Part 12

1711 Kata
Rama POV Pagi ini aku merasa lebih berguna bagi Nissa. Entahlah tapi aku melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah aku pikirkan. Apalagi berpikir akan melakukan ini pada Nissa. Maksudnya sampai rela nyeker biar Nissa lebih nyaman, membawakan sepatu pantofelnya, mau ikut kelas inspirasi dengan harapan dia juga dapat nilai plus di KKN-nya sekarang. Benar benar tidak menyangka aku melakukan itu semua untuk Nissa.  Meskipun mataku rasanya berat sekali, tapi aku melakukannya dengan hati yang lebih damai. Aku sempat berkabar dengan kawanku di Timnas. Ada tiga orang sebenarnya yang paham sekali dengan masalah pelik ini. Pertama, Zulfiandi, si ustadz rocker yang sering memberiku nasehat tentang pernikahan padahal dia sendiri belum menikah. Kedua, Febri Hariyadi yang biasa menjadi tempatku melampiaskan kejahilan, dia juga yang sering mendengar ceritaku. Ketiga, Septian David Maulana, anak Semarang yang selalu kepo dengan kehidupan rumah tanggaku. Waktu Nissa mandi, aku sempat menghubungi mereka bertiga, aku bilang sudah ada kemajuan mengenai rumah tanggaku. Aku juga bercerita bahwa Nissa adalah istri yang sempurna, satu yang kurang darinya, gelar sarjana yang masih dia perjuangkan. David sempat memojokkanku soal waktu yang semakin singkat, jadi lakukan apa yang seharusnya aku lakukan.  Kalian tahu maksudnya mengarah ke mana, padahal aku juga sudah bilang tidak akan melakukan itu sebelum Nissa dan aku sama-sama jatuh cinta. Zulfiandi yang lebih menentramkan, dia memberiku nasehat agar memperlakukan Nissa dengan baik. Febri, dia ikut bahagia sebab akhirnya aku bisa bersikap lebih baik. Soal sikap dinginku, aku sudah menjelaskan bahwa itu bukan sikap asliku. Aku hanya tidak tahu caranya bersikap manis pada istri yang bahkan aku nikahi bukan karena aku mencintainya. "Hahaha, nggak lah, Niss. Kamu yang makin keren aja. Dulu kan kucel banget kamu." Kudengar tiga orang tengah bercengkrama, saling melempar tawa saat aku sendiri tengah berbincang dengan teman-teman KKN-nya Nissa. Tiga orang itu adalah satu polisi dengan pangkat centang satu di bahu, satu tentara dengan pangkat centang satu di lengan. Aku yakin polisi itu dengan pangkat Bripda, setidaknya aku pernah mendaftar polisi dan tinggal menempuh pendidikan. Masalahnya waktu itu aku harus ikut Timnas jadi aku gagal menjadi polisi karena tidak ikut pendidikan, terhalang membela negara di Timnas. "Eh tapi makasih loh sudah menyempatkan datang, Ga, Fi." Nissa sambil tersenyum lebar. Dia terlihat lebih lepas dengan senyumnya itu. Sebelumnya bersamaku dia tidak pernah selepas itu ketika tersenyum. Dua laki-laki berseragam itu datang tepat saat kami sampai di halaman sekolah dasar 6 menit yang lalu. "Sudah merupakan tugas kami, untung saja kamu dan teman-temanmu pintar bernegosiasi dengan kepala staf kami masing-masing, Niss." Polisi itu kembali memuji Nissa. Jujur aku katakan polisi dan tentara itu tampan sekali, mereka terlihat gagah dengan seragam mereka, mereka juga terlihat sangat hangat dengan Nissa. Bahkan Nissa seolah tidak peduli denganku yang justru sibuk ngomongin bola dengan Bima juga perempuan ketus yang tidak kuketahui namanya ini. Aku terus melihat ke arah mereka tengah bercakap dengan maksud Nissa tahu aku kurang suka dia tidak memperdulikan aku. Bukan karena cemburu, aku saja belum merasa jatuh cinta dengan Nissa. Aku hanya tidak suka seolah dicampakkan. Saking tidak sukanya Nissa tersenyum dengan laki-laki lain, laki-laki berseragam pula, akhirnya aku datangi mereka dengan wajah sok tenang tapi angkuh. "Temannya Nissa?" tanyaku pada kedua orang itu dan Nissa langsung mengangkat kedua alisnya untukku. Mungkin dia mau bertanya tentang apa yang aku lakukan sekarang ini. Dua orang itu mengangguk sambil mengingat wajahku, mereka pasti tidak merasa asing lagi denganku. Mereka boleh menjaga keamanan negara dan kedaulatan negara tapi aku juga sama dengan mereka, pernah memperjuangkan nama baik bangsa. "Saya Rama Anan Pranata, Kapten Timnas U-23, suami sahnya Nissa," kataku dengan angkuh. Jujur, jabatan Kapten di Timnas itu sejujurnya bisa berubah kapan saja. Bisa aku yang pakai ban kapten bisa juga Bagas Ari atau Muhammad Herdianto, tapi di depan dua orang ini aku berani sombong sedikit. Jika Zulfikri tahu, dia pasti memberiku dalil tentang larangan berlaku sombong. Maafkan aku, Ya Rabb, hanya ingin melindungi istriku. Nissa tersenyum kaku padaku. Mungkin dia malu atas tingkahku ini, aku tahu meskipun aku bukan ahli membaca gerak tubuh seseorang. "Iya, Mas. Saya sering lihat kok, penggemar bola juga." Tentara itu lebih dulu menyahut, aku lihat di nama dadanya bertuliskan Hanafi. "Saya tidak tahu siapa yang beruntung dalam hal ini, Kapten atau Nissa." "Saya yang beruntung," sahutku dengan cepat sampai berhasil membuat Nissa menoleh padaku.  "Tentu, Nissa adalah perempuan baik-baik yang selalu menjaga kehormatannya bahkan di era modern ini. Dia juga perempuan dengan intelektual yang tinggi, pengetahuan agama yang tidak bisa lagi diragukan." Polisi itu menyahut dengan cepat seolah dia sangat mengenal Nissa. "Jangan berlebihan, Ga." Nissa menyangkalnya dengan senyum tipis. Aku tahu polisi itu bernama Ega. "Serius!" Sesuatu bergejolak, di depan suaminya ini polisi berani memuji Nissa dengan baik semacam itu. "Iya lebih sempurna dari apa yang kamu lihat di luar," seruku saat Polisi itu hendak memuji Nissa lagi. Polisi dan tentara itu tersenyum.  Nisa menghela napas panjangnya kemudian mendekati salah satu guru yang baru saja datang. Entah apa yang dia katakan tapi guru itu segera meminta Nissa dan kami masuk ke dalam ruang kelas 3. Memang pagi ini langsung dimulai si kelas tiga, hanya ada waktu satu jam untuk setiap kelasnya. "Selamat pagi," sapa Nissa begitu dia sampai di dalam kelas. Sementara aku dan 2 pria berseragam ini kembali diminta menunggu di luar ruangan. Aku perhatikan Nissa yang dengan semangatnya, dengan sangat ekspresif berbicara di depan kelas. Sepertinya dia calon Ibu yang baik karena terlihat begitu menyayangi anak kecil. "Mas Rama sudah jatuh cinta dengan Nissa?" tanya Ega, si polisi itu.  Pertanyaan itu sungguh menohok sekali, bagaimana pula aku menjawabnya? Haruskah aku berbohong? "Maaf, Mas. Saya tahu soal perjodohan itu, semua orang di Solo membicarakan itu. Bahkan akun-akun sepak bola justru sibuk membicarakan gosip perjodohan daripada informasi pembagian grup sepak bola di Asian Games." Tersenyum tipis. "Sudah kok. Dalam segala hal dia membuat saya jatuh cinta." Barusan aku bilang apa? Bahkan aku merasa belum mencintai Nissa tapi aku terbiasa dengan kehadirannya sebagai Nyonya Rama Anan Pranata. Dia tersenyum melihat Nissa. Polisi ini suka sama Nissa? Padahal tentara yang di sebelahnya biasa saja. Justru sibuk memainkan ponselnya. Cukup lama sampai Nissa mengajak kami bertiga masuk ke dalam kelas. Satu dua anak kecil menyambutku, laki-laki semua, mereka bilang aku Kapten Timnas. Menyenangkan ternyata ketika anak-anak kecil ini mengetahui siapa aku.  Kami mengisi banyak hal tentang mimpi, aku menceritakan bagaimana tentang menjadi pemain sepak bola sampai memberi mereka tanda tangan satu persatu. Sementara dua orang itu bercerita bagaimana mereka menjadi Abdi Negara. Banyak anak-anak yang ingin menjadi mereka tapi aku paling terharu dengan anak kecil yang bilang, dia pengen jadi atlet bulutangkis.  Aku salah, kupikir anak kecil hanya tahu bermain dan hanya tahu bahwa cita-citanya sekedar menjadi polisi, tentara, guru atau dokter. Kenyataannya ada yang ingin menjadi seperti Liliyana Natsir. Satu dua laki-laki juga ingin menjadi pemain sepak bola. Yang aku harapkan mimpi mereka terus sama dan mereka tidak pernah berhenti berjuang. Tidak ada mimpi yang mustahil dan tidak ada mimpi yang akan terbuang sia-sia tiada guna. Semua mimpi adalah keindahan hidup yang pantas kita perjuangkan.  "Jadi ada yang mau jadi guru seperti Kak Nissa ndak?" tanya Nissa dengan gerak geriknya yang ekspresif. Lima orang mengangkat tangannya. "Wah, bagus, nanti ikut Kak Nissa mencerdaskan kehidupan bangsa." Aku tersenyum oleh kalimat Nissa. Sepertinya ada sesuatu yang saling mengikat antara kami. Aku bertugas mengharumkan nama bangsa dan Nissa mempunyai tugas untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Nyatanya kami tak kalah romantis dengan pasangan tentara atau polisi. "Kalau yang mau jadi pemain sepak bola?" Dua orang mengangkat tangannya tinggi. "Wah, Kak Nissa doakan bisa jadi seperti Paul Pogba, seperti Mesut Ozil, seperti Mohammed Salah." "Aamiin," satu kelas bersorak. "Saya ingin seperti pacarnya Kak Nissa." Salah satu anak berteriak, dia yang ingin jadi pemain bola. "Eh?" Nissa terkaget. "Pacar itu apa coba? Nggak ada, pacar itu nggak boleh." "Itu.” Menunjukku. Aku tidak tahu kenapa anak 3 SD tahu kalau aku ada hubungan dengan Nissa. Padahal kami tidak memperkenalkan sebagaimana mestinya.  "Kata Bapak Kak Nissa pacarnya Rama. Lha itu Rama.” Menunjukku lagi dengan wajah polosnya. Ini aku yang salah dengar atau bagaimana. Kenapa seorang Bapak juga harus menceritakan kepada anaknya tentang hubunganku dengan Nissa? Apakah penting bagi anaknya yang masih kecil tahu tentang urusan orang dewasa? "Itu bukan pacar Kak Nissa. Itu suami Kak Nissa. Kan nggak boleh pacaran," jelas Nissa dengan penuh pengertian.  Nissa kemudian mengalihkan perhatiannya. Membiarkan anak kecil itu mengangguk-angguk entah paham atau tidak. "Kalau yang mau jadi polisi dan tentara angkat tangan!" Puluhan orang mengangkat tangannya. Memang tengah menjadi idola polisi dan tentara itu di kalangan anak-anak. "Kenapa pada mau jadi polisi?" "Membela negara!" Teriak semua yang ingin menjadi keduanya. Mereka benar-benar berbinar ketika mengatakan itu. Membuatku ingin berkata pada negeri ini untuk tidak pernah khawatir tentang siapa yang akan melindungi kedaulatan dan mengamankan Ibu Pertiwi. Sebab semua putra-putrinya bercita-cita membela negara, tidak pernah habis cita-cita itu. Kelas inspirasi hari ini selesai, paling enak memang berbicara dengan kelas 6, mereka sudah mulai bertanya bagaimana caranya menjadi pemain bola profesional, menjadi polisi, menjadi tentara. Semuanya benar-benar sudah selesai, bahkan aku dan Nissa sudah kembali ke Villa. "Niss?" Panggilku menghentikan aktivitasnya. Menoleh padaku sambil melepas kerudungnya. Dia mungkin hendak mandi. Dan, kemajuan, dia tidak malu lagi melepas kerudungnya di depanku. "Polisi tadi pernah suka sama kamu?" "Hah?" "Atau dia mantan kamu?" "Nissa nggak pernah pacaran!" tegasnya lalu melengos. "Terus?" "Apanya, Mas?" "Dia selalu memujimu dengan berlebihan, dia suka denganmu?" Dahi Nissa mengernyit. "Nissa nggak tahu soal itu dan nggak mau tahu.  Nissa juga baru bertemu lagi 2 bulan terakhir ini sejak mereka lulus dari pendidikan tentara dan polisi. Mereka selalu sibuk dengan tugas masing-masing jadi tidak tahu dan tidak mau tahu." "Sepertinya dia suka sama kamu." Nissa yang tadinya menjauh menghentikan langkahnya. "Nggak usah dibahas, Mas, nggak penting juga." "Tapi kalau dia suka sama kamu beneran gimana?" "Itu spekulasimu kan, Mas?" Aku menelan ludahku. Tapi aku paham betul seorang laki-laki tidak pernah memuji perempuan terlalu berlebihan jika dia tidak menaruh hati pada perempuan itu. "Tapi, Niss." "Kalaupun dia suka sama Nissa, dia juga nggak bisa melakukan apapun." Aku langsung memeluk Nissa. Tidak ingin terlepas darinya. Entah kenapa. "Aku sudah nyaman dengan kehadiranmu di hidupku, Niss. Meskipun aku belum bisa mencintai kamu tapi..." Nissa melepaskan pelukanku, dia memang tidak membalasnya tadi. Dia hanya memandangku dengan datar sambil menghela napas panjang dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Nissa jadi dingin setelah bertemu dengan polisi itu.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN