Ricky mengekori pria itu, beberapa kali langkahnya terhenti, mengagumi segala interior berbahan kayu yang terpasang rapi di dapur, yang kemudian membawanya menembus ke ruangan selanjutnya. Sebuah gudang yang juga menyimpan beberapa furnitur klasik tak terpakai. Pintu sudah terbuka, Abraham telah masuk lebih dulu ke dalam ruangan gelap itu. Pengap, tampaknya Abraham jarang sekali membukanya, atau di dalam tak ada jendela untuk bertukar udara. Bau itu menyambut kedatangan Ricky yang beberapa langkah lagi mencapai pintu.
Di sini dia sekarang, tepat di depan pintu gudang. Kepalanya setengah menengadah, mencoba membaca tulisan yang terpahat di sebuah kayu, di atas pintu. Joan Abraham.
"Namaku, Joan Abraham", pria itu kembali ke arah Ricky yang masih berusaha mengeja pahatan tua itu. Ricky menoleh cepat.
"Pahatan pertamaku, saat aku masih duduk di SMA dulu. Mungkin usianya lebih tua dari mu", pria itu menengadah, mengingat sejarah dari hasil tangannya itu, sembari mengelus debu yang menempel di sana. Baru saja Abraham mengenalkan diri, secara tidak langsung, yang dibalas anggukan kecil Ricky.
"Teman-temanku memanggilku Doyle. Entah lah, mungkin karena aku yang paling bisa menghabisi semua orang, dengan pikiran tergelapku, sesuai nama itu", ucap Abraham, diikuti tawa melengking tersedak batuk yang berusaha mencairkan suasana.
"Namaku Ricky," tanggap Ricky tersenyum tipis, dibarengi anggukan kecil. Sepertinya dia merasa perkenalan keduanya sedikit terlambat, tapi dia sudah di sana bahkan sebelum mengetahui nama pria itu. Abraham mengangguk, kemudian menepuk pundak Ricky, lalu mengajaknya masuk. Ricky mengikutinya.
Abraham menyalakan lampu, mereka telah berada di tengah ruangan berukuran empat kali lima meter. Ruangan yang lumayan luas, jika sekedar untuk diisi furnitur bekas yang jumlahnya tak seberapa, tak sampai memakan banyak tempat. Ricky mengedarkan pandang, kemudian berkeliling sejenak. Dalam hati, dia bertanya-tanya. Untuk apa Abraham mengajaknya ke ruangan tersebut?
Ricky menoleh ke satu sudut, sesaat setelah lubang hidungnya menghirup bau menyengat, Abraham telah berdiri di sana. Sebuah rak kayu dengan banyak sekali loker berukuran sedang, yang masing-masing memiliki kunci. Abraham merogoh kantong celananya yang menghasilkan bunyi rangkaian besi, kemudian mengeluarkan seikat kunci tersebut.
Abraham membuka salah satu loker tersebut, loker paling kanan, kemudian mengambil satu plastik hitam yang tampak terisi penuh, entah apa di dalamnya. Ricky mendengus, semakin berat kepala dirasanya, aroma menyengat itu kian menyeruak ke seluruh ruangan.
"Aku dan timku biasa menggunakan ini", pekik Abraham menahan suara, setelah sempat mengamati pintu masuk.
"Apa itu?", Ricky mengerutkan dahi, beberapa kali menahan nafas nya. Sejujurnya dia tak mampu menahan.
"Racun, kau bisa memakainya untuk menyingkirkannya. Gunakan dengan caramu sendiri", Abraham menyeringai, sambil mengangkat plastik kecil yang dibawanya.
Ricky tertegun, seketika fokus di dalam pikirannya berubah menjadi khayalan hubungan yang damai dengan Sheila, tanpa Jonathan, juga tanpa Jordy. Belum selesai Abraham menjelaskan, plastik hitam itu direnggutnya dari tangan Abraham.
"Apa yang bisa ku lakukan dengan ini, yang biasa kau kerjakan?" Mata Ricky menggelap, seperti telah kehilangan akal. Tak sabar apa lagi yang bisa dipetik dari mantan kepala pembunuh bayaran itu.
"Aku biasa menyelinap ke dalam rumah, mengawasi pasukanku. Aku tak melakukan apa-apa kecuali kondisi terpaksa. Tapi tak jarang juga terang-terangan aku menghabisi orang yang memergoki ku", jawab Abraham enteng, lalu kembali menutup loker.
"Jadi kau tak..."
"Banyak cara yang mereka lakukan. Memasukkannya ke dalam pasta gigi, make up, atau langsung saja mengoleskannya ke kulit target", ucap Abraham, sambil berpaling ke arah pintu, memastikan di dalam hanya mereka berdua.
Ricky mengangguk paham, bibir itu mengulas senyum mencurigakan, namun terlihat puas dengan yang didengarnya, terlebih dengan apa yang diterimanya.
Abraham kembali berpaling ke depan susunan loker. "Risin, Sianida, Botulinum Toxin, hanya itu yang aku hafal. Sisanya temanku yang tahu", lanjut Abraham, sambil menunjuk satu persatu loker dengan beragam isi zat kimia mematikan yang telah disebutkan. Ricky menganga, dia tak mengira bahwa yang ada di sana adalah alat penghancur lawan yang sempurna, yang bisa digunakan dengan cara yang halus tanpa seorang pun mengetahui, bukan pisau atau senjata tajam lainnya yang terlalu ketara.
"Aku juga punya senjata api, tapi bukan orang sembarangan yang bisa menggunakannya", lanjut Abraham berjalan ke arah loker yang lain, namun tanpa membukanya. Tak lama, dia keluar dari gudang ke arah halaman. "Tunggu sebentar". Beberapa saat kemudian, Abraham kembali membawa plastik hitam besar yang tadinya telah siap dikubur, kembali menyeretnya masuk.
"Pakaian badut, wig, dan beberapa senjata api lamaku. Aku sudah tak membutuhkannya lagi".
"Apa yang kau lakukan dengan semua ini?" Ricky bertumpu di lututnya, mengintip ke dalam plastik hitam tersebut.
"Dulu, aku dan teman-temanku sering menyamar menjadi badut, di antara kerumunan orang yang sedang berpesta. Meracuni makanan dan minuman mereka, atau menembak langsung ke sasaran. Kau tak akan mengira, Jonathan sungguh seorang pendendam".
Ricky bangkit. "Lalu jika kau sekarang tak lagi bekerja dengannya, kenapa tak kau tinggalkan saja semua ini di markas sebelumnya?"
"Kau tak tahu, aku dan salah seorang temanku lah yang berburu semua ini, tak mudah karena hampir semua adalah zat mematikan. Biarkan saja Jonathan kesulitan mencarinya lagi", kata Abraham sembari menyulut sebatang rokok. "Sudah ku katakan, aku benar-benar buronan sekarang", Abraham terkekeh.
"Tadi malam, sebelum aku pulang kesini, aku mengangkut hampir semua racun yang ada di sana, sementara rumah itu sepi dan aku bebas melakukannya".
Ricky menggeleng, ada perasaan kagum pada keberanian juga kegilaan pria itu. Jika salah seorang dari banyaknya orang Jonathan mengetahui keberadaannya, sudah tertebak akhir dari cerita. Abraham pasti akan lenyap. Namun semua itu tak ada arti baginya, di dalam rumah itu bersama kedua orang putrinya yang sangat dia cintai, Abraham memutuskan berhenti dari pekerjaan yang teramat kejam itu, dia lebih memilih hidup bahagia bersama anak-anaknya.
Namun, satu hal yang membuat perasaan Ricky sedikit lega, Abraham tak ubahnya mencegah apa yang sudah menjadi rencana Ricky. Dia hanya memberikan sedikit jalan dari apa yang bisa dilakukan Ricky, setidaknya Abraham sudah tak ingin terlibat secara langsung di sana. Dia terlalu kenyang, dia terlalu puas dengan apa yang selama ini ditelannya mentah-mentah. Sesekali hatinya menolak, namun kebutuhan dan hutang telah menghimpit sisi baik dari hati nuraninya. Meski beberapa kali polisi menangkapnya, namun Jonathan selalu berhasil menebusnya, dengan harga yang tentu saja tak murah. Menjadi tukang kayu tak mampu menutup kebutuhan hidupnya, kurang dan selalu kurang yang selalu ada. Maka keadaan lah yang terus saja memaksanya, pilihan lain terlalu lama untuk mempersembahkan semua kebutuhan dua putri tercintanya.
Tak lama kemudian, ponsel Ricky bergetar. Sheila menelfonnya, yang sudah sekitar dua jam dia tinggalkan sendiri di rumah tanpa kabar sedikit pun.
"Kau sudah sampai, kan? Kenapa tak memberi tahuku?", ketusnya dari balik sana, Ricky pun terlupa kebiasaan yang dilakukannya, melapor pada Sheila setiap tempat dimana kakinya berpijak. Bibir Sheila bisa mengerucut seharian jika sampai Ricky melewatkan kebiasaan itu.