WANITA DIBALIK PINTU

1756 Kata
Louis pikir semuanya akan kembali seperti sediakala saat Luke sadar dari kritisnya, dan istrinya akan berhenti berlarut-larut dalam kesedihan. Namun semua itu tidak seperti yang dibayangkan louis, sebab sudah seminggu semenjak putranya terbangun dari kritis masih saja luke tak mengatakan sepatah katapun. Ia hanya menatap hampa memandangi kedua orangtuanya itu, bahkan louis sempat meminta dokter psikologi anak untuk membantu luke berbicara kembali dan sialnya anak itu lebih seperti mayat hidup yang tak berekspresi. Tatapannya benar-benar terlihat kosong, dan tak sekalipun ia menggerakkan bibirnya untuk berbicara ataupun tertawa setiapkali louis berusaha membuat lelucon yang dulu sangat disukai luke. Belum lagi para tetangga diseluruh kota yang sedang heboh-hebohnya mencari seseorang yang diyakini mereka sebagai kutukan, bahkan saat ini warga kota sedang berpatroli setiap malam untuk mencari keberadaan orang tersebut, dan pernah sekali Louis diminta untuk ikut berpatroli yang langsung ditolak mentah-mentah oleh pria itu dengan alasan ingin tetap menjaga anaknya yang baru saja sembuh alih-alih sebagai bentuk alasan karena memang dirinya yang malas melakukan hal yang baginya buang-buang waktu saja. Sore ini, sepulang kerja louis langsung berbelanja ke mini market yang ada dipusat kota untuk membeli beberapa makanan ringan yang dititipkan desi melalui telepon. "Hey pak Louis, kebetulan sekali ketemu bapak sore-sore gini" Ucap ramah Petra, salah seorang pria pensiunan olahraga tinju tahun 90 an , ia memang adalah salah satu orang tua yang cukup dihormati dikota andalas saat ini makanya tak jarang orang akan menegur sapa atau sekedar mengobrol ringan dengannya. "Iya, kalau gitu saya mau balik duluan ya" Louis terlihat tidak terlalu berminat untuk mengobrol saat ini, ia hanya tersenyum saja dan beranjak pergi sebelum akhirnya petra menghentikan langkahnya. "Kok buru-buru banget pak? Oh iya, kabar luke gimana pak, udah baikan?" Tanya Petra tua. "Udah baikan kok, maaf saya gak bisa lama-lama soalnya saya harus bawain pesanan istri" Ia langsung berjalan pergi tanpa memperdulikan tatapan sinis beberapa warga yang menatap curiga padanya . Dirumah, Louis langsung meletakkan belanjaan dimeja dapur dan memeluk desi yang sedang memasak sesuatu didapur dengan mengenakan dress kuning dan celemek pink bercorak bunga . " Belanjaannya udah semua kan, mas?" "Iya " Jawabnya singkat, lalu melepaskan pelukan dari desi dan mengambil secuil kulit ayam yang telah digoreng. "Enaknya masakan istriku" Puji louis, setidaknya saat ini ia harus memberikan seluruh perhatiannya kepada desi walaupun ia tahu kala ini sang istri sedang berpura-pura baik-baik saja. "Masakanku memang enak, tapi jangan dimakan terus dong nanti gak ada sisa buat makan malam" Keluh Desi, ia mencubit hidung Louis dan tersenyum pada pria itu. "Kamu mendingan mandi sana, atau ajak luke ngobrol selagi aku masak" Ucapnya, "Semoga aja kali ini luke mau bicara ya mas" Wajahnya memperlihatkan kekhawatiran seorang ibu. "Kamu tenang aja ya, suatu saat nanti luke bakal kembali ceria dan rewel kayak dulu lagi soalnya dia itu anak yang kuat seperti ibunya dan manja seperti ayahnya" Louis mencium kening desi. "Yaudah, aku nemanin luke dulu ya" Louis langsung pergi ke kamar luke yang berada dilantai dasar dan tidak terlalu jauh dari ruang keluarga yang berada disebelah kiri dapur . "Luke, papa udah pulang nih!" Louis membuka pintu kamar luke , ia bisa melihat luke hanya duduk diatas ranjangnya dengan tatapan kosong , bahkan ia sama sekali tidak menggubris sapaan Louis. "Hai nak, lagi apa kau?" Tanya louis, ia mendekati Luke dan mengelus rambut luke . "Lagi-lagi kamu masih mengacuhkanku nak" Gumam Louis, ia menatap sekeliling ruangan dan berusaha mencairkan suasana dimana ia mengambil salah satu buku dongeng yang tersusun rapi di rak buku dan memberikan buku tersebut pada luke. "Kau mau papa bacakan dongeng?" Tanya louis, tetapi usahanya sia-sia dan tak ada sama sekali respon dari luke. Louis menghela nafas sejenak dan melonggarkan dasi di kerah bajunya, ia berpindah duduk dihadapan luke dan menatap tajam mata luke yang tampak linglung dan putus asa. "Luke, lihat papa sekarang!" Tukas Louis, ia meletakkan kedua tangannya diwajah luke dan berusaha untuk tetap tersenyum pada putranya itu. "Maukah kau berbicara dengan papa kali ini?" Tanya louis, tetapi luke sama sekali tidak menanggapi . "Oke, mungkin kau butuh waktu lebih banyak lagi" Louis sebenarnya cukup kecewa tetapi ia hanya bisa tersenyum dan membelakangi luke dan terduduk lemas di karpet bergambar superhero yang menjadi alas lantai kamar luke. Ia menyandarkan dirinya dikaki ranjang dan mengusap berkali-kali wajahnya. Louis benar-benar bingung saat ini, ia tak tau bagaimana harus bisa mengembalikan keluarganya seperti sediakala. Namun ditengah kesedihannya tersebut, mendadak sebuah tangan mungil memegang pundak Louis yang membuat laki-laki itu mendongak ke belakang. Ia bisa melihat luke yang sudah berpindah dari posisinya dan berada cukup dekat dengannya, luke memang tidak menunjukkan ekspresi apapun selain pandangan datar dan jemari yang melekat dibahu louis namun hal itu sudah membuat louis bahagia dan langsung berdiri , ia tersenyum senang dan memegang kedua tangan anaknya itu. "Makasih luke.." Louis benar-benar tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya, ia memegang erat tangan luke dengan posisi setengah duduk . Tanpa memberikan aba-aba , luks mendekati louis dan berbisik halus ditelinga ayahnya itu yang membuat wajah bahagia louis menjadi datar dan matanya membelalak tajam. "Nanti yang mengetuk pintu kamar bukan lagi mama" Ucap luke, lalu ia turun dari ranjang dan bersembunyi dibawah ranjangnya. Louis yang masih terkejut dengan apa yang dibisikkan anaknya itu merasa cukup bingung dan hanya bisa terdiam sejenak, cukup lama ia memroses segalanya sendiri sampai akhirnya ia tertawa kecil dengan guyonan iseng louis padanya. "Kau ini mau menakut-nakuti ayah, ya?" Tanya louis, ia bisa melihat luke yang kembali memberikan pandangan kosong padanya sambil tetap bersembunyi dibawah ranjang. Louis terpaksa ikut merayap kedalam ranjang dan menemani luke, ia pikir saat ini luke hanya ingin bermain petak umpet saja dan bersembunyi dari ibunya sehingga Louis memutuskan untuk ikut-ikutan juga dan nantinya ia berencana buat mengagetkan istrinya itu. Cukup lama mereka berada dibawah ranjang yang membuat louis sedikit letih karena terus telungkup disana , belum lagi ia mulai gerah dan ingin segera mandi dan mengganti pakaian yang bersih. "Hei nak, mendingan kita keluar dari sini sekarang yuk? Kayaknya mama mu masih lama lagi masaknya" Luke tak lagi memberikan respon, ia masoh menatap lurus pada pintu kamar yang masih tertutup rapat itu. "Oke, kita tunggu 5 menit lagi ya" Seperti biasanya louis selalu mengalah dan memanjakan anaknya itu, ia kini merasa jenuh dan memainkannya handphonenya yang memperlihatkan sebuah pesan notifikasi kalau istrinya baru saja pergi kerumah tetangga terdekat desi yang berada di tiga blok daei rumahnya. "Lihat ini, kayaknya mama mu lagi keluar jadi cukup ya main petak umpet nya" Louis sampai-sampai menunjukkan pesan itu pada luke demi membujuknya keluar dari bawah kolong ranjang, bersamaan pula dengan suara langkah kaki yang menaiki tangga dan suara ketukan pintu yang diketuk lembut . "Luke, mama boleh masuk?" Tanya suara tersebut yang terdengar sangat mirip dengan suara desi, namun lebih sedikit serak dan tegas tidak seperti desi yang sangat lembut ketika berbicara. Luke terlihat gemetar dan mencengkeram erat tangan ayahnya itu, ia kini bisa melihat tatapan mata ketakutan luke yang bersembunyi dibalik wajah datarnya. "Mungkin itu mama mu, Jangan ta-" mendadak louis teringat akan pesan notifikasi desi, lagipula mana mungkin istrinya Bisa cepat kembali kerumah padahal ia baru saja mengirim pesan pada louis . "Mama buka ya pintunya!" Ucap wanita dibalik pintu itu, ia langsung membuka pintu dan dalam sekejap louis tak bisa berkata apa-apa lagi selain memastikan kalau luke tetap berada didekatnya. Nyalinya dalam sekejap mulai menciut saat melihat sosok wanita berpostur tubuh seperti desi dengan wajah menyeramkan sedang berada didalam kamar anaknya. Wanita itu bahkan tak memiliki kulit disebelah wajahnya dan terlihat seperti Monster saja. "Kau bersembunyi dimana, luke?" Tanya wanita itu, tidak...lebih tepatnya monster itu yang sepertinya tidak menyadari kehadiran louis didalam kamar. Wanita itu berjalan mengelilingi kamar dan mencoba menemukan keberadaan luke, ia juga memeriksa lemari dan kamar mandi . "Dimana kamu, luke???" Ia kini mulai kelihatan marah dan melempar keras segala hal yang ada dihadapannya sampai berantakan dilantai, lalu tak beberapa lama kemarahannya mulai mereda dan ia mendekati ranjang luke. Dalam sekejap, wanita itu mengangkat ranjang luke dengan kedua tangannya seakan ia tidak merasa berat sama sekali. Ia bisa menjadi jelas Louis yang langsung berlari menggendong luke ke sudut dinding dan memeluk erat anak itu dengan nafas yang tersengal-sengal. Ia tak bisa menyembunyikan ketakutannya da kakinya yang mulai gemetar hebat berbeda dengan luke yang hanya menatap kosong pada monste itu tanpa ekspresi sama sekali. "Ah...ada orang asing bersama luke?" Gumam monster wanita itu, ia tersenyum senang dan berjalan selangkah kearah louis dan luke. "Si..siapa kau?" Tanya louis terbata-bata, ia berusaha berdiri walaupun tubuhnya terasa berat dan berjalan mendekati jendela kaca yang ada disebelahnya. Monster itu hanya tersenyum saja dan tertawa terbahak-bahak sambil meloncat-loncat senang. "Kau ketakutan? Kakimu gemetaran!!!" Ujarnya berkali-kali, lalu tawanya menghilang saat matanya berpadu pandang kepada luke. "Kau adalah makananku" Ketusnya, lalu berlari kearah luke dan louis , tentu saja louis yang panik langsung menahan tubuh wanita itu yang dengan cepat segera mengigit kulit lengan louis dengan giginya yang terlihat panjang dalam sekejap. Louis yang terbaring kesakitan harus menerima cakaran dan gigitan haus darah dari wanita itu, ia sepertinya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menghabisi mangsa yang ada dihadapannya sebelum akhirnya ia menghabisi mangsa spesialnya seperti luke. "Lari Luke!!!" Teriak louis yang sudah mulai sekarat dan tinggal menunggu takdirnya saja, dalam keadaan setengah sadar ia bisa melihat mata luke yang langsung berubah jadi merah dan wajahnya yang berubah menjadi keriput dan gigi tajam seperti wanita tersebut, lalu luke berlari kearah wanita itu dengan penuh kemarahan dan menendangnya keras hingga wanita itu Terpental jauh ke pintu kamar . "Kau bukan lagi manusia!" Teriaknya ketakutan, wanita itu langsung berlari meninggalkan louis dan luke yang kini bukan terlihat seperti luke lagi dimata louis. Luke mendekati louis dan menjilati luka robek yang memenuhi sekujur lengan dan perut ayahnya, mungkin dalam hitungan detik Louis akan memejamkan mata untuk yang terakhir kalinya karena kehilangan banyak darah. "Luke...?" Lirih Louis yang mulai kesulitan berbicara, ia merintih kesakitan. Luke tak menjawab dan hanya menjilati luka tersebut , lalu ia menghapus air mata dari wajah ayahnya dan mengirim pesan kepada ibunya melalui handphone yang ada disaku Louis sebelum akhirnya ia ikut berbaring disebelah louis sambil memegang wajah sang ayah yang dalam keadaan telentang menatap kearahnya. "Jangan pergi!" Lirih Luke, tangannya yang dingin masih menyentuh wajah sang ayah, Louis hanya mengangguk saja dan tersenyum senang menahan rasa sakit yang dirasakanya. "Tolong..kembali..men..jadi luke ku lagi" Lirih louis yang berusaha menggerakkan tangannya memegangi jemari luke dan menahan perdarahan di area perutnya. Luke hanya mengangguk dan dalam sekejap ia berubah menjadi sediakala, bersamaan dengan suara desi yang berteriak histeris diluar rumah dan kepanikan beberapa warga lain. "Ini adal..ah rah...asia kita ya..luke" Lirih Louis sebelum akhirnya ia melihat beberapa orang datang dan mengevakuasi mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN