"Sheila, Jonathan sudah menunggumu. Cepatlah kau turun", teriakan Jordy menggema dari ruang tengah.
Pagi itu, Jonathan menjemput Sheila sesuai permintaan Jordy. Dia begitu mudahnya percaya kepada pria yang dibawa Abby itu, mengingat Abby dan keluarga Sheila telah saling kenal sejak mereka di bangku SMA. Terlebih perawakan dan karir yang dimilikinya sungguh menggairahkan, yang membuat Jordy seakan tenggelam di dalamnya, meski perkenalan masih terhitung beberapa hari. Shannon sang ibu pun hanya bisa menurut, tanpa ada komentar yang berarti, ia tak ingin terlibat perselisihan dengan suami keras kepala tersebut, yang juga bermulut pedas. Sheila tak juga berniat mengumbar semua isi hatinya saat ini, menurutnya percuma juga. Apa daya, sang ibu hanya mampu mendengar, tanpa mampu merubah keadaan. Jordy memang pria tua tak berbelas kasih, meski pada putrinya sendiri. Hanya harta, harta, dan harta yang tertuang dalam otaknya. Ia akan merasa sangat rugi, jika tahta yang dibangunnya selama ini runtuh hanya karena Sheila salah memilih.
Sheila menuruni tangga rumahnya perlahan, tanpa peduli Jonathan yang sudah menunggu hampir setengah jam. Ekspresinya masih sama, rasa kesalnya belum juga mereda.
"Maafkan aku, sepertinya aku datang terlalu pagi", Jonathan menebar senyum lebar, menyambut Sheila dari lantai dasar.
"Kau tak mengantar-jemput ku pun aku tak peduli", tanggap Sheila cuek yang begitu saja meninggalkan Jonathan keluar rumah.
Jonathan menanggapinya sambil terkekeh masih merasa menang.
"Kau jaga dia, aku percaya padamu karena Abby yang membawamu ke sini. Karena aku tak mau dia tersentuh orang sembarangan, yang masa depannya belum jelas", celetuk Jordy sambil menghembuskan asap cerutunya.
"Mungkin akan butuh waktu sedikit lama meluluhkan hati kerasnya, tapi cinta bisa tumbuh karena terbiasa", lanjutnya mengangkat tangan tanda berbisik.
"Serahkan padaku, Sir".
Dengan senang hati Jonathan memenuhi pesan Jordy yang akan sangat menguntungkan itu. Tak lama lagi, ia yakin akan mendapatkan Sheila seutuhnya. Persetan dengan perasaan, apa lagi cinta. Yang dia butuhkan hanyalah sekujur tubuh indah itu. Ijin dari Jordy adalah segalanya bagi Jonathan. Dengan demikian, pikiran kotornya akan semakin membuatnya buta.
Jonathan pun sebenarnya mengetahui perasaan Sheila yang begitu terpaksa, tapi ia sama sekali tak peduli. Yang ia inginkan hanyalah menyalurkan hasrat kotornya pada Sheila, sama seperti pada teman-teman Abby sebelumnya.
"Apa kau belum memikirkan hal seperti pernikahan atau hubungan serius dengan seseorang?", tanya Jonathan setelah duduk dan menutup pintu mobil.
Sheila seketika melempar pandangan pada Jonathan yang tiba-tiba menanyakan hal sesensitif itu, yang selama ini menjadi persoalan di hidupnya.
"Itu urusanku, bahkan kau tak mengenalku". Tanggap Sheila ketus.
"Kau akan segera mendapatkannya. Pria yang sesuai dengan kriteria Mr. Jordy yang terhormat", ejek Jonathan puas.
"Aku tak akan menikah hanya karena harta, apa lagi paksaan".
"Percayalah bahwa Jordy benar. Kehidupan akan mudah dengan seseorang yang punya segalanya", ejek Jonathan sekali lagi.
"Tapi bukan kau orangnya". Sheila membalas perkataan sombong itu. Ia berusaha menghindari obrolan panjang dengan tidak meladeni ocehan pria itu.
"Oh, benarkah?" Jonathan terkekeh.
"Kau seharusnya terkesan, aku mendatangi rumahmu dan bertatap muka langsung dengan Papimu".
Sheila tak sedikitpun menggubris, ia hanya menyibukkan diri dengan handphone di tangannya.
"Aku tak yakin, dari sejumlah orang yang mendekatimu berani melakukan seperti apa yang aku lakukan".
"Sebaiknya kau turuti saja perintah Jordy, aku telah menyiapkan semua yang menjadi keinginannya terhadapmu, kau tak perlu khawatir, Sheila".
Sheila menarik nafas dalam, memandang ke bahu jalan. Muak rasanya mendengar semua itu, tapi apa yang bisa diperbuatnya?
"Hey, aku..."
"Lalu apa maumu? Menikahiku?", Sheila menyela kesal.
"Aku pun tak mengenalmu, bahkan kau hanya teman Abby! Di luar itu, kau hanya pria asing yang juga bakal ditolak Jordy mentah-mentah!" Sheila menatap Jonathan tajam, ia merasa begitu rendah dibanding seruan tak berarti itu.
"Tentu saja menikahimu, karena itu perintah Jordy padaku", Jonathan sempat membalas tatapan Sheila enteng.
"Berhentilah bicara, aku tak membutuhkan nasehatmu".
Jonathan menyeringai, tangan kirinya mulai berani menumpangi tangan Sheila. Dan Sheila segera menyingkirkan sentuhan sepihak itu.
Sesampainya di kampus, Sheila melangkah lebih cepat berusaha meninggalkan pria itu.
Pintu mobil baru saja ditutup, namun pandangan Jonathan sedang fokus menilik tubuh Sheila dari belakang. Crop top berwarna hitam yang sedikit mengumbar sebagian punggung, celana jeans ketat menegaskan lekukan pinggang hingga kaki, serta sepatu boost berwarna merah yang membuatnya begitu menawan. Jika saja ini bukan kampus, mungkin ia akan menangkap tubuh itu membawanya ke atas ranjang. Sungguh gila, bayang-bayang itu seakan tertancap dalam dirinya bahkan hanya saat mendengar nama Sheila.
"Kenapa kau tak pergi saja?" Biarkan aku sendirian, kau tak perlu sepatuh itu dengan Papi", Sheila menanggapi kesal tanpa berpaling ke wajah Jonathan yang membuntutinya
"Aku tak punya tujuan selain kau", Jonathan menarik tangan dari tubuh semampai itu hingga Sheila menabrak dirinya. Tak kalah, tangan yang lain pun menjarah ke pinggang menggairahkan itu.
Sheila berhasil melepas diri, berusaha menampar wajah pria nakal itu, namun Jonathan masih sempat mengelak. Alhasil ia semakin mempercepat langkahnya.
Jonathan semakin puas dengan kenakalan yang merupakan pencapaian itu. Paling tidak sebagai permulaan, ia telah merasakan betapa halusnya tangan Sheila, dan begitu hangatnya tubuh indah itu. Tak hanya demikian, ia pun sempat mengendus bekas genggaman Sheila di telapak tangannya, yang wanginya tak lenyap begitu saja.
Sayang sekali, hari itu belum juga berpihak pada Sheila. Satu bab baru dari thesis yang ia susun belum juga mendapat persetujuan. Bagaimana tidak, ia sendiri pun menyadari bahwa setiap dirinya berusaha menggarap, pikirannya sedang melayang entah kemana perginya. Alam sadarnya tengah mengambang, mengapa harinya semakin kelam? Sering kali ia berusaha menimbun kesedihan, namun kenyataan tetap tak terbantahkan. Jalan keluar tak kunjung ia dapati, hanya air mata yang menyelimuti. Ingin mati rasanya, waktu dan tenaga yang ia korbankan masih tak berbuah manis juga. Ditambah, kehadiran pria asing itu yang semakin membuatnya kehilangan semangat hidup.
Sheila menghela nafasnya dalam, Jonathan belum juga beranjak dari jajaran bangku di depan ruangan dosen, tanpa sengaja kedua matanya memandang, Jonathan duduk tepat di depan pintu. Ia tak bisa melarikan diri.
"Kenapa kau masih di sini?" pertanyaan Sheila terdengar lesu.
"Tak ada selain menunggumu, mungkin kau bosan. Tapi rasa itu akan pergi saat kau terbiasa", ujar Jonathan mengedipkan mata kanannya.
"Kau memang sangat menjijikkan".
"Hanya itu balasanmu?" Jonathan mengangkat alis kanannya.
"Aku belum ingin pulang, bawa aku ke sebuah cafe. Akan ku tunjukkan jalannya nanti".
"Kau mengajakku bersantai menikmati kopi?" Tanya Jonathan tersenyum lebar sambil mengangkat dagu Sheila, spontan Sheila mengalihkannya kasar.
"Tidak! Aku akan menemui temanku. Setelah itu kau pulang saja". Sheila membantah, kenapa pria ini mulai berani menyentuhnya dari tadi. Dia pikir dia siapa?
"Kau yakin tak ingin ku temani?" Jonathan kian sumringah telah berhasil menyentuh wajah Sheila untuk pertama kalinya.
Sheila mendengus tak menggubrisnya, sekali lagi meninggalkannya begitu saja.
"Baiklah, ayo". Jonathan meraih tangan Sheila penuh nafsu seakan dirinya telah memilikinya.
Sheila menepis tangan Jonathan sekali lagi.
"Jangan kau coba menyentuhku", peringatnya.
Jonathan menatap lekat bola mata biru itu, sekelebat pikiran tak senonoh mengalir di kepalanya.
Mereka pun menuju ke sebuah cafe dimana Sheila dan Ricky biasa berkencan.
"Kau sering ke sini?" Tanya Jonathan yang telah menyadari itu adalah cafe dimana dirinya melihat Sheila untuk pertama kali.
"Tidak". Sheila mengangkat tasnya bergegas keluar dari mobil.
Kaca mobil terbuka, sekali lagi Jonathan memanfaatkan pemandangan indah dari belakang, hingga Sheila memasuki tempat itu.
Sheila pun turun tanpa ditemani pria itu. Ia tak ingin langsung pulang. Meluangkan waktu sejenak mungkin bisa sedikit mencerahkan hari itu. Namun kesendirian bukanlah solusi yang tepat.
Setengah jam sudah ia duduk di samping bar, Sheila mencoba menghubungi Ricky dan mengajaknya menghabiskan sore bersama. Cukup lama mereka tak berkunjung di tempat itu, Sheila begitu merindukan masa indah yang sempat terlupa. Apa lagi Sheila sudah tak bertemu dengan pria itu setelah kejadian Ricky yang sedang mabuk berat.
Kehadiran Ricky sangatlah menenangkan hati. Tak tahu kenapa, ia selalu merasa aman di sisi pria itu. Meski ia tahu Ricky bukan lah seorang yang sempurna seperti standar Jordy, namun hati Sheila lah yang mampu menilai. Andai semua baik-baik saja, mungkin Sheila tak akan pernah membutuhkan seseorang pun untuk melanjutkan hidup.
Tak lama, Ricky tiba. Dalam sekejap, tangan dingin itu menggenggam Sheila dari arah samping.
"Aku sangat merindukanmu". Sheila mengukir senyum tipis, mengangkat wajahnya memandang Ricky yang berdiri di sampingnya. Seketika memori indah kembali terulang, bersamaan dengan genggaman yang ia rasakan saat ini.
Ricky membalas senyuman, sembari menangkup pipi Sheila.
"Maafkan aku, waktu itu tak menjawab telefonmu. Aku sangat kacau". Ricky memandang Sheila lekat, sepasang netra di hadapannya tampak mulai berkaca-kaca.
"Rob telah menceritakan semuanya padaku. Kenapa kau menyembunyikannya dari ku?"
Ricky mengernyit, menceritakan apa?
Tentang keluargamu". Sheila mengetatkan genggaman tangan Ricky, mengharapkan sebuah kejujuran yang selama ini belum pernah diungkap.
"Maafkan aku, Sheila. Bukan maksudku menipumu. Aku hanya.."
"Kau tak perlu meminta maaf, semua ini salahku". Sheila memotong.
"Aku yang membuat hatimu hancur karena kelakuan Papi". Sheila menjelaskan, air mata mulai berlinang menelusuri pipinya.
"Jaga dirimu baik-baik", Ricky mengusap air mata itu.
"Pria itu mulai berani menyentuhku", ucap Sheila kesal.
Tak ada lagi tempat bagi Sheila meluapkan isi hati, terlebih menyangkut harga diri seperti ini. Siapa lagi melainkan pria di hadapannya sekarang.
Mendengar kalimat itu, Ricky semakin geram. Api dalam hatinya semakin membakar amarah, bahkan mentalnya.
Ricky mengangkat kedua tangan Sheila, kemudian menciumnya. Meski amarah mulai merundung jiwa, ia memastikan bahwa Sheila akan baik-baik saja. Kali ini ia benar-benar merasa bahwa ada usaha untuk merebut wanita itu dari luar sana. Siapa pun itu, ia tak peduli. Yang jelas, ia tak ingin lagi merasakan sakitnya kehilangan sosok yang dicintai.