PART 2. Kelabu

1077 Kata
"Kamu dimana, sayang?" Tanya Ricky dari seberang telefon. "Di kampus. Kamu pulang jam berapa?" Kalau boleh jujur, Sheila sangat merindukan Ricky, terlebih di saat seperti ini. Ia sangat ingin menikmati seharian penuh dengannya, melepas beban dengan meneggelamkan kesedihan itu dalam pelukan Ricky. Enam bulan terakhir sejak ia menyusun thesis, mereka memang sudah jarang bertemu, tak seperti sebelumnya. Kini ia lebih sering pulang cepat karena kelelahan. Belum lagi saat tiba di rumah, berdebat dengan Jordy yang selalu membuatnya muak hingga tak betah tinggal di rumah sendiri. Meski hubungannya dengan Ricky telah berjalan satu tahun, ia belum pernah menceritakan hal tersebut. Mengingat standar yang diinginkan Jordy sangatlah tinggi, di atas awan. "Aku enggak jadi konsultasi, sudah terlalu lama aku di sini tanpa ada kejelasan. Aku bangun kesiangan, jadi jamku terlewat", Sheila mendesah. "Kepalaku sakit rasanya", keluhnya sambil menyandarkan kepala di tembok ruangan dosen itu. "Ku jemput sekarang, ya. Biar aku antar kamu pulang. Kamu perlu istirahat." Tak tega membayangkan, Ricky bergegas menjemput Sheila di kampus. Itu bukan jam istirahat atau moment bertemu klien. Tapi entah perasaan khawatir bergemuruh dalam hati, mengalahkan segalanya. Kini yang ada di kepala Ricky, ia harus lebih perhatian padanya. Ia merasa lebih waspada mengingat kecaman Jordy seperti yang diceritakan Sheila. Hal itu terus membayangi. Baginya sekali lagi, tak akan ada yang boleh disandingkan dengan Sheila, melainkan hanya dirinya lah yang akan bersamanya. Ambisi dalam diri Ricky kian membara, sepertinya hubungan mereka sudah sampai di ujung tanduk. "Kamu akan kerepotan, jarak asrama dari rumahku akan lebih jauh." Sheila berusaha menolak halus, meski dalam hati berharap untuk bertemu. "Kamu sudah makan?" Tanya Sheila sembari mengelap keringat Ricky dengan selembar tisu. "Sudah, jangan khawatir. Kamu harus cepat pulang dan istirahatlah." Meski sebenarnya ia tak kuasa melihat Ricky yang tampak kelelahan, dalam hatinya ia sangat membutuhkan pria itu di sisinya. Dengan cara ini lah kesedihan Sheila bisa sedikit terobati. "Sebaiknya kamu tak perlu memasukkan ke dalam hati setiap ucapan Papi nanti". "Maksudmu?" Ricky mengulas senyum. "Memang menurutmu dia akan bicara apa?" Ricky kembali bertanya, tanda tanya besar mulai menyentuh benaknya. Mengingat selama ini dia belum pernah bertatap muka secara langsung dengan Jordy. "Kamu tahu dia menyebalkan". Menurut Sheila tak ada lagi kata yang bisa menggambarkan sifat Jordy. "Aku harap hati besarmu bisa memaafkan aku dan semua hal yang terjadi". Seketika mata Sheila memandang Ricky dalam, menyiratkan pesan "jangan tinggalkan aku". Ricky terdiam, apa yang harus ia katakan. Sementara semua ini bukan Sheila biangnya. Tapi orang tua Sheila itu sendiri. Apakah ia harus pasrah, atau melawannya? Sepertinya keduanya tak mungkin. Ricky menyambut tangan Sheila, lalu mengusap air mata yang dari tadi menitik perlahan. "Aku di sini bersamamu, aku tak akan kemana-mana". Sheila tersenyum lega, meski dalam hati kecilnya masih terbesit rasa takut yang luar biasa. "Kalau Papi bicara, iyakan saja. Supaya urusan nggak makin panjang." Ricky mengangguk tanda mengerti. *** "Kau sudah pulang." Sambut seorang wanita paruh baya cantik dengan rambut pendek berwarna merah. "Iya, Ma." Jawab Sheila tak b*******h. "Kau diantar siapa?" Mami Sheila menoleh ke arah Ricky yang sedang memarkirkan sepeda motornya di halaman yang luas itu. "Sore, Mrs. Shannon." Sapa Ricky sembari mengulur tangan untuk bersalaman. "Sore juga." Shannon menyambut tangan Ricky dengan senyuman hangat. "Emm.. ini..?" "Ricky, Mrs." Sahut Ricky sopan. "Saya ingat, yang bawa kado natal tahun lalu, kan?" Shannon mulai mengingat Ricky yang baru dua kali berkunjung ke rumah mewah itu. Pertama saat Sheila berulang tahun, dan kedua saat natal. Namun tanpa penjelasan dari Sheila siapa Ricky sebenarnya. Tujuannya tidak lain adalah menghindari konflik dengan Jordy. Shannon mempersilahkan masuk dan membuka beberapa sajian makanan di atas meja kaca ruang tamu. Ruangan itu sungguh mewah menurut Ricky, dengan d******i warna putih dan coklat di sebagian besar perabotan, guci besar yang diletakkan hampir di setiap sudut ruangan, dan lampu yang tergantung berkilauan bak kristal. Mereka mengobrol ringan seputar kesibukan masing-masing yang dibarengi sedikit candaan. Namun tetap, Sheila merasa sedang tidak baik-baik saja. Di tengah obrolan mereka, terdengar suara mobil memasuki halaman rumah mewah itu. Ketiganya menoleh ke arah jendela kaca lebar yang menembus langsung ke arah mobil tersebut. Terlihat seorang lelaki gagah dengan rambut putih dan berkumis tebal keluar dari mobil itu. Jordy. Shannon menjemputnya dan membawakan tas jinjing kulit berwarna coklat yang dibawa pria itu. "Motor siapa itu?" Pria tersebut bertanya kepada Shannon sambil melepaskan sepatunya. "Milik Ricky, Pa. Dia yang mengantar Sheila pulang." Tanpa satu kata pun, pria itu masuk dengan wajah seriusnya. "Sir.." Sapa Ricky sambil berdiri menganggukkan kepala berusaha memberi salam pada Jordy. Namun tak sedikit pun lirikan matanya membalas Ricky saat ia melangkah memasuki area ruang tamu itu. "Hai, baby." Jordy menolehkan sejenak pandangannya pada Sheila, seakan tak ada ketegangan di antara mereka berdua. Sheila hanya tersenyum tipis sambil menundukkan kepalanya, lalu menatap Ricky. Ricky pun masih berdiri terdiam, hanya membalas tatapan Sheila, berusaha menyampaikan isi hatinya bahwa ia baik-baik saja. Jordy seperti tak mempedulikan siapa yang datang ke rumahnya sore itu, meski Ricky telah berusaha menyampaikan sapaan hangat padanya. Menurutnya, lelaki yang berusaha mengantar pulang wanita adalah modus pendekatan kuno yang telah menjadi kebiasaan memalukan. Dan Jordy tak akan melepaskan putrinya begitu saja pada lelaki semacam itu. "Kau seharusnya beristirahat, Sheila. Bukan saatnya untuk membuang-buang waktu seperti itu!" Teriak Jordy dengan suaranya yang serak. "Apa kau tak ingat, anak-anak seusiamu di perusahaanku sudah hidup enak, mewah. Tapi kamu malah membiarkan waktu lenyap begitu saja!", lanjutnya menasehati dari balik rak besar pembatas ruang tamu dan ruang keluarga. Kau sudah dewasa!" Suara Jordy semakin menggelegar. "Apa kau memang ingin mensia-siakan kesehatanmu dengan naik motor sesore ini?" Ricky dan Sheila hanya terdiam bertukar pandang. Tergambar jelas dari wajah Sheila. Sinar matanya terpancar kekecewaan, bahkan mungkin penderitaan. Sementara Shannon sibuk menyiapkan makan malam untuk keluarga. Tak ingin ikut campur di saat sang suami merasa kesal. "Ujianmu sudah dekat, jangan kau kacaukan rencana Papi lagi." Sambungnya lagi sambil memilah beberapa dokumen yang dikeluarkannya dari tas kulit miliknya. "Papi akan menunggu kuliahmu jika tepat waktu, tapi kalau tidak kau akan ikut cara mainku". Perlahan Ricky memalingkan pandangannya dari Sheila. Hanya berusaha menguatkan hati dan menelan ucapan yang menurutnya pedas itu. Apakah keberadaannya untuk Sheila benar-benar ditolak dan mereka hanya sampai di sini saja? Ia masih menundukkan kepala, menenangkan pikirannya yang sempat goyah. "Jadi Papa minta kau naik dan beristirahatlah, bukan menerima tamu yang sama sekali tak ada kaitannya dengan masa depanmu!" ocehan itu kian menjadi. "Sudah cukup, Pa!" Sontak Sheila membentak memecahkan nasehat Jordy. Ia berusaha kuat untuk tidak menangis di hadapan Ricky meski hatinya begitu hancur, seperti tak akan ada lagi harapan di hubungan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN