"Kau sudah bangun?" Suara serak yang khas itu berdengung dari balik telefon, menggugah Sheila yang baru beberapa detik terjaga dari tidurnya.
"Jonathan tak menjemputmu pagi ini, dia sedang bersamaku sekarang. Kau tenang saja, dia akan membantuku menyelesaikan sebuah project besar, bukan untuk bersenang-senang", terdengar suara tawa yang diiringi batuk ringan juga tawa kecil seseorang turut menanggapi, yang berniat meyakinkan wanita itu. "Jaga dirimu di sana", lanjutnya menguntai basa basi yang jelas tak pernah terlontar di kuping Sheila. Penjelasan tentang project, bisnis, dan segala detail lain tentang profit dibeberkannya tanpa teringat apakah Sheila akan peduli. Terutama, pujian untuk Jonathan yang terus menghantui. Sempat terdengar bahwa Jonathan sangat berpengalaman di dalam project pengembangan dan pembangunan perumahan yang sedang digeluti Jordy, yang juga baru dirintisnya beberapa tahun.
Sheila mengusap wajahnya, memutar bola matanya, tombol merah ditekannya tanpa beban. Dia memeriksa sekeliling keadaan kamar, sempat terlupa apa yang dia lakukan semalam. Kelelahan telah menghanyutkannya ke dalam mimpi yang tak juga dia ingat.
"Ricky.." bisiknya, kemudian menghempaskan selimut tebal yang tanpa dia ketahui telah menyelamatkannya dari udara dingin semalam. Dia bangkit, mengarah ke pintu balkon yang tak bersimbur gorden seperti biasanya, mungkin pria itu terlupa, pikirnya.
Sheila berbalik, keluar menuruni tangga, Ricky muncul dari arah pantry. Wajah itu sungguh lesu, dengan kantung mata yang sedikit menghitam, gaya hidup nya memang sudah tak teratur.
"Apa yang kamu lakukan?" Sapa Sheila yang terhenti di meja makan, kedua tangannya bertopang di atasnya.
"Selamat pagi juga", kata Ricky dari seberang meja, meski Sheila tak membuka salam itu. Dia sungguh lelah, baru saja dia selesai membereskan semua. Yang terjadi semalam, Sheila tak boleh tahu. Ricky berusaha untuk menyembunyikannya, tiga orang pria asing yang menyelundup ke dalam rumah. Jika tidak, Sheila akan semakin takut, bahkan berpikir yang tidak-tidak. Tak ada barang yang pecah, ataupun hilang. Namun menyulap bekas darah yang telah kering di lantai tak semudah menggulingkan seseorang dengan ikat pinggang, persis dengan pengalaman baru Ricky yang sedikit menyisakan bangga.
Sheila memiringkan wajah, eskpresi Ricky sulit terbaca. "Kamu tak tidur bersamaku?" Sheila kemudian menuang segelas air, lalu meneguknya perlahan, sorot matanya masih kepada Ricky.
"Tidak, aku berjaga di sini. Aku tak ingin seseorang tiba-tiba masuk. Emm.. hanya berjaga-jaga", suara Ricky tertahan, tak ada jawaban lain. Tubuh yang tak bertenaga itu mencoba tegar, tapi mulut begitu sulit dikendalikan. Ricky tak pernah membohongi Sheila, namun kali ini terpaksa. Beberapa saat dia bersusah payah menghilangkan keraguan, mencoba yakin jika Sheila tak mungkin meragukannya.
Dia sempat tertidur beberapa saat sebelum menjelang pagi, setelah pria asing itu pergi dengan ke dua anak buahnya, Ricky yang memintanya. Seorang pria asing, yang bergemuruh amarah di dalam hati. Namun tak mudah baginya meluapkan semua itu, kedua anak perempuannya yang menjadi penerang hati, untuk terus menjalani hidup meski diselimuti keterbatasan. Hutang tak sekedar janji, namun uang tak semudah itu didapati. Kerja paksa telah dibebankan padanya akhir-akhir ini, yang tak jarang membuat pria itu mengesampingkan akal sehatnya.
Sheila tertawa kecil, Ricky tampak begitu khawatir, padahal Jordy tak mungkin pulang hari itu juga. Dia tak melanjutkan pertanyaannya, menyeret kursi di samping Ricky dan menuang segelas air dengan penuh perhatian, kemudian berlalu ke pantry menyiapkan beberapa menu sarapan sebisanya.
***
"Delbert telah menelfonku, kau sungguh membuatku malu di hadapan temanku sendiri. Serius lah! Karena aku telah mengijinkanmu mengambil studimu itu. Bukankah kau seharusnya berterima kasih lalu membuatku bangga?!" ucap Jordy keras, setelah Delbert, ketua prodi di kampus Sheila menelfonnya untuk pertama kali dengan bahasan yang berbeda, kali ini menyangkut keterlambatan progres pengerjaan thesis miliknya. Delbert teman Jordy sejak kuliah, dia sangat handal di dunia pendidikan. Hingga kini, keduanya masih menjalin hubungan dengan baik, hingga Jordy begitu mempercayakan Sheila padanya.
"Bukan aku yang memulai semua ini, tapi kau yang mengacaukanku, Papi!" Bentak Sheila di tengah sarapannya. "Kau yang membuatku frustasi! Kau mengijinkanku tanpa keikhlasan sepenuhnya, menikah, menikah, dan menikah. Itu yang kau anggap semangat untukku? Bahkan kau selalu mendikteku demi hubunganku!" Sheila meletakkan alat makan dengan kasar, seleranya lenyap begitu saja.
Ricky menguyah makanannya perlahan, meresapi ungkapan hati di depan matanya. Sejauh ini, dia baru pertama kali melihat amarah Sheila. Dia tak pernah menyangka, wanita itu sungguh kuat dengan segala yang dijalaninya sampai saat ini, bahkan tak satupun dari kedua orang tuanya mensupportnya sepenuh hati. Shannon hanya mengikuti apa kata Jordy, dan Jordy sendiri adalah sebab dari penderitaan itu. Namun kali ini, dia telah berani memotong omong kosong dan langsung tertuju pada permasalahan selama ini.
Telefon sekali lagi ditutup paksa, setelah Sheila dihinggapi kekecewaan yang telah sampai di puncak kewajaran. Makna pembicaraan yang masih sama, tapi kali ini lebih parah. Jordy memaksanya untuk menikah dengan Jonathan, rekan bisnis baru yang dinilai sangat berpotensi itu. Jika bisnis tersebut berjalan mulus sesuai strategi yang dicanangkan Jonathan, terlebih hasil yang didapat sesuai dengan prediksi pria tersebut, tanpa pertimbangan yang berkepanjangan Jordy akan menikahkan Sheila dengannya.
Menikah dengan Jonathan? Pria pemain wanita itu? Jordy mengambil langkah yang berlebihan, jauh melebihi angan-angan keji Jonathan sebelumnya. Awalnya dia hanya ingin bermain-main, namun malah berhasil mendapatkan lebih dari itu. Lalu apa jadinya jika dia menikah dan pasangan sialnya adalah seorang wanita anggun berhati tulus seperti Sheila?
Beruntunglah Sheila jika saja Jonathan adalah salah satu dari teman SMA nya, yang pasti akan dikenal baik oleh beberapa teman yang lain, yang mungkin bisa menguatkan anggapan Sheila mengenai pria itu untuk meyakinkan orang tuanya. Pria itu tak sungguh-sungguh mencintainya, dia hanya pemain wanita. Dan nyata nya, Jonathan hanyalah seorang pria asing yang dibawa teman SMA Sheila. Tak seorang pun di masa lalu Sheila yang mengenalinya.
Nafas bebas Sheila hanya tersisa dua minggu. Maksimal dua minggu, menyelesaikan thesis atau menikah paksa. Dua hal yang sama sekali tak masuk akal untuk dilakukan secepat itu. Melakukan riset, olah data, hingga membuat kesimpulan sangatlah memakan waktu.
Menikah di bawah kehendak Jordy adalah petaka. Tidak adil, tak ada pilihan manis sedikitpun untuk Sheila. Kini dia hanya menangis tersedu, dengan kedua tangan yang berusaha menyembunyikannya. Pikirannya kian mengambang, bahkan dia tak kuasa menahan pundaknya sendiri.
Ricky terhenyak, melepas begitu saja alat makan di tangannya, berlalu pada Sheila di seberang. Ricky memeluk wanita itu, memberikan pelukan terhangat yang dia bisa, sempat terdengar beberapa kata tentang pernikahan paksa dari balik telefon. Tubuh Ricky bergetar, api dalam hatinya seakan membara seketika. Namun kali ini bukan saatnya untuk terbakar hangus ke dalamnya, karena menyulut ketenangan hati Sheila akan lebih penting sekarang.