Revana membiarkan mereka tetap berada diposisi berpelukan sedikit lebih lama. Memberikan kesempatan kepada Eliona untuk mencurahkan seluruh emosinya. Lengan gadis itu mengusap punggungnya, seiring tangis yang terdengar. Beberapa saat kemudian perlahan tapi pasti tangis Eliona mulai mereda dan Eliona mulai menjauhkan dirinya. Dia mengusap wajahnya sendiri, dan sekali lagi Revana menatap gadis itu dengan penuh harapan. “Tolong, keluarlah dan mulai kembali hidupmu. Ada banyak yang mengkhawatirkan kondisimu. Kau harus sadar ada banyak orang yang mengkhawatirkanmu lebih dari yang kau duga.” Eliona menggelengkan kepala dengan kasar sementara Revana menempatkan kedua tangannya dibahu Eliona. Sesaat gadis itu tersentak, tetapi kemudian menatap Revana dengan cara yang berbeda. “Apa aku bisa?” t

