Bab 1
“Hentikan,” ucap pria itu tegas sambil menahan tangan Ciara yang sedang mencoba membuka kancing kemejanya.
Ciara malah cekikikan mabuk, matanya sayu dan berkabut. Ia menggeliat di pangkuannya dengan gerakan kikuk tapi penuh nafsu.
“Aku mau sekarang…” bisiknya serak, suaranya agak cadel karena alkohol. Ia menunduk cepat, mencium leher pria itu asal-asalan sambil menggoyang pinggulnya pelan-pelan.
Pria itu menggeram. Dengan satu gerakan cepat, ia balik posisi mereka. Ciara sekarang tertekan di sofa, kedua tangannya ditahan di atas kepala.
“Saya bilang tunggu. Kamu mabuk,” katanya berat.
Ciara malah tersenyum lebar, wajahnya memerah. “Aku nggak peduli… Aku mau kamu. Cepat…”
Ia berusaha mengangkat pinggulnya, menggesek ke tubuh pria itu dengan gerakan amatir yang tergesa-gesa. Tangannya berusaha lepas dari cengkeraman, ingin menyentuh d**a pria itu.
Pria itu menarik napas kasar. “Besok kamu pasti nyesel.”
“Enggak akan,” jawab Ciara cepat, suaranya manja dan mabuk. “Aku mau sekarang… tolong… aku sudah basah banget.”
Pria itu akhirnya mendengus. Bibirnya langsung menyambar bibir Ciara kasar. Ciumannya panas dan mendesak. Tangan satunya turun meremas lekukan seksi Ciara dari luar baju.
Ciara mengerang pelan di dalam ciuman, tubuhnya menggeliat tidak sabar.
“Lebih cepat…” desahnya di sela ciuman, suaranya pecah karena mabuk. “Aku nggak tahan…”
Beberapa jam sebelumnya...
Sore itu kampus sudah mulai sepi. Ciara berjalan menuju taman belakang fakultas, sambil membawa paper kerja kelompok yang sudah dia revisi dan es kopi favorit Angga.
Semalam, Angga, minta bantuan untuk merevisi tugas kelompoknya. Ciara merasa tidak keberatan melakukannya dengan senang hati.
Dia juga membawa kopi favorit Angga, niatnya memberi kejutan kecil untuk pacarnya yang sudah lima tahun bersamanya. Ciara bahkan sempat membayangkan masa depan mereka setelah lulus nanti.
Langkahnya terhenti saat mendengar tawa perempuan yang sangat familiar.
“Umh, Angga, pelan-pelan aja dong.”
Dari balik pohon besar, Ciara melihat Angga sedang mencium seorang gadis dengan penuh gairah.
“A-Apa? Itu, kan, Shenina?”
Tangan Angga memegang pinggul Shenina erat, sementara Shenina balas memeluk lehernya.
Paper di tangan Ciara jatuh ke tanah.
Napasnya tercekat. Tanpa berpikir panjang, Ciara langsung menghampiri mereka.
“Angga!”
Keduanya terkejut dan melepaskan ciuman. Shenina menoleh lebih dulu, tersenyum tipis penuh kemenangan. Angga langsung panik.
“Ciara … ini … ini bukan seperti yang kamu pikir—”
Tamparan Ciara mendarat keras di pipi Angga hingga kepalanya tersentak ke samping.
“Kamu tega ya, Angga? Lima tahun! Lima tahun kita bareng, dan kamu lakuin ini di belakang aku?!”
Shenina maju dengan sikap sok santai. “Ciara, santai dong. Lo terlalu berlebihan.”
Tamparan kedua mendarat di pipi Shenina.
“Gila lo!” Shenina memegang pipinya yang barusan ditampar. Ia pun tak mau kalah, lalu menampar Ciara.
Plak!
Ciara memegang pipinya sambil menahan rasa pedih, tanpa sadar ujung bibirnya terluka. Saat itu dia menatap Angga yang malah sibuk melihat pipi Shenina.
“Dasar cewek bar-bar! Berlebihan lo! Norak!” sentak Shenina.
“Udah, Shen, biarin aja,” ujar Angga.
“Berani banget lo bilang gue berlebihan?!” suara Ciara bergetar penuh amarah. “Lo yang sok berlagak paling jual mahal di depan cowok, tapi ternyata suka ambil pacar orang! Dasar ganjen!!”
“Heh!” Shenina ikut tersulut, dia tak mau disalahkan. “Angga lebih milih gue dibandingin lo, sadar diri dong!”
Angga menatap Ciara dengan tatapan seolah muak. “Ciara, dengar dulu. Kamu jangan menyalahkan Shen.”
“Denger apa, b******k!! Emang kamu yang salah! Kalian sama aja!”
Angga berdecih, mulai malas. “Kamu sibuk banget sama kuliah, kutu buku banget sih, selalu kaku, nggak pernah mau nurutin aku. Aku bosan, Ciara!”
Ciara gemetar, dia tak menyangka jika Angga setega itu padanya. “Shen jelas punya segalanya yang aku butuhkan."
Shenina tertawa kecil. “Iya, Ciara. Angga butuh yang lebih seru. Lo kira lo itu menarik? Angga deketin lo selama ini cuman karna otak lo aja yang kebetulan encer!”
Kalimat itu seperti tamparan yang jauh lebih sakit dari tamparan tangan.
Ciara mengepalkan tangan kuat. Dengan mata merah dan suara parau, dia berkata, “Kalian berdua sama-sama menjijikkan!”
Dia berbalik pergi sambil menahan tangis. Beberapa mahasiswa sudah mulai mengerumuni tempat itu dan berbisik-bisik.
Rasa malu bercampur sakit hati membuat Ciara berjalan cepat keluar area kampus.
Air matanya semakin deras. Pandangannya kabur. Dalam keadaan kacau, dia tersandung akar pohon di pinggir jalan, jatuh lututnya terbentur tanah keras, dan sudut bibirnya terserempet batu kecil.
Tapi dia tidak peduli. Dia bangkit dan langsung menyeberang jalan tanpa melihat kiri kanan.
Klakson mobil terdengar keras.