"Baik, semoga kita bisa bekerja sama di project ini," Ricky menjabat tangan ketiga orang di hadapannya sebelum mereka meninggalkan tempat.
Sebagai seorang Business Development di salah satu perusahaan agency periklanan bergengsi, berhadapan dengan berbagai macam latar belakang sudah menjadi makanan wajib bagi Ricky. Meskipun terkenal pendiam dan cenderung dingin namun ambisius, ia selalu memiliki cara tersendiri untuk menghadapi setiap klien yang ditemuinya.
Namun sayangnya, belakangan semangat yang ia miliki menurun akibat hal-hal tak mengenakkan berlalu-lalang di pikiran. Entah mengapa ia begitu terusik, padahal biasanya ia tak sedramatis itu. Ia lebih memilih untuk masa bodoh dengan segala hal yang terjadi, namun kali ini berbeda. Akibatnya, berdampak pada pekerjaan yang tak semulus sebelumnya. Kehidupan di kota besar memang tak mudah bagi pemuda itu.
"Semoga saja project kali ini deal", gumamnya sebelum meneguk sisa kopi yang hampir dingin.
Menduduki sebuah posisi di divisi bisnis adalah cara paling tepat baginya, di samping mendapat gaji pokok, ia juga akan mendapat bonus dari hasil penjualan.Begitulah isi kontrak kerja yang menjadi pedomannya. Dari situ lah ia berusaha menyisihkan tambahan uang untuk tabungannya. Dia ingin segera mewujudkan impiannya, menikah dan hidup bersama wanita cantik nan anggun bernama Sheila Alexandra, wanita yang menjadi pujaan belum lama ini. Yang menurutnya paling lambat dua tahun lagi uang di tabungannya akan cukup mewujudkan mimpi itu. Apa daya, Ricky Houston bukanlah anak pengusaha kaya seperti sebagian besar pemuda seusianya di London, kota dimana ia bekerja.
****
"Lebih semangat, ya. Ujian tinggal 3 bulan lagi, kamu masih ada sedikit waktu untuk fix this all".
"Baik, Pak," tanggap Sheila perlahan menurunkan pandangannya, berat rasanya mengorbankan waktu dan tenaga untuk hal yang sia-sia.
Siang telah berlalu menuju sore, jarum jam sudah menunjuk pukul 14.20. Sheila mengemas beberapa kertas dan map plastik hasil jerih payahnya menyusun thesis yang tersisa 2 Bab lagi menuju ujian. Bergegas ia menuju kantin karena tak kuasa menahan lapar.
"Kamu sampai sini jam berapa?" Tanya Sheila melalui telefon.
"Aku seharian belum makan, jadi aku duluan enggak apa-apa ya?" sambungnya.
Sebelum menghadap dosen pembina, Sheila telah berjanjian dengan Ricky untuk makan siang bersama di kampusnya.
Mereka telah satu tahun menjalin hubungan asmara, dimana Robbert John Frederick, sahabat Ricky sejak kuliah sekaligus teman sekolah Sheila mempertemukan keduanya. Tak memerlukan waktu lama untuk saling mengenal, sampai akhirnya cinta tumbuh di hati kedua anak muda tersebut.
Lima belas menit kemudian saat Sheila sudah menghabiskan setengah piring dari hidangan yang dipesannya, Ricky muncul.
"Hei, sorry telat," sapanya.
Mengukir wajah senyum, Ricky melepaskan jaket dan tas yang digendongnya mengetahui wajah Sheila yang terlanjur mengerut.
"Kamu kemana saja, sih? Kamu bilang jam dua di sini." Seru Sheila protes.
Ricky hanya melanjutkan suapan makanan yang baru saja tiba, menahan jawaban.
Ricky memang sosok yang sangat pendiam dan tenang, yang terkadang terkesan dingin untuk beberapa orang yang baru mengenalnya. Sheila pun tak heran meski setiap omelannya tak mendapati komentar dari nya.
"Biasa lah klien, janjian jam satu baru muncul setengah dua," jawab Ricky setelah suapan terakhirnya.
Gimana konsultasimu tadi?" sambungnya saat mengetahui kekasihnya mulai membuka mulut berusaha memprotesnya lagi.
"Aku lelah, bab yang sudah aku kejar dari minggu lalu belum juga dapat approval," jawab Sheila sambil memijat perlahan keningnya.
"Kita jadi nonton kan? Aku harus merefresh pikiranku sejenak sebelum perjuanganku minggu depan. Kalo enggak aku bisa gila."
"Semangat ya, sayang. Kamu bisa menyelesaikan ini meski tanpa mengomel seperti tadi, dan aku tetap menyayangimu meskipun kamu gak waras lagi," canda Ricky sambil mengelus kepala Sheila dengan lembutnya.
"GAK LUCU!" Sheila mendelik.
Kebetulan jarak rumah Sheila dan tempat asrama Ricky terlampau jauh, Sheila tak pernah ingin membuat Ricky kerepotan untuk mengantar jemput dirinya.
Mereka pun pulang ke arah yang berlawanan. Saat tiba di asrama, Robbert sahabat Ricky, menelfonnya tak lama setelah Ricky membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Drrtt.. drrtt..
"Hey bos, nanti malam mau kemana? Ada tiket konser band favoritmu jam delapan nanti, mau enggak?" tanya pria dengan panggilan Rob itu.
Mereka adalah sahabat yang sudah berteman sejak kuliah di sebuah universitas ternama di Balham, kota asal Ricky. Hal yang membuat keduanya akrab adalah kesamaan jenis musik yang disukai. Rock.
"Sorry, Rob. Aku ada janji dengan Sheila untuk nonton malam ini," jawab Ricky yang sangat menyayangkan ajakan Rob.
Baru kali ini Ricky melewatkan sebuah konser musik, terlebih penyebabnya adalah seorang wanita. Namun Rob sangatlah paham, kedua temannya itu sedang di tengah percintaan yang manis. Dia pun bisa memakluminya.
"Hahaha, baiklah Rick. It's OK. Aku bisa ajak sepupuku yang sedang mampir untuk ke konser ini," jawab Rob santai.
Langit mulai terlihat gelap, waktu menunjuk pukul tujuh lewat dua puluh menit. Hujan perlahan turun dan Sheila belum juga terlihat. Ricky yang sudah menunggu hampir satu jam di sebuah cafe kecil tempat biasa mereka bertemu, mulai gelisah. Beberapa panggilan telefonnya tak juga mendapati respon dari Sheila, begitu juga pesan yang dikirimnya. Hingga di area dalam cafe itu, mulai dipenuhi pengunjung yang tadinya asik menikmati kopi di area outdoor. Mendadak memenuhi ruangan karena hujan semakin deras.
Gadis yang ditunggu Ricky akhirnya muncul di hadapannya dengan rambut yang sedikit berantakan dan make up yang terlihat luntur. Wajahnya muram dan gelisah seperti tadi siang saat menghadap dosen pembina.
"Kamu kenapa? Dari mana?" Ricky cemas melihat kekasihnya itu datang tanpa satu katapun, tak seperti biasanya.
Sheila hanya duduk termenung.
"Hey, kamu kenapa?" ulangnya sambil menggoyangkan telapak tangan di depan wajah Sheila.
"I am good", jawabnya dengan nada menahan tangis. Seperti ada yang disembunyikannya yang seolah tak ingin diketahui oleh Ricky.
Sheila hanya berusaha menyibukkan diri dengan beberapa make up yang dikeluarkannya dari sebuah tas kecil, memoleskan ke wajahnya menutupi make up yang telah pudar.
Terlihat sekelompok pria dari ujung di dekat pintu, yang salah satunya sesekali melihat ke arah Sheila, dan seperti tertawa membicarakannya dengan salah seorang di sampingnya. Ketika Sheila memandang ke arahnya, pria besar dengan tato di lengannya itu pun melambaikan tangan menyapanya. Sheila pun membalas dengan anggukan kepala dan senyum tipis di bibirnya.
"Siapa?" Ricky seketika penasaran.
"Teman kuliahku dulu, Abby Handerson." Jawab Sheila singkat.
"Kamu belum menjawabku, kamu kenapa?"
"Aku sudah enggak pingin menonton," jelas Sheila masih menyibukkan diri memoles lipstik di bibirnya.
"Lalu? Kau mau kita di sini saja?"
Penasaran dengan apa yang dialami kekasihnya, Ricky pun berusaha tegas menanyakannya sekali lagi meski ia belum pernah memaksa Sheila sebelumnya.
"Oke, terakhir. Kamu kenapa? Kenapa datang tanpa berkata-kata, dan yang paling membuatku cemas adalah kamu tak membalas telefonku. Apa yang kamu sembunyikan?"
Air mata Sheila perlahan menetes di pipi setelah mendengar nada bicara Ricky yang sedikit meninggi.
Ricky menghela nafas dengan berat dan masih berusaha sabar menanti jawaban Sheila.
"Aku bertengkar lagi dengan Papa", Sheila akhirnya menjawab sambil mengusap air matanya.
"Masih tentang hal yang sama seperti bulan lalu?"
Jordy, ayah Sheila seringkali memaksanya segera menikah dengan pria kaya anak dari teman bisnisnya. Namun, jawabannya masih sama. Sheila hanya ingin menyelesaikan program magister yang sebenarnya tak disetujui sang ayah. Mengizinkannya melanjutkan studi tak berarti ia mengalah. Tiada hari tanpa tekanan, bahkan paksaan. Mengetahui Sheila telah menjalani semester akhir, Jordy ingin putrinya sesegera mungkin menjalin hubungan serius dengan pria tajir pilihannya. Tujuannya tak jauh dari harta, ia tak ingin Sheila hidup dengan pria yang biasa-biasa saja.
Sebulan yang lalu, Sheila menceritakan hal yang sama pada Ricky. Kali ini Ricky hanya diam tanpa bisa berkata lagi, seolah harapannya pupus akan hal menyedihkan yang kini terulang kembali.
"Aku enggak akan pulang malam ini, aku butuh ketenangan. Aku akan menginap di apartment Christine," tanggap Sheila tak berani menatap wajah Ricky yang pasti kecewa atas apa yang diceritakannya.
Ricky terlihat berfikir keras dengan pandangan tajamnya ke arah Sheila, mencari jalan bagaimana melewati cobaan ini. Sementara Sheila hanya terdiam menundukkan wajahnya menenangkan diri.
Ricky memang baru satu tahun lebih empat bulan bekerja dan ia menyadari butuh modal lebih untuk melamar wanita sekelas Sheila. Bukan atas permintaan Sheila, namun Jordy lah yang menjadi tolak ukur Ricky. Sebab jika tidak, permintaan Ricky melamar putrinya akan ditolak mentah-mentah. Tetapi, dalam pikirannya, hal yang sudah diimpikannya kali ini haruslah terwujud. Bagaimana pun caranya.
Sheila adalah wanita yang sangat ia cintai. Ia tak akan membiarkan seorang pun mendekati, apa lagi merebutnya. Sekarang tatapan tajam itu melirik Abby dan beberapa pria satu mejanya yang masih saja memandang ke arah Sheila. Entah mengapa ia mulai risih. Ricky menarik tubuhnya, menyandar pada punggung bangku. Berusaha menghafal wajah dari masing-masing pria itu.