Ke rumah Sheila? Yang benar saja. Apa yang dipikirkan wanita itu, seperti mengajak masuk ke lubang yang hampir meleburkan mereka menjadi debu. Bahkan bagi Ricky, rumah mewah itu terkesan seperti sebuah kandang binatang buas, dimana tak bisa sembarang orang akan diterima, kecuali orang yang benar mampu menguasai penghuni beserta seisinya.
Mereka berlari menuju tempat dimana Ricky memarkirkan sepeda motor. Keduanya terlanjur basah diguyur hujan. Ricky sempat tertinggal, memperhatikan indahnya bentuk manusia di depannya. Pakaian Sheila begitu melekat di kulit, kemeja tipis itu seakan tak berarti untuk menutup bagian d**a dan punggung. Baru kali ini dia melihat Sheila dengan wujud seperti itu, dengan pakaian basah.
"Apa yang kamu lihat?" Sheila memecah konsentrasi Ricky.
"Em.. bukan, aku sedang mencari kunci", Ricky mengelak, seketika menyibukkan diri meraba saku celananya tanpa wajah bersalah. Sheila memutar bola matanya.
Kunci telah tertancap, begitu juga Sheila yang telah melingkarkan tangan di tubuh kokoh itu. Udara begitu dingin, ditambah motor yang melaju kencang berlawanan dengan angin, tapi sebuah kehangatan terasa begitu melekat di punggung Ricky.
Ricky berusaha fokus memegang kendali, Sheila kian merapatkan pegangannya, kepalanya pun bertumpu di punggung yang menjanjikan perlindungan itu. Benar-benar pertama kali, Ricky merasakan sentuhan intim ini dengan Sheila. Jujur saja, mereka tak sekalipun pernah melakukan hal-hal yang melebihi ini sebelumnya. Gaya berpacaran mereka hanya sekedar menonton film, menikmati kopi, atau sekedar makan di luar. Ricky sangat menghargai wanita tersebut, dia tak akan seenaknya memperlakukannya, sebelum Sheila juga menghendaki hal yang sama. Mungkin terkesan polos, bahkan membosankan, tak seperti anak muda pada umumnya. Lagi pula, keduanya sangat sibuk dengan profesi masing-masing, dalam sehari waktu habis termakan pekerjan kantor, juga studi. Dalam seminggu pun, kesempatan itu hanya ada saat akhir pekan, di luar itu celah waktu hanya saat keduanya sedang bersiap makan siang bersama.
Panjangnya perjalanan telah ditempuh, Sheila terburu masuk ke dalam rumah, yang dengan tak sadar Ricky tertinggal di belakangnya, dingin hebat menyerbu ke sekujur tubuh.
"Apa yang kamu lakukan? Cepat masuk". Baru saja Sheila tersadar, melihat Ricky menyilangkan kedua tangan di d**a, menggigil kedinginan.
Tanpa pikir panjang, Ricky perlahan masuk ke rumah itu, untuk yang ke empat kali. Sunyi, tak ada tanda-tanda seorang pun di dalam. Sheila tergesa menuju ke ruang keluarga, dimana letak satu-satunya perapian di rumah itu, kemudian menyalakannya, mengharap hangatnya api berpindah ke tubuhnya yang telah kaku.
Ricky masih berdiri di ruang tamu yang luas itu, sesekali memutar kepala melihat sekeliling, juga memastikan Sheila sedang sendiri di rumah. Dia tak bisa membayangkan, di kondisi seperti ini telinganya akan beradu melawan pedasnya mulut Jordy, jangan sampai itu terjadi. Yang dia harapkan adalah mandi dengan air hangat, memulihkan suhu tubuh yang dinginnya teramat parah, kemudian beristirahat mengingat sekujur tubuhnya telah kaku melawan dingin di jalanan.
Beberapa menit kemudian, Sheila kembali ke ruang tamu hanya dengan seutas handuk melingkar di badannya, kemudian membalut Ricky dengan sebuah handuk besar, mengelap tubuhnya. Ricky melanjutkan usapan ke beberapa bagian, karena Sheila kembali lagi dengan cokelat panas dan beberapa makanan.
"Mandilah dengan air hangat, supaya kamu tak sakit", Sheila mengulas senyum tipis.
"Bagaimana kalau Papimu mengusirku jika dia tahu aku di sini?" Ricky masih mengusap kepala dengan handuk.
"Mereka sedang keluar kota, mungkin ada perjanjian bisnis", jawab Sheila sembari menuang cokelat di gelas Ricky.
"Benarkah? Lalu kamu sendirian di rumah?" Ricky masih penasaran, pertanyaan itu terdengar canggung, mereka hanya berdua di rumah itu.
"Memangnya kenapa?" Sheila mengangkat satu alisnya, balik bertanya. Sial, kenapa di momen seperti ini wajah itu terkesan begitu nakal.
"Setelah itu, mandilah". Sheila memperhatikan Ricky yang meminum cokelat itu tergesa.
"Kesini saja". Sheila meraih tangan Ricky, yang terlalu percaya diri mengarah ke kamar mandi di lantai satu itu.
"Apa bedanya?" Ricky memasang senyum bodoh yang kebingungan.
"Supaya kamu lebih leluasa untuk berendam air hangat, sesuka hatimu". Sheila berbinar, wajah itu begitu menawan dengan rambut basahnya, hingga menghipnotis beberapa detik pikiran Ricky berubah tak jernih lagi. Ricky menggaruk kepalanya.
"Aku tahu kamu pasti lelah, bekerja, mengantarku, sekarang nikmatilah waktumu".
"Thank you". Seru Ricky berbisik, wajah datar tak berekspresi. Sempat panik karena hari itu dirinya sudah tak lagi bekerja, tapi wanita itu tak mengetahuinya.
Tak percaya, Ricky sedang berada di kamar Sheila yang letaknya di lantai dua. Satu kamar Sheila, mungkin bisa seukuran setengah dari sebuah rumah, perabotan di dalamnya juga sangat lengkap. Sepertinya wanita itu sama sekali tak membutuhkan apa pun di bawah sana, tak heran juga jika Sheila belakangan ini hanya mengurung diri di dalam kamar karena perdebatan monoton dengan Jordy sang ayah.
Ricky memasuki kamar mandi, ruangan itu tak kalah menakjubkan, dirinya perlahan merasa begitu minder, sesungguhnya apa yang Sheila miliki sama sekali tak pernah terbayang olehnya, Ricky mengusap wajahnya.
Menit berlalu, Ricky akhirnya keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar di pinggang. Bentuk tubuh yang terbilang ideal, dengan sedikit otot d**a dan perut yang menggumpal, menjadi pemandangan baru Sheila di kamar itu. Ricky hanyalah satu-satunya pria yang pernah berpijak di lantai kamar itu, sejauh ini hanya teman-teman wanita Sheila yang kerap singgah di sana.
Sheila telah berganti pakaian, dress merah tua dengan panjang di atas lutut menempel sempurna di tubuhnya. Rambut basahnya masih terurai, sekarang dia sedang menyisirnya.
Ricky mengarah ke tempat tidur, sepasang pakaian telah disiapkan untuknya. Jika boleh jujur, dia begitu gugup, masih tak percaya hal sembrono ini dilakukannya. Bagaimana jika Jordy tiba-tiba di rumah, lalu mengetuk pintu. Mungkin dia lebih memilih mati lompat dari jendela, ketimbang terbawa perdebatan yang sama sekali tak berujung kesepakatan apa pun.
Sheila menuang wine, lalu memberikannya pada Ricky sebagai penghangat yang sempurna.
"Sebaiknya aku pulang saja", Ricky berbisik meski tak akan ada yang mendengarnya, namun hatinya mengharap Sheila menolaknya. Pria itu mendadak plin-plan.
"Kamu lihat di luar masih hujan kan? Lalu untuk apa kamu mandi?"
Ricky menerima gelas berisi wine itu, kemudian duduk di samping Sheila yang tengah melipat kakinya di atas tempat tidur.
"Bagaimana jika Jordy datang dan mengetuk pintu?" Ricky dengan sengaja mendekatkan wajahnya ke wajah Sheila, masih dengan gaya berbisik.
Sheila tersenyum lebar, entah pertanyaan itu serius atau sekedar gurauan, karena dia mengetahui Jordy tak akan pulang hari itu juga, baginya lucu juga melihat Ricky yang sedari tadi terlihat panik.
"Akan ku beritahukan kalau kamu menyelinap ke kamarku, mau apa kau?" Tanggap Sheila, wajah keduanya semakin mendekat hingga hidung menyentuh satu sama lain.
Hati keduanya pun berdebar hebat, aliran darah dirasa melaju cepat ke seluruh tubuh, mereka sedang merasakan momen yang begitu asing di hubungan itu.
Gelas diletakkan di meja, dengan wajah yang masih bertatapan tanpa jarak. Tanpa sadar, tangan Ricky menjarah di atas paha Sheila yang tak terbalut pakaian. Pandangan Sheila seketika berubah kosong kemudian menatap dalam, bibir Ricky mulai menyentuh Sheila perlahan, keduanya sedang terbakar keadaan yang dengan paksa mengesampingkan segala masalah kehidupan.
Sheila menerima sentuhan lembut itu di bibirnya, mata telah terbenam seiring ciuman itu menggapainya. Hujan semakin menjadi, suasana begitu mendukung semua ini. Petir menyambar dengan kerasnya, yang seketika menyadarkan keduanya, dan melepas ciuman itu.
Ricky tersenyum puas, dibalas dengan wajah Sheila yang memerah sembari melipat bibirnya. Mereka masih bertukar pandang, Ricky mengangkat bahunya tanda tak ingin disalahkan. Sheila tak menggubris, kedua tangannya mendorong perlahan pundak Ricky untuk merebah di tempat tidur, melanjutkan apa yang semestinya terjadi.