PART 16. Pria Asing

1030 Kata
Ricky terdiam, kedua tangannya masih membelenggu tubuh Sheila yang masih bergetar lirih, tangisnya perlahan reda. Darah seakan membeku di tubuh Ricky, pernyataan pahit itu akhirnya menjadi kenyataan, Sheila akan dinikahkan. Perjuangan keduanya seakan pupus tiada arti, hanya karena orang yang berdaya mampu mendapat segala, termasuk mendapatkan yang bukan milik nya. Seperti sekarang, ikatan yang mereka sulam dengan kasih sayang begitu saja diputuskan. Ricky tak pernah memandang rumit setiap masalah. Sejauh ini, sifatnya lebih cenderung acuh, bahkan memilih melarikan diri dari pada bertikai hanya karena sebuah permasalahan. Ricky sama sekali tak menyukai keributan, dia hanya ingin menempatkan diri dalam ketenangan. Terlebih dengan Sheila, dia lebih sering mengalah ketimbang mendebat, dia tak ingin berlaku kasar padanya. Sheila adalah wanita satu-satunya yang dia miliki selain sang ibu, yang sungguh dicintainya, entah apa alasan yang mampu menggambarkannya. Baginya, mencintai seseorang tak memerlukan alasan pasti, semua terjalin karena rasa nyaman di hati, juga ketenangan itu sendiri. Namun kini, seseorang akan merebutnya sesegera mungkin, tanpa mengetahui bahwa Sheila telah ada yang memiliki, begitu sakit luka itu dia rasakan. Masalah itu, harus diselesaikan. Dia sudah tak bisa tinggal diam, apa lagi pergi meninggalkan Sheila di kegelapan hubungan yang belum tentu berbuah cinta, yang bisa saja malah menjerumuskan wanita itu ke dalam lubang yang kelam. Diam-diam, Ricky mampu membaca gerak-gerik pria itu, terutama saat dia memandangi Sheila di cafe malam itu. Ricky sangat sensitif, juga agresif dalam bertindak. Seketika dia teringat pria asing tadi malam. Bagaimana jika dia memanfaatkan pria itu untuk menyingkirkan Jonathan? Jawabnya pasti bisa, mengingat dia adalah tangan kanan Jonathan, yang pastinya tahu seluk beluk dari pria kaya itu. Terlebih, dia telah berubah sikap semenjak pekerjaan kerasnya tak sekalipun dibayar beberapa bulan ini, Ricky berharap menemukan setitik celah untuk masuk di sana, kesempatan itu tak boleh disia-siakan. Tapi bagaimana caranya? Itulah puncak pemikiran Ricky selanjutnya. Apa yang akan dilakukannya dengan bantuan si pria asing. Waktu dua minggu sangatlah singkat, bahkan jika semua sesuai kehendak yang disepakati Jordy, Sheila akan menikah sebelum itu. Miris, Ricky tak pernah bisa membayangkan jika itu benar terjadi. Sheila sedang dalam pelukannya, kehangatan tubuh itu dia nikmati seakan dunia akan segera berakhir, dan Tuhan memisahkan keduanya. "Aku tak ingin ke kampus hari ini", suara Sheila tertahan, aliran nafas terhambat sisa tangisan. Wajah cantik itu masih tertunduk di atas kedua lengan, yang melipat di atas meja. "Jika itu yang kamu inginkan, silahkan saja. Semua yang kamu kerjakan akan percuma jika hati dan pikiranmu melayang", Ricky tak memaksanya, mengelus punggung semampai di depannya, Sheila sibuk menepis air mata di pipi nya. "Biarkan aku beristirahat, aku tak ingin bertemu dengan siapa pun, kecuali kamu", Sheila melempar pandang, sepasang mata sayu itu bersinar penuh harap. Ricky tersenyum tipis, tanda meyakinkan wanita itu jika dia tak pernah meninggalkan nya seorang diri. Tangannya beralih ke pangkal kepala Sheila, mengelus nya tulus dari hati, bibir kecil Sheila turut mengembangkan senyuman hambar. Ricky mencium bibir yang tengah kering itu. "Apa yang akan kita lakukan nantinya?", air mata Sheila sedikit tersibak, perasaannya sungguh rapuh setelah beberapa saat memandangi pria itu. Dia bertahan mengahadap Ricky, mengharap kepastian darinya. Mata Ricky memandangnya penuh teka-teki, Sheila berusaha menemukan sinar jalan terbaik di sana, namun Ricky tampak berpikir keras, pertanyaan itu butuh jawaban yang berarti. "Yang kamu butuhkan sekarang adalah menenangkan diri, biarkan aku yang cari jalan keluarnya", Ricky menjawab tegas. Sheila mengangguk kecil, mengiyakan kalimat itu. Sepertinya dia telah memasrahkan semua pada pria tersebut, tak ada lagi yang bisa diperbuatnya, hanya jalan buntu yang dia dapati, hingga detik ini. Jam menunjuk pukul sembilan, waktu biasanya Ricky buru-buru untuk berangkat ke kantor. Sheila tersadar seketika, bergegas dia menyuruhnya mempersiapkan diri. Sheila tahu betul Ricky tak pernah mengulur waktu, terutama jam kerja. Ricky sendiri tak ingat, dia tak lagi bekerja di perusahaan itu. Sheila belum mengetahuinya, dan tak boleh tahu. Apa pun dilakukannya untuk merahasiakan hal memalukan itu, ditendang dari tempat bekerja hanya karena masalah pribadi sangatlah hina. Apa yang akan dilakukannya saat keluar dari rumah nanti, tak masuk akal jika dia berasalan sedang libur. Ricky menggendong tasnya, kemudian membuka pintu garasi. Sheila berdiri di ambang pintu, Ricky pergi setelah satu lambaian dan ciuman di bibir. *** Ricky terhenti di tepi jalan. Tepat di depan sebuah rumah, dengan pagar kayu yang membentang gagah setengah dibuka. Sebuah rumah bergaya bangunan kuno dengan halaman yang luas, hampir mirip dengan asrama yang ditinggalinya. Ricky masuk dari celah pagar itu, mendekati bangunan tersebut. Beberapa pohon beringin sempat dia lewati, yang tumbuh di halaman berumput itu. Pandangannya beralih, tampak cat tembok putih kusam mengelupas di beberapa bagian. Rumah itu tampak seram dari depan. Tapi untungnya terletak di tengah kota, di antara gedung-gedung tinggi, yang menolong keadaan lingkungan di sekitar. Ricky tak tahu pasti tempat apa itu. Namun tak salah lagi, lokasi yang ditunjukkan peta digital di handphonenya berhenti di sana. Pria asing semalam yang memberikan alamat itu, jika suatu saat Ricky membutuhkannya dia bisa menemuinya. Tapi pria itu memperingatinya, sebelum Ricky datang ke alamat tersebut, sebaiknya dia menelfon untuk memastikan kondisi aman di sana. Hari itu dia yakin, Jonathan sedang keluar kota mengurus bisnisnya, tanpa banyak berpikir dia memutuskan singgah di sana . Entah mengapa pria asing itu begitu menarik perhatian Ricky, bahkan begitu saja mempercayainya dengan menceritakan semua yang menjadi keluh kesahnya, hingga memberikan alamat dimana dia tinggal. Dalam hati, Ricky menyimpulkan jika pria tersebut sudah pasrah dengan pekerjaan tak berbayar itu. Seakan dia telah siap jika sewaktu-waktu dipecat, karena pekerjaan yang dilakukannya tak sesuai perintah. Menurutnya, seseorang yang melakukan segala sesuatu, bahkan sesuatu yang jahat sekalipun pasti ada alasan dibaliknya. Ricky tak pernah menyangka, orang yang menyelundup masuk ke dalam rumah tadi malam hanya ingin membayar hutangnya, demi kelangsungan hidup bersama anaknya. Ricky bangkit dari motornya, beringsut ke depan pintu rumah itu. Sepi, tak seorang pun terlihat dari balik kaca jendela yang berlapis debu. Ricky masih meyakinkan diri, bahwa yang dilakukannya itu tak sia-sia, tak membuang waktunya karena dia telah meninggalkan Sheila dengan dalih bekerja. Ricky mengetuk pintu, masih tak seorang pun menjawab. Beberapa saat kemudian, seseorang muncul dari samping rumah, membawa kantong plastik hitam besar yang terlihat berat, pria itu menyeretnya. Keduanya sama-sama terhenyak, pria itu mengerutkan dahi, menatapnya lekat dari ujung kaki hingga kepala. "Kau rupanya", pria tersebut menyeringai, setelah asap rokok disembur kasar dari mulutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN