak hanya soal nasehat Ayah mertua juga karena buku dari Zulfiandi tapi hal terbesar yang membuatku sedikit demi sedikit luluh adalah sikap baik Nissa padaku. Aku tahu dia sempat ingin berontak mengenai perjodohan ini, dia juga yang paling tidak siap diantara kami berdua, intinya dia yang paling tidak menginginkan perjanjian dua sahabat ini. Tapi dia yang paling sempurna melaksanakan tugasnya, tugas sebagai istri. Dia penuh perhatian, dia selalu bersikap lembut, dia sabar, intinya dia melaksanakan tugasnya dengan baik. "Kamu ngajar jam berapa?" tanyaku pada Nissa yang memang hari ini hari Senin, seharusnya dia mengajar di sekolah. Iya, aku tahu jadwal Nissa dari salah satu teman Nissa waktu pertama kali datang ke rumah Pak Kades. "Astaghfirullah, ini hari Senin, Nissa lupa ada kelas inspirasi," sebutnya dengan panik langsung melangkah ke dapur. Senyumku menyimpul menyaksikan Nissa yang panik dengan pekerjaannya. "Biar aku saja yang masak habis ini, kamu persiapan aja." Nissa menghentikan tanganku yang sudah menyentuh beras untuk dimasak, kami beli beras kemarin. "Mas pasti capek, ini tugas Nissa jadi biar Nissa yang kerjain. Mas beres-beres salat terus tidur." Bergegas mengambil air wudhu, aku tak mau menanggapi ucapan Nissa maksudnya. Aku hanya tidak mau membuang waktu untuk berdebat dengan Nissa. Akan lebih baik jika aku mengambil air wudhu, salat dan langsung membantunya. Dia boleh bersikap sebagai istri yang baik, tanggung jawab, sabar, tapi aku juga tidak mau kalah jadi suami yang baik. Nafkah pada istri tak hanya soal materi kan? Apa yang bisa membahagiakan, membantu mengurangi bebannya juga bisa termasuk nafkah. Ini hanya pikiran rasionalku saja. **** Mas Rama itu orang paling tidak nurut sedunia, apakah semua orang setuju? Bagaimana tidak, aku sudah bilang padanya untuk istirahat saja, tidur lagi, pekerjaan rumah biar aku yang menyelesaikan.  Pertama, karena itu tugasku sebagai seorang istri. Kedua, karena dia belum tidur sejak semalam. Kantung mata hitamnya cukup memprihatikankan. "Mas mau sarapan dulu? Biar Nissa siapin sebelum Nissa mandi," tawarku mengangkat 2 piring dari tempatnya. Suamiku masih memegang panci kotor. Iya dia mencuci peralatan dapur yang baru saja aku gunakan untuk masak. Melihatnya begitu, dia adalah suami siaga yang tidak akan mengkhawatirkan jika aku jauh darinya. Mungkin karena dia memang sering hidup sendiri. "Nanti aja," jawabnya masih cukup ngirit. Sudah kubilang karena kejadian semalam dia kembali irit bicara sementara rasa bersalah dan bingungku semakin membumbung tinggi. Aku tidak mau lagi mendebat Mas Rama, jadi aku siapkan begitu saja nasi plus lauknya di piring. Tak banyak, Mas Rama terbiasa makan sedikit nasi atau hanya roti saja di pagi hari. Maklum, atlet harus menjaga pola makannya dengan benar. "Di atas meja ya, Mas?" Kataku menunjukkan sepiring nasi. Mas Rama menoleh dan menghela napas panjangnya. Tidak ada percakapan lagi, aku masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap. Kabar buruknya, aku lupa mengambil baju batik di dalam mobilku. Memang baju batikku sengaja tidak aku masukkan ke dalam tas sebab sudah disetrika dan akan lusuh lagi. Jadi aku gantung di bagian belakang mobil waktu hari pertama kami pindah ke villa ini. Sempat kebingungan tapi hanya ada satu jalan, meminta tolong Mas Rama mengambilkan baju batik di dalam mobil. Mau pakai baju yang lain dulu tapi tidak ada. Semua baju habis aku cuci dan belum kering, sementara baju yang lain masih di posko. "Em, Mas," panggilku pada Mas Rama yang dari pendengaranku sepertinya dia sedang menonton serial kartun di TV. "Ya?" Hanya itu saja tanggapannya dia, tapi ini bukan waktunya aku peduli dengan tanggapan Mas Rama. Mau dingin, mau nggak, masa bodoh, aku akan terlambat. "Bisa ambilin baju batik Nissa di mobil?" Dengan nada yang cukup pelan. "Kenapa nggak ambil sendiri?" Aku terdiam sejenak. "Nissa nggak pakai baju." "Hah?" Suara Mas Rama meninggi. "Ya yang dijemuran belum kering, Nissa lupa ngambil juga tadi sebelum mandi." Entah penjelasanku berguna atau tidak tapi tak ada tanggapan lagi dari Mas Rama. Jika sampai tidak diambilkan terpaksa aku pakai dulu baju Mas Rama untuk pergi keluar mengambil bajuku. Aku tunggu saja dulu dia mau mengambilkan baju istrinya atau tidak. Apabila Mas Rama tidak mau, benar dia marah karena tidurku yang lincah semalam. "Niss," terdengar Mas Rama mengetuk pintu. "Iya sebentar, Mas." Aku langsung terjaga dengan handuk yang menutupi tubuhku. Masih merasa kurang aku mencari sesuatu yang pantas untuk menutupi kekurangannya. "Nggak usah cari-cari bahan buat nutupin yang boleh aku lihat tapi nggak kamu bolehin." Kalimat itu cukup menohok terdengar olehku. Benar, dia suamiku dan berhak atas aku tapi aku tetap melarangnya melihat apa yang sebenarnya halal untuk dia lihat. Tapi kan aku tidak terbiasa dengan itu, memamerkan aurat pada laki-laki. Ah, tetap saja dia suamiku, berhak atas diriku dan boleh melihat apa yang ingin dia lihat. Setelah memikirkannya. Aku membuka pintu perlahan, masih takut-takut dan jantungku berdetak begitu kencang. Tangan kanan Mas Rama masuk dengan baju batikku sementara tubuhnya  di luar dan tangan kirinya menutup mata. "Aku nggak akan lihat kok kalau belum diizinkan, Niss. Jadi jangan takut," katanya tetap sambil menutup mata. Sungguh mataku terasa panas, bukan mengenai sikap menyakitkannya padaku, tapi sikap pengertiannya membuatku tersentuh meski sederhana. Entah mau sampai kapan begini, haruskah menungguku siap? "Makasih, Mas." Mas Rama tersenyum dan mengangguk lalu menutup pintu kamar dengan hati-hati. "Buruan nanti aku antar," ucapnya dari luar kamar. Aku tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Mas Rama jauh berbeda dengan Minggu pertama pernikahan kami. Dia mulai berubah entah apa yang membuatnya berubah. Setidaknya jika dia berubah manis, aku pun bisa dengan senang hati menjalankan tugasku sebagai istri meskipun belum saling mencintai. Selesai mematut diri, aku berjalan keluar kamar dengan baju batik yang memang seragam dengan teman-teman lainnya. Batik warna cokelat kayu dengan rok warna hitam, sepatu pantofel dan kerudung cokelat lebih cerah. Mas Rama tersenyum padaku, dia juga sudah rapi dengan kaosnya. Aku tahu dia sudah mandi saat aku berdandan tadi. "Jauh apa dekat, Niss?" tanya Mas Rama. "Dekat kok. Nissa bisa jalan kaki." "Iya kita jalan bareng kalau gitu." Sembari menyemprotkan minyak wangi ke beberapa bagian tubuhnya. "Nggak u..." "Nolak terus kamu ini, Niss." Aku terdiam. Mas Rama mungkin juga ingin jalan-jalan tapi seolah selalu aku kungkung di dalam rumah. Sebenarnya bukan begitu, aku ingin dia istirahat sebab dia belum tidur sejak semalam. Pada akhirnya, kami berjalan kaki hanya berdua menuju ke SD. Satu langkah, dua langkah terlewati dengan percakapan tanpa kata. Tentu semua orang tahu percakapan tanpa kata, ialah percakapan yang kami ciptakan sendiri di dalam otak dan hati kami tanpa adanya. Maksudnya kami ini hening sejak dari villa. "Awwww," teriakku saat aku tergelincir pantofelku sendiri. Jalanan memang menanjak, tak enak langsung menggunakan pantofel yang haknya sekitar 5 cm meter. "Eh." Mas Rama menangkap tubuhku. Tepat di pinggangku dia menahan. "Maaf, Niss." Seketika tubuhku langsung kaku dengan kata maaf itu. Jarang sekali aku dengar kata maaf dari mulut Mas Rama untuk hal kecil yang dia lakukan. "Kamu pakai sandalku saja dulu, nanti sampai di SD kamu pakai sepatu itu lagi," ujarnya melepas sandal gunung di kakinya. "Eh, nggak usah, Mas. Nissa bisa." Aku senang Mas Rama peduli denganku sampai melakukan hal semanis itu tapi aku ingin menjadi istri yang baik dengan tidak menyiksa suaminya. Jalanan beraspal ini cukup dingin dan kasar, tidak baik untuk telapak kaki Mas Rama Nantinya. Jadi biar kaki kami sama-sama terlindungi biarkan saja seperti sebelumnya. Toh sakitnya masih bisa aku tahan sampai lima puluh meter di depan yang jalannya lebih landai. Mas Rama justru menarik pinggangku lantas mengangkatnya tinggi. Kakiku di atas tanah beberapa centimeter. Masya'allah, Mas Rama mengangkat tubuhku di jalanan yang cukup ramai oleh warga-warga desa yang hendak ke ladang. Dia juga melepas sepatuku dengan kakinya, dia tarik dengan ujung-ujung jarinya lalu menurunkan tubuhku lagi.  Baiknya aku tidak berontak sebab otak dan jantungku langsung beku seketika. Jadi aku tetap diam sampai Mas Rama berjalan kembali sambil menenteng sepatu pantofelku. "Kalau kamu paksa pakai sepatu ini di jalan yang menanjak, kakimu bisa sakit, kalau kakimu sakit nanti siapa yang ngurus. Kalau boleh berangkat besok aku bisa berangkat besok ke Bali tapi kalau semua berangkat hari ini, bisa jadi aku berangkat nanti sore. Tidak akan ada yang ngurus kamu kalau kamu sakit, jadi pikirkan sampai sejauh itu, bukan soal yang penting kamu bisa melakukan tugasmu yang baik melayani suamimu," kata Mas Rama. Sungguh ini nasehat pertama Mas Rama berdasarkan kepeduliannya padaku. Aku tersenyum dibuatnya meski sedikit bingung dengan sikapnya yang terkadang dingin, terkadang manis, dingin lagi, manis lagi. Aku kembali berjalan mengikuti Mas Rama, memang lebih nyaman dengan sandal semacam ini. Aku tadi juga lupa bawa sandal jepit saja berangkatnya. Yang kuingat jika dari rumah Pak Kades memang jalannya landai, enak langsung pakai pantofel jadi nggak ribet. "Nanti ngajar apa, Niss?" tanya Mas Rama ketika perjalananan kami akan segera habis. "Nanti kelas inspirasi untuk kelas 3-6 SD." Mas Rama menghentikan langkahnya. "Kenapa kelas inspirasi justru di kelas 3-6 SD? Bukankah lebih enak di SMP atau SMA?" "Mimpi seseorang mungkin tidak ada keterlambatan, Mas. Tapi menciptakan mimpi idealnya dari mereka masih kecil.  Jika di kelas 1 atau TK mungkin kurang masuk, masalahnya terkadang mereka belum begitu paham dengan apa yang akan mentor sampaikan. Kalau kelas 3-6 sudah mulai paham sedikit demi sedikit. Biar dari kecil dia bermimpi dan dia bersiap lebih panjang dalam menggapai mimpinya." Ujung bibir Mas Rama mengembang. Kami kembali berjalan sampai akhirnya bertemu dengan serombongan Bidang pendidikan sekaligus sang ketua KKN, Bima. Mereka nampak tersenyum sendiri menggodaku yang tengah berjalan dengan Mas Rama. "Ya gitu, kalau KKN ada suaminya. Berangkat ngajar loh ditemenin, udah gitu suaminya rela nyeker dan bawain sepatu istri lagi kan? Kok enak!" Lihat kan bagaimana ketusnya Indah pada semua orang? Aku tidak ingin menceritakannya tapi dia sendiri yang menunjukkan betapa ketusnya dia. "Mas Rama ternyata romantis ya sama istri," tegur Bima. Mas Rama tersenyum tipis. "Mas pulang aja tidur dulu," kataku tidak ingin Mas Rama kenapa-kenapa karena kurang tidur. Apalagi harus segera berangkat ke Bali. Langkah Mas Rama yang tadinya mengikutiku kini terhenti. Pandangannya seolah kecewa karena aku mengusirnya secara halus tapi bukan mengusir maksudku. Hanya ingin dia istirahat, itu saja. "Eh, tunggu," justru Bima yang menyahut. "Bukannya kelas inspirasi kita malah bagus kalau ada Mas Rama, Niss?" Dahiku mengernyit. Apa maksudnya Bima? Ada niat terselubung macam apa sebenarnya? "Kita bawa 1 Polisi, 1 tentara dan 1 pemain sepak bola." Barulah dahiku terbuka lebar. Tunggu, masalahnya Mas Rama belum tidur sejak semalam karena ulahku. "Tapi Mas Rama belum tidur sejak semalam, Bim." Maksud Bima ialah dia ingin Mas Rama mengisi kelas inspirasi bersama dengan 1 polisi dan 1 tentara yang mereka memang datang atas permintaanku. 2 orang berseragam yang nanti datang itu teman sekolahku zaman SMA dulu. Jika Mas Rama juga mau mengisi kelas inspirasi bersama kami akan lebih baik lagi. Hanya masalahnya ya itu, aku berpikir tentang kesehatan Mas Rama. Akan menjadi masalah jika dia berangkat TC Timnas dalam keadaan sakit. "Kalian ngapain semalaman sampai nggak tidur?" tanya Indah justru membuat aku dan Mas Rama sama-sama meneguk ludah sendiri. Bima menahan tawanya dengan wajah-wajah berpikiran m***m itu. Astaghfirullah, asli aku tidak melakukan apapun dengan Mas Rama. "Em, tapi nggak apa-apa kok, Niss. Biar di daerah juga bisa mencetak pemain Timnas di masa yang akan datang," ucap Mas Rama yang tanpa persetujuanku mau bergabung dengan kami. "Yakin, Mas?" Bima yang paling kegirangan. Indah juga sebenarnya. Jelas mereka semua senang. Bagaimana tidak? Ini akan menjadi nilai plus tersendiri bagi kami di hadapan para dosen dan pihak kampus. Kami bisa mengadakan kelas inspirasi bersama dengan Kapten Timnas U-23. Program yang tadinya hanya bekerja sama dengan TNI, Polri, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Karanganyar, nyatanya bisa juga dengan Atlet Indonesia. Yang paling penting, kami bisa membuka mata setiap generasi muda. Hanya saja aku, aku berpikir tentang kesalahanku semalam, membiarkannya bergadang dan mengkhawatirkan kesehatannya. Lihat saja kelopak mata hitam itu butuh tidur yang cukup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN