Kedua netra masih menilik, dari mana sumber suara itu. Ricky mengendap, sesekali bepaling ke arah jendela, Sheila masih tertidur pulas di sana. Suara berisik kian mendekat, bunyi besi yang bergesekan lebih dominan, seseorang sepertinya berusaha merusak pintu yang telah terkunci. Entah ada berapa orang di bawah sana, yang jelas mata Ricky tengah menangkap langkah seseorang yang tampak baru saja tiba, perlahan masuk dengan kedua tangan tenggelam di saku celana. Misterius, kegelapan malam berhasil menutupi sosok itu, dia melanjutkan langkahnya hingga halaman, beberapa kali mendongak, Ricky turut meringkuk.
Ada yang tidak beres di sana. Ricky bergegas, mengayun kedua tangan merangkak masuk ke dalam kamar. Bagaimana dengan Sheila? Hanya itu yang dia pikirkan. Dia tak mungkin membawanya. Yang menjadi masalah adalah dirinya sendiri, jika dia dipergoki sedang bermalam di rumah itu. Tanpa pikir panjang lagi, dia meninggalkan wanita itu, segera keluar dari kamar menuju ruangan yang lain, yang dia ketahui terdapat pintu keluar di sana.
Ricky menuruni anak tangga yang tersusun begitu tinggi, begitu menembus ke belakang garasi. Dengan hati-hati, dia berusaha mencerna situasi mencekam itu, siapa tahu di sekitarnya seseorang telah menanti, lalu siap menghajarnya. Benar saja, namun Ricky lah yang mengetahuinya dahulu. Seseorang dengan kaos hitam dan celana jeans, baru saja masuk melalui pintu yang mengarah ke pantry, Ricky membuntutinya.
Hal yang sama dilakukannya kembali, mengingat dia hanya bermodalkan nekat, tanpa bersenjatakan apa pun di tangannya. Ikat pinggang telah melingkar di pergelangan, melekat kuat di telapaknya. Dalam hitungan detik, sabuk menggaet leher di depannya, pria asing itu berusaha melawan namun tinggal suara dari tenggorokan yang tersiksa, kemudian tenaganya melemah, hingga akhirnya dia tumbang. Ricky merampas sebuah pisau yang masih tertancap di pinggang pria itu.
Seseorang yang lain dengan cepat menangkap suara itu, kemudian masuk di ruangan yang sama. Sebuah pisau tercengkeram rapat di tangan, namun tak sempat digunakan. Setelah beberapa saat menyoroti ruangan gelap itu, kepala bagian belakang terpukul keras oleh sebuah gagang pisau, membuatnya seketika terguling pingsan. Ricky puas, dia melanjutkan ke ruangan keluarga. Di sana tampak sepi, dia menoleh ke atas, ke arah kamar Sheila yang masih tertutup rapat.
Sekelebat bayangan tampak beringsut dari arah samping hendak mengarah ke kamar lantai dua. Ricky siaga, membungkukkan badan, menahan suara langkah dan berpijak di anak tangga paling bawah, setidaknya orang tersebut belum melihatnya. Ricky melihatnya, dia sedang sibuk membongkar kunci pintu kamar itu. Dia masih memperhatikan, bagaimana dia jatuh pingsan seperti kawanan lainnya, sebelum pintu itu terbongkar.
Ricky mengendap, tak ada jalan lain, menyusuri tangga dengan sedikit berjinjit, hingga dia berdiri dua meter di belakang pria asing tersebut. Pisau digenggamnya kuat, menghantam kepala pria itu dari samping. Pria tersebut terguling ke kiri, dengan sebuah obeng dan pisau yang terlempar.
"Tolong, jangan bunuh aku!" Pria itu sungguh kesakitan, kedua tangannya menghimpit kepala yang terluka, hingga mengeluarkan darah.
Ricky hanya kaget, pria itu mungkin sedang membujuknya, kemudian balas menghajarnya.
"Aku hanya mencari uang, jangan bunuh aku", katanya sekali lagi, mengulur tangan agar Ricky tak mendekat.
Perlahan pria itu bangkit sedikit terseok, hantaman keras itu masih menggoyang isi kepalanya. Ricky mendekat, menyodorkan mata pisau yang dari tadi tak digunakan semestinya. Pria itu hanya berusaha mengibulinya, dia tak akan percaya begitu saja.
Mata pisau telah menyudut tepat di tenggorokan, sedikit lagi menembus ke bagian belakang. Darah sedikit mengalir, pria itu menahan bilah pisau dengan satu tangan.
"Ampuni aku, aku akan jelaskan alasanku", pria itu memohon seolah dia tak pantas mendapatkannya.
Ricky kesal, bagaimana orang tersebut begitu percaya diri dengan yang dikatakannya, sangat bertolak dengan yang diperbuatnya. Tak peduli, tangan kosong Ricky kini menghantam pria itu dengan kerasnya, sekali lagi jatuh terguncang, keseimbangannya masih belum pulih.
"Ampun, tuan. Jangan bunuh aku!" seruan itu seperti isak tangis, seorang pria dewasa yang memohon belas kasih.
"Apa maumu?"
"Aku hanya menjalankan tugas, aku hanya pesuruh tuan Jonathan, tolong ampuni aku. Aku mempunyai dua orang anak, yang harus ku hidupi", suara itu lirih, pria tersebut sepertinya sudah tak kuasa menerima siksaan lagi.
Ricky mengernyit, drama apa lagi kali ini?
***
"Lalu, dengan ini kau membayarnya?"
"Benar, aku tak punya pilihan lagi, bahkan pekerjaan tetap pun aku tak punya".
"Lalu istrimu?"
"Dia meninggalkanku, dengan dua orang anak yang harus ku hidupi seorang diri.
Kekerasan itu, berbalik menjadi cerita haru yang membuat Ricky turut menghentikannya. Pria tersebut menceritakan apa tujuannya datang ke rumah itu, juga alasan dibaliknya. Namun, dirinya kini tengah mengobrol dengan target yang semestinya dia bawa kepada bos yang dimaksud, Jonathan.
Pria tersebut adalah pesuruh Jonathan, seseorang yang telah dipercayanya sejak lama, sekaligus pemimpin dari kedua orang tadi, yang siap melakukan pekerjaan apa saja yang berkaitan dengan balas dendam. Ricky adalah target utamanya, yang akan dihabisi lalu dibawanya pada Jonathan. Namun pria tersebut tak bisa menahannya lagi, pendarahan di kepalanya terlalu menyiksa. Terlebih di saat itu juga dia teringat kedua orang anaknya di rumah. Pria itu sangat menggantungkan hidup dari bayaran aksi teror seperti yang dilakukannya itu. Tapi, tiga bulan belakangan dia hanya melakukan semampu yang dia bisa, karena Jonathan tak membayarnya. Hutang yang dimilikinya terlampau banyak pada Jonathan, kini dia hanya menebus dengan bekerja tanpa bayaran, yang entah sampai kapan.
"Tak jarang, aku juga ingin membunuhnya, dengan tanganku sendiri", pria itu menempelkan seutas kain di kepala, menghalau sisa darah yang masih mengucur.
"Aku terpaksa melakukannya, hanya demi anak-anakku. Hutang itu, aku tak tahu pasti kapan akan terbayar, maka hanya ini yang bisa ku lakukan".
Ricky hanya bersandar di samping pria itu, meresapi kata demi kata yang diungkapkan pria itu. Sepertinya dia sadar, setiap manusia pasti menjadi ladang masalah, dengan berbagai macam cerita.
Ricky membuang nafas lelah, andai dia tahu, dia tak akan menyentuh pria itu.
"Biarkan aku saja yang melakukannya".
"Melakukan apa?", pria itu menoleh cepat, sedikit nyengir kesakitan.
"Membunuhnya". Mata Ricky menilik tajam ke depan, pria tersebut tak percaya.
"Untuk apa? Bahkan dia tak mendapatkanmu sekarang".
"Agar hutangku pada wanita di balik tembok ini terlunasi", Ricky menatap pria itu. "Tolong tunjukkan caranya, karena ku pikir kau telah terbiasa melakukannya", Ricky tersenyum tipis, pisau sedang dimainkan oleh tangan kanannya.
"Apa maksudmu?"
"Hutangmu juga akan terbayar jika dia mati, bukan?" Ricky berusaha tegas, pria itu tampak berpikir, mendongak ke arah langit-langit.
"Lalu mengapa kau mengurungkan niatmu untuk membunuhnya?"
"Tak mungkin, tak mungkin aku meninggalkan kedua anakku gara-gara dipenjara", pria itu menggeleng khawatir, jangan sampai hal buruk menimpa kedua anaknya.
"Jika kau yang melakukannya, artinya kau juga akan meninggalkan pacarmu itu", pria itu penasaran, apa bedanya?
"Tidak, aku tahu cara terbaik untuk melindunginya".