Usai membayar makanan mereka, Abira langsung menarik tangan Gladis sampai ke parkiran. Abira memakai sabuk pengaman, menyalakan mesin, langsung tancap gas mengikuti mobil Raka. Di jalan raya, mobil Fortuner putih itu melaju dengan kecepatan normal. Abira menjaga jarak dua ratus meter di belakang agar tidak terlalu kentara. Lalu lintas kota Jakarta siang ini hari tidak terlalu ramai. Jam makan siang satu jam lagi. Situasi mendukung Abira untuk mengikuti Raka, mencari tahu ke mana laki-laki itu hendak pergi. Di persimpangan, Raka belok ke kanan. Semakin masuk ke dalam sana, jalanan semakin sempit terasa. Aspal dengan lubang-lubang besar membuat perut mereka lumayan seperti diaduk-aduk. "Resto Babi Panggang?" gumam Gladis saat melihat di mana Raka memberhentikan mobilnya. "Gak salah, Ra?"

