Drrtt.. Drrtt.. Drrtt...
Alarm dari handphone berbunyi. Tangan Ricky spontan meraih dan matanya terbelalak saat mengetahui pagi itu sudah pukul sembilan.
"s**t!"
Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, ia berusaha bangkit dan menyeimbangkan langkah menyiapkan diri untuk pergi ke kantor.
"Selamat pagi, my Bro!" Sapa salah seorang rekan kerja Ricky yang letak mejanya berseberangan dengannya. Jeffrey.
"Kelihatannya sibuk sekali, nih", sambungnya dengan nada bercanda.
"Kacau, telat lagi." Ricky tergesa-gesa membuka laptop dan beberapa dokumen yang tergeletak di atas meja. Tidurnya sangat terganggu beberapa hari belakangan setelah mendengar cerita Sheila malam itu, ditambah lagi ia telah mendengar sendiri nasehat Jordy kemarin sore yang sama sekali tak menguntungkannya, yang seolah menampar wajahnya.
"Tadi Mr. Jack mencarimu. Sepertinya ada yang ingin dibahas. Coba kau temui dia sekarang di ruangannya." Ujar Jeffrey melihat raut wajah Ricky yang tegang seperti belum siap mengahadapi harinya pagi itu.
"Serius?" Ricky mengernyit.
Meski dengan pikiran yang masih mengambang, Ricky segera menuju ke ruangan Mr. Jack, seorang bos besar di perusahaan tersebut. Ia adalah pria asal Jepang CEO dari perusahaan periklanan tersebut.
Jantungnya berdetak tak beraturan, telapak tangannya mulai dingin saat ia sadar ruangan yang ditujunya tinggal beberapa langkah lagi.
"Permisi, Sir. Anda memanggil saya?"
"Yes, masuk", jawab Mr. Jack dengan asap cerutu menguap dari mulutnya.
Ricky duduk tepat di hadapan kursi kebesaran Mr. Jack.
"Mau mu bagaimana ya, Rick?"
Tanpa basa-basi, Bos besar itu membuka obrolan yang langsung tertuju pada kinerja Ricky belakangan ini. Sungguh berantakan.
Ricky tertunduk dan menempatkan kedua telapak tangan dinginnya di atas lutut.
"Begini, saya tidak mengetahui secara langsung apa yang kau lakukan selama ini di luar sana, terutama dalam 2 bulan belakangan". Nada bicara Mr. Jack seperti menahan kesal.
Ricky tersentak dan menguatkan pegangan di lututnya. Ia sadar, ia merasa performanya menurun drastis. Ia juga sadar bahwa mengaitkan masalah pribadi dalam pekerjaan adalah hal yang sangat tidak profesional, dan jika itu yang menjadi jawabannya sekarang, itu adalah jawaban terbodoh yang pernah ada. Meski ia telah berusaha sebaik mungkin menyembunyikan kekesalan yang menyelimuti dirinya sejauh ini, ia tetap lah manusia biasa yang memiliki batas kesabaran. Atau mungkin dendam.
"Kau sadar kalau dua bulan berturut-turut nol? Tanpa ada pemasukan dari kinerjamu pada perusahaan? Lalu apa lagi yang bisa kita harapkan padamu?"
Mr. Jack sama sekali tak bisa mentoleransi karyawan yang tak memiliki etos kerja yang baik. Ia adalah sosok pemimpin yang sangat disiplin dan pekerja keras. Sedikit saja seorang karyawan tak memenuhi tanggung jawabnya, Mr. Jack lah yang akan langsung turun tangan. Dan Ricky adalah salah satunya kali ini.
Jika Ricky boleh menjelaskan, ia bukanlah karyawan seperti yang dikatakan Mr. Jack, "tak memiliki etos kerja yang baik". Tetapi, kali ini ia hanya kacau akan segala hal yang terjadi di percintaannya, hubungan yang kelabu belum jelas adanya. Namun sekali lagi, itu alasan yang tak masuk akal. Menjadi kaya secara mendadak sangatlah mustahil. Memang tak cukup profesional, sebab ia tak tahu harus kemana ia mengumbar isi hati yang telah penuh dengan kesedihan bercampur kebingungan. Di kota itu, ia hanya sebatang kara, hanya ada Sheila dan Rob yang kini semakin sibuk dengan profesi masing-masing.
"Bulan depan adalah kesempatan terakhir untukmu membuktikan pada saya bahwa anggapan saya salah. Tapi dengan konsekuensi yang tertera pada kontrak kerja, jika kau mengacau, terpaksa saya memecatmu."
Tatapan Mr. Jack semakin menusuk dan tak beralih sedikitpun dari Ricky yang terdiam beku tak tahu harus berucap apa. Tak lama kemudian, ia meminta Ricky keluar dari ruangan.
Perasaan Ricky seolah semakin bergemuruh dengan api yang tak tau akan ia padamkan atau justru ia kobarkan. Amarah yang ia kubur dalam-dalam seperti tak lagi mendapat ruang di hatinya. Ia akan tetap merahasiakan hal yang menyangkut karirnya ini, hal yang bisa saja membuat Sheila semakin khawatir padanya. Ia hanya berharap Sheila menggarap segala kewajibannya dan segera lulus.
"Kau merokok lagi, Rick?" Jeffrey tiba-tiba menghampiri meja Ricky saat melihat dirinya hanya duduk seorang diri, setengah melamun menghisap sebatang rokok.
"Aku hanya ingin merasakan kembali masa-masa dulu saat remaja, tanpa beban sedikit pun di kepala." Tanggap Ricky dengan nada bercanda mengalihkan pandangan kosongnya, namun masih dengan raut wajah muram yang tak bisa membohongi siapa pun.
"Mungkin dengan rokok, aku bisa mengosongkan beban itu." Lanjutnya seraya menyodorkan bungkus rokok pada Jeffrey.
Di kantin itu masih terlihat beberapa orang berlalu-lalang meski jam istirahat telah berakhir.
Meskipun tak tahu persis apa maksud dari ucapan Ricky, Jeffrey berusaha menanggapi.
"Kau bisa ceritakan masalahmu jika kau mau". Ujar Jeffrey yang mengurungkan niatnya untuk masuk ke ruangan dan membuka bungkus rokok. Ia berusaha mencari tau apa yang terjadi. Yang ia tahu, Mr. Jack memanggil seorang karyawan karena sebuah masalah performa kerja, seperti yang terjadi pada karyawan lain sebelumnya.
"Aku berharap begitu, tapi mungkin terlalu personal bagiku, Jeff." Dalam batin Ricky, tak hanya masalah karir yang tiba-tiba membuatnya kacau. Namun, seperti ada luka lama yang membekas dalam memori yang seolah tergores kembali.
****
Beberapa hari telah berlalu, tapi batin Ricky masih merancu. Sheila yang seminggu biasa ditemuinya empat kali, entah di kampus atau di cafe yang sudah menjadi tempat biasa mereka berkencan pun kini sudah tak senormal biasanya. Bukan tak mau, tapi Jordy lah yang memegang kendali penuh atas Sheila setelah mengetahui sore itu putrinya diantar oleh seorang pemuda 'pengendara motor'. Hal itu membuat Jordy menjadi was-was jika putrinya itu melangsungkan hubungan dekat dengan sosok yang jauh di bawah standarnya seperti Ricky. Ruang gerak Sheila seakan dibatasi oleh kecaman sang ayah. Lalu, Sheila cuma bisa apa? Selain hanya menangis menuruti Jordy yang bisa kapan pun memutus kuliahnya dan menikahkan paksa dirinya.
"Ayo angkat, please!" Gumam Sheila yang dalam hati kecilnya sangat merindukan sang kekasih. Ia benar-benar sedang di ambang kesedihan dan sangat membutuhkan Ricky detik itu juga. Namun, enam panggilan telefonnya tak terjawab oleh Ricky.
Tak kehabisan akal, jari-jari lentiknya mulai mencari nomor Rob di kontak handphone. Tak ada lagi sosok yang bisa dihubungi melainkan Rob jika hal itu menyangkut hubungan asmaranya saat ini.
"Iya, sudah enam panggilan. Tapi tak satupun dia angkat." Jelasnya sambil menggigit bibir bawahnya penuh kekhawatiran. Karena belum pernah Ricky mengabaikan panggilannya selama ini.
Menjadi sahabat Ricky sedari kuliah, Rob tahu benar siapa Ricky. Tanpa banyak basa-basi dengan Sheila yang tengah dimakan kegelisahan, ia pun memutuskan untuk langsung menghampiri asrama Ricky.
Setelah sampai di depan sebuah bangunan bergaya klasik, berwarna putih dengan sebuah pagar besi hitam, ia segera memasuki area bangunan itu yang merupakan asrama Ricky. Rob pun masuk hingga ia melihat sebuah kamar yang berada paling ujung dengan pintu kayu sedikit terbuka. Tercium aroma yang sangat menyengat, yang benar ia kenali sebelumnya. Perlahan ia berusaha mengintip kamar itu dan terlihat lantai yang dipenuhi pecahan kaca. Rob pun seketika membuka lebar pintu dan terlihat Ricky yang tergeletak di antara pecahan kaca itu dengan dahi berlumuran darah.
"Oh, s**t!" Umpatnya.
Rob berusaha menyadarkannya dan menggendong Ricky ke atas tempat tidur. Aroma yang dikenalinya itu semakin tercium jelas saat dirinya mengangkat tubuh Ricky.
Kemudian, matanya melihat ke sekeliling kamar yang kondisinya sangat berantakan itu. Ia menemukan sebuah botol minuman beralkohol yang sangat disukai Ricky saat kuliah, Devil Springs Vodka, yang pecah di bagian kepalanya. Isi dari botol itu pun hanya tersisa sedikit. Ia mulai mengerti, ada yang tidak beres dengan Ricky karena sejauh ini ia telah berhenti mengkonsumsi alkohol, seperti halnya dengan Rob.
Melihat Ricky yang tengah mabuk berat hingga tak sadarkan diri, Rob segera mengusap darah di wajah Ricky lalu membereskan kepingan kaca yang tercecer di lantai kamar itu. Tanda tanya besar masih membayangi dirinya. Apa yang terjadi? Dan hal itu membuatnya menelfon Sheila.
"Apa yang terjadi di antara kalian?" Tanya Rob langsung ke titik permasalahan.
"Dia dimana?! Dia kenapa??" Terdengar Sheila bertanya balik dengan isak tangisnya mengkhawatirkan Ricky.
"Kita harus bertemu. Nanti akan kuceritakan."