PROLOG
“Benar namamu Selina?”
Pria itu menggeram pelan di sela pertanyaannya. Giginya menyentuh lembut cuping telinga Tsireya, sementara gerakan pinggulnya di bawah sana semakin kehilangan kendali.
“Uh, i-iya,” sahut Tsireya terbata. “Seli ... na,” ulangnya pelan.
“Apa setelah malam ini kita bisa bertemu lagi?”
Tidak.
Dia ingin menjawab tegas, tetapi bibirnya tak mampu mengeluarkan apa pun selain desahan. Sensasi asing yang menggulung nikmat membuat tubuhnya kehilangan kendali. Darahnya berdesir hebat, punggungnya melengkung seperti busur panah saat puncak itu semakin dekat.
“Saya tertarik ingin mengenalmu lebih dalam.”
Terlalu banyak bicara.
Tsireya memilih mendorong bahu pria itu menjauh dari ceruk lehernya, lalu membungkam bibirnya dengan ciuman basah dan dalam. Bibir mereka bertaut, lidah saling membelit. Dia merintih pelan, separuh sadar mengakui bahwa pria yang menindihnya saat ini adalah seorang pencium yang hebat.
He is a good kisser.
Soal nama … Tsireya diam-diam mengejanya kembali dalam kepala.
Kaelion.
Sangat cocok dengan penampilannya. Tampan, berkarisma, tapi menyimpan sesuatu yang sulit ditebak. A mysterious man. Dan yang paling penting—dia jujur. Berbeda dengan Tsireya yang menggunakan nama palsu.
Tapi ini hanya kencan semalam. Sekalipun Kaelion adalah pria pertama yang menyentuhnya dan meninggalkan sensasi memabukkan yang mungkin akan sulit dilupakan, semuanya akan berakhir setelah mereka keluar dari kamar ini.
Dia tidak berniat melanjutkan apa pun. Tsireya tidur dengan orang asing hanya untuk satu tujuan: pemberontakan.
“Aromamu … saya suka.”
Kaelion tiba-tiba berbisik setelah ciuman mereka terlepas, membuat pikiran Tsireya sedikit buyar. Tatapannya semakin menggelap, bibirnya memerah dan sedikit bengkak. Napasnya yang tersengal menunjukkan betapa dekatnya dia dengan puncak yang sama.
Otot-otot perut Kaelion menegang, rahangnya mengeras. Di sela gigi yang terkatup, kedua tangannya menangkup rahang Tsireya, ibu jarinya menekan sudut bibir perempuan itu perlahan.
“Kencan ini memang diatur oleh teman saya, tapi … saya tidak menyesal datang menemuimu.”
Begitu kalimat itu selesai, suara mereka pecah bersamaan dalam desahan tertahan yang tak lagi bisa ditahan.
Tubuh keduanya bergetar, tersentak dalam gelombang yang memuncak.
Kaelion akhirnya ambruk menimpa Tsireya, sementara Tsireya terpejam, meresapi sisa-sisa sensasi yang perlahan mereda, berusaha mengatur napasnya yang tersendat.
Rasanya luar biasa.
Meski keputusan itu—menghilangkan keperawanan dengan orang asing—terkesan impulsif, dia tidak menyesal. Setidaknya, belum. Teman kencannya adalah pria yang cukup gentle seperti Kaelion, sehingga tak ada yang perlu diratapi malam ini. Sebaliknya, dia memilih menganggap malam yang akan segera berakhir itu sebagai kenangan yang tak perlu dipikirkan terlalu dalam. Meski demikian, ada bagian kecil dalam dirinya yang sengaja dia abaikan, bagian yang terus mempertanyakan apakah keputusan itu benar.
Setelah cukup tenang, Kaelion bergeser ke samping Tsireya. Dia berbaring telentang, dengan menjadikan kedua tangan sebagai bantal, menatap langit-langit kamar.
Keheningan sempat menyelimuti sebelum akhirnya dia bersuara.
“Jadi, apa jawabanmu atas pertanyaan saya tadi?”
Tsireya membuka mata. Sudut bibirnya melengkung tipis.
Dia menggeleng pelan. “Just one night stand. Nothing more.”
Dia kemudian bangkit, meraih tisu basah di atas nakas, lalu perlahan membersihkan dirinya dari sisa cairan dan bercak darah. Dia menahan nyeri saat melakukannya, hingga akhirnya semuanya terasa lebih bersih.
Setelah membuang tisu ke tempat sampah, dia menoleh lewat bahu. Kaelion masih di posisi yang sama, namun kini menatapnya—menatap punggung telanjangnya dengan tenang.
“Terima kasih untuk pengalaman yang berkesan, yang tidak akan pernah saya ulangi lagi. Setelah ini, ... semoga Kakak bertemu dengan teman kencan yang jauh lebih menyenangkan daripada saya.”
Tsireya kemudian bangkit. Dia meraih gaunnya yang tergeletak di lantai, lalu mengenakannya perlahan satu per satu. Jemarinya sempat gemetar saat memasang kembali pita di lehernya, entah karena sisa sensasi yang belum benar-benar hilang atau sesuatu lain yang enggan dia akui.
Setelah meraih tas di atas meja, dia menatap Kaelion untuk terakhir kalinya. Senyumnya kembali mengembang, kali ini lebih lebar.
“Good bye, Kucing Hitam yang sangat jantan.”
Dia melambaikan tangan, lalu berbalik meninggalkan kamar hotel tempat mereka berbagi malam yang singkat.
***