Part 16

1377 Kata
Rama POV Kupandangi kota Solo dari tempatku di atas awan, baru saja pesawat membawaku terbang, berat sekali meninggalkan Nissa di sana. Harus terpisah jarak sementara aku baru saja menyadari sesuatu yang menyenangkan. Nissa, dia istri yang begitu baik, membuatku selalu merasa nyaman di dekatnya. Aku memejamkan mata, membayangkan Nissa ada di sampingku, menemani ke mana pun aku pergi. Tapi ya beginilah nasib pasangan-pasangan atlet. Jangan kalian pikir hanya pasangan Tentara, pasangan Polisi yang disebut pejuang LDR paling ulung. Pasangan atlet sepak bola macam kami ini juga pejuang LDR yang lebih menyentuh. Terlebih saat kami harus LDR, demi kepentingan negara seperti sekarang ini. Jika demi klub, itu hanya seperti tengah LDR dengan perantau untuk menafkahi istrinya. Tapi kalau demi negara begini, apa ya nggak sama dengan tentara yang menjaga negaranya? Mataku semakin terlelap hingga akhirnya sampai di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Aku sudah janjian dengan satu temanku di Timnas, katanya dia baru datang juga, maklum, turnamen bersama tim satunya baru saja selesai bertanding kemarin sore. Siapa dia? Si Saddil, yang punya Tendangan Pecel Lele. "El Capitano," sapanya yang ternyata sudah menungguku di lobby. Padahal baru saja aku hendak menghubunginya. Dia dengan kaos putih, celana joger pants dan topi hitamnya, memakai headphone yang aku yakin sekali tidak ada lagunya. "Weess, si Tendangan Pecel Lele," sapaku balik sambil menggoda. Jujur aku kagum dengan seorang Saddil Ramdani ini. Bagaimana tidak? Dalam satu waktu, dua tahun ini, dia tergabung dalam 2 tim nasional sepak bola sekaligus. Dia tergabung di Timnas Indonesia Under 19 tahun asuhan Indra Sjafri dan Dia juga tergabung di Timnas Indonesia Under 23 tahun di bawah asuhan Luis Milla. Kemarin baru saja dia menyelesaikan laga bersama timnas U-19, sayang mereka gagal masuk ke final dan hanya menduduki peringkat 3. Bukankah tanpa lelah anak yang umurnya lebih muda dari aku ini dalam membela negaranya? Kalian harus bangga punya atlet setangguh dia. Meski maaf, terkadang kami kami ini juga di luar ekspektasi kalian yang tinggi itu. "Gue nggak tahu kenapa di panggil tendangan pecel lele, padahal Egy aja dapatnya Si Kelok Sembilan." "Tapi lu disebut juga si Tendangan Roket," sahutku. Dia itu memang banyak sekali julukannya, dia juga orang yang lucu, suka melucu orangnya. "Besok gue buat tendangan nuklir," ucapnya lalu tertawa. "Haha," tawaku memang tak seramai biasanya. Sekarang kami tengah dalam perjalanan menuju hotel yang sudah ditentukan, hotel yang sebelumnya juga menjadi tempat kami TC tahun lalu sebelum Sea Games di Malaysia. "Capt, lu kelihatan berat gitu kagak kaya biasanya?" Tanya Saddil yang mungkin sudah sejak tadi memperhatikan aku dari Bandara sampai ke Hotel. "Lagi panas badan gue, nggak tahu mau TC gini malah sakit," jawabku menarik koper dari dalam bagasi taksi. Menunggu sang sopir mengeluarkan koper milik Saddil cukup lama. "Lah, lu pasti tiap malem olahraga sih. Angin malem kagak baik, Capt. Malah olahraga mulu, mentang-mentang habis honeymoon, bikin snapgram mulu," candanya aku tahu kemana arah maksudnya. Aku menempeleng kepalanya. "Anak kecil jangan bahas kaya gitu," kataku. "Wajar kali, udah 17 plus, gue juga udah ngerti." Sambil terus menarik koper aku bergumam, "Lo yang baru 18 tahun aja ngerti kaya gitu. Si Nissa yang udah 21 tahun aja nggak ngerti. Niss, Niss, betapa polosnya kamu." "Apa, Capt?" Menggeleng pada Saddil, jangan bercerita banyak dengan Saddil, aku bisa jadi bahan bullyan satu tim nanti. Lebih aman ngomong kaya gini itu sama Zulfikri atau Febri, eh, tapi Febri kadang mulutnya juga lemes, masa bocorin ke Nissa kemarin. Sampai di lantai yang entah ke berapa ini, petugas hotel mengantarkan kami dan kami berdua disambut oleh beberapa pemain di lorong kamar. Kalian tahu, Fano, Ricky Yujin, David, Febri, Zulfikri, Bagas Ari dan Hanif Luthfi? Iya, mereka rekanku di Timnas Indonesia, mereka juga yang menyambutku sambil berjoget-joget semacam di Hawai. Jangan dibayangkan, aku yakin akan banyak orang mual melihatnya. "Ini apa lagi?" tanyaku sambil melewati mereka. "Menyambut yang baru saja honeymoon," seru David sambil menggodaku. Honeymoon? Honeymoon macam apa yang kemarin itu? Dan sejujurnya aku mengerti bahwa mereka tidak sebenar-benarnya menyambut, mereka hanya bikin video blog saja untuk channel YouTube mereka. Eh, entah siapa yang punya channel YouTube, aku juga punya sebenarnya tapi belum ada konten lagi. Pengen buat konten bareng Nissa tapi dia pasti masih canggung. Aduh, Nissa lagi, bagaimana kabarnya? "Capt, kaya biasa, satu kamar lagi kita," kata Febri yang langsung menarikku. Kami berada di dalam kamar yang cukup bagus, pemandangan Bali yang indah dengan lukisan langit yang cerah. Allah Swt. begitu sempurna dalam memberikan nikmat kepada hamba-Nya. "Capt, gimana honeymoon-nya, cerita dong. Cowok semua ini kagak ada ceweknya." David tiba-tiba saja nyelonong dan merebahkan diri di atas tempat tidurku. "Nggak sehat buat jomblo kaya lo gitu, Vid." "Hahaha," Febri tertawa paling keras sementara David melempar bantal ke arahku. "Berarti sehat buat gue, kan?" "Kagak, mulut lo lemes kaya lambe murah," seruku asal-asalan saja. "Lo pakai bilang kaya gitu lagi sama Nissa, hampir perang dunia gue. Lo bayangin aja retak pertahanan rumah tangga gue gegara Lo, Bro." Febri hanya terkekeh, diikuti David setelahnya. "Lu bilang sama gue istri lu masih polos, Capt. Enak dong, semua serba pertama lu lakuin bareng dia." Febri memang pernah mendengarku mengatakan itu waktu telepon dengannya saat Nissa sudah tertidur. Tapi itu anak kenapa suka bahas kaya gitu, ya? "Iya? Mantul, mantap betul." David langsung bangkit. Aku menghela napas panjang. Jujurnya aku tidak mau lebih banyak membahas Nissa. Kalian tahu aku sudah rindu dengan kehadirannya, wajah polosnya, semua tingkah lakunya, aku rindu dengan semua itu. "Gue cium pipinya aja diteriakin m***m, gila." Febri dan David saling memandang. "Hahahaha.” Mereka tertawa keras sekali sampai beberapa pemain menengok ke dalam kamar dan bertanya kenapa. "Muke muke p*****l lu, Capt," ceplos David membuat gelak tawa semakin renyah saja. "Eh, ya tapi baguslah, tandanya dia masih bener-bener bersih dari segi pikiran dan pribadinya. Keuntungan buat lu lah." Benar kata Febri, aku beruntung sekali mendapatkan Nissa yang pintar dalam menjaga dirinya. Kalian tentu ingin membuat suami kalian kelak menjadi orang yang beruntung kan? Jadilah seperti Nissa yang pandai menjaga hal paling berharga yang dia punya. Mengingat pergaulan bebas zaman sekarang semakin tidak terkendali, tolong jangan terjun ke sana karena kalian penasaran. Penyesalan selalu datang di akhir, dan belum tentu yang memiliki kalian kelak mau menerima itu. Jadilah perempuan yang berharga. "Beruntung sekali aku. Rindu gue sama dia," keluhku merebahkan diri di atas tempat tidur. "Udah jatuh cinta lu?" tanya David. Bagi mereka berdua, tentang perjodohan ku bukan lagi rahasia atau sekadar gosip. Meraka tahu segalanya terlebih Zulfikri yang mungkin sekarang lagi sibuk sama buku-buku islaminya atau lagi jalan sama yang punya Bali, Putu Gede, kudengar tadi mereka pengen makan di luar. Aku menerawang langit-langit kamar. Kubilang aku sudah menemukan sesuatu yang berharga, bahkan tepat saat kami harus berpisah. "Sepertinya, gue kaya orang gila di dekatnya, pengennya manja, pengen peluk aja nggak usah dilepas, gue cemburu, dan gue rindu banget," jelasku tetap menerawang jauh. "Udah jatuh cinta lu, Capt. Lha kalau gue jadi lu, lama-lama kagak jatuh cinta sama Nissa, nggak akan mungkin. Baru dikenalin juga udah jatuh cinta gue!" Seru David yang memang lagi jomblo-jomblonya. "Cantik gitu, lembut, bisa jaga diri sebaik itu." Aku tersenyum. Nissa memang semacam itu. "Jangan-jangan lu pucet kaya gini gegara nggak siap lagi pisah sama Nissa," celetuk Febri yang ternyata masih menyadari kondisiku. "Panas badan gue, dari tadi pagi. Masuk angin," jawabku santai. "Kebanyakan olahraga malam nih, 3 hari olahraga malam mulu. Hahaha," seru Febri. "Olahraga malam apaan? Lu kagak denger, dia cium pipi aja diteriakin m***m apalagi olahraga malam, bisa dipanggil p*****l beneran doi," sahut David yang memang tengah bahagia mendapat topik bullyan. "Gue nggak akan lakuin itu sebelum sama-sama jatuh cinta kali," sahutku. "Lah lu udah jatuh cinta kan?" Masih David. "Tapi Nissa belum," jawabku lemah. Nissa belum menunjukan gelagat itu apalagi mengatakan. "Yah, kagak pengen punya anak lu, Capt?" "Ya nanti aja sih, Nissa belum siap. Dia masih harus skripsi, harus magang satu kali lagi, masih panjang perjalanannya. Kurang 2 semester lagi itu baru wisuda." "Lama ya? Sabar lu nungguin dia?" Aku mengangkat bahuku. Entah sanggup atau tidak, yang sekarang dijalani dulu. Lagian si jomblo sama si bujang ini juga ngapain bahas kaya gitu. Suka amat mereka itu. Kenapa nggak nikah aja biar tahu? Aku memejamkan mata menikmati semua bayang-bayang Nissa ketika tersenyum. Dia manis sekali. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN