Revana menggigit bibir agar dia tidak mengeluarkan satu kalimat umpatan. Melihat Eliona yang merana, rasa simpati jauh lebih banyak membanjiri hingga dia sendiri tak tahan.
“Apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian?” tanya Revana, dan satu kalimat itu mengubah ekspresi sahabatnya. Dia tampak tidak menyukai pertanyaan yang diajukan olehnya. “Eliona?” panggil Revana lagi begitu Eliona justru memilih bangkit dari sofa.
“Aku sudah mengatakannya.” Suara Eliona melayang di udara.
Keheningan yang panjang membuat segalanya semakin sulit untuk bisa dia cerna. “Kau bercanda kan?”
Tapi Eliona menggelengkan kepala, sementara Revana mengumpat menyadari seberapa bodoh sahabatnya. “Eliona, kau bilang padanya kalau kau mencintai dia? Ah! Tidak ada pria yang ingin mendengar hal itu di kencan pertama.” Revana menggigit ibu jarinya sejenak sambil menoleh ke arah Eliona. “Memang benar kalau kalian dulu pernah bersama dan dia mungkin saja suka mendengarnya… tapi… argghhh… jeda kalian terlalu panjang. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat. Dia mungkin sedikit takut dan tak siap.”
Eliona bersandar pada dinding, tampak lebih dari sekadar tertekan oleh argumentasi yang keluar dari mulutnya. Menyadari bahwa dia telah salah bicara, Revana bangkit dan berdiri di dekat sahabatnya. “Hei, tapi ini belum berarti akhir. Kesalahan terjadi untuk membuat kita belajar. Jadi di kesempatan berikutnya kau pasti bisa membuat segalanya jadi lebih baik,” ujar Revana sambil mengelus punggungnya secara halus. “Cari waktu lain lagi, dan ajak dia kencan lagi. Aku rasa semuanya akan kembali seperti dulu seiring berjalannya waktu.”
“… sayangnya aku tidak bisa, Revana,” ujar Eliona lirih.
“Kenapa tidak?”
“Dia sudah bertunangan.”
“Apa? bagaimana bisa dia dengan mudah pindah kelain hati?!” Revana jelas kaget, tapi dia menyimpan seluruh umpatan kasar di dasar hati dan mengubah nada bicaranya menjadi sesuatu yang justru terdengar seperti patut dipertanyakan. Setidaknya untuk memberikan sang teman sekamar sedikit penghiburan dengan memberikan beberapa alibi yang memungkinkan. “Aku rasa dia hanya takut dan bingung. Dia berbohong padamu. Maksudku, kalau dia sudah bertunangan kenapa dia menerima undangan kencanmu?”
Itu pula yang Eliona pikirkan begitu dia mendengar soal pertunangan dari mulut Alden sendiri. Tapi sayangnya penjelasan pria itu cukup membuat dia sadar bahwa dia tidak sedang berdusta. Pria itu jujur dengan cincin yang tersemat di jari manis sebagai bukti. “Dia berpikir kalau pertemuan itu hanya sekadar reuni. Bukan kencan seperti yang aku pikirkan,” gumam Eliona mengulang jawaban Alden pada Revana.
“Well in a way,” sahut Revana dan Eliona berbalik untuk sekadar melihat ke arah sahabatnya. Tanpa malu dia membuat gesture lingkaran di tangan kiri dan telunjuk yang di keluar masukan dari sana berulang kali. Eliona tersipu malu atas seberapa vulgarnya sang kawan sekamar.
“Jangan gila! Dia akan menikah, Revana. Aku sudah mengacaukan segalanya, aku sudah kehilangan kesempatanku. Wajar kalau dia bergerak maju, sudah selama itu kami tidak bertemu,” bantah Eliona cepat.
Revana menatap langit-langit lalu mengangkat bahu seolah itu terdengar biasa saja. “Kalau begitu kau juga harus begitu kan? kenapa kau menangisinya seperti sekarang?”
“Apa?” Eliona terhenyak atas jawaban santai Revana.
Revana tersenyum dan menatap sahabatnya dengan penuh kepercayaan diri. “Eliona, katamu dia baru bertunangan dan belum menikah. Itu hanyalah sebuah ikatan tipis yang bisa diputuskan. Aku pernah melakukan sesuatu di pesta bujangan teman-temanku. Dan pada akhirnya tidak ada yang terjadi. Semuanya baik-baik saja pada akhirnya.” Dia lalu menepuk bahu Eliona. “Maksudku adalah sebelum janur kuning melengkung, kau masih bisa memiliki Alden-mu itu.”
“A—aku tidak bisa melakukan itu!” sahut Eliona cepat. Dia menggelengkan kepala tapi Revana mencengkram bahunya sedikit ketat sambil tersenyum lebar.
“Dengarkan aku. Aku paling tahu seberapa menderita dan merananya kau selama ini karena dia. Aku juga tahu jenis neraka apa yang akan kau hadapi kalau kau berhenti disini. Kau akan menyesalinya, bahkan sebelum kau memulainya. Jadi kalau kau memang pada dasarnya tidak bisa hidup tanpa dia maka lakukanlah sesuatu,” ujar Revana lalu menghela napas. “Dia mungkin akan menikahi perempuan lain, tapi sebelum itu terjadi kau bisa membahas semua hal yang belum sempat terutarakan lalu kalau beruntung kau bisa meniduri dia sampai puas.”
Eliona tersenyum lemah. Itu memang kedengaran saran yang akan diberikan oleh Revana terhadapnya. Bagaimana pun dia sudah sangat mengenal wanita itu. Memang benar kalau Eliona sering mendapati teman sekamarnya ini beberapa kali menghadiri pesta bujangan teman-temannya untuk bersenang-senang. Jadi saran ini memang cocok keluar dari mulutnya, sebab begitulah caranya dia menjalani hidup.
Tapi Eliona punya pemikiran yang berbeda. Dia tidak mungkin bisa sebebas Revana. Itu semua terlalu gila.
“Mungkin saja dia akan kembali memberimu itu,” gumam Revana sambil tersenyum bodoh.
Eliona sempat menegang, ketika dia menatap ke arah perutnya dan secara perlahan Eliona mengusap bagian itu dengan jari-jarinya. Senyum getir terpahat menghias bibirnya. Dan semua ekspresi itu tidak luput dari perhatian Revana.
“Dia menyentuh perutku sebelum kami menari. Dia juga bertanya padaku kenapa aku tidak menghubungi dan memberi dia kabar. Tapi aku tidak bisa memberitahu alasan sebenarnya. Aku benar-benar pengecut.”
“Tapi sekarang kau bisa,” ujar Revana memeluk sahabatnya dari belakang.
Eliona menelan ludahnya lagi. “Aku tidak bisa, Revana. Dia pasti akan sangat terpukul. Aku tidak akan memberitahu dia apapun.”
“Tapi jauh dilubuk hatiku aku ingin kau melakukannya. Dia harus mendengar soal itu karena dia berhak,” sergah Revana. “Lalu setelahnya dia akan kembali padamu,” tambahnya lagi sambil menggiring wanita itu menuju ke kamar tidur. “Itu saja dariku, dan sekarang mari kita tidur. Ada hari esok yang menunggu untuk kita jalani, suka atau pun tidak.”
Eliona mengangguk pelan dan membiarkan Revana membimbingnya ke kamar tidur dan bahkan tetap disana untuk memastikan segalanya berjalan dengan benar. Dia memperhatikan saat Eliona mengganti pakaiannya dengan piyama yang lebih nyaman.
Namun keheningan yang ada di antara mereka tampaknya hanya mengaduk-aduk suasana percakapan yang pernah terjadi sebelumnya.
“But I still say, f**k him. Eliona,” ujar Revana memecah keheningan yang ada dan Eliona langsung berbalik sambil mengernyitkan dahi, terlihat kesal karena dia terlalu bersikeras. “Dengar, apa kau lupa kalau aku adalah orang yang selalu ada disisimu sepanjang sepuluh tahun ini? aku adalah teman sekamarmu di asrama dan bahkan disini. Aku sudah tahu semua hal tentangmu. Sisi burukmu dan juga sisi baikmu. Kita seperti sudah saling menelanjangi.”
Eliona menjatuhkan diri ke kasurnya. Lebih berminat menatap langit-langit ketimbang Revana.
“Aku melihat semuanya, Eliona. Segalanya tanpa terkecuali. Aku sangat tahu seberapa beratnya bagimu untuk melalui segala penderitaan dan cobaan hidupmu. Dan puncak dari semua itu adalah kau menyesal bahwa Alden tidak ada disana. Kau mengingikan dia, dan hingga detik ini aku masih melihat bahwa hal itu tidak berubah.”
Bibir Eliona bergetar. “Tapi dia akan menikah dan aku—”
“Eliona, kau pernah mengandung anaknya!” teriak Revana tak sabar dan nada bicaranya meninggi sebelum menghentakan kakinya ke seluruh ruangan.
Kenyataan yang di cetuskan oleh Revana hanya membuat Eliona menundukan kepala sambil menangis dan memegangi perutnya yang rata. Ada bekas luka disana, dan itu adalah bukti yang tidak akan bisa dia hapuskan. Selamanya akan terpatri disana dan mustahil Eliona bisa melupakannya. Seperti halnya kenangan tentang satu-satunya malam yang mereka lalui bersama.
“Aku tidak sanggup menghadapinya. Aku benar-benar pengecut,” ungkap Eliona dan sekali lagi Revana menghampiri.
“Hubungi dia sekarang.”
“Aku tidak punya nomor ponselnya.”
“Oh sial.”