Ricky beringsut dari tempat tidur, jarum jam masih menunjuk pukul enam, namun matahari telah menyebar ke sebagian ruang kamar itu. Hujan deras semalaman tergantikan pagi yang cerah dan hangat. Suasana yang indah untuk hati yang kacau.
Jendela kamar dibukanya, menjemput hangat nya sinar itu di wajah. Asap mengepul keluar, Ricky menghembuskannya kasar. Belum sampai lima menit dia bangun, sebatang rokok telah terbakar, sungguh pola hidup yang berantakan belakangan ini. Matanya menerawang jauh ke gedung tinggi yang berjajar, menggalih pikiran dalam-dalam tentang apa yang akan dilakukannya hari ini. Meratapi nasib sialnya akan semakin memperpuruk batin. Cinta sejatinya harus tetap dia perjuangkan.
Ricky teringat sekelumit halusinasinya tadi malam, tentang bagaimana dia akan menjajal peruntungan untuk karirnya. Kembali ke gedung yang dia datangi kemarin tak ada salahnya, banyak berpikir tak berujung pada hasil, yang dia perlukan hanyalah melakukannya.
Perjalanan ditempuh lumayan jauh, lebih jauh dari jarak kampus Sheila. Ricky mendekat ke pintu kaca, dimana dua orang bertubuh besar dan gagah berdiri di sana. Entah kenapa pertanyaan dalam hatinya mencuat begitu saja, "apakah aku ini masih waras atau tidak?". Ricky menggeleng cepat, melanjutkan langkahnya. Kedua pria berotot itu memeriksa tubuh dan isi dalam tas yang Ricky gendong, pertanda bahwa ia tak memiliki kartu akses ke pintu khusus staf di sana.
Suasana terlihat begitu sibuk, tak seorangpun berpakaian sembarangan, hampir semua mengenakan jas dan sepatu kulit mengkilat, minimal kemeja terpasang di tubuh mereka, seperti Ricky sekarang. Sebuah kemeja berwarna cokelat tua pemberian Sheila, saat dirinya berulang tahun beberapa bulan lalu. Siapa tahu pakaian itu akan memberi keberuntungan, atau setidaknya penyemangat untuk memulai hari.
"Lalu, apa yang anda ingin lamar di perusahaan ini?" Seorang wanita dengan kemeja hitam dan rok pendek ketat itu memilah beberapa lembar dokumen yang Ricky serahkan. "Saya lihat-lihat, anda tak berpengalaman di bidang kami", lanjutnya masih menilik isi map itu.
Kurang lebih beginilah akhir dari tenggelam dalam khayalan, dia tak sedikitpun mencari tau segala informasi tentang perusahaan tersebut layaknya pencari kerja sesungguhnya. Kesempatan baik mungkin akan berpihak di diri kita, namun dengan usaha untuk meraihnya. Tapi yang dilakukan Ricky hanyalah bermodal nekat, dan harapan kosong yang ia sendiri tak tahu darimana asalnya, yang hinggap begitu saja di benaknya. Tapi, kesempatan bisa saja dibuatnya sendiri. Masa bodoh dengan jabatan, detik ini bukan saatnya mendebatkan hal semacam itu.
"Saya bisa melakukan apa saja, Madam". Spontan saja jawaban itu terucap, setelah seorang pesuruh yang dia temui kemarin terlihat melintas dari balik jendela. "Membersihkan ruangan, mencuci perabotan, bahkan beberapa urusan dapur", ucap dirinya terbata, kali ini Ricky menemukan jawaban dari pertanyaannya di luar tadi. Ya, dia mungkin sudah gila.
Wanita itu menoleh cepat, jawaban itu membuatnya berpikir apakah lawan bicaranya ini tak salah ucap. Pria itu begitu muda, bahkan terlihat menawan untuk ukuran pesuruh.
"Jadi anda kesini untuk melamar menjadi pesuruh?" Tanya wanita itu dengan muka datar.
"Benar, Madam. Apakah saya berkesempatan mengisinya?"
Wanita itu bergeming, mengubah posisinya untuk menghadap laptop yang berada di sebelah kiri, mencoba mengecek list pegawai yang terdaftar di sana. Ricky tak sabar menunggu, beberapa kali menggosokkan kedua telapak tangannya, tak mungkin perusahaan sebesar ini tak menerimanya yang hanya sebagai pesuruh dengan gaji tak seberapa.
"Slot kita masih penuh, Tuan. Mungkin di lain kesempatan, anda bisa berkunjung kembali menemui saya".
"Saya akan melakukan apa saja asal saya bisa bekerja, tolong bantu saya, Madam", Ricky menunduk, sembari menerima kembali kumpulan dokumen. Nada itu terdengar memelas, memohon sedikit belas kasih wanita itu. Terpaksa dia melakukannya, mau bagaimana lagi?
"Maafkan saya, Tuan. Saya tak memiliki kendali di sini. Saya hanya melakukan tugas yang diberikan. Silahkan meninggalkan tempat, sampai jumpa di lain kesempatan", ucapnya bangkit dari bangku, mempersilahkan Ricky keluar.
"Sebelumnya, apakah saya boleh memiliki kartu nama itu?" Ricky bangkit, arah matanya menunjuk pada tumpukkan kartu nama di meja, masih berupaya terhubung dengan si wanita.
"Silahkan saja".
Dunia seolah tak sedikitpun berpihak padanya, ternyata keberuntungan tak semudah itu didapatkan. Bagaimana dengan tempat lain? Sebelumnya, Ricky sudah beberapa kali berkunjung ke kota itu, mendatangi beberapa wawancara kerja. Dirinya juga sempat menginap di tempat Rob karena ada tiga tawaran pekerjaan sekaligus yang harus dihadiri. Namun akhirnya, dari sekian banyak kesempatan, dia mendapat salah satu pekerjaan itu. Hal itu tak memakan waktu yang singkat, Ricky harus menanti beberapa bulan untuk melanjutkan ke tahap rekrutmen selanjutnya, hingga mulai bekerja. Kini pesaing semakin berlimpah di luar sana, juga calon pekerja dengan latar pendidikan yang lebih hebat.
Putus asa seketika merambat di hatinya, Ricky keluar dari ruangan itu, tenggelam di antara hiruk-pikuk manusia yang sedang berlalu-lalang. Andai saja Sheila ada di sisinya, setengah beban ini mungkin akan larut begitu saja. Tapi dimana wanita itu? Sepertinya sangat sibuk dengan studi di bawah kawalan pria bernama Jonathan itu.
Ricky memacu motor dengan kencang, kampus Sheila dicapainya hanya terhitung beberapa menit saja. Ya, akhirnya dia memutuskan menemui wanitanya. Hari ini hari rabu, dia sungguh hafal kapan Sheila pergi ke kampus dan dimana dia berada menghabiskan waktunya di sana.
Dari jauh Ricky menerawang, seorang wanita berambut panjang dengan poni diselipkan di kedua telinga, tampak duduk di taman dekat perpustakaan. Wajah serius itu nampak menggemaskan, dengan bibir mungil yang bergerak perlahan mengikuti bacaan. Kaki kirinya menumpang di kaki kanan, membaca buku dengan anggunnya. Sesekali helai rambut itu tertiup angin, jemari lentiknya berusaha menguasai. Ricky masih memperhatikan wanita itu, memuaskan diri dengan pemandangan cantik itu. Melihatnya saja sudah menerangi gelap seisi hati. Ingin dia merangkulnya, lalu memeluknya erat-erat. Tak jarang dia bertanya pada diri sendiri, bagaimana Sheila begitu mencintainya, hingga tak ingin Ricky meninggalkannya. Mengingat banyaknya tawaran dari teman pengusaha Jordy untuk dijodohkan dengan anak mereka, namun hasilnya masih sama, Sheila tetap bertahan menyambut hantaran cinta Ricky. Kenyataan itu begitu memukau, akan sangat keterlaluan jika Ricky melepaskannya begitu saja, hanya karena keputus-asaan yang tak juga mereda.
"Aku menyerah", kata Sheila yang kedua matanya baru sekian detik tertangkap Ricky dari belakang. Senyum manis terukir di sana, gurauan kuno itu masih saja dibuat Ricky.
Sheila menengadah, masih memasang senyuman geli. Ricky duduk di sampingnya. Sudah berapa lama Sheila tak merasakan momen seperti ini, bercanda, tertawa seperti hal yang sudah asing baginya. Belakangan ini, dia mendadak menjadi pemurung, dan memilih tak banyak bicara.
"Maaf aku mengganggu waktu belajarmu, nona".
"Ku harap kau mau menggangguku seperti ini setiap hari, tuan lucu". Tanggapnya masih mengulas senyum lebar, buku dihimpit di depan d**a.
"Dengan senang hati, bahkan menunggumu sampai jam tidurmu aku bersedia".
Sheila melirik Ricky, pandangannya berubah sinis. Ricky membalas lirikan itu, sambil berusaha membakar rokok yang sedari tadi tertiup angin.
Belum sampai terbakar, dengan cepat tangan Sheila menyahutnya dari mulut Ricky.
"Sejak kapan kamu merokok lagi?", Sheila mengepal tangannya, meremas rokok sampai hancur.
Ricky mendengus, dia lupa merokok di dekat Sheila sama dengan menyerahkan nyawanya.
"Sejak sebelum kamu merampasnya," Ricky mengusap kepala belakangnya.
"Bohong!" Sheila menyerahkan tangan kanannya tanpa menoleh, pertanda meminta Ricky menyerahkan seisi bungkus rokok yang dia punya. Anggap saja hukuman untuk Ricky yang pernah berjanji akan berhenti merokok.
Ricky meraba beberapa saku pakaiannya, kemudian menyerahkannya tanpa berkata, merasa kalah karena Sheila mengungkit janji yang pernah dibuatnya. Sheila kembali melirik sinis, begitu cepatnya mood wanita itu berubah.
"Bagaimana thesismu?" Ricky sebaik mungkin mengalihkan.
"Aku tak tahu lagi, masih berkutat di bab yang sama, coba kalau kamu mau membantuku, pasti tahun ini aku sudah wisuda".
"Jangan mengejekku, isi kepalaku tak akan bisa mengerti. Karena kamu sudah memenuhinya".
Sheila memajukan bibir bawahnya."Bilang saja kau malas".
Ricky tertawa lepas, seakan lupa dengan segala yang terjadi belakangan. Berdua dengan Sheila adalah segalanya, di situ lah dirinya merasa bahagia. Seperti sekarang ini, keduanya tak ingin membahas masalah yang terjadi, hanya menikmati candaan dan obrolan ringan yang telah lama tak mereka nikmati. Sebenarnya, dalam hubungan itu jarang sekali ada obrolan panjang, mengingat Ricky adalah pribadi yang sangat pendiam. Dia lebih sering merespon Sheila hanya dengan bahasa isyarat yang menurut Sheila begitu menyebalkan, namun itulah yang selalu dirindukannya setiap mereka tak sedang bersama. Namun Sheila tak sepeduli itu dengan hal tersebut, asal Ricky di sampingnya, hidupnya akan selalu merasa aman.
Langit berangsur gelap, awan mulai terhubung satu sama lain, hujan perlahan turun beberapa saat kemudian. Mahasiswa di sekitar mulai lari berhamburan. Ricky dan Sheila saling berhadapan, mengikuti mahasiswa lain yang berteduh di depan perpustakaan.
Sudah hampir dua jam mereka di sana, sesekali hujan mereda, namun seketika semakin deras. Angin sore menjelang malam sudah terasa menebalkan telinga, bahkan sesekali tubuh bisa bergetar kedinginan.
"Ayo kita terobos saja, kamu tak akan pulang kalau hanya menunggu di sini," kata Sheila melawan suara hujan. Ricky mengangguk setuju.
"Kita ke rumahku saja, kamu istirahatlah di sana".