Panik, gusar, namun bahagia, semua itu larut menjadi satu di hati kecil Ricky, dia berusaha mengesampingkan segala yang terjadi pagi tadi. Malam itu tak seorang pun akan mengganggu mereka, saat yang tepat untuk memadu kasih. Kini dirinya sedang terbaring kaku di bawah Sheila, yang menatapnya begitu lekat. Dia masih canggung, tatapan itu menenggelamkannya. Jika boleh jujur, Ricky begitu khawatir apa yang mereka lakukan saat ini akan menjadi candu, bahkan akan membuatnya terus menangkal kenyataan bahwa dia bukanlah orang yang diharapkan untuk Sheila, yang suatu saat akan membuatnya menghalalkan segala cara untuk menculik Sheila kapan pun, demi memenuhi hasrat itu.
Semua bermula dari Sheila yang hanya ingin membalas kebaikan kekasihnya itu. Namun tak bisa dipungkiri, bahwa mereka bukanlah anak-anak yang hanya terpikir bermain bersama. Saat seperti ini, mungkin akan menjadi ruang untuk mereka meneguhkan hati masing-masing, bahwa hubungan itu tak akan pernah kandas sampai maut menjemput keduanya.
Sekarang, Sheila yang mengawali, mendaratkan bibir mungilnya di atas bibir Ricky. Begitu lembut, aroma segar pun terhisap dalam oleh Ricky. Ricky membalasnya, melumatnya begitu tergesa, kedua tangannya mulai menumpangi pinggang di atasnya. Tangan Sheila tak tinggal diam, menopang dagu kokoh itu sehingga tak bisa berpaling darinya. Kedua lidah itu kian berpadu, menggugah hasrat yang selama ini terpendam.
Semua terjadi begitu saja, beberapa menit berlalu, namun tak sedikitpun posisi itu beralih. Tak ada satu kata pun yang terucap, mereka begitu menikmati hasrat yang bergejolak dalam hati. Hanya terdengar suara hujan dan deru jantung yang saling berdegub tak beraturan. Keduanya telah terasuki kehangatan yang setimpal, setelah bertarung melawan suhu terendah tadi.
"Kenapa kita tak pernah melakukan ini sebelumnya?" Ricky berbisik, tepat di depan telinga Sheila.
"Karena kita terlalu sibuk, waktu kita habis di luar sana", Sheila tersenyum tipis, sembari mengelus dahi pria di bawahnya itu.
"Aku sangat menikmati semua ini, seperti hari terakhirku hidup di dunia, hari terakhirku melihatmu di depanku", Ricky membalas usapan halus di pipi.
"Kamu tak akan mati hanya karena tak menciumku", wanita itu meluruskan, entah suara lirih nya begitu membuat darah seakan naik turun.
"Kadang aku ingin menyerah dengan keadaan, aku sangat lelah dan kamu tahu itu".
"Aku yang membuat kelelahan itu, akulah penyebab dari semua yang terjadi".
"Tidak, tapi takdirku yang membuat semua ini, karena segala hal pahit sudah aku telan paksa sejak kecil, Tuhan sepertinya tahu persis, aku punya bakat bertahan hidup yang luar biasa".
Sheila terkekeh kecil, lalu bangkit dari sana. Ricky menarik tubuhnya, bersandar lalu kembali meneguk wine.
"Menurutmu, bagaimana rencana kita nanti?" Ricky memberanikan diri, meski pertanyaan itu keluar di saat yang tidak tepat, Sheila bisa sedih seketika jika mengingatnya.
"Jika kamu mencintaiku, kamu akan terus memperjuangkannya, sama sepertiku!" jawab Sheila ketus, benar moodnya segera menurun saat itu juga.
"Jangan meragukanku, Sheila. Aku melakukan semua hanya untukmu. Bersabar bukanlah hal yang gampang, tapi aku melewatinya begitu saja".
"Lalu apa saja yang pria itu lakukan padamu?" Mata Ricky menilik tajam, memastikan jawaban Sheila akan berbanding lurus dengan yang diharapkan. Sheila menghela nafas lelah.
"Tak ada, hanya mengantar jemputku", Sheila mengelak, sempat kalimat itu tertahan di bibirnya, karena Jonathan sempat menyentuhnya. Jika Ricky mengetahuinya, dia akan sangat marah, bahkan segala hal nekat akan dilakukannya untuk membalasnya, Sheila mengerti betul sifat Ricky.
"Apa yang kamu lihat dariku sehingga kamu memilih memperjuangkan hubungan ini, jika dibandingkan dengannya?" Ricky penasaran, menggelapkan matanya untuk memastikan Sheila tak akan berpaling darinya, pria itu sungguh tak mudah percaya, meski jelas Sheila tak pernah mempermainkannya.
"Kenyamanan. Kenyamanan dan perlindungan yang tak akan bisa ku beli berapa pun harganya", kedua netra itu perlahan berkaca-kaca. "Dan aku bisa mendapatkannya darimu, bahkan aku bisa melihatnya dengan nyata di sana".
Ricky terdiam, merasakan getar ketulusan kalimat demi kalimat, apakah semua itu benar? Karena Ricky hanya merasa bahwa dirinya adalah seorang pendendam, yang terkadang sulit mengendalikan emosi. Sungguh tak dewasa, tapi siapa yang bisa menghentikannya?
"Aku hanya ingin hidup bahagia, dengan orang yang aku cintai. Yang selalu ada untukku, selalu menjagaku", tetesan air mata mulai jatuh dari mata sendu itu, Sheila tak mampu menahannya, karena apa yang baru saja dikatakannya adalah hal yang sangat berarti baginya.
"Aku tak pernah merasakannya, bahkan setelah aku lahir ke dunia", Sheila segera mengusap air matanya. "Kedua orang tua ku sangat sibuk, aku tak pernah merasa jika aku adalah bagian dari mereka. Shannon pun tak pernah membelaku, dia hanya meredam apa yang selalu terjadi, dan itu sama sekali tak berguna".
Ricky membenci saat seperti ini, dia tak kuasa melihat seorang wanita yang sedang menangis. Seketika dia teringat sang ibu, juga kejadian pembunuhan di rumahnya waktu itu. Tangisan ibu begitu mengguncang psikologis dirinya yang baru saja menginjak delapan tahun, memori itu terekam dengan baik hingga sekarang.
"Shannon bukanlah istri satu-satunya, dia istri ke tiga. Sampai saat ini pun, Jordy lebih sibuk dengan istri yang lain, ketimbang aku anak kandungnya sendiri. Ayah macam apa yang tak pernah memperhatikan anaknya?"
Hati Ricky hancur mendengarnya, Sheila kembali terisak tangis. Ricky mendekat, kemudian memeluk wanita itu, mengelus perlahan punggungnya memintanya untuk tenang, semua baik-baik saja, karena dia di sisinya sekarang ini.
"Menikahlah denganku.." kata Sheila di tengah tangisan penyesalan itu, pengakuan itu akhirnya terungkap, yang selama ini tak pernah tersampaikan.
"Aku akan menikahimu, sebisa mungkin aku akan mencari cara mewujudkannya".
"Berjanjilah padaku, kamu tak akan kemana-mana".
Pernyataan itu merasuk ke hati terdalam Ricky. Wanita itu benar menginginkan hidup bersamanya, mengharapkan sebuah pernikahan, bukanlah pernyataan main-main. Usia mereka berdua pun terbilang siap melanjutkan semua ini. Namun Ricky, di saat seperti ini dia malah kehilangan satu-satunya pekerjaan yang menjanjikan pernikahan itu terwujud, meski hal itu akan terbilang mustahil jika disangkutkan dengan Jordy. Lalu bagaimana Ricky akan bangkit mendapatkan sejumlah uang seperti semula? Apakah Sheila harus melarikan diri dari keluarga tersebut demi sebuah keluarga kecil miliknya sendiri? Dua hal itu lah yang selalu berputar di pikirannya, bahkan tiap detik hembusan nafasnya.
Ricky bergeming, bangkit dari tempat tidur luas itu. Berjalan menuju jendela, menatap kegelapan malam yang menyisakan gerimis dan sesekali gemuruh di langit. Semua tampak indah, andai beberapa jam yang terjadi tadi adalah hubungan pernikahan mereka, dan malam itu mereka sedang bertukar pikiran untuk masa depan keluarga. Dia berjanji, Sheila akan selalu dijaganya, apa pun yang terjadi akan mereka lewati bersama. Semuanya belum berakhir, ini baru permulaan, hujan lebat yang harus dilewati sebelum datangnya pelangi.
Sheila masih terdiam, bersusah payah mengembalikan mood yang telah merosot. Ricky berpaling padanya yang sedang duduk memeluk kedua kakinya, menatap kosong ke tempat tidur. Perlahan dia menghampiri, Sheila menengadah menatapnya.
"Beristirahatlah, kamu pasti lelah", Ricky menggapai wajah menggemaskan itu.
Sheila beranjak dari sana, mengulurkan tangan kanannya, tanda mengajak Ricky. Ricky segera menggapainya, meski wajah cemberut di hadapannya itu tak juga berubah. Mereka keluar dari kamar, menuruni tangga yang mengarah ke ruang keluarga.
"Duduklah, tunggu di sini".
Tak lama Sheila kembali, setelah menghangatkan makanan di dalam microwave. Kemudian meletakkannya di meja makan kayu yang begitu panjang, sepuluh orang pun bisa makan bersama di sana. Beberapa makanan itu telah siap disantap, menu yang sama seperti yang dia makan pagi tadi.
"Makanlah, aku sendiri yang memasaknya. Kamu pasti belum makan dari siang tadi kan?"
Ricky menengadah, mengangkat kedua alisnya takjub, seolah tak percaya wanita seperti Sheila mau melakukan pekerjaan dapur seperti itu.
"Pesuruh di rumah ini datang pagi-pagi, tapi aku memintanya kembali pulang. Aku hanya ingin sendiri di sini".
Mereka duduk bersebelahan, Sheila menyiapkan sepiring berisikan daging dan beberapa sayuran. Terlihat nikmat, apa lagi untuk perut yang belum terisi sama sekali.
Di tengah nikmatnya makan malam itu, handphone Sheila berdering, nomor tanpa nama muncul di layarnya. Sheila melirik, beberapa digit angka itu tak asing baginya, yang seringkali menelfonnya tanpa tujuan jelas.
"Jonathan", bisik Sheila dalam hati.
"Siapa?" tanya Ricky sembari mengunyah makanan di mulutnya. Sheila menoleh cepat, apa yang dilakukan pria itu hingga menelfon malam-malam begini?