Ricky mematung di depan pintu, meski pria tersebut telah memintanya masuk, meninggalkan bekakas dalam plastik yang dibawanya. Semua dirasa asing, seakan mereka telah merencanakan sesuatu, saling menepati janji, padahal baru beberapa jam yang lalu mereka bertemu.
Ricky melangkah masuk, rupa rumah itu berbanding terbalik jika dibandingkan dengan tampilan dari luar. Pria asing itu rupanya memiliki selera yang tinggi dalam mendesain ruangan, masih dengan gaya yang terkesan kuno. Ricky terkagum, tembok yang menampakkan susunan batu bata merah itu membuat rumah tampak begitu menawan, ditambah interior yang hampir sepenuhnya tak luput dari sentuhan kayu, yang berlapis warna-warna hangat. Rumah itu terasa begitu luas, tanpa adanya sekat dan atap rumah yang tinggi nan curam. Beberapa langkah dia berpindah, bola matanya masih memutar mengelilingi sekitar ruangan itu, tak kalah menarik, beberapa lukisan berwarna vintage menancap di dinding. Dia keheranan, pekerjaan pria asing itu sama sekali tak menggambarkan nilai dari selera yang dimilikinya.
Pria asing itu muncul dari arah dapur, menyajikan kue kering juga satu teko berisi Ginger Beer, kemudian meletakkannya di meja ruangan tengah. Udara sangat dingin, di luar mulai turun hujan yang berangsur deras. Apa yang baru saja dia sajikan sangatlah tepat, untuk mengusir rasa dingin yang bertengger di sekujur tubuh.
"Duduk dan minumlah, di luar sangat dingin. Minuman ini akan membuatmu lebih hangat", seru si pria yang sedari tadi rokok tak terputus di mulutnya.
"Te..rima kasih", Ricky mengangguk kecil, menepis anggapan bodoh yang masih berkutat di pikirannya mengenai pria itu.
"Rumah mu, luar biasa", Ricky canggung, sambil menerima segelas minuman yang baru saja dituang oleh pria itu. Pria itu tersenyum tipis, kemudian menyodorkan gelas miliknya ajakan bersulang.
"Hasil jerih payahku bekerja padanya selama bertahun-tahun, dan ku rasa sudah cukup sekarang", tanggap pria itu seadanya. "Apa yang kau inginkan?", lanjutnya.
"Sudah cukup? Maksudmu?" Ricky mengernyit, jawaban itu menuai pertanyaan baginya.
"Aku telah menyelesaikannya..."
"Lalu hutangmu..?"
"Tanpa wacana kepadanya, aku menjadi buronannya sekarang", lanjut pria itu sedikit tersengal tawa, diiringi batuk ringan menertawakan keadaan.
"Bagaimana bisa? Bagaimana jika dia mendapati mu di sini? Sementara rumah mu tak jauh dari pusat kota", Ricky mengerutkan dahi, jawaban pria asing itu tak mampu ditelannya begitu saja.
"Aku telah lama merenovasi rumah ini, yang sebelumnya adalah gudang tempatku bekerja. Dulunya, aku adalah seorang tukang kayu sebelum memutuskan bekerja dengan Jonathan," jawab si pria diiringi kepulan asap yang menyeruak, juga senyuman menyeringai.
"Dia tak pernah mengetahui identitas asliku, begitu juga rumah ini. Sebelumnya, aku tinggal di lingkungan yang tak jauh dari rumah Jonathan, di sebuah rumah yang dia sediakan, bersama teman-teman lainnya yang se-profesi denganku".
Ricky menahan ucapan maksud dari kedatangannya, berniat memahami segala yang dijabarkan pria itu. Dia rasa, dia perlu tahu, siapa dan bagaimana latar belakang pria tersebut, setelah beberapa saat teringat kembali kejadian malam itu, permohonan ampun yang menarik simpati Ricky saat dia berusaha menghabisinya.
"Lalu, sekarang kau..."
"Aku menyudahinya, putriku sedang sakit sedari malam tadi. Pikiranku sangat kacau saat kakiku melangkah keluar dari rumah, jika aku tak memohon, mungkin aku telah mati di tanganmu", tanggap pria itu terkekeh sembari mematikan rokok.
"Saat aku kembali dari rumah pacarmu, Jonathan menelfonku dan menagihku. Lalu aku menjawab seadanya, jika kau telah kabur sehingga aku tak bisa memenuhi perintahnya", pandangan pria itu menajam, seakan mengalahkan kedua mata Ricky.
"Saat itu juga dia memecatku, pekerjaanku sudah tak semulus sebelumnya. Mungkin dia tak pernah merasakan bagaimana rasanya terbelit hutang yang tak tahu sampai kapan akan terselesaikan, apa lagi sedihnya meninggalkan seorang putri berusia empat tahun yang sedang sakit, tanpa seorang ibu di sisinya, dan pulang dengan wajah babak belur dihajar orang yang sama sekali tak dikenali".
"Aku mematikan telefon, saat itu dia juga menagih hutangku", lanjutnya mengalihkan pandang sembari mengelus janggut tebal yang menggantung memenuhi dagu nya.
Sekarang, Ricky jadi ikut berpikir. Bagaimana nasib pria itu jika Jonathan memergokinya di rumah itu. Orang-orang Jonathan tak mungkin hanya sebatas lima atau sepuluh orang, bisa saja segerombolan pasukan dikerahkannya untuk memburu pria tersebut. Jonathan tak akan kehabisan harta jika hanya untuk membayar orang-orang nya, terlebih untuk mendapatkan orang yang telah mengkhianatinya, meski maksud pria tersebut tak demikian.
"Dari tadi hanya aku yang berbicara", kata pria tersebut memecah pikiran kosong Ricky, yang sedang hanyut seakan dirinya yang mengalami semua itu. Ricky hampir terlupa, jika maksud kedatangannya tak hanya mendengar jati diri lawan bicara nya itu. Dia juga terlupa, bahwa dirinya pun memiliki masalah dengan sosok yang sama, dia terlalu masuk ke dalam cerita pilu itu.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, apa yang kau inginkan dari ku?" tanya pria itu sembari membakar rokok sekali lagi.
"Masih sama seperti perkataanku semalam, menyingkirkannya", Ricky menjawab tegas, keputusan itu sudah mantap. Rupanya, dia datang kepada orang yang tepat. Jika saja pria asing itu memberikannya petunjuk bagaimana cara paling elegan menghunus pisau di perut Jonathan hari itu juga, Ricky akan mengikutinya. Yang jelas, bagaimana pun caranya, Jonathan harus menyingkirkan keberadaannya dari lingkaran cinta Ricky dan Sheila. Hanya itu yang menjadi fokus utamanya. Setelahnya, masalah dengan Jordy, dia berusaha memikirkannya sendiri nanti. Entah seperti apa rencana yang dibuatnya. Namun harapannya, si pria tua itu telah mati dengan sendirinya, saat Ricky telah mendapatkan Sheila kembali seutuhnya. Betapa indahnya, jika alur cerita hidup demikian adanya.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya si pria, yang beberapa saat sedang bertumpu pada telapak kaki di depan perapian, berusaha menyalakannya. Angin yang dihembus dari jendela terlalu dingin, kobaran api akan melenyapkannya.
"Justru kedatanganku di sini untuk meminta pendapatmu, apa yang bisa ku lakukan?" Ricky memandangi pria itu, yang berada lima meter di depannya.
Pria itu seketika bangkit, membalikkan tubuhnya sembari tertawa lepas.
"Pendapatku? Kau meminta pendapatku?" lanjutnya, tawa itu belum reda.
Alasan Ricky datang terlalu konyol baginya, dia seperti seorang mahasiswa yang mengemis kepada dosen, demi kelancaran belajarnya. Dugaan pria itu salah, dia sempat memberikan alamat itu jika saja Ricky membutuhkannya untuk bercerita tentang masalahnya, yang datangnya dari orang yang sama, juga sebagai tanda terima kasih dia tak melanjutkan serangan yang terlanjur dikerahkan, yang bisa saja merenggut nyawanya. Tapi kenyatannya, Ricky datang dengan harapan lebih, yang akan melibatkan pria tersebut. Bahkan Ricky belum mengenal siapa nama pria itu, dan langsung saja mengharap bantuannya.
Tawa pria itu terhenti setelah beberapa detik, ruangan gelap itu kembali sunyi, hanya terdengar percikan api yang membakar kayu perapian. Dia tak kembali duduk di kursi kayu yang letaknya di depan Ricky.
"Aku baru ingin menguburnya, tapi seseorang datang dan membuatku mengurungkannya", ujar pria tersebut, langkah tegapnya berangsur meninggalkan Ricky. "Ikutlah denganku", lanjutnya, diikuti Ricky dengan tanda tanya mencuat dari pikirannya.