Di perjalanan pulang menuju rumah Erika, Erika melihat penjual seblak di pinggir jalan. Dia pun meminta Doni untuk berhenti sekejap. Tidak menghiraukan rasa kesal Doni, Erika kembali menyuruh Doni berhenti saat kali pertamanya menyuruh tidak digubris oleh Doni. “Please, Don. Gue pengen seblak.” Doni menatap Erika tajam. Yang ditatap alih-alih takut, malah nyengir kuda. Doni menghela napas kasar, berhenti di pinggir jalan dekat penjual seblak itu. “Makasih, Doni ….” Di dalam mobil sudah kurang lebih setengah jam, tapi, rasa kesal Doni belum juga hilang. Perlakukan Sinta di rumahnya tadi benar-benar membuat Doni ingin membalasnya di tempat tadi. Tidak mungkin. Situasi dan tempat tidak memungkinkan Doni untuk melakukan pembalasan. Alih-alih mengetahui di mana alamat Putri, yang ada semuan

