Part 13

2884 Kata
Tubuhku bergetar dalam pelukan Mas Rama. Entah ada apa dengan dia hari ini. Dia baru saja membahas tentang Ega yang kemungkinan menyukaiku dan bahkan dia memelukku erat setelahnya. Kenapa pula Mas Rama memikirkan itu apalagi hanya karena Ega memujiku yang katanya berlebihan, sejak dulu Ega memang begitu, dia sahabatku, yang selalu menjagaku, Hanafi juga termasuk sahabatku, bersama dengan satu orang lagi bersama Juwita. Kami bersahabat di masa SMA tapi tidak ada apa-apa diantara kami. Aku melepaskan pelukanku dan kembali masuk ke dalam kamar mandi, aku harus mandi dan segera menyiapkan keperluan Mas Rama. Esok sudah kupastikan dia berangkat ke Bali untuk melakoni pemusatan latihan bersama Timnas Indonesia U-23. Usai mandi, aku langsung mengangkat beberapa jemuran yang kebetulan sudah kering, tidak hujan hari ini. Kabut juga tidak terlalu pekat. "Niss," panggil Mas Rama lagi sambil menempelkan telepon di telinganya. Aku menoleh dengan tangan kanan yang membawa beberapa pakaian. "Ibuku," katanya memberikan telepon genggamnya padaku. Menghela napas, mempersiapkan diri lantas mengucap salam dengan sangat lembut. "Bagaimana kabarnya, menantu Ibu?" Ibu mertuaku selalu lembut dan hangat, tidak macam putranya yang selalu berubah ubah. Kadang seperti kulkas dua pintu, terkadang lebih mirip oven. Ibu dan anak memang tidak begitu mirip, aku suka sikap Ibu tapi aku sering kesal karena sikap Mas Rama. "Alhamdulillah sehat, Ibu. Ibu gimana sehat kan? Ndak lupa kan makan sayur dan buahnya?" Mas Rama tersenyum di depanku tapi sedetik kemudian dia menarik tanganku untuk masuk ke dalam kamar. Menarikku bersandar di dadanya. "Lebih nyaman," ucapnya sampai membuatku lupa dengan jawaban Ibu. Dia terus mencengkram bahuku, tidak membiarkan aku bergerak banyak, seolah aku dikunci dengan tubuhnya. "Baik-baik saja sama anak Ibu kan, Niss?" Aku melirik Mas Rama. "Baik, Bu." "Rasanya lengkap hidup Ibu dengan hadirnya kamu, Niss, tapi kurang satu sih." "Kurang apa, Bu?" Sambil sedikit menggeser tubuhku dari Mas Rama tapi tetap tidak bisa. Herannya aku kenapa dia hari ini lengket sekali? "Cucu." Uhuk, uhuk, uhuk, aku dan Mas Rama kompak tersedak ludah sendiri. Kami tengah tanpa jarak dan Ibu tiba-tiba mengatakan soal cucu. Rasanya seperti sedang enak-enak makan tiba-tiba di bom sama Belanda. Mas Rama langsung melepaskan lingkar tangannya di bahuku, aku pun langsung menjauh darinya. Mungkin sedikit mengagetkan ucapan Ibu tapi terimakasih sudah membebaskan menantunya ini. "Kalian kenapa?" "Ibu kenapa bahas itu sih!" protes Mas Rama. "Loh wajar kan? Anak itu kalau masih sekolah diminta cepat lulus, kalau sudah bekerja diminta segera menikah, kalau sudah menikah yang diminta cucu. Ya ampun, berapa kali Ibu bilang sama kamu, Rama?" Aku memandang Mas Rama. "Aduh, Bu. Sudahlah, nanti saja kalau sudah waktunya." "Nah waktunya itu kapan?" "Ya, ya, ya," semacam orang gagu. "Ya pas Nissa sudah lulus kuliah, Bu. Rama juga masih sibuk di Timnas." "Ah sudah, alasan! Orang kuliah sambil gendong anak juga bisa!" Ibu mungkin terkesan memaksa tapi beliau tidak kasar, beliau hanya memperjuangkan haknya mendapat cucu. Aku sendiri juga tidak bisa menolak tetapi juga belum bisa menuruti.  Tuntutan orang tua setelah anak menikah itu sama saja, cucu. Di mana pun itu, siapapun itu. Jadi bukan hal tabu sebenarnya, hanya saja canggung bagiku membahas itu.  "Aduh sudah-sudah, Rama sama Nissa mau istirahat. Ibu juga istirahat, sudah mulai melantur itu tandanya Ibu kelelahan." "Ini anak nggak pernah berhenti kurang ajar!" Bernada kesal pada Mas Rama. "Hehe, sudah Ibu. Assalamualaikum," ucap Mas Rama yang langsung aku ikuti dan dengan helaan napas Ibu menutup teleponnya. Mas Rama sempat memandangku sekilas lalu mengalihkan pandangan pada ponselnya. Dia terlihat sedang menelpon seseorang, bukan, panggilan video itu. Jadi kubiarkan dia bermain dengan ponselnya dan aku melangkah pergi.  "Niss, ke mana?" tanya Mas Rama saat aku membuka pintu kamar bagian belakang, hendak menuju halaman belakang villa yang dipenuhi buka hydrangea yang tumbuh merekah. "Belakang," jawabku menunjuk. "Sapa temanku dulu, kemarin dia tidak bisa datang di pernikahan kita dan belum sempat mengenalmu." Aku sempat membatin ini teman yang mana lagi? Temannya Mas Rama kan banyak sekali, yang di Mojokerto, teman SD, SMP, SMA, SSB, Barito Putera, Timnas, mantan rekannya yang pernah satu klub. Ini teman yang mana lagi dan mengapa aku harus berkenalan dengannya? "Bro," sapa Mas Rama setelah dia memaksaku kembali duduk di sampingnya. Masih cukup canggung, aku tahu siapa yang disapa Mas Rama barusan. Pemain Persib Bandung yang terkenal dengan skill dewanya, Febri Aldi.  "Rama, apa kabar?" Dengan pelafalan R yang tidak sempurna. Mas Rama mengangguk.  "Alah kok formal sekali. Rindu gue, Bro." "Berangkat malam ini aja bareng sama gue biar nggak rindu lagi." "Nggak rindu lagi sama Lo tapi malah rindu sama istri gue. Solusinya nggak tepat. Gue fix berangkat besok siang aja. Lumayan masih bisa berapa jam jagain istri." Dalam video itu menampakkan Febri sedang menggunakan kaos oblong putih dan tengah duduk dengan Adiknya di belakang, kalau tidak salah namanya Rio. "Gayaan lu, Capt. Mentang-mentang udah punya istri, istri aja lu pikirin. Guenya kapan?" Sambil terkekeh dengan kalimatnya sendiri.  "Entar ada waktunya. Kenalin ini," menarik tubuhku mendekat sampai akhirnya wajahku masuk ke dalam tangkapan layar. "Aisyah Lailatul Nissa." "Iya, perempuan yang tiap malem lu ceritain gimana masakannya yang kurang asin buat lidah lu, perempuan yang bikin lu begadang sepanjang malam cuma gegara lu nggak tahan dipeluk, perempuan yang..." "Stop!" Mas Rama langsung menghentikan itu dan menahan malunya. Sementara aku? Aku jelas memasang wajah sebal pada Mas Rama. Apa yang dikatakan Febri dan apa yang dikatakan Mas Rama jelas saja tidak sama. Mas Rama bilang masakanku enak bukan kurang asin, Mas Rama juga bilang aku tidur dengan gerakan lincah tapi beda dengan apa yang dikatakan Febri. Aku tersenyum tipis pada Febri. "Memang Mas Rama bilang gitu sama Mas Febri?" Yang di Bandung mengangguk sementara Mas Rama langsung memelototi Febri. "Sudah dulu ya, Mas. Kita mau pergi," kataku sambil memicingkan mata pada Mas Rama. "Lah udah?" "Hehe, sorry ntar gue kabarin lagi. Yang penting update terus siapa aja yang berangkat besok. Takutnya pada berangkat sore ini dan gue nggak ada temen." "Udah lu urusin bini lu, orang paling lambat kumpulnya besok sore. Sans aja kali!" Aku tidak peduli apa percakapan mereka yang aku pedulikan bagaimana caranya aku membunuh Mas Rama. Dalam beberapa kesempatan dia melakukan kesalahan. "Iya!" Dan panggilan video itu berakhir. Tatapanku sudah ingin membunuh Mas Rama. Kalian tahu jika membunuh itu tidak dosa maka orang yang aku bunuh pertama kali adalah Mas Rama. "Hehe," tertawa kaku. Aku menghela napas pendek saja. "Kenapa harus bohong sih, Mas? Bilang aja kalau masakannya nggak enak." Mas Rama membenarkan posisinya, menghadap ke arahku, menggenggam tanganku.  "Bukan tidak enak, Nissa. Iya, aku jujur sedikit kurang asin yang masakan pertama itu. Tapi suami dilarang mencela masakan istri kan? Aku takut nanti kalau aku bilang kurang asin dikit kamunya tersinggung." "Ya, tapi Mas Rama ngomong sama orang lain. Menurut Mas itu aib nggak?" Menghela napas panjang. Dia mungkin merasa bersalah juga. "Cuma sekali itu, Niss. Dan kamu harus terbiasa dengan teman-temanku. Kamu juga suka sepak bola, kamu selalu mengikuti perkembangannya, kamu follow banyak pemain sepak bola dan mereka memang selalu bercanda semacam itu. Febri, dia bercanda." "Tapi bener masakanku nggak enak." "Nissa, aku bilang sama Febri masakan kamu pas pertama emang kurang asin sedikit, sedikit, aku nggak bilang nggak enak. Karena perbedaan budaya dan kuliner mungkin jadi lidahku agak beda sama orang Solo. Pas hari kedua rasanya cukup pas untuk lidahku tapi Kak Fatim bilang masakanmu terlalu asin sedikit. Dari situ aku ngerti bedanya kita. Jadi yang diingat Febri cuma satu itu karena aku nggak menjelaskan banyak. Kalau dia tanya aja aku jawab." Soal masakan mungkin masih bisa dimaklumi jika benar apa yang dikatakan Mas Rama, bukan nggak enak tapi kurang asin sedikit. Lidah orang Indonesia memang berbeda-beda, beda tempat beda lidah. "Oke, kalau gitu soal Mas bilang nggak bisa tidur karena Nissa tidur kaya Febri Aldi bawa bola? Kenapa Mas Febri bilang gitu?" Mas Rama menghela napas. Mengusap punggung telapak tanganku yang hendak melepaskan diri tapi ditahan oleh Mas Rama. "Aku nggak tahu kenapa tapi mataku tidak mau melewatkan wajah tentrammu ketika tidur dan tubuhku terlalu gemetar jadi aku nggak bisa tidur." "Ya, tapi kenapa harus bilang sama Nissa kalau Nissa tidur seperti Mas Febri bawa bola." "Pertama, jangan panggil teman-temanku dengan Mas. Panggil saja nama mereka dan mereka akan memaklumi. Aku ingin hanya aku yang mendengar panggilan lembut itu." Pipiku panas sekali dengan sikap sedikit posesifnya, padahal hanya mengenai panggilan. Tapi kalian yang di luar Jawa harus tahu bahwa panggilan Mas untuk suami itu sangat manis di sini. "Kedua, kalau aku katakan aku tidak bisa tidur karena kamu memelukku, kamu yakin tidak canggung sama aku?" Aku menelan ludahku. Jelas aku akan merasa malu dan canggung. Agresif pula tanganku ini peluk-peluk Mas Rama. "Maaf, Mas." "Niss, Niss, berhenti polos!" Tegasnya melepas genggamannya. "Kamu boleh peluk aku tiap hari! Nggak usah minta maaf! Kalaupun kamu harus melakukan hal lain lebih dari memeluk, kamu bisa melakukannya dan tidak perlu minta maaf!" Hal lain lebih dari memeluk? Kata itu terdengar cukup abstrak. "Bahkan kalau kamu mau cium aku, kamu mau ngapa-ngapain aku, jangan pernah minta maaf!" "Apa sih, Mas?!" "Mulai merah lagi kan? Haha," sambil mencubit kecil hidungku. "Ahh udah, udah, Nissa mau lipatin bajunya. Sekalian ngrapihin baju yang Mas bawa besok." Beranjak naik dan berdiri di samping tempat tidur. "Niss, kenapa sih? Nanti kita juga bakal ciuman!" Aku menahan geram dan langsung melempar setumpuk baju-baju yang tadi aku taruh di tepi ranjang. "Dasar omes!" "Nggak omes, kata ciuman juga ada di kamus besar bahasa Indonesia, kamunya aja yang terlalu polos." "Bodo!" "Istighfar dulu." "Astaghfirullahaladzim," sebutku lirih.  Mas Rama justru terkekeh sambil melipat satu bajunya, mungkin ceritanya dia ikut membantuku. "Masukin lagi aja dalam tas, lagian koperku masih di Solo, masih cukup rapi juga. Tinggal nambahin ini nanti." Aku mengangguk. **** Mas Rama duduk di depan televisi saat aku menerima telepon dari Yashinta dan Bima. Entah dua orang itu kenapa tapi mereka berdua berbicara tidak jelas dan saling saut-sautan. Salam saja seolah menjadi rebutan bagi mereka. "Kalian mau ngomong apa?" Tanyaku sudah bosan dengan suara pertengkaran yang tidak ada habisnya. Ditambah satu kawan laki-laki yang baru saja ikut bergabung. "Jadi gini, Niss. Besok nggak usah ikut ngajar TK dulu, biar gue gantiin," kata Yashinta langsung membuat dahiku mengernyit. Memangnya kenapa harus begitu? "Terus soal pengolahan pupuk organikmu bareng sama petani gimana, Yash? Kamu ada-ada aja lho ya. Sudah dibagi tugasnya masing-masing, jadi nggak usah dirubah-rubah. Bidang pertanian ya pertanian aja, bidang pendidikan ya biar di pendidikan." "Ya ampun, gue." Yashinta selalu kurang pas ketika mengatakan kata gue dengan sok gaul itu. "janjian sama bapak-bapak di balai desa jam 4 sore habis mereka pulang dari ladang Nissa. Gue nganggur, nah elu kan nggak nganggur." "Justru kalau kalian nggak ngasih kerjaan sama aku besok ya aku nganggur kan, Yash? Kalian itu kok ya aneh-aneh saja. Yang sudah disepakati kemarin ya itu dilaksanakan. Jangan main dirubah!" Bukan bagaimana-bagaimana, apa yang sudah direncanakan jika dirubah mendadak bisa menimbulkan masalah. "Nggak apa-apa, Niss. Kasian Yashinta kurang kerjaan, hehehe." Itu suara Bima yang memaksa masuk. "Kesepakatan kadang bisa berubah sesuai dengan kondisi." "Aaa k*****t lu! Gue tempeleng juga lu!" Suara Yashinta terdengar sedang melakukan KDRT pada Bima. Kenapa kubilang KDRT, keduanya sepertinya ada rasa-rasa. Memang begitu mahasiswa KKN, satu atau dua pasti ada yang suka. Aku menghela napas panjang untuk pertengkaran unfaedah mereka berdua. "Please ya, Niss. Lu nggak usah ngajar," kata Bima. Seperti ada yang aneh dengan Bima. Dia tidak pernah memohon dan merengek begini, apalagi biasanya dia itu tegas. Kalau tugas anggotanya A ya harus A itu nggak boleh ganti sebelum benar-benar terlaksana. Sekarang dia justru memohon Yashinta ikut mengajar. "Maksudnya biar kamu bisa berduaan sama Yashinta, Bim? Ingat ya, belum muhrim!" Tegurku. "Bukan itu!" Mereka kompak membentak sampai telingaku berdengung. "Kasihanilah kami, Niss." "Kok jadi aku yang mengasihani kalian? Aku loh sama aja satu hari ndak ada kegiatan." "Kan masih ada les.” Masih Yashinta. Benar, besok sore memang harus mengajar les di posko jadi kegiatanku selama sehari sebagai bidang pendidikan ya les sama ngajar TK. "Ayolah, Niss. Bantu kami dapetin jersey sama tanda tangan suami kamu lah," rengek Bima. "Kok jadi jersey suamiku sih, Bim. Selesaikan dulu urusan ngajarnya ini." "Iya jadi suami kamu janji sama kita bakal ngasih jersey sama tanda tangan kalau kita ngizinin kamu nggak ada kegiatan sampai besok siang jam 12 paling tidak." "Hah?" Mas Rama menoleh padaku tepat saat aku melihat Mas Rama dari tempatku duduk sekarang. Iya, aku duduk di meja makan sambil memegang satu gelas berisi air putih di atas meja. "Tapi, Bim." "Pokoknya ini sudah ditentukan dan tidak bisa diubah! Titik!" "Ya, nggak gitu, temen yang lain gimana? Mereka pasti nggak terima, Bima." "Sudahlah, kalau ada yang tidak terima biar gue yang urus!" kata Yashinta dengan angkuhnya. Jelas dia mau mengurus, dia bakalan dapat jersey kok. Klik... Mereka langsung mematikan ponselnya. Aku tahu setelah ini pasti ada masalah, satu dua orang pasti merasa aku dispesialkan dan bagi kalian yang tidak tahu bagaimana KKN, sejujurnya kadang iri dan dengki ada di sana. Tidak suka satu sama lain karena tahu sikap masing-masing dari bangun tidur sampai tidur lagi, tapi nanti kamu akan menemukan keluarga yang tidak ada tandingannya. Aku menghela napas panjang dan mendekati Mas Rama. Dengan posisi seperti kemarin malam, aku di kursi pendek dan Mas Rama di yang lebih panjang. "Kenapa lihat-lihat, Niss? Biar jatuh cinta?" Dahiku langsung mengernyit, baiklah Mas Rama memang berubah detastis tapi tidak harus senarsis itu. "Kenapa Mas melakukan KKN di sini?" "Kok jadi aku yang KKN? Kan kamu yang KKN." "Korupsi, Kolusi, Nepotisme!" Mas Rama berpikir sejenak lalu tersenyum. Sebenarnya orang itu tahu nggak sih yang aku maksud dengan melakukan KKN? "Mas?" "Sini dulu, duduk sini." Menepuk tempat duduk di samping kanannya. Menggeleng. Untuk apa coba duduk di sampingnya? Kan cuma minta dijelasin kenapa harus melakukan suap jersey plus tanda tangan dan meminta teman-temanku mengosongkan jadwalku besok. Kan bisa langsung ngasih aja tanpa minta aku dibebaskan. "Pilih aku yang ke situ langsung cium kamu atau kamu yang ke sini?" "Nggak! Jelasin dulu kenapa minta temen-temen bebasin aku dari tugas besok?" Ya Rabb, suamiku sepertinya lebih panas dari oven sekarang ini, tapi aku nggak boleh goyah juga, agak canggung duduk di sebelahnya. "Aku nggak main-main kalau lagi ngancem." "Aku juga nggak main-main kalau lagi butuh penjelasan!" Mas Rama menghela napas panjang dan justru mematahkan kepalanya ke kanan kiri, seolah tengah mengambil pemanasan. "Mau dihitung mundur apa maju?" "Mas!" Dia justru tersenyum jahat. "Tawaran terakhir, mau mendekat dapat jawaban atau aku yang mendekat dapat ciuman?" "Ihhh!" Astaghfirullah, ini bukan Mas Rama yang biasanya, dia justru semakin berani dengan perkataannya. Jujur aku takut, maksudnya aku belum siap dengan semua hal itu. Jika sudah begini bukankah lebih baik Mas Rama dingin? Ah, tapi dingin juga bisa bikin aku hipotermia. Tanpa hitungan Mas Rama tiba-tiba mendekat dan mencium pipiku. Hanya satu detik dan langsung duduk menyender punggung kursi di sampingku. Jarum jam seolah berhenti pada saat itu, jantungku juga tidak mau berdetak, bahkan darahku tidak mengalir sama sekali. Waktu seolah berhenti di detik itu dan tidak mau berlalu. "Dasar omes! Otak m***m!" Melengos sambil mendorong tubuh Mas Rama dan mengusap-usap pipi kiriku. "Sama istri sendiri sih, kalau orang lain kan nggak boleh. Nanti kamu marah lagi aku cium istri orang." Parahnya, Mas Rama justru tersenyum lebar dan merasa menang. "Dasar m***m, m***m, m***m!" Sungguh aku kesal sekali tapi detak jantungku justru cepat tidak beraturan. Mas Rama terkekeh di tempatnya sambil terus memandangku lekat. "Baru juga cium pipi dibilang m***m, gimana yang lain." "Tau ah!" Air mataku mengalir saat itu, aku tidak tahu kenapa air mata itu harus keluar. Aku tidak merasa tengah disakiti oleh Mas Rama. "Niss, kok nangis?" Dia langsung berubah panik dan menangkup kedua pipiku, memaksa mataku menatapnya dari jarak dekat. "Niss?" "Hiks, Nissa cuma minta penjelasan kenapa Mas Rama harus meminta teman-teman mengosongkan jadwalku besok tapi Mas Rama bikin jantung Nissa mau copot! Kenapa harus gitu sih, Mas? Hiks." Mas Rama langsung membawaku ke dalam pelukannya, menaruh kepalaku dalam lekukan lehernya. "Maaf, Niss. Aku tidak bermaksud semacam itu." Sambil mengusap punggungku. Masih menangis dalam pelukannya. Aku sadar Mas Rama tidak menyakitiku, aku juga tahu tidak ada yang menimbulkan dosa, tapi aku kaget sekali Mas Rama melakukan itu. Ini kedua kalinya dia menciumku, sebelumnya di kening saat kami menikah dan yang kedua sekarang. Yang sekarang ini tanpa persiapan, aku pikir tadi hanya gertak sambal. Itu yang sepertinya membuatku menangis, tidak menyangka Mas Rama akan melakukan itu. "Maaf, Niss. Aku janji nggak nglakuin itu lagi. Jadi berhenti menangis, aku tidak bisa melihat perempuan menangis," katanya begitu lembut terdengar di telingaku. Terlebih deru napasnya begitu terasa. Aku habiskan air mataku lalu pergi dari cekungan di lehernya. Menghapus sisa-sisa air mata sambil menatap Mas Rama yang merasa bersalah. "Aduh, istriku ini masih polos sekali ya?" Sambil menghapus air mataku. "Aku janji tidak akan melakukan itu lagi." Kupandang lekat bola mata hitamnya. Ada rasa bersalah tapi sedikit ada rasa kecewa. Dan rasa bersalah itu sekarang berpindah padaku. Bukankah aku sudah berjanji menjadi istri yang baik bagi Mas Rama begitu kami menandatangani buku nikah di depan penghulu? Ketika itu sama saja aku menyerahkan semuanya pada Mas Rama. Jasa pengabdianku, bahkan semua yang dia butuhkan dari aku baik fisik maupun hatiku. Akan sangat berlebihan bukan ketika aku marah-marah pada Mas Rama tentang apa yang dia minta dariku? Aku tetap memandang mata teduh itu. Sangat dalam dan semakin dalam. Dengan rasa bersalah yang membumbung tinggi, belum lagi kebingungan sikap yang tidak beraturan. Ya Rabb, beri aku jalan terang untuk melakukan tugasku sebagai istri, untuk mencari ridho suamiku dan ridho dari-Mu.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN