Part 14

1381 Kata
Rama POV Nissa masih dengan mata sembabnya, bibir merah muda yang sedikit manyun dan aku yakin detak jantungnya tidak karuan. Saat aku membawanya ke dalam pelukanku, aku tahu ada sesuatu yang berjalan tidak sesuai dengan standar operasional prosedurnya, apalagi kalau bukan jantung? Aku benar-benar merasa bersalah sekarang. Pikirku karena kami sudah semakin dekat, tidak masalah melakukan itu. Sebenarnya memang tidak masalah, tidak dosa kan? Bukankah malah dapat pahala? Tapi nyatanya justru membuat Nissa menangis. Nissa benar-benar masih sangat polos, mencium pipinya saja dikatakan m***m dan sampai menangis. Apalagi yang lain? Dia sudah 21 tahun, sudah bukan hal tabu sebenarnya untuk sekadar dibicarakan. Dia juga sudah menjadi seorang istri maka bukan hal tabu lagi untuk dilakukan. Sesekali masih kuhapus sisa-sisa air mata di ujung matanya. Mata yang jika terlelap ingin sekali kusentuh dan kukecup. Jujur, ini jujur, setiap manusia punya nafsu kan? Maksudnya aku juga manusia biasa meskipun bukan laki-laki yang nakal dalam tanda kutip, jadi aku juga punya nafsu. Sesekali aku ingin mengecup kening Nissa, matanya, bahkan bibirnya. Masalahnya, Nissa belum terbiasa dengan itu, dan aku hanya bisa berusaha mengendalikan nafsuku. Tapi hari ini, maksudku malam ini, melihat pipi Nissa yang kemerah-merahan mampu membuatku goyah.  Alhasil Nissa menangis. Jadi setiap orang itu punya nafsu, tidak usah dipungkiri itu, tinggal bagaimana kita bisa mengendalikan nafsu itu sendiri. Kini Nissa telah reda dengan tangisnya, memandangku lekat sekali, tepat di pusat mataku, merasuk sampai ke dalam sukma. Menyentuh pusat terbaik dalam diriku, relung hatiku. Pada akhirnya, membuat jantungku juga bekerja tidak sesuai standar operasional prosedurnya. "Mas jangan janji nggak melakukan itu. Nissa yang harusnya koreksi diri Nissa sendiri. Bukankah itu hak suami dan kewajiban istri?" Kalimat itu terdengar merdu sekali, tetapi ketika sampai di relung hatiku, seolah menjadi cambuk dan memaksa jantung bekerja lebih keras. Bahkan lidahku kelu tidak bisa melakukan apapun. Aku tahu Nissa tidak benar-benar siap dengan itu, dia hanya berusaha siap sebagai istri. Nissa juga tidak ingin mengecewakanku, aku yakin dengan pengetahuan agamanya itu dia tahu bahwa ridho suami penting sekali. Memang ada yang mengatakan bahwa istri tidak boleh menolak permintaan suami sedang suaminya tidak ridho, tapi sampai detik ini aku tidak pernah merasa kecewa atau marah pada Nissa, bahkan ketika dia tidak mengizinkan aku melihat kaki dan bahunya. Aku mengerti, serius aku mengerti tentang Nissa yang belum terbiasa. "Mas bisa kok melakukannya lagi jika Mas ingin. Maaf Nissa sudah berontak hari ini padahal halal untuk dilakukan." Mataku terpejam. Tentu saja kalimat Nissa itu bisa membuat pertahananku goyah. Keningnya yang datar itu bisa saja menerima kecupan atau bahkan bibirnya yang merah muda. Aku menghela napas kecil. "Tidur lah!” titahku menjauh darinya. "Mas marah?" tanyanya memandangku sekilas. Menggeleng sambil tersenyum. Serius aku tidak marah dengan Nissa. Aku hanya berusaha mengendalikan diriku. "Bahaya, Nissa. Tidur lah!" Melenggang pergi ke arah dapur, rasanya aku butuh air putih biar bisa sedikit lebih tenang. "Mas," panggilnya tiba-tiba memelukku dari belakang. Oh God, Nissa berubah 180°, yang awalnya begitu kaku, tidak terbiasa tapi dia memaksa terbiasa bahkan memelukku lebih dulu. Aku suka dengan perubahannya, entah kenapa aku menyukainya dan terbiasa dengan detak jantung yang kencang saat di dekatnya.  Tubuhku terbujur kaku, tidak dapat bergerak ke mana pun. Tangan Nissa juga terlalu erat memeluk perut datarku. Kepalanya menempel di punggungku, deru napasnya kurasakan menghembus di kulit-kulit punggungku. Aku berbalik pelan, melepas pelukannya setelah aku bisa lebih tenang. Memegang bahunya dengan cukup lembut, dia yang memilih menunduk dengan pipi merah. Aku masih tahu dia malu melakukannya dan belum terbiasa. "Aku nggak marah, aku cuma bilang itu bahaya. Kata-katamu itu berbahaya, Nissa." "Kenapa?" Menggemaskan sekali ketika dia menunjukan kepolosannya. Aku tersenyum sejenak. "Maaf," kataku lalu mengecup keningnya. Tubuhnya menegang, aku tahu itu. Sudah kubilang dia tidak terbiasa, aku pun tidak bisa mengendalikan. "Ada yang lebih bahaya dari itu Nissa dan aku tahu kamu belum siap. Jadi, tidurlah sebelum kamu membangunkan macan tidur." Bukan aku ingin melakukan hal-hal yang tidak tidak, aku hanya ingin mengecup bibirnya singkat. Sudah, itu yang ingin aku lakukan. Lagi pula, semua orang tahu kan aku tidak akan melakukan apa-apa sebelum kami sama-sama jatuh cinta atau sebelum Nissa lulus kuliah. Kudengar skripsi itu bisa bikin stress dan orang hamil itu kadang juga bisa stress, aku tahu akan berat jika, Ah, sudah lah, bicaraku semakin melantur saja.  "Nissa belum ngantuk dan Nissa juga masih bisa jaga diri dari macan tidur," balasnya melengos lalu mengambil air putih. Aku tersenyum lalu menggelengkan kepalaku singkat. Dia ternyata juga punya sikap yang berubah-ubah. Tadi dia bilang aku bisa melakukannya, tidak perlu janji tidak akan melakukannya, giliran aku benar-benar ingin dia bilang dia masih bisa melindungi diri. Maunya apa istriku itu? "Kamu mau nemenin aku dulu kalau gitu?" tanyaku mengambil air minum di sebelahnya. "Nemenin apa?" tanyanya sebelum meneguk kembali segelas air minumnya. "Nonton TV." Nissa mengangguk. Ujung bibirku mengembang untuknya. Dia istri yang baik sejauh ini, membuatku nyaman meski sepertinya belum bisa jatuh cinta. 10 menit kemudian kami sudah duduk di kursi yang berbeda. Sudah kubilang Nissa ini ternyata berubah-ubah sikapnya. Jika dia memperbolehkan aku melakukannya tapi kenapa dia jauh dariku? Aku sudah berdeham berulang kali sebagai kode tapi dia tidak peduli, hasilnya aku yang mendekat dan membuat dia terkaget, tapi dia tidak menjauh, baiknya itu. "Niss, apa cinta itu menurutmu?" tanya memecah keheningan diantara kami. Nissa memandangku. "Sesuatu yang mewarnai hidup, sesuatu yang mendamaikan, mungkin. Nissa bukan orang yang ahli menerangkan cinta, Mas." Senyum mengembang. "Kamu sudah jatuh cinta sama aku?" Kulihat sekujur tubuhnya kaku, dia bahkan tidak sanggup berkata-kata. Pertanyaanku pasti sangat menohok baginya. Pertanyaan yang sulit yang bahkan aku sendiri sulit menemukan jawabannya. Hening menerpa kami berdua, percayalah, lebih sulit mencari topik pembicaraan daripada mencari materi sekolah. "Niss, sering-sering lihat televisi ya besok-besok," kataku memecah keheningan diantara kami lagi. Nissa mengernyitkan dahinya. "Lihat iklan ultramilk." "Kenapa?" Menghela napas panjang. "Istri macam apa kamu ini, Niss. Ada aku di iklan ultramilk." "Oh, yang ada Hanif Luthfi juga?" Binar matanya sungguh terang ketika mengatakan itu, Hanif memang manis, baik, meski garang di lapangan tengah.  "Suami kamu namanya siapa, Niss?" "Ah.” Dia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Langsung salah tingkah kan dia. Dibilang di iklan ultramilk ada aku malah laki-laki lain yang disebut. "Maaf, Mas." Aku tersenyum, menarik tubuhnya ke dalam pelukanku, menaruh kepalanya di antara bahu dan leherku. Awalnya dia cukup kaku menempelkan kepalanya, tapi lama-lama, tubuhnya begitu nyaman bersandar di tubuhku. Aku hanya ingin begini, entah tapi aku merasa lebih damai. "Besok aku harus ke Bali, kita tidak banyak waktu untuk saling mengenal lebih dekat lagi. Maaf kalau harus melakukan suap pada teman-temanmu untuk mengosongkan jadwalmu. Tapi aku tidak tahu lagi cara terbaik selain itu. Maksudku itu juga bukan suap, kita barter aja. Hehehe." "Dosa!" "Tapi sebenarnya itu bukan suap kan, Niss? Ingat pertama aku datang kemari pernah bilang ke mereka ada dua jersey di mobil. Nanti bisa untuk mereka. Jadi sebenarnya diawal sebelum perjanjian ini sudah ada janji yang aku ucap. Tadi aku bilang sama Bima." Nissa diam saja dalam pelukanku. "Nggak tahu, Niss. Aku terbiasa dengan statusmu sebagai Nyonya Rama Anan Pranata, aku ingin bersikap lebih baik, tapi aku justru kebingungan dengan waktu yang singkat. Aku cuma ingin kamu menemaniku sampai besok. Kalau boleh kubawa kamu ke Bali." Nissa menjauh dariku, memandangku, menyentuh dahiku. Dia sudah mulai berani bersikap biasa denganku. "Mas sehat?" Aku terkekeh. Mungkin karena biasanya aku dingin, tapi aku justru mengatakan seolah-olah aku tidak ingin berpisah dengannya. Rasanya memang iya, aku tidak ingin berpisah. Apakah aku sudah jatuh cinta dengannya? "Sehat, Sayang." "Sayang?" Sekali lagi aku terkekeh. Aku ingin memanggilnya semacam itu dalam beberapa kesempatan dan baru terjadi dua kali. "Tidur yuk, Niss. Ngantuk kalau udah deket-deket kamu kaya gini." Nissa beranjak lebih dulu tanpa mengatakan apapun, masuk ke dalam kamar. Bukannya dia yang dingin sekarang? Aku mengikutinya dan dia sedang membuka kerudung di depan kaca besar. Rambut hitamnya yang sedikit bergelombang, leher putihnya dengan kalung pemberianku, aku terbiasa melihatnya sekarang. "Besok berangkat jam berapa, Mas?" tanyanya padaku sambil mendekat. "Pesawatnya sih jam 1, paling nggak dari sini jam 10, kan masih mampir rumah juga ambil koper." Nissa mengangguk. "Nissa antar?" "Kamu nggak capek di perjalanan?" "Insyaallah nggak kok, Mas." Aku tersenyum dan dia berbaring di sebelahku. Kutarik dan membawanya ke dalam pelukanku.  Mengecup keningnya singkat dan aku memejamkan mata. Tangan Nissa yang biasanya menyilang di d**a atau perutnya kini justru memainkan beberapa rambutku. Kemajuan. Pasti aku rindu kehadirannya nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN