"Aku tak tahu lagi apa yang bisa kuperbuat sampai cercaan itu benar-benar terdengar dari telingaku sendiri". Ucap Ricky sambil memutar-mutar sebatang rokok yang siap dibakarnya.
"Aku tak bisa menahannya lagi, Rob".
"Kau tak pernah lagi menceritakan suatu hal padaku seperti dulu". Jawab Rob.
"..." Ricky terdiam.
"Tapi aku masih penasaran saat kemarin mengantar Sheila. Abby dan seorang teman prianya ada di sana saat aku masuk ke dalam rumahnya".
"Abby?" Tangan Ricky terhenti saat korek yang dipegang hampir membakar rokok yang tersangkut di bibir, kaget mendengar nama Abby.
Ada rencana terselubung saat kedatangan kedua pria itu di rumah Sheila. Abby membawa salah seorang teman, yang lebih tepatnya adalah atasan di perusahaan tempat ia bekerja. Jonathan Timothy.
Rencana itu adalah sebuah simbiosis mutualisme antara Abby dan Jonathan, dua sosok binatang yang selalu menghalalkan segala cara untuk mencari keuntungan, yang jelas dengan cara yang kotor.
Jonathan sangat tertarik dengan kemolekan tubuh Sheila, terlebih dengan wajahnya yang sangat cantik di atas rata-rata teman Abby yang pernah dipermainkannya, korban pemuas nafsu birahinya. Setelah semua yang diinginkannya terpenuhi, pria itu dengan seenaknya meninggalkan wanita-wanita yang Abby bawa untuknya. Sedangkan Abby, tugas dia hanyalah sebagai perantara, mengenalkan wanita-wanita yang ia kenal itu dengan si hidung belang Jonathan, lalu diterimanya imbalan dari pria pemilik segalanya itu.
Tak heran dengan mudahnya wanita-wanita itu terjungkal ke dalam lubang permainan Jonathan, mengingat ia adalah tangan kanan bos besar tempat ia bekerja yang kekayaannya jauh di atas segala yang menjadi imbalan Abby. Abby sendiri sering meminta sejumlah uang, barang berharga, dan kali ini naik jabatan jika ia mampu mendekatkan Sheila pada Jonathan.
"Iya, Abby Handerson. Teman SMA Sheila karena aku tak ingin menganggapnya teman". Ujar Rob kesal.
"Kau kenal dengannya?", lanjutnya.
"Apa yang mereka lakukan?" Ricky tak menjawab pertanyaan Rob, rasa ingin tahunya yang mendadak mencuat.
"Aku tak tahu. Aku tak ingin mengobrol dengannya".
"Aku melihatnya di cafe malam itu dengan beberapa pria lain, saat Sheila bersamaku".
Ricky mengernyit, ia kembali teringat malam itu Abby menyapa Sheila saat di cafe. Ricky memperhatikannya beserta gerombolan pria yang seringkali memandang kearah Sheila, dengan tawa mencurigakan.
"Jangan terlalu kau pikirkan, Sheila tak mungkin menyukainya". Lanjut Rob.
Siang itu adalah jam istirahat keduanya. Mereka berjanjian di sebuah cafe yang letaknya di tengah-tengah antara kantor Ricky dan kantor Rob.
"Aku tau itu". Ricky menelan rasa penasaran dalam hatinya.
"Kau akan kembali jam berapa? Ada sesuatu yang harus kuselesaikan sebelum sore, Rick", kata Rob sembari memasukkan handphone ke dalam saku celananya.
"Menelfonlah kalau kau membutuhkanku".
Rob pergi meninggalkan Ricky karena tuntutan pekerjaan yang harus ia penuhi. Namun lain halnya dengan Ricky, ia masih terdiam merenung tanpa mempedulikan jam istirahat yang sebentar lagi berakhir. Terlintas di pikiran, apa yang dilakukan Abby dan temannya itu di rumah Sheila, meski Rob telah meyakinkan dirinya Sheila tak akan suka dengan keberadaan Abby.
"Kamu dimana, sayang?" Tanya Ricky tak sabar menelfon Sheila.
"Em.. A.. aku di perjalanan ke kampus. Kau.. kau tak apa?", jawab Sheila gugup seakan itu adalah telefon pertamanya dengan orang yang dicintainya. Ia bingung sekaligus kaget, Ricky menelfonnya di saat yang tidak tepat. Kini dirinya sedang duduk di samping seorang pria suruhan Jordy, Jonathan Timothy, yang sedang menyetir menuju kampus.
Sheila pun belum menyatakan bahwa dirinya telah mempunyai kekasih. Alasannya masih sama, 'tak ingin ribut dengan Jordy'. Apa lagi pria tersebut mendapat perintah langsung darinya, yang bisa saja mengadu padanya.
"Nanti ku telefon balik". Bisik Sheila. Ia langsung mematikan telefon itu.
"Siapa?" Ucap Jonathan yang meliriknya dari awal Sheila mengangkat telefon.
"Teman". Jawab Sheila muak.
"Kau pulang saja setelah sampai di kampus, biarkan aku selesaikan semuanya dengan temanku nanti.
Sheila dengan sangat terpaksa menerima tawaran pria itu yang bersedia mengantar sekaligus menemaninya. Meski sempat menolak, Jonathan bersikeras untuk tetap bersamanya sampai ia menyelesaikan semua urusannya hari itu.
"Tak apa, aku sangat free hari ini. Papimu juga memintaku untuk menjagamu". Jawab nya dengan senyum sumringah.
Hari beranjak sore. Ricky pun belum juga beranjak dari cafe yang sedari siang dikunjunginya bersama Rob. Setelah Sheila menutup telefonnya secara tiba-tiba, cerita Rob semakin terasa mencurigakan baginya. Tak ingin hatinya semakin gundah, tanpa pikir panjang ia pergi ke kampus Sheila menengok kekasihnya itu. Ia pun terlupa dengan peringatan dari Mr. Jack, jika bulan ini adalah bulan terakhir baginya untuk bekerja keras mempertahankan posisinya di tempat kerja. Tapi persetan dengan karir, hal itu seolah terbanting oleh urusan yang menyangkut sang kekasih, sebuah urusan pribadi yang tak masuk akal.
Sampai di kampus, Ricky tanpa sengaja melihat kekasihnya yang sedang bersama seorang pria tampan dengan tubuh tegapnya berjalan menuju area parkir mobil. Ricky pun tak percaya dengan yang ia lihat, tak salah lagi itu benar-benar Sheila. Ia pun menarik topi dari jaket yang menggantung di punggungnya menutupi sebagian wajah tak ingin menampakkan diri. Ia berdiri di balik sebuah tembok masih terus mengamati wajah pria itu dengan seksama. Ia adalah pria teman Abby yang dilihatnya di cafe malam itu.
"Mungkin dia yang dimaksud Rob". Bisik Ricky dalam hati.
Meski demikian, Ricky melihat jelas Sheila memasang wajah sebalnya. Ia tahu betul bagaimana sifat kekasihnya itu. Ia pun menebak jika pria itu bisa jadi bawaan Jordy.
Mereka berdua pun memasuki sebuah mobil sport berwarna hitam mengkilat dan pergi meninggalkan kampus. Mata Ricky pun masih tertuju pada mobil sampai hilang dari pandangannya.
"Pria yang kau ceritakan telah membawa Sheila". Ujar Ricky membenarkan cerita Rob.
"Aku yakin dia yang ku lihat di cafe malam itu".
"Kau yakin itu dia?"
"Tak salah lagi, Rob. Kali ini tolong jangan halangi aku".
"Apa maksudmu? Apa yang akan kau lakukan, Rick? Jangan kau depankan emosimu!"
"Tidak. Kita lihat saja nanti".
Ricky menutup telefonnya saat Rob berusaha mencari tahu, seperti sedang merencanakan sesuatu.
***
"Maafkan aku, bukan mauku mematikan telefonmu". Ucap Sheila yang tersedak tangis.
Malam itu, ia mulai merasa kesedihannya memuncak. Tanpa beranjak dari tempat tidur sedari ia tiba di rumah sore tadi, Sheila hanya mengurung diri di kamarnya menangisi apa yang dia alami. Hari demi hari dirasa semakin menjengkelkan, bahkan ia muak dengan sang ayah. Pintu telah terkunci dan berusaha memadamkan kekesalannya dengan menelefon balik Ricky.
"Siapa yang bersamamu tadi?" Ricky langsung ke titik pembicaraan, ingin mengungkap kejanggalan yang dirasakannya.
"... Jonathan Timothy, atasan Abby". Jawab Sheila masih terisak tangis.
"Abby membawanya kepada Papi, dan Papi yang memaksaku pergi dengannya".
"Lalu? Kau tak mengelak?"
"Kau tahu seperti apa Jordy, kan?"
"Aku melihat pandangan menjijikkannya padamu di cafe malam itu, dan aku benar-benar memperhatikan mereka yang..."
"Jangan pernah tinggalkan aku", Sheila memotong.
"Tak akan, dia lah yang akan meninggalkanmu, dan mereka akan meninggalkan kita berdua", jawab Ricky tegas sambil mengeraskan dagunya.