PART 4. Takkan Ada Lagi Cerita Kehilangan

1283 Kata
Pukul 11.25 malam. "Besok aku ingin mendengar kelanjutannya ya, Bu". "Ibu akan selalu bercerita sebelum kau tidur, Nak. Sekarang waktunya tidur." Sang Ibu mencium kening bocah lelaki itu lalu menyelimutinya. "Tidak! Jangan, aku mohon. Jangan ganggu keluarga kami!!" Terdengar suara gaduh seorang pria dari lantai bawah berteriak memohon untuk tidak menyakitinya. "Ibu, itu suara ayah!" Ujar bocah delapan tahun itu sontak membuka selimutnya. "Sssttt.. kau diam di sini!" Sang ibu bergegas bangkit, berlari menuruni tangga rumahnya setelah sempat menutup pintu kamar bocah itu. "Aaarrgggghhh...." "Ayaaah...!" Teriak seorang bocah remaja kakak dari bocah lelaki tersebut, yang lebih dulu turun terkejut melihat ayahnya ditusuk di bagian perut oleh seorang pria bertopeng dengan dua komplotannya. "Tidaaak! Lepaskan aku!" Teriak remaja itu sambil memukul tak berdaya dua pria yang membekapnya, berusaha melepaskan diri dari mereka. Sang ibu seketika menangis melihat mayat sang suami tergeletak dengan darah mengalir di sekujur tubuhnya. Kini kakinya melemah dan gemetaran, memohon agar anak itu tak bernasib sama seperti sang ayah. "Tolong hentikan, lepaskan anakku. Apa yang kau inginkan, akan ku beri semuanya". Sang ibu berlutut dan memohon dengan suara tangisnya yang melemah, tak kuasa melihat kejadian sadis yang datangnya tak dikira-kira. "Ibuuu..." Remaja itu berteriak menangis dan masih memberontak, berusaha lepas dari bekapan 2 orang itu. Semakin memberontak, satu pria menempelkan mata pisau tepat di lehernya. Sang adik berlari dari kamarnya, berusaha mengintip setelah mendengar suara teriakan yang sama sekali tak asing baginya, suara sang kakak. Dari lantai dua ia memandang ke arah kejadian itu. Matanya terbelalak melihat kejadian yang tak pantas ia pandang, dan menundukkan tubuhnya masih melihat apa yang sedang terjadi. Tubuh kecilnya gemetar, ia tak tahu apa yang bisa diperbuatnya. "Ayah.." "Shane.." Bisiknya menyebut ayah dan kakaknya setelah ia benar-benar melihat dengan jelas keluarganya yang sedang diteror tiga pria bertopeng itu. Ia pun perlahan menangis, pemandangan semakin membuatnya trauma. Teriakan sang kakak kian menggema meminta tolong, dan di saat itu pula nyawanya melayang ditangan pria itu. Sang adik mematung, di usia itu ia tau benar begitu mudahnya kematian terjadi. "Tidaaaak..!" Sang ibu semakin melemah dan pingsan melihat pria itu menggoreskan pisau tajamnya di leher putra remajanya itu. Darah pun menyembur dan berhamburan di lantai ruang tamu. Sang adik tak berani menampakkan diri, ia berlari kembali ke kamar dan bersembunyi di bawah tempat tidur. Ketiga pria bertopeng itu mulai menjelajah seisi rumah, merampas barang berharga milik keluarga sederhana itu, meski sebenarnya tak ada barang mewah yang mereka miliki. Untungnya, mereka bertiga tak mengahabisi nyawa sang ibu dan tak mengetahui keberadaan bocah lelaki itu, hingga mereka mendapatkan apa yang mereka cari, dan kemudian bergegas untuk pergi. Satu jam berlalu dan bocah lelaki itu masih berlindung di bawah kasur kecilnya menangis tanpa suara. Saat ia tak lagi mendengar kegaduhan tiga pria yang dengan kasar memporak porandakan rumahnya, perlahan ia mengendap-endap keluar dari kamar mengintip dari tempat ia melihat kejadian sadis tadi. Spontan ia berlari menuruni tangga dan berusaha menyadarkan ibunya. "Ibu.. Ibu.. Kau tak apa?" Bocah itu menggoyang-goyangkan tubuh sang ibu hingga ia terbangun dari pingsannya. "Ricky, mengapa kau turun, Nak? Ibu tadi memintamu untuk menunggu di kamar" Jawabnya lemah. "Mereka sudah pergi, Bu. Tapi Ayah dan Shane..." Ucapannya terpotong tangis yang tiba-tiba membuatnya berteriak. Bagaimana tidak, mayat kedua orang itu hanya berjarak dua meter darinya, mayat Shane ditumpuk sembarangan di atas mayat ayah. "AYAH DAN SHANE MATI, BU!" Lanjutnya dengan tangis yang lebih lantang tak terima dengan apa yang dialami keluarganya. *** Sore itu, di cafe langganan Ricky dan Sheila tampak tak seramai biasanya. Setelah menengok Ricky di asrama, Rob meminta Sheila untuk menemuinya. Sheila membuka kedua tangan yang menutupi tangisnya. Ia tak percaya dengan tragedi yang dialami keluarga Ricky, seperti cerita Rob yang baru saja mengiris batinnya. Sebelumnya, ia belum pernah mendengarnya dari Ricky, seolah kejadian itu tak pernah terjadi. Selama ini saat Sheila bertanya tentang keluarganya, terutama Ayah dan kakaknya, Ricky menceritakan seolah mereka masih ada dengan berbagai kesibukannya. Namun Rob mengerti tujuan sahabatnya itu, Ricky belum bisa menerima takdirnya meskipun hal itu terjadi 18 tahun yang lalu saat dirinya berusia 8 tahun, mengingat usia Ricky sekarang yang sudah 26 tahun. Rob pun pernah bertanya mengenai keluarga Ricky saat mereka baru saja saling kenal. Dengan jawaban yang sama, 'seolah mereka masih ada'. Tapi seiring berjalannya waktu, saat mereka semakin mengenal satu sama lain, Ricky pun menceritakan hal yang sebenarnya tentang musibah yang dialami keluarganya itu. Kejadian yang motifnya pun tak diketahui, bahkan tak terselesaikan sampai detik ini. Rob mengaku sangat sedih mendengarnya. Rob pun tahu, hati Ricky telah hancur selama 18 tahun belakangan karena ia telah kehilangan sosok ayah dan saudara kandung yang sangat disayanginya, yang membuatnya hidup dengan segala keterbatasan dengan sang Ibu. Ricky pernah berjanji pada dirinya, tak akan ada lagi cerita kehilangan orang yang dicintainya. Namun jika terjadi, dunia benar-benar tak adil, ia akan membalasnya serupa dengan apa yang dialaminya. "Tapi aku yakin ia tak berniat kembali mengkonsumsi alkohol, dia sudah berubah total dan aku tahu itu". "Harusnya aku tak menceritakan hal itu padanya, ini semua salahku. Aku tak punya pilihan lain, karena aku tak pernah bisa menyembunyikan kesedihanku di hadapannya setiap selesai bertengkar dengan Papi. Hanya saja aku selalu berusaha terbuka padanya", tanggap Sheila di sela isak tangisnya. Sheila semakin tak mengerti apa yang sedang dialaminya saat ini. Studi dan percintaan yang masih kelabu, yang keduanya harus ia perjuangkan secara bersamaan. Dan jika tidak, ia tahu akan menyesal dan menderita. Ditambah lagi kisah haru yang melatarbelakangi Ricky, ia semakin mengkhawatirkan keadaan pria itu. "Sebaiknya kau pulang, biarkan aku mengantarmu". "Aku ingin melihatnya, aku tak ingin dia kesakitan sendirian". Jawab Sheila dengan pandangan kosongngnya ke arah meja. "Tak apa, biar aku saja yang mengurusnya. Dia akan baik-baik saja. Serahkan padaku". Rob berusaha tersenyum menenangkan. Rob pun mengantar Sheila pulang dengan sebuah mobil sedan hitam peninggalan ayahnya. Sesampainya di depan pagar rumah Sheila, mereka melihat sebuah mobil sport terparkir di halaman rumah. "Mobil siapa itu?" Tanya Rob sembari menyetir memasuki area halaman. "Aku tak tahu, Rob. Mungkin teman Papi". Rob sedikit curiga saat ia keluar dari mobil dan berjalan perlahan ke arah ruang tamu rumah mewah itu. Seperti ada sosok yang ia kenal terlihat dari kejauhan. Abby Handerson. "Hey, Sheila. Hey, Rob". Sapa Abby sok ramah. Sheila hanya terdiam, tanda tanya seketika menunggangi pikirannya, apa yang dilakukan Abby dan seorang teman prianya di rumahnya? Namun, secara fisik Sheila tak begitu asing melihatnya, sepertinya salah satu dari gerombolan Abby saat di cafe malam itu. "Apa yang kau lakukan di sini?" Tanggap Rob tanpa basa-basi. Konon, hubungan Rob dan Abby tak pernah dekat mengingat keduanya adalah teman Sheila semasa sekolah, dan mereka pernah mempunyai masalah yang membuat Rob hampir dikeluarkan dari sekolahnya. "Hanya berkunjung". Abby tersenyum sinis. Tak lama kemudian Rob meninggalkan rumah itu. Saat baru memasuki mobil, terlihat Jordy yang baru saja muncul dari area ruang tengah menuju ruang tamu dimana ketiga orang itu ditinggalkannya. Rob pun masih bertanya-tanya, sedang apa Abby di rumah itu, meskipun ia paham jika keluarga Sheila sangat mengenali teman-teman sekolahnya dengan baik, termasuk dirinya. Sebelum menancap gas mobilnya, Rob menelfon Ricky mencari tau bagaimana keadaannya setelah ditinggalkannya dalam keadaan mabuk berat sore tadi. "Hey, Rob. Ada apa?" Ricky menjawab panggilan Rob yang ke tiga setelah ia berturut-turut tak menjawabnya. "Kau baik-baik saja? Apa yang kau lakukan?" "Em.. Iya, aku baik-baik saja. Jawab Ricky perlahan berusaha merahasiakan kondisi mabuknya. "Kepalamu berdarah dan menurutmu baik-baik saja? Kau memulainya lagi? Vodka?" Jelas Rob atas apa yang telah ia lihat. "No, I said I'm good, man. Hanya sedikit masalah pekerjaan". "Dan Sheila?" Tebak Rob. "Aku akan temui kau di asramamu". "No.. no, semuanya baik-baik saja, Rob. Jangan khawatirkan aku. Tapi aku bisa menceritakan padamu besok, hari ini aku sangat kelelahan", terdengar suara Ricky menghembuskan asap rokok. "Baiklah, setuju". Rob menganggukkan kepala mencoba mengerti sahabatnya itu. "Istirahatlah", lanjutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN