bc

THE CURSE OF LUKE

book_age18+
11
IKUTI
1K
BACA
adventure
killer
zombie
demon
apocalypse
supernature earth
alien contact
dystopian
horror
weak to strong
like
intro-logo
Uraian

"Dimana Luke?" Teriak Louis begitu sadar, ia bahkan tak memperdulikan rasa sakit disekujur tubuhnya yang membuat desi menjadi kewalahan dan terpaksa mencoba menenangkan suaminya.

"Tenanglah Mas, luke sedang dirumah dengan angela jadi jangan khawatir kayak gini" Keluh Desi, ia memeluk erat suaminya itu. Desi tahu kalau louis sangatlah mengkhawatirkan luke dan ia bisa merasakan bagaimana perasaan louis saat ini meskipun ia tak paham apa yang terjadi dengan Louis dan luke saat itu dan ia juga tak dapat menemukan jawaban dari luke.

"Aku mau pulang sekarang , Desi!" Tukas Louis, ia berusaha meyakinkan istrinya dengan tatapan mata penuh khawatir.

"Memangnya ada apa mas? apa yang sebenarnya terjadi pada kalian saat itu?" Pertanyaan Desi yang mampu membungkam louis sejenak, ia tak sanggup menceritakan kenyataan itu pada sang istri.

chap-preview
Pratinjau gratis
TRAGEDI MENCEKAM
"Papa, boleh gak aku bermain diluar?" Tanya Luke yang kala ini masih berusia 7 tahun kepada ayahnya, Louise. saat ini sang ayah tengah asyik menyeduhkan minuman dengan rekan kerjanya yang bertamu, maklum saja hari ini adalah hari libur tahun baru dan kota andalas tengah disibukkan dengan keramaian orang-orang yang menyambut malam ini dengan antusias dan suara kembang api yang bergemuruh ditas langit, sama halnya dengan rumah keluarga Janson yang tengah asyik merayakan tahun baru bersama rekan-rekan kerjanya. "Abang udah bilang sama mama? Tanya Louis kepada putra tunggalnya itu sambil melirik ke arah Desi yang merupakan ibunya Luke. "Boleh kok , tapi jangan jauh-jauh ya! mainnya disekitaran halaman rumah aja" "Asyik!!! Oke ma!" Teriak Luke kesenangan dan langsung berlari keluar rumah selayaknya anak kecil pada umumnya, sedangkan rekan kerja Louis kebanyakan yang masih berstatus single merasa gemas melihat Tingkah lucu Luke. "Well, jdi apa kalian punya rencana untuk menambah anak lagi?" Tanya Angela, salah satu rekan kerja Louis yang memiliki keperawakan Setengah Melayu dengan sedikit logat khasnya. "Boleh sih kalau boss mu ini bersedia punya anak lagi..." Rayu Desi pada suaminya, yang membuat Louis hanya bisa mencubit mesra hidung mancung Desi sambil meneguk segelas kopi dinginnya. "Oh ayolah Angela boss, Mbak Desi juga ingin punya anak perempuan!" "Benar bro, kasihan tuh istrimu!" Sambung James yang ikutan menggoda Louis. "Oke, nanti akan kami usahakan tapi kuharap kalian juga segera menikah dan berhenti menggoda kami!" "Tentu!" Jawab singkat Angela yang direspon tawa antara mereka, namun tawa itu seketika berubah menjadi hening tatkala keempatnya Mendengarkan suara teriakan Luke dari luar rumah. "Luke!!!" Teriak Louis yang langsung berlari menghampiri Luke dengan tergesa-gesa sampai menumpahkan kue kering dari dalam toples yang ada dimeja. "Luke!!! Astaga.." celutuk Louis yang langsung berlari memeluk Luke yang sudah terkapar di halaman dengan sekujur tubuh yang pucat dan dingin. "Arghh..apa yang terjadi dengan anak kita?" Tanya Desi yang tampak panik melihat Luke tak sadarkan diri dan hampir setengah menangis. "Aku gak tahu, sayang!" Ucapnya, lalu matanya tertuju pada James. "Tolong siapkan mobil sekarang James! Kita harus membawanya kerumah sakit!" "Oke.." Jawab James yang langsung siaga bergerak menuruti perintah rekannya itu sedangkan Angela berusaha menenangkan Desi yang bertindak histeris. Entah apa yang terjadi malam ini terhadap Luke, yang jelas tanpa mereka sadari bahwa dari kejauhan ada sesuatu yang terlihat menatap mereka dengan tajam. *** Hampir sebulan lamanya Louis dan Desi menghabiskan waktu bolak-balik kerumah sakit, bahkan mereka rela mengeluarkan banyak biaya hanya untuk penyembuhan luke dan lagi-lagi tetap saja usaha itu hanyalah sia-sia. Sejak sebulan yang lalu semenjak peristiwa itu, luka juga tak kunjung sadar dan hanya terbaring kritis diatas ranjang rumah sakit sehingga tak jarang hal itu membuat desi lebih banyak menangis karena tidak sanggup menatap putra malangnya itu. Seperti halnya hari ini, tangisan desi tidak kunjung berhenti hingga membuat Louis meminta pada angela untuk mengajak desi pulang kerumah selama beberapa hari sebab ia tidak mau istrinya sampai depresi ataupun menjadi sakit. Mulai hari ini, louis memutuskan untuk mengambil cuti beberapa hari dengan alasan menjaga anaknya dirumah sakit selama desi beristirahat dirumah untuk menenangkan diri dan pikiran. Ia datang kembali kerumah sakit dengan menggendong tas ransel yang berisi pakaian ganti serta beberapa buku dongeng yang nantinya akan ia bacakan pada sang putra, walaupun sebenarnya Louis juga tak sanggup melihat tubuh lemah luke yang terbaring sakit tetapi mau gimana lagi sebab ia adalah seorang ayah sekaligus suami yang harus bisa lebih kuat dan tidak boleh lemah apalagi sampai menangis. "Hai luke, Papa bawain buku baru lagi nih. Lau ingin papa membacanya untukmu?" Louis berusaha untuk tetap ceria dan tersenyum, wajahnya benar-benar memperlihatkan senyuman palsu meskipun kedua mata sendunya tak bisa berbohong dan bisa saja sewaktu-waktu air mata itu akan segera menetes. Louis meletakkan ransel disofa yang ada diruangan dan mendudukkan diri dikursi sebelah Luke, ia menggenggam tangan Luke dan membuka lembar pertama buku dongeng tersebut. "Hari ini Papa bakal ceritain dongeng baru lagi padamu, semoga abang suka ya" Ucapnya, lalu perlahan membacakan dongeng tersebut hingga tak terasa ia telah membaca halaman terakhir buku dongeng tersebut. "Gimana? Abang suka gak? " Tanya louis , lalu ia mencium jemari anaknya. "Papa tahu pasti abang senang mendengarkannya" Ucap Louis sembari mengelus-elus kening Luke. Bersamaan pula dengan suara teriakan yang terdengar sekilas di telinga Louis , lantas leia itu langsung bangkit dari kursi dan melihat sekelilingnya sembari memegang telinganya yang terasa seperti mendengarkan suara bervolume besar. "Mungkin cuman halusinasiku saja" Gumam louis, lalu kembali mengajak luke mengobrol dengan semua cerita imajinasinya sampai-sampai ia mulai tertidur sembari memeluk jemari louis , dan tak terasa waktu perlahan berlalu begitu cepat dan mentari mulai tenggelam digantikan oleh taburan bintang yang menghiasi malam. "Udah malam aja" Gumamnya yang tiba-tiba terbangun, ia mengusap kedua matanya dan mulai meneguk sebotol air mineral yang ada diatas meja. Louis melihat jam tangan disakunya, sepertinya ini sudah jam 7 malam namun mengapa para suster tidak memeriksa ruangan luke atau sekedar menyuntikkan sesuatu yang entah apa namanya itu kedalam infus luke. Louis langsung berdiri dan berniat melihat keadaan diluar, tak biasanya suster sampai lupa begini . Sialnya, begitu ia melangkahkan kaki keluar ruangan terlihat koridor tampak sangat sepi yang membuat louis menjadi sangat penasaran sekaligus merasa bingung, belum lagi saat melangkahkan kaki menuju ke ujung lorong mendadak ia mendengarkan suara keributan yang sangat hebat dari sana yang membuat louis langsung berlari untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat ini dirumah sakit. "Memangnya apa yang terjadi sampai para suster melupakan pasiennya" Tukas Louis dalam batin, ia berlari kencang menyusuri koridor dan betapa kagetnya ka saat menemukan banyaknya orang-orang dari kota andalas yang tidak terlalu dikenalnya tengah berusaha masuk kedalam rumah sakit, untungnya saja mereka sedang dicegat oleh para satpam dan seluruh staff yang ada dirumah sakit termasuk juga beberapa wali pasien yang berusaha menahan mereka untuk masuk. "Ada apa ini, Pak?" Tanya Louis pada salah satu wali pasien yang sepertinya sudah berada disana cukup lama . "Mereka bilang kalau ada salah satu pasien pembawa kutukan dirumah sakit ini, aneh-aneh saja kan pak" Keluh wali tersebut, ia terlihat tidak terlalu menyukai aksi gila orang-orang tersebut. "Kutukan gimana sih? Ada-ada aja " Tukas Louis, ia berniat akan berbalik pergi untuk kembali keruangan saat itu juga karena ia tak terlalu tertarik melihat keributan itu apalagi sekedar untuk membantu para staff . Akan tetapi saat mendongakkan badan mendadak salah seorang dari pembuat keributan itu berhasil menerobos masuk dan berlari kelorong yang sama dengan lorong yang ingin dilewati Louis, sehingga mau tak mau Louis ikut mengejarnya meskipun ia tidak tahu kemana tujuan pria itu . "Hey, kau mau kemana?" Tanya Louis padanya, ia tak menjawab dan hanya melihat setiap nomor yang ada didepan pintu kamar pasien sembari membawa secarik kertas putih. "Kau bisa mengganggu pasien yang lain, apa yang kau lakukan disini?" Louis masih terus mengejarnya, dan langkahnya langsung terhenti saat pria itu berhenti tepat didepan kamar putranya. Perlahan-lahan pria asing itu memasuki ruangan kamar luke, dan seketika kekhawatiran louis semakin meningkat. Ia berlari sekencang-kencangnya menuju kamar luke meskipun ia tak tahu apakah langkahnya masih sempat untuk memastikan kalau luke baik-baik saja. "Apa yang kau lakukan dikamar putraku? Kalau sampai terjadi apa-apa dengannya, aku takkan membiarkanmu pergi!!!" Jerit Louis, ia langsung menolak keras pintu itu dan begitu melihat kedalam sontak kedua matanya membelalak tajam menyaksikan pemandangan yang cukup mengerikan. Ia tertegun diambang pintu, kakinya serasa Sangat lemas ketika melihat pria itu sudah berada diatas jendela yang telah terbuka lebar sembari memegang pisau Charter dan menatap ketakutan kearah louis. "Hey pak, tolong jangan berbuat macem-macem disini!" Jerit seorang staff rumah sakit yang juga baru saja datang menyusul Louis. Ia langsung berjalan mendekati pria asing itu secara perlahan-lahan dan membiarkan louis terdiam diambang pintu. "Anak ini benar-benar terkutuk!" Lirihnya yang terlihat sangat ketakutan, ia langsung menggoreskan pisau itu ke lehernya dan menjatuhkan diri keluar jendela yang memang sebenarnya berada dilantai satu. Sekilas ia malah terlihat seperti orang yang sedang berusaha melarikan diri saat ini sebab mana mungkin ia terlalu bodoh meloncati jendela yang jelas-jelas berada dilantai satu, tetapi karena pisau itulah ia menjadi pasien yang saat ini butuh ditolong dan dengan cepat staff rumah sakit itu menghampirinya dan berusaha menekan bagian perdarahan disusul oleh para staff lainnya termasuk salah satu Dokter yang ikut membantu. Tentu saja louis masih terlihat syok, namun ia harus memastikan kondisi anaknya sehingga ia memutuskan memberanikan diri menghampiri luke dan berharap pria asing itu belum sempat berbuat hal jahat pada luke. Dan dalam sekejap begitu ia mendekati ranjang luke, mendadak kedua mata luke terbuka lebar dengan tatapan kosong yang menatap langit-langit ruangan. Louis yang panik sekaligus senang langsung menjerit memanggil dokter, untungnya saat itu ada salah seorang dokter yang berada disana dan mengecek keadaan luke.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Troublemaker Secret Agent

read
59.1K
bc

Life of An (Completed)

read
1.1M
bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
640.0K
bc

Scandal Para Ipar

read
707.9K
bc

Marriage Aggreement

read
87.0K
bc

Patah Hati Terindah

read
82.9K
bc

JANUARI

read
48.9K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook