Pagi ini seperti ada sesuatu yang berat sekali, aku mungkin lega bisa lebih dekat dengan Mas Rama. Jujur aku mulai terbiasa, bahkan setelah aku menangis, ada rasa bersalah, aku berani memeluk Mas Rama lebih dulu. Berada dalam pelukannya bahkan membuat tidurku lebih nyenyak. Semalam dia tanya soal aku sudah jatuh cinta atau belum, aku tidak bisa menjawab belum, nanti menyinggung tapi aku juga tidak yakin dengan jawaban belum itu. Kenapa? Aku mulai memikirkan Mas Rama.
Hari ini, saat aku mulai merasa lebih dekat dengan Mas Rama justru kami harus segera terpisah. Dia harus berangkat ke Bali untuk Training Camp bersama pemain Timnas Indonesia U-23. Aku pula yang awalnya tidak enak hati meninggalkan tugas mengajarku di TK, tapi akhirnya ikhlas, aku lebih takut kehilangan waktu dengan Mas Rama.
"Pagi, Mas," sapaku pada Mas Rama yang baru saja terbangun. Usai salat subuh dia tidur lagi, badannya sedikit panas. Entah kenapa, padahal tidak kena hujan apalagi angin malam. Tunggu, aku menyapanya barusan? Alhamdulillah, bukankah kemajuan dariku.
Aku ingat pesan Ayah bahwa pilihan satu-satunya dalam perjodohan kami ini adalah saling jatuh cinta. Ah, apakah Ayah juga sempat mengatakan ini pada Mas Rama?
"Pagi, Niss," balasnya menghampiriku dan langsung memelukku dari belakang sembari menempelkan kepalanya di bahuku. Aku sempat melonjak kaget, tapi ingat aku harus jadi istri yang baik.
Iya, aku tengah berdiri di sebelah meja makan, menyiapkan sarapan untuk Mas Rama meski hanya nasi goreng dan telor saja.
"Ini tandanya nggak mau pisah sama kamu kali ya, Niss."
"Ada-ada saja, Mas." Menyiapkan sepiring nasi untuk Mas Rama. "Duduk dulu," kataku agar dia mau melepas pelukannya. Dia sangat manis pagi ini.
Mas Rama menurutiku, duduk di kursi dengan satu piring nasi yang tersedia. "Nggak nafsu makan, Niss."
"Harus makan!" kataku tegas.
Dia menghela napas panjang lalu menyendok beberapa butir nasi. Hanya beberapa suap saja. Aku tahu orang sakit itu nafsu makannya menurun. Kembali berdiri saat aku juga berdiri, kembali memelukku dari belakang. Asli, kalian tahu juga ini bukan Mas Rama yang biasanya.
"Manja sekali sih, Mas." Aku sudah terbiasa sekarang dengan pelukannya.
"Apa aku berangkat terlambat aja, Niss. Kaya Evan sama Ilhamudin yang datang besok dari Malaysia. Nanti aku bilang aja dari Zimbabwe."
Aku terkekeh. Sungguh dia manja sekali.
"Apa sih, Mas?" Sambil menuangkan air putih ke dalam gelas. "Minum obat dulu," kataku sudah menyiapkan obat untuk Mas Rama. Jujur aku sudah seperti apotek berjalan, bawa banyak obat pas KKN ini. Obat diare sampai obat sakit gigi ada.
Berbalik dan langsung menyodorkan segelas air di tangan kanan serta satu butir Paracetamol di tangan kiri. Wajahnya masih malas-malas tapi dia tetap mau minum obat. Anak yang baik.
"Mau tidur lagi?" tawarku biar dia lebih baik, dia harus berjuang, berlatih untuk membela negara nantinya, jadi aku tidak ingin dia kalah sebelum berjuang.
Dia menggeleng. Benar-benar seperti anak kecil yang menggeleng pelan, memanyunkan bibir dan limbung dalam pelakukanku.
"Mas, ini bukan kamu yang biasanya," tegurku mengusap punggungnya pelan.
"Ini aku yang sebenarnya. Kamu tidak tahu, sikap dinginku itu bukan aku," bisiknya tepat di telinga kiriku.
Aku tersentuh sekali dengan ucapannya. Kuharap apa yang dia katakan itu benar, jadi aku tidak perlu merasakan hipotermia lagi mulai sekarang.
"Jatuh cintalah padaku, Niss," bisiknya sekali lagi mampu menyentuh bagian terpenting dari hatiku.
Kuangkat kepalanya, kutangkup kedua pipinya. "Mas harus tidur, mulai nanti harus sudah latihan taktik, Mas harus bawa nama baik Indonesia di Asian Games."
Mas Rama justru menatapku lekat sekali, sangat dalam, dia mengalungkan tanganku di lehernya. Wajahnya dekat, semakin dekat, aku takut dia melakukan itu tapi aku juga tidak bisa menolak, dia suamiku. Sampai di lima sentimeter dari bibirku, dia kembali pada posisi semula. "Aku ngantuk," katanya pergi ke kamar.
Aku masih kaku di tempat. Mas Rama ingin menciumku tadi, aku yakin, untung saja tidak jadi, jika jadi sudah pasti aku beku. Lega rasanya.
Rama POV
Astaga, apa yang baru saja aku lakukan? Gila, aku hampir mencium Nissa dan aku menjadi sangat manja padanya. Aku tidak tahu tapi aku ingin sekali manja padanya, pikiranku hanya mengingat waktu yang semakin sempit sementara aku harus segera pergi terlebih suhu tubuhku naik. Ya Rabb, apa tidak bisa diperjelas mengapa aku begini?
Untung saja tidak terjadi, jadi masih aman, Nissa tidak akan canggung lagi apalagi marah karena aku menciumnya. Rama, tenangkan dirimu, kendalikan dirimu.
Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur, aku ingin ada Nissa di sampingku tapi aku juga tidak bisa apa-apa sampai akhirnya mataku terlelap di bawah pengaruh obat.
"Mas Rama," bisik suara lembut itu di daun telingaku.
Itu suara Nissa, sudah berapa lama aku terlalap sampai Nissa sudah membangunkanku? Kubuka mataku perlahan dan kulihat Nissa sudah begitu cantik dengan kerudungnya yang berwarna salem. Iya, Nissa itu cantik, saat tersenyum sungguh sangat meneduhkan, tatapan matanya juga bisa membuat siapapun yang menatap pusat mata melayang. Dia itu seperti bidadari yang beberapa hari ini selalu ada saat aku terbangun.
"Enggghhh, aku nggak pengen ke Bali," lenguhku sambil merenggangkan tubuh.
"Ini toh aslinya Kapten Timnas yang katanya punya nasionalisme tinggi tapi diminta berangkat TC aja malasnya minta ampun? TC itu kan pemanasan sebelum memperjuangkan nama baik bangsa, kalau sudah malas dulu nanti hasilnya gimana?"
Aku langsung bangkit oleh ucapannya. "Nggak sih, bercanda. Aku semangat berangkat ke Bali kok, di sana banyak bule cantik."
Nissa mengerlingkan matanya tapi aku tahu dia tidak begitu suka dengan ucapanku, aku ingin menggodanya saja, setidaknya terakhir sebelum berpisah kembali.
"Semoga pantainya sepi semua!" ungkapnya ketus lalu pergi dari tempat duduknya di tepi ranjang.
"Cemburu, Niss?" Sambil mengikuti langkahnya menuju dapur, kulihat dia menyiapkan beberapa sandwich untukku.
"Nggak lah, dosa juga yang nanggung Mas sendiri. Nissa ikut dosa kalau nggak ngingetin Mas aja, jadi sekarang Nissa ingetin biar matanya nggak jelalatan. Udah habis itu terserah berguna atau nggak omonga Nissa ini." Memasukkan sandwich ke dalam kotak makannya.
"Niss, bagaimana kalau saat kita jauh terbentang jarak tetapi kita justru menyadari bahwa kita sudah saling jatuh cinta?"
Nissa langsung menoleh padaku lalu tidak mengatakan apapun sama sekali. Apa dia tidak suka juga membahas cinta dengan suaminya?
"Niss," kembali memeluknya dari belakang. Awalnya dia yang selalu kaget kupeluk sekarang sudah biasa. Rasanya hubungan kami semakin dekat justru saat kami harus terpisah, bukankah menyakitkan?
"Sopir sudah nunggu di luar, habis Nissa siapin bekalnya kita berangkat. Semua barang Mas sudah Nissa taruh mobil, cek ulang siapa tahu ada yang ketinggalan."
Dia benar-benar istri yang baik sejauh ini atau bahkan sangat baik. Dia tetap melakukan semuanya meski perasaan kami masih tanpa kejelasan.
"Iya, ada yang ketinggalan."
"Apa?" tanyanya masih sok sibuk dengan sandwichnya.
"Kamu," bisikku tepat di telinga kanannya.
Nissa terdiam kaku, semua aktifitasnya terhenti. Sementara dia mematung aku kembali pergi ke kamar mengecek sesuatu yang bisa saja tertinggal. Meski nyatanya setelah kucek tidak ada apapun yang tertinggal kecuali kenanganku 3 hari 3 malam bersama Nissa.
Istri cantikku itu sudah duduk di jok belakang ketika aku masuk usai menemui pemilik villa. Dia terlihat kelelahan atau cuma perasaanku saja, dari wajahnya bisa kulihat lelah itu.
Kami memulai perjalanan panjang dari jalanan yang menikung tajam, sudah semacam kelok sembilan di Sumatera itu, Tawangmangu juga punya hal yang sama ternyata dan itu membuat Nissa ketakutan dengan terus beradu antara satu tangannya dengan tangan lain. Terlihat begitu gelisah dan dia tidak ingin melihat ke depan. Melihatnya tidak dalam kondisi baik, aku langsung menggenggam tangan Nissa.
"Kenapa, Niss?"
"Nissa selalu takut kalau turun dari Tawangmangu. Jalannya mengerikan," jelasnya dengan suara parau.
Menggeleng sejenak. Nissa, Nissa, namanya jalanan pegunungan ya mengerikan. Iya kan? Kalian juga pasti tahu.
"Sini, sini," ajakku sambil menarik tubuhnya ke dalam pelukanku. Aku berusaha menenangkannya saja.
Cukup lama sampai akhirnya kami berhasil melewati jalanan menikung, sampai di jalanan yang lebih landai. Untungnya sopir juga tidak ugal-ugalan semacam sopir Jawa Timuran.
Moment di jalan yang lebih landai seharusnya tidak boleh terlewatkan, ini momen terakhir sebelum aku berangkat ke Bali. Tapi nyatanya Nissa membuang waktu itu, dia justru terlelap dalam pelukanku. Ini aku yang sakit jadi semacam Nissa yang sakit. Ah, tapi tak apa, toh dia sudah merawatku dengan baik.
Sampai di rumah, satu setengah jam berlalu dan dia masih lelap dalam pelukanku, aku yakin dia kelelahan mengurusku sepanjang waktu. "Niss," bisikku sambil menepuk-nepuk kecil pipinya.
Dia terbangun dan langsung melepas pelukanku. "Maaf, Mas." Selalu dengan ucapan maafnya itu dan bahkan meski wajahnya masih muka bantal. "Udah sampai, ya?" Dia langsung turun dan meninggalkan aku sendiri.
Tidak ada orang di rumah kecuali asisten rumah tangga yang tengah mengapu teras rumah. Mertuaku, selalu sibuk dengan urusan bisnis dan urusan Dinas Peternakan, Kakak Iparku meengajar, Adik Iparku masih sekolah.
Saat aku masuk ke dalam kamar, Nissa tanpa lelah langsung menyiapkan koperku, memang tinggal menata sedikit tapi agaknya dia menambahkan beberapa baju lagi. Memang dalam waktu yang lama pemusatan latihan ini di Bali. Dengan target yang gila, masuk semifinal Asian Games itu mengharuskan kami berusaha lebih ekstra.
Entahlah hari ini kenapa tapi aku ingin terus memeluk Nissa. Aku menyukai kenyamanan di dekatnya meski jantungku terkadang berdetak lebih kencang. Aku suka dengan kedamaian yang tercipta saat bersama Nissa. Aku menyukai semuanya.
"Niss.” Masih memeluknya dari belakang.
Nissa berbalik. "Masih panas?" Menyentuh dahiku dengan punggung telapak tangannya.
Aku tersenyum, tubuhku masih tidak enak, apalagi hatiku. Nissa memandangku cukup lekat sampai membuat semua terasa semakin tidak baik-baik saja.
Kutangkup kedua pipinya dan dia hanya diam, wajahnya terlihat ketakutan, tapi kurasa tak bisa lagi menahannya. Semoga dia tidak marah dengan apa yang akan aku lakukan.
Cup!
Kukecup bibirnya dan dia hanya bisa berdiri kaku dan matanya membulat.
"Mas rasa, Mas tahu kenapa nggak bisa pergi jauh dari Nissa," kataku sudah membahasakan diriku sendiri dengan Mas kepada Nissa. Itu lebih manis dari biasanya. "Nissa boleh marah sama Mas karena kecupan itu. Maaf sudah melakukannya tanpa izin."
Aku pergi menjauh darinya, menarik koper yang sudah ditata ulang oleh Nissa. Sementara dia masih kaku di tempatnya. Istriku yang polos itu pasti kaget sekali. Dengan responnya yang semacam itu, aku tahu, aku yang sudah mengambil first kiss-nya. Dan aku, aku sangat bahagia sekali karena Nissa bisa menjaga apa yang seharusnya pertama kali dia berikan padaku. Untuk kalian yang perempuan, yang paling membahagiakan seorang suami adalah saat kalian memberikan hal paling berharga itu pertama kali pada suami kalian, bukan pacar kalian. Jadi tolong, jaga hal berharga itu sampai kalian menemukan seseorang yang disebut sebagai jodoh.
****
Tubuhku masih terbujur kaku saat Mas Rama sudah pergi meninggalkan aku. Apa yang barusan dia lakukan? Mencium bibirku? Aku ingin mengucapkan istighfar tapi suamiku sendiri yang melakukannya. Ingin mengucapkan alhamdulilah tapi seolah kehilangan sesuatu. Ini pertama kalinya, jelas, karena Mas Rama suami pertama dan akan menjadi yang terakhir, tentu dia yang pertama melakukannya. Dia telah mengambil satu dari sekian hal yang telah kujaga lebih dari 21 tahun. Sekujur tubuhku rasanya berhenti di detik itu.
Sekarang sebenarnya aku menangis, entahlah mengapa aku selalu menangis setiap kali Mas Rama menciumku. Entah bibir entah pipi yang semalam. Bukan aku merasa sedih sesuatu yang berharga itu diambil, tapi aku belum siap. Sayangnya, aku sendiri juga tidak bisa melakukan apa-apa, suamiku sendiri yang melakukannya dan itu halal. Dan, tunggu, bukankah dia membahasakan dirinya dengan sebutan Mas tadi? Bukankah biasanya hanya aku dan kamu? Kenapa dia berubah begitu manis ketika kami harus berpisah?
Aku menghela napas panjang, menghapus air mataku, berusaha memasang senyum dan berusaha tetap tenang. Berjalan keluar, menghampiri Mas Rama yang ternyata sudah masuk ke dalam mobil. Tidak akan banyak waktu, pesawat akan segera berangkat.
Mas Rama memandangku sambil tersenyum saat dalam perjalanan menuju Bandara Adi Sumarmo, Solo. Dia tidak lagi merasa berdosa telah melakukan hal itu. Terus begitu tanpa mengucapkan apapun hingga kami sudah turun dari mobil di parkiran bandara.
"Pak, nanti pulangnya ke Tawangmangu hati-hati saja ya? Nanti turun saja di tempatnya Pak Kades." Mas Rama berbicara dengan Bapak Sopir. Beliau memang sopir asli Tawangmangu, jadi tidak mungkin mengembalikan mobil Ibu ke rumah.
"Nanti yang ambil mobilnya Ayah, Mas? Nissa kan nggak berani bawa mobil dari Tawangmangu."
Mas Rama tersenyum lalu mengusap bahuku. "Mas udah bilang sama Bima, dia bisa nyetir dari Tawangmangu sampai ke Solo, jadi nanti Nissa sama teman-teman bisa pulang KKN naik mobil saja."
Aku mengangguk.
Sekarang Mas Rama dan aku berjalan masuk ke dalam bandara. Kami hanya berdua, aku juga hanya mengantarnya sampai ruang tunggu. Mengantarnya sampai announcer memanggilnya untuk naik pesawat.
Mas Rama terus saja menggenggam tanganku, mengusap-usapnya lembut, masih terasa sekali tubuhnya yang panas tapi dia tetap akan berangkat ke Bali. Rasanya tidak tega membiarkan Mas Rama pergi dalam keadaan sakit, siapa yang akan mengurusnya nanti.
"Mas jangan lupa minum paracetamolnya tadi, ya? Ada di koper bagian depan. Jangan sampai telat makan juga," kataku mumpung ingat. Sebenarnya masih canggung sekali, tapi bagaimana lagi, sampai kapan mau mikirin canggung, bisa-bisa tugasku sebagai istri tidak terlaksana dengan baik.
Sudut bibir Mas Rama mengembang, astaghfirullah, aku jadi ingat lagi apa yang dia lakukan tadi. Aku berusaha melupakannya agar tidak canggung. "Iya, Nissa," balasnya terdengar sangat lembut sekali lantas menatapku dalam, semenit kemudian dia rebahkan kepalanya di bahuku, sambil terus mengganggam tanpa melepaskan.
Ya Rabb, Mas Rama benar-benar manja sekali.
"Jangan lupa kasih kabar ya, Niss?"
Aku mengangguk.
Hening.
"Rama Anan Pranata?" panggil segerombolan orang dengan jersey Timnas mereka, ada yang putih ada yang merah. Mereka rata-rata perempuan, hanya sekitar 8 orang yang laki-laki dari sekitar 25 orang. Subhanallah, ini banyak sekali orangnya.
"Ah, iya." Mas Rama bangkit dari bahuku, berdiri dan aku ikut berdiri. "Yang kemarin DM ya?"
Mereka semua mengangguk, aku tidak tahu tentang apa ini. Mas Rama tidak menjelaskan apapun padaku.
"Oh, sebelumnya terima kasih sudah datang dan sudah buat fanbase yang cukup aktif sebagai komunitas. Saya harap kalian melakukan hal yang positif juga diluar mendukung saya sebagai atlet."
Dari penjelasan Mas Rama agaknya aku tahu bahwa mereka adalah penggemar dari Mas Rama. Di beberapa akun i********: memang banyak yang mengatasnamakan sebagai penggemar dari Mas Rama. Tapi aku tidak tahu ini yang mana.
"Siap, Mas. Pasti kami melakukan kegiatan yang selalu positif. Izin memperkenalkan diri, Mas. Saya ketua fanbase Solo, Dina.” Mengajukan tangannya kepada Mas Rama.
Sayangnya Mas Rama menempelkan kedua telapak tangannya sebagai tanda bahwa mereka tidak bisa bersalaman. Entah ini hanya terjadi di depanku karena aku memang tidak pernah bersentuhan dengan laki-laki yang disengaja atau memang Mas Rama mulai mengerti tentang menjaga diri dalam Islam.
"Maaf, terima kasih sudah mengondisikan orang sebanyak ini, ngefans sama saya boleh asal jangan lupa sama Tuhannya masing-masing," balas Mas Rama membuatku tersenyum. "Oh iya, ini istri saya, Aisyah Lailatul Nissa," sambil merangkulku.
Aku menganggukkan kepala lalu menjabat tangan orang dengan nama Dina. Kurasa dia masih di bawahku, masih terlihat sangat muda.
"Cantik, Capt. Pinter cari jodoh nih," puji Dina yang terkesan sangat ramah.
Senyumku mengembang. "Terima kasih," ucapku karena pujiannya. "Iya, alhamdulilah, Allah kasih yang sempurna."
"Uluhhh, Captain, kok manis banget," ucap mereka serentak.
Aku tersenyum kaku. Menjelang menjadi pejuang jarak, Mas Rama memang berubah manis.
Mereka minta berfoto bersama dengan Mas Rama dan denganku juga. Mereka cukup ramah dan menyenangkan. Semua terjadi cukup lama sampai akhirnya announcer memanggil semua penumpang tujuan Bali untuk naik ke dalam pesawat. Waktunya aku berpisah dengan Mas Rama.
"Niss," panggilnya memandangku sangat lekat, seperti saat dia menciumku tadi, tapi kini dia hanya memelukku erat, seolah tidak ingin melepaskan. "Terima kasih," bisiknya di telinga kananku.
Di depan semua penggemarnya, Mas Rama memelukku tanpa canggung. Beberapa bahkan sampai terkesima dengan adegan yang kami suguhkan. Aku yang dipeluk mereka yang menjerit histeris.
"Sudah memberikan ciuman pertamamu untukku," kalimat ini benar-benar sampai di bagian tersadar dari hatiku.
Mas Rama lantas melepaskan pelukannya. Dia masih menatapku lekat. "Jaga diri baik-baik di sini biar ndak sakit, nggak ada Mas soalnya."
Aku tersenyum dan mengangguk.
"Mas sebenarnya pengen kamu datang ke setiap pertandingan Asian Games nanti, tapi sepertinya belum selesai KKNmu, jadi cukup dukung Mas dari kejauhan dan doa."
Sekali lagi mengangguk. "Nissa pasti doain Mas kok. Berjuanglah sebaik mungkin untuk negara, Nissa pasti selalu ada buat Mas."
Giliran Mas Rama yang mengangguk lalu mencium keningku sampai semua orang bersorak. Aduh Mas Rama ini sudah berapa kali menciumku, dia macam tidak ada bosannya.
Usai dia mencium keningku, aku menjabat tangannya dan mencium punggung telapak tangannya. "Hati-hati di jalan, Mas. Jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai di Bali."
"Siap! Nissa nggak mau bilang sesuatu lagi? Misalnya biar mata Mas nggak jelalatan."
Aku menggeleng kecil, terkekeh sendiri. "Suami yang baik selalu tahu bahwa matanya ini, hanya boleh memandang lekat istrinya saja," kataku langsung disambut senyum.
Masyaallah, apa yang barusan kukatakan? Ceplas ceplos sekali.
"Sampai jumpa lagi, Mas pasti rindu sama Nissa nanti," katanya membuat mataku terasa sangat panas.
Baru saja kami memulai kehangatan, baru saja kami dekat meskipun belum ada yang mengatakan cinta, baik aku ataupun Mas Rama. Aku tidak tahu apa definisi cinta tapi senang dengan kehadiran Mas Rama setidaknya 3 hari bersamanya. Dan berpisah darinya adalah sesuatu yang memberatkan. Mas Rama sendiri? Dia berani menciumku, mungkinkah dia sudah mencintaiku? Bahkan dia bilang rindu dan sangat manja padaku hari ini. Aku tidak tahu tapi Mas Rama tidak pernah mengatakan cinta sampai saat ini.
Mas Rama melepas genggamannya padaku, dia berjalan menjauh usai pamitan dengan fanbase-nya. Punggungnya lambat laun menghilang dan kami akhirnya terpisah kembali, bukan Jawa-Kalimantan tetapi Jawa-Bali. Sekarang kami adalah pejuang LDR yang halal, untungnya Mas Rama sudah menjadi Mas Rama yang menyenangkan, jadi tidak akan membosankan seperti sebelumnya.
"Kapten orangnya so sweet ya, Mbak Nissa?" tanya salah satu penggemar saat aku masih melamunkan Mas Rama.
"Sebagaimana yang kalian lihat," sambil tersenyum ramah.
Selain aku, Ayah dan Ibu Mas Rama yang akan selalu mendukung Mas Rama, tetapi ada juga mereka yang mendukung suamiku itu. Jadi aku harus menghormati mereka sebagaimana Mas Rama menghormati mereka. Aku harus berperilaku baik pada mereka, mereka adalah salah satu alasan Mas Rama bertahan.
"Pasti bakalan sepi ya, Mbak, tanpa Mas Rama?"
Pertanyaan itu berhasil membuatku terdiam. Pastinya benar, tidak akan ada lagi yang menggodaku dengan pikiran-pikiran mesumnya, tidak akan adalagi yang memelukku, tidak ada lagi yang pagi-pagi memakan hasil masakanku. Butuh waktu yang lama untuk kenangan itu terulang kembali.
Aku menghela napas panjang. Mas Rama pergi untuk bekerja dan yang paling penting adalah untuk negara kami tercinta. Dia harus banyak persiapan sebelum membawa nama baik bangsa. Aku, aku harus menyelesaikan tugasku dengan baik tanpa terlewat, biar segera bisa ikut ke mana pun dia pergi, bisa mendukungnya di mana pun. Bisa nyetadion sekadar melihat dia memainkan permainan terbaiknya. Aku ingin segera menyelesaikan satu kewajibanku menjadi perempuan berpendidikan baru setelahnya mengabdi penuh pada Mas Rama.